
Sandra yang tidak bisa tidur dengan tenang setelah Alfian meninggalkannya begitu saja, terlihat *******-***** bantal yang dia peluk. Rasa kesalnya terhadap suaminya bertambah semakin besar. Sandra sendiri merasa heran mengapa dirinya bisa jadi sebegitu kesalnya terhadap Alfian, seolah dia sangat membenci suaminya itu.
" Dasar anak nakal ! Gak bisa menjaga pergaulan ! Masih sekolah tapi sudah berbuat seperti itu !" Omel Sandra yang masih mengingat jelas foto-foto yang di berikan anak kecil di taman siang tadi.
" Sayang, nanti kalau kamu sudah lahir, jangan seperti papamu ya ? Kamu harus jadi anak yang baik, yang bisa menjaga kehormatan dan diri sendiri." Ujar Sandra berubah lembut sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
Saat itulah ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk di ponselnya.
" Hai Sandra bagaimana dengan kejutan-kejutan kecil dari ku ?" Bunyi pesan itu dari nomor yang tidak dia kenal.
" Kejutan ? Kejutan apa maksudmu ?! Siapa kamu ?!" Balas Sandra.
" Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang pasti aku mengenal baik siapa kamu dan juga suami mu !" Balas nomor asing itu. Sampai di situ Sandra sudah enggan ingin menanggapinya. Suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja, membuatnya malas bertele-tele apalagi dengan orang asing yang belum dia ketahui.
" Masa bodoh ,aku tidak perduli." Balas Sandra akhirnya, kemudian menaruh ponselnya kembali.
" Jangan begitu Munafik dan Bodoh..! Suami tersayang mu itu nyatanya masih menyimpan begitu banyak rahasia di belakang kamu !" Pancing orang asing itu lagi.
"Ni orang siapa sih ?! Mengapa sok-sokan tahu banget tentang suamiku !" Dengus Sandra mulai terpancing. Apalagi hal itu menyangkut tentang suaminya yang seharian ini membuat moodnya menjadi buruk.
" Mau bicara seperti apapun tentang suamiku,, aku nggak akan pernah percaya ! " Balas Sandra dengan nada kesal.
" Terserah jika kau tidak percaya, tapi aku mempunyai banyak buktinya..Jika ingin tahu.. Temui aku esok hari di jalan xxx pukul sepuluh pagi." Lanjut pesan itu.
Sandra semakin gemas dan geram di buatnya.
" Bodo amat ! Dasar pembual !!" Balas Sandra lagi. Padahal dalam hati dia mulai terusik. Apa mungkin suaminya memiliki begitu banyak rahasia yang tidak di ketahui olehnya ? Apalagi tadi setelah mengangkat telepon dari seseorang, suaminya itu pergi begitu saja dan mengabaikannya yang sudah jelas-jelas sedang merajuk.
" Hahaha ... Kau bilang aku pembual ? Sandra...Sandra...Jangan terlalu polos jadi orang. Aku bahkan tahu jika suami mu saat ini sedang tidak ada di rumah. Dia meninggalkan mu sendirian kan ? Atau dia mengabaikan mu ?"
Deg !
" Bagaimana orang itu bisa tahu jika Al tidak ada di rumah? Sebenarnya siapa dia ? " Gumam Sandra menjadi semakin penasaran.
" Jangan lupa besok pukul sepulu pagi. See you baby. " Imbuh orang tersebut mengakhiri percakapan mereka.
Setelah pesan terakhir tersebut, tak ada pesan masuk lagi. Sandra menjadi ragu dan bimbang. Ada rasa penasaran siapakah sebenarnya orang yang telah mengirim pesan kepadanya. Tapi dia lebih penasaran lagi dengan rahasia yang di sembunyikan oleh suaminya.
" Benarkah Mas Al main rahasia di belakang ku ? Mm, dan mungkinkah orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang meneror dan menyuruh anak kecil menyerah kan foto-foto masa lalu suami ku ? Jika iya, aku harus berhati-hati. Aku tidak boleh terpancing begitu saja." Gumam Sandra kemudian mengabaikan pesan itu lalu memejamkan kedua matanya. Tapi tetap saja, rasa penasaran membuatnya tidak bisa tidur dan justru semakin memikirkannya.
" Mungkinkah orang itu Rena ? Tapi itu tidak mungkin, Rena masih di dalam penjara." Lanjut Sandra yang memang tidak tahu jika Rena sudah bebas dari penjara.
" Mm, atau itu ulah Bu Reisa ? Tapi sepertinya tidak.. Aku dengar Mas Al sudah memperingati dan mengancamnya untuk tidak menggangu kami lagi. Aku yakin Bu Reisa tidak mungkin berani mengabaikan ancaman suamiku." Lanjut Sandra lagi.
" Aah, sudahlah... Pikir besok saja. Lagi pula jika itu hanya bukti-bukti yang akan membuatku terluka dan sakit hati lagi, untuk apa aku peduli ? Lebih baik aku tidak terpancing. Bodo amat, mau Mas Al bohong kek, mau jungkir balik di luaran sana aku juga nggak perduli sama sekali ! " Omel Sandra kesal sendiri.
" Tapi..... Apa yang Mas Al sembunyikan dari ku ?" Imbuh Sandra yang tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri.
" Aaa... Aku jadi bingung...!" Teriak Sandra.
...****************...
Di tempat lain, Bu Reisa dan anak buah Alfian sudah sampai di sebuah tempat rahasia. Di sana Alfian berniat untuk menyandera Bu Reisa agar Rena mau segera menyerahkan diri.
__ADS_1
" Bibi diam dan bertingkah lah yang baik di sini. Selama Rena belum ketemu, bibi tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini." Ucap Alfian setelah sampai.
" Tapi ini di mana Al .. ?" Tanya Bu Reisa ketakutan sambil melihat keadaan di rumah itu.
" Bibi tidak perlu tahu, yang pasti keamanan di sini di jaga ketat oleh para anak buahku. Jadi percuma saja jika bibi berniat kabur. Seharusnya bibi malah harus bersyukur, karena aku membawa bibi ke tempat yang masih layak di sebut rumah dan bukanya membawa bibi ke tempat yang jauh lebih mengerikan dari pada penjara !"
Mendengar itu, nyali Bu Reisa semakin menciut.
" Ta... Tapi, bibi mohon Al... Tolong jangan sakiti Rena. Bibi Rela menggantikannya . Jika Rena tertangkap, bibi saja yang di hukum.. " Bu Reisa mulai terisak kembali mengingat putrinya. Sesayang itu beliau kepada Rena meskipun sudah tahu jika putrinya bukanlah anak yang baik dan berbakti.
" Aku membawa bibi ke sini bukan untuk bernegosiasi ! Apapun yang terjadi nanti, Rena harus membayar perbuatannya ! Berani sekali dia mencoba membunuh istriku dengan racun ! " Bentak Alfian.
" Huhuhu... Bibi yang salah Al ,bibi yang lalai. Harusnya bibi tidak membiarkan Rena pergi keluar dari rumah. Salahkan saja bibi... Ampuni kami Al.. Maafkan Rena, berilah dia kesempatan terakhir..." Mohon Bu Reisa.
" Aku sudah memberikan banyak sekali kesempatan bi ! Tapi kali ini, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk Rena.. Air mata bibi sudah tidak ada gunanya, jadi berhentilah menangis dan berdoa saja agar putrimu yang buruk rupa itu segera ketemu sehingga bibi tidak perlu lama-lama tinggal di sini !" Sahut Alfian dengan nada kesalnya kemudian berbalik dan meninggalkan Bu Reisa yang masih menangis.
" Jaga perempuan itu dan jangan sampai bisa kabur. Jangan berbuat sesuka hati dan tetap beri dia makan dan minum. Setelah itu tunggu perintah selanjutnya dari ku !" Kata Alfian sambil lalu.
" Siap ! Baik Tuan !!" Jawab beberapa anak buah Alfian dengan kompak.
Alfian kemudian kembali melajukan mobilnya. Dia ingin segera pulang menemui Sandra. Dirinya tidak bisa tenang mengingat dia meninggalkan Sandra di rumah sendirian meskipun ada beberapa ART dan Pak Satpam.
Mengingat istrinya yang saat ini sedang kesal dengannya entah karena apa, membuat Alfian berinisiatif untuk membelikan Sandra makanan kesukaannya. Untuk itu Alfian mampir terlebih dahulu ke mini market dan membelikan Sandra beberapa macam coklat kesukaan istrinya itu.
Alfian tersenyum sambil menenteng tas plastik berisi coklat-coklat itu. Dia tahu betul, coklat selalu bisa mengubah mood buruk istrinya menjadi lebih baik. Apalagi jika tahu coklat yang dia bawa beraneka ragam. Alfian berpikir jika pasti Sandra akan segera luluh.
Sampai di rumah, ART menyambutnya dengan ramah.
" Malam bi ... Nona sudah makan ?" Tanya Alfian kepada Bibi Murni Asisten rumah tangga yang baru dua hari bekerja di sana.
" Belum tuan. Sejak tadi nona masih ada di dalam kamar." Jawab Bibi Murni.
" Ck, baiklah bi, siapkan saja makan malamnya. Selesai mandi nanti aku ambil." Ucap Alfian.
" Siap tuan." Bibi Murni kemudian pergi ke dapur menuruti perintah majikan barunya.
Lampu kamar belum menyala saat Alfian masuk ke dalam kamar. Alfian segera menyalakan lampu. Melihat Sandra yang masih berlindung di bawah selimut kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah Alfian masuk kamar mandi, Sandra membuka selimutnya dan melirik ke arah kamar mandi dengan sebal.
" Pukul berapa ini ? Kenapa lama sekali perginya ?" Batin Sandra gondok.
" Awas saja kalau sampai macem-macem..!" Imbuh Sandra dalam hati.
Selesai mandi, Alfian mendekati Sandra yang masih setia memunggunginya.
" Sayang... Bagaimana keadaan mu ? Sudah mendingan belum ?" Tanya Alfian lembut sambil mengecupi kedua pipi istrinya agar segera bangun.
" Apaan sih mas....Sana.. Menjauh dariku !" Gerutu Sandra.
" Sayang, sudah dong ngambeknya ? Kalau mas ada salah, katakan... Biar mas tahu salah mas apa .."
" Siapa juga yang ngambek...!"
__ADS_1
" Kamu..."
" Enggak..."
" Ngambek..."
" Enggak..."
" Ngambek....itu sampai manyun- manyun-begitu. Padahal sudah dari siang tadi lho kamu ngambek nggak jelas.. Ayolah,, Oya ...lihat ... Mas bawakan kamu banyak coklat..."Bujuk Alfian lagi.
" Aku nggak ngambek mas... Aku kesal ..!"Ucap Sandra akhirnya.
" Kesal ? Kesal kenapa sayang ?? Karena mas nggak nemenin kamu di rumah sakit ? Mas nggak tahu sayang, mas juga sudah minta maaf,, maafin mas terlambat tahu. Maaf mas tidak bisa jagain kamu. Kamu boleh marah.. Tapi jangan lama-lama..ya...ya...?" Ucap Alfian memohon dengan wajah memelas.
" Bukan itu mas ! Aku kesal karena hal lain.."
" Hal lain ? " Tanya Alfian.
" Iya..."
" Kesal karena apa yank .. ?"
" Udah lah, males bahasnya !"
" Kok males..."
" Ya males aja ! Terus mas dari mana ? Mas lupa aku sedang sakit ? Begini cara mas jagain istri ? Istri lagi sakit pergi begitu saja tanpa pamit ?" Kata Sandra menumpahkan sebagian unek-uneknya.
" Bukan begitu yank.. Tadi ada urusan yang sangat penting, makanya mas buru-buru sampai lupa pamit." Jawab Alfian.
" Jadi urusan mas lebih penting ketimbang aku ?"
" Eng... enggak yak.. Tentu saja kamu yang paling penting.. Tapi tadi benar-benar urgent.. Mas baru saja dapat kabar kalau..."
" Aku nggak mau tau mas.. Aku lelah .. Jangan ganggu aku !" Potong Sandra yang tidak mau mendengarkan penjelasan dari Alfian terlebih dahulu.
" Oke,, tapi kamu harus makan dulu, setelah itu minum obat baru setelah itu istirahat lagi."
"Nggak mau..! Mas saja yang makan..aku nggak berselera."
" Yank.. Kasian cacing-cacing di perut kamu.." Bujuk Alfian sambil menggoda.
Deg !
Kata-kata dari suaminya barusan mengingatkan Sandra dengan kehamilannya. Tanpa di sadari, Sandra kembali mengusap perutnya. Sekarang dia tidak boleh egois, ada kehidupan lain yang ingin tumbuh dan berkembang di dalam perutnya.
" Baik, aku mau makan.. Tapi di sini saja.. Aku malas turun ke dapur.." Balas Sandra beralasan.
" Siap sayang ku... Bentar ya mas ambilkan dulu makanannya."
" Hm"
" Muach.." Kecup Alfian di kening Sandra sebelum keluar dari kamar.
__ADS_1