Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Ada Apa Dengan Alfian ?


__ADS_3

Alfian menimbang-nimbang lagi apa yang baru saja papanya katakan. Beliau benar, dia harus berusaha mengambil hati Sandra. Sandra memang berbeda dengan gadis-gadis yang lain. Dia tidak mudah di tebak. Emosinya juga naik turun sama sepertinya. Dia tidak suka kemewahan, tidak mata duitan, tidak hobi berbelanja dan tidak suka berfoya-foya. Lalu apa yang harus aku lakukan agar membuatnya senang ? Tas, baju dan barang-barang mewah yang dia punya saja hampir semuanya belum tersentuh. Alfian terus berfikir apa yang harus dia lakukan.


" Baiklah, lebih baik mencoba dari pada menyesal.." Ucap Alfian pada akhirnya.


Malam sudah berlalu, pagi harinya Pak Wijaya sekeluarga sarapan bersama. Seperti biasa, Sandra melayani mertua dan suaminya terlebih dahulu. Namun ada yang berbeda kali ini. Kenapa Alfian terus tersenyum memandangnya ?


" Terimakasih" Ucap Alfian saat Sandra memberikan piring berisi nasi goreng kepadanya.


Pak Wijaya tersenyum maksud. Sedangkan Arkha dan Neta keduanya saling pandang keheranan. Tidak biasanya kakak mereka seramah itu.


"Apakah terjadi sesuatu ? Bukankah semalam mereka bertengkar ?" Bisik Arkha kepada Neta.


" Entahlah... Mungkin kepala kakak tidak sengaja kejedot pintu. Kalau tidak bagaimana mungkin bisa langsung baik secepat ini ?" Balas Neta tak kalah lirih.


" Kenapa bisik-bisik ?" Tanya Pak Wijaya.


" Ah, tidak pa... aku hanya bertanya kapan kak Arkha bisa ngajarin Neta mengerjakan tugas sekolah." Ucap Neta bohong .


" Emang kamu sibuk sekali Kha ?" Tanya beliau.


" Iya pa... Arkha ada tambahan tugas jadi mata-mata sekaligus bodyguardnya Sandra sekarang." Ucap Arkha menimpali.


Alfian melotot mendengarnya.


" Apa ?" Tantang Arkha tidak takut.


" Sudah-sudah jangan mulai bertengkar. Arkha , jangan bilang seperti itu. Sudah selayaknya sesama saudara saling membantu. Lagi pula tugas kamu hanya perlu memastikan keselamatan Sandra saja." Ucap Pak Wijaya menengahi kedua putranya.


" Mulai sekarang sudah tidak perlu lagi pa... Karena aku yang akan antar jemput Sandra mulai hari ini." Ucap Alfian serius.


" Benarkah ? Papa senang jika begitu. Baguslah.. Memang sudah seharusnya suami mendukung dan perhatian seperti itu kepada istri." Timpal Pak Wijaya gembira.


" Aaku...aku kan naik sepeda motor pa ? " Ucap Sandra menyahut.


" Sandra, jika suami perhatian seperti itu jangan di tolak. Kalian kan butuh waktu lebih banyak lagi untuk saling mendalami satu dengan yang lain. Selama ini Alfian sibuk bekerja terus, kalian hanya bertemu saat pagi dan malam saja. Itupun jika kamu belum tertidur. Jadi biarkan saja jika sesekali Al ingin meluangkan waktu untuk istrinya." Ucap Pak Wijaya.


Sandra pun tidak bisa menolak.


" Sebenarnya apa yang dia rencanakan ? Kenapa tiba-tiba baik ? Bukankah semalam dia marah dan berteriak-teriak kepadaku ? Dasar manusia plin-plan." Batin Sandra.


" Cepat habiskan sarapanmu. Keburu macet di perjalanan." Tegur Alfian kepada Sandra yang melamun.


"Eh .. Oke." Dengan cepat Sandra menghabiskan nasi goreng di piringnya hingga tandas.


" Pa... kita berangkat duluan. " Kata Alfian kemudian.


" Ya..., sana .. Hati-hati di jalan." Ucap Pak Wijaya.


" Pa, Sandra pamit duluan." Pamit Sandra mengulurkan tangannya lalu mencium tangan mertuanya.


" Hati-hati di jalan." Balas Pak Wijaya.


" Kak .. Nebeng...." Rengek Neta yang ikutan bergegas.


" Gak. Kamu sama Arkha saja. " Tolak Alfian yang hanya ingin berdua dengan Sandra.


" Yah, dasar pelit. Kakak begitu ya sekarang !" Neta berucap sambil cemberut.


" Neta biar bareng kita aja mas. Kan jadi asik rame-rame." Sandra ikut mendukung keinginan adik iparnya itu.


" Sekali tidak ya tidak. Ayo buruan." Ajak Alfian menarik lengan Sandra.


" Aah.. Lepas ! Kenapa hobi banget sih narik lengan orang. Sakit tau !" Omel Sandra sambil berusaha mengimbangi langkah Alfian yang panjang.


" Ayo masuk. " Perintah Alfian dengan senyum semanis mungkin.


" Kamu sakit ?" Tanya Sandra keheranan setelah duduk di kursi penumpang.


" Aku baik-baik saja." Ucap Alfian tanpa keraguan. Mereka duduk bersebelahan di kursi belakang.


" Pagi Nona Sandra.. Pagi Tuan Alfian." Sapa Dias yang ternyata sudah siap duduk di kursi pengemudi.


" Astaghfirullah... Mas Dias ! Masih pagi kenapa sudah sampai di sini ?" Tanya Sandra kaget.

__ADS_1


" Wah... Sepertinya Nona belum sadar jika setiap hari saya lah yang mengantar jemput Tuan Alfian." Jawab Dias enteng.


" Ohh... iyakah ? Mm... pasti gaji mas Dias gedhe banget ya. Kerja gak pakai hitungan jam, sudah jadi asisten,jadi sekretaris masih jadi sopir pula. " Celoteh Sandra dengan konyol.


" Hehehe. Nona tidak akan sanggup membayangkannya . " Kekeh Dias.


" Wah... berarti memang sangat besar ya mas gajinya ?" Tanya Sandra semakin penasaran.


" Gajinya sebulan bisa untuk hidup hingga sepuluh tahun yang akan datang." Potong Alfian.


" Wuaaahhh. Mas Dias hebat sekali ??" Kata Sandra terkagum-kagum. Hal itu justru membuat Alfian duduk cemberut karena istrinya memuji laki-laki lain.


Dias yang sadar akan hal itu langsung mengubah topik.


" Nona sangat berlebihan, saya tidak sehebat itu. Tuan Aku yang paling hebat di sini. Pendapatan tuan sebulan bahkan mencapai triliunan. " Ucap Dias mencoba menggiring topik ke Alfian.


" Oh. " Jawab Sandra singkat.


Alfian dan Dias di buat melongo karenanya.


" Hanya oh ?" Tanya Alfian kesal.


" Maumu gimana ? Harus bertepuk tangan ?? Kan aku tidak tanya. Mas Dias saja yang kasih tahu." Jawab Sandra cuek.


" Hsssh... Sabar-sabar....." Batin Alfian .


Dias tidak bisa menahan tawanya. Dia terkekeh kecil lalu menutup mulutnya dengan cepat saat Alfian meliriknya.


" Sudah jalankan mobilnya." Perintah Alfian.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Mereka menuju ke kampus terlebih dahulu untuk mengantar Sandra kuliah.


" Nanti pulang jam berapa ?" Tanya Alfian baik-baik.


" Mm .. sebelum jam makan siang sepertinya sudah selesai. Hari ini aku cuma ada dua jadwal mata kuliah saja."


" Oke, tunggu aku nanti aku jemput." Ucap Alfian.


" Tidak usah mas, nanti aku bareng Arkha saja. Lagi pula nanti aku mau makan siang bareng temen-temen." Ujar Sandra menolak.


" Baik . Nanti jika sudah selesai makan siang kabari saja. Nanti baru aku jemput." Ucap Alfian tenang.


" Aduh.... Ni orang kenapa ? Dari tadi aneh banget kelakuannya. Kenapa tiba-tiba jadi sok perhatian gini sih ?" Batin Sandra keheranan.


Dias hanya menyimak saja apa yang mereka katakan.


" Baiklah, terserah mas saja." Ucap Sandra mengalah. Dia tidak ingin Alfian marah lagi seperti semalam.


" Nah gitu dong. Nurut sama suami." Kata Alfian terdengar senang. Sedangkan Dias tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya.


" Mas ?" Panggil Sandra kemudian.


" Ya ?"


" Mm... boleh minta duit ? " Tanya Sandra takut-takut.


" Bukankah kamu pegang kartu kredit ?" Alfian balik bertanya.


" Aku mau yang kes .."


" Kes ? Berapa ? " Tanya Alfian heran.


Sandra mengacungkan telunjuknya perlahan.


" Satu juta ?" Tanya Alfian yang kemudian mengambil uang dari dalam dompetnya.


" Bukan satu juta. Satu lembar saja." Ucap Sandra yang kemudian mengambil satu lembar uang seratus ribuan dari tangan Alfian.


" Untuk apa seratus ribu ?" Tanya Alfian tidak habis pikir. Dia kira Sandra ingin satu juta.


" Eh .. Untuk jajan seminggu. Maaf uang yang kemarin habis." Sandra berterus terang kepada Alfian.


" Untuk jajan seminggu ? Mana cukup ! Ambil ini semua. Nanti biar Dias yang memberimu jika kurang. Aku tidak ada uang kes selain satu juta ini. " Kata Alfian memberi tahu.

__ADS_1


" Tidak perlu mas. Ini kebanyakan. Aku minta seratus ribu saja." Kekeh Sandra menolak.


" Kenapa tidak bertanya untuk apa uang itu sehingga habis dalam sekejap ? Dasar orang kaya ! Uang segitu tidak ada artinya." Batin Sandra. Percuma saja dia ketakutan, dia pikir Alfian akan marah.


" Kau yakin ?" Tanya Alfian khawatir.


" Tentu saja."


" Sudah sampai nona " Potong Dias.


" Oke. Terimakasih mas Dias. " Ucap Sandra ramah kemudian mengantongi uang seratus ribu yang dia minta.


" Mas aku kuliah dulu. " Pamit Sandra.


" Hem. " Balas Alfian.


Sandra hendak membuka pintu mobil namun tidak bisa. Dia terus mencoba tapi tetap tidak bisa.


" Sepertinya pintu mobilnya rusak." Ucap Sandra dengan polosnya.


Alfian tersenyum misterius.


" Mungkin ada yang kamu lupakan. " Kata Alfian.


" Apa ? " Tanya Sandra sambil menengok tas dan dompetnya.


" Tidak ada mas , semua udah lengkap."


" Ada yang lupa. " Alfian tetap bersikeras.


" Nggak ada !" Bantah Sandra.


" Kau yakin ? Ini... " Alfian mengacungkan telunjuknya ke pipinya.


" Maksudnya ?" Tanya Sandra yang tidak peka.


" Mungkin maksud tuan, nona lupa mencium pipi tuan. " Ucap Dias menimpali.


" Hah ??" Sandra terkejut tidak percaya. Sejak kapan dia harus mencium pipi Alfian ?


" Eee... malu mas, kan ada mas Dias. " Tolak Sandra baik-baik.


Alfian menatap Dias sekilas kemudian Dias yang sangat peka langsung berpaling dan menutup kedua matanya.


" Sudah..." Ucap Alfian menang .


" Astaga.... ada-ada saja tingkahnya !" Batin Sandra sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


Cup . Sandra terpaksa mengecup pipi Alfian. Alfian senang sekali menerimanya.


" Satu lagi baru boleh pergi. " Kata Alfian mengerjai Sandra.


" Ah, mas .... Shhhh." Sandra berusaha menenangkan hatinya yang mulai kesal.


Cup cup cup Sandra mengecup kedua pipi Alfian beberapa kali agar dia tidak di jaili Alfian terus.


Alfian terkekeh puas. Lalu mengecup bibir Sandra sekilas.


" Mas !" Teriak Sandra kesal. Bagaimana Alfian bisa melakukannya di depan orang lain ?


" Sudah bisa di buka." Ucap Alfian sambil tertawa kecil.


Sandra segera mencobanya. Benar saja. Pintu mobil itu sudah bisa di buka. " Aa sialan ..... ternyata Alfian sengaja melakukannya !" Batin Sandra malu.


Sandra kemudian pergi sambil berlari menutupi wajahnya yang tersipu.


" Ckckck.... Benar-benar tidak tahu tempat ! Ada jomblo di sini woy !" Teriak Dias setelah kepergian Sandra.


Alfian justru terkekeh mendengarnya.


" Bukankah dia menggemaskan ?" Tanya Alfian kemudian.


" Hah terserah ! Dasar bucin !" Ejek Dias.

__ADS_1


" Biarin dari pada jomblo ..." Balas Alfian tak mau kalah.


__ADS_2