
Sandra dan Neta asik mengobrol hingga lupa waktu. Mereka asik bercerita sambil mendengarkan musik hingga tertidur. Pak Wijaya yang tadinya menengok ingin menyuruh Sandra kembali ke kamarnya jadi berbalik haluan. Dia meminta Alfian untuk memindahkan Sandra ke kamar mereka.
" Dasar gadis udik ! Selalu saja merepotkan ku !" Keluh Alfian.
Meski kesal, Alfian tetap membopong Sandra kembali ke kamar mereka. Setelah membaringkannya di ranjang , Alfian menyelimuti gadis itu kemudian dia sendiri ikut tidur di sebelahnya.
Sandra bangun kesiangan hari itu . Dia terkejut kenapa bisa tidur di kamarnya. Seingatnya semalam dia sengaja tidur di kamar Neta.
" Sudah bangun ?" Sapa Alfian yang sudah terlihat rapi meski mengenakan baju santai . Hari ini hari Minggu , hari terakhir dirinya cuti. Besok Sandra juga sudah mulai masuk kuliah.
" Kenapa aku bisa tidur di sini mas ? " Tanya Sandra setelah benar-benar bangun. Dia melihat seluruh pakaian yang dia kenakan. Masih utuh, masih sama. " Alhamdulillah." Batinnya.
" Kamu tidak ingat yang terjadi semalam ? " Tanya Alfian yang punya niat untuk mengerjai Sandra lagi.
" Maksudnya ?? " Sandra kebingungan. Firasatnya mulai tidak enak.
"Semalam penyakit tidur sambil berjalan mu kambuh. Lalu kamu datang ke kamar dan tiba-tiba memelukku seperti guling." Tipu Alfian.
" Astaghfirullahh... Benarkah ? " Tanya Sandra terkejut.
Alfian mengangguk sambil tersenyum licik dan mendekat kepada Sandra.
" Kau tahu.. Selain memelukku semalam kamu juga......"
" Jangan lanjutkan !" Teriak Sandra tiba-tiba , Dengan cepat dia menutup mulut Alfian dengan telapak tangannya.
" Aku mau mandi. " Ucap Sandra gugup kemudian menghambur lari ke kamar mandi.
Alfian terkekeh kecil. Dirinya sangat puas bisa membuat Sandra malu dan salah tingkah seperti itu.
" Rasain ! Itu hukuman karena kamu sering membuatku menggendong mu ! Lagian kalau sudah tidur sulit sekali terbangun, sampai-sampai tidak sadar jika ada yang menggendong." Ucap Alfian senang.
" Aah ... apa yang kamu lakukan lagi Sandra ! Memalukan..... Apa yang kamu lakukan kepada Alfian ? Aaa... aku tidak ingat sama sekali. Bagaimana bisa?? Tapi ...... Apa betul aku tidur sambil berjalan ? Apakah aku harus periksa ke dokter ? Kalau memang benar,aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Aaahh.... Ada apa dengan diriku ?!" Sandra bermonolog sendiri di kamar mandi.
Siang itu Pak Wijaya,Neta ,Sandra dan Alfian berkumpul di ruang santai. Mereka menikmati cemilan dan teh hangat karena cuaca sedang mendung dan dingin. Kehadiran Sandra di keluarga itu mampu membuat suasana berubah menjadi lebih hidup. Suara tawa gembira sering terdengar di sana. Neta yang biasanya suka mengurung diri di dalam kamar kini ikut bergabung dan bercanda ria bersama-sama. Sesekali Alfian yang berusaha selalu bersikap acuh terlihat ikut terkekeh mendengarkan cerita masa kecil Sandra yang seru dan lucu.
" Aku tidak menyangka , ternyata kamu selucu ini." Ujar Pak Wijaya.
" Iya ... tapi hentikan dulu kak berceritanya. Perutku sakit saking lelahnya tertawa." Imbuh Neta sambil memegangi perutnya.
" Iyakah ?" Tanya Sandra dengan polosnya.
" Masa kecilmu sungguh bahagia." Lanjut Pak Wijaya.
" Tidak juga sebenarnya pa... hehehe."
" Iya .. cerita kak Sandra seru sekali. Pasti sangat menyenangkan bisa bermain bebas dan banyak temennya. Aku tidak menyangka, kak Sandra ternyata juga bisa usil."
" Itu karena kita tidak mempunyai banyak mainan. Jadi kita menciptakan permainan sendiri untuk bermain." Sandra menjelaskan kepada Neta.
" Itu lebih menyenangkan daripada punya banyak mainan tapi tidak ada yang menemanimu bermain." Ucap Neta tiba-tiba sedih. Dirinya mengingat masa kecilnya sendiri yang selalu kesepian.
__ADS_1
" Neta.. Maafkan aku,aku tidak bermaksud membuatmu sedih... Tapi kamu tenang saja, jangan bersedih lagi. Mulai sekarang ada aku yang akan selalu bermain dengan mu. " Bujuk Sandra menghibur.
" Kamu tidak bersalah kak kenapa minta maaf ? Baiklah, tapi kakak harus janji ya ?" Neta berusaha tersenyum kembali.
Sandra mengangguk setuju.
Sedangkan Pak Wijaya kini terlihat murung. Dia mengerti maksud perkataan putrinya. Dulu maupun sekarang dia selalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga tidak ada waktu untuk bermain dengan anak-anaknya. Rasa bersalah selalu menyelimuti hatinya, tapi mau bagaimana lagi, itu semua juga demi kebahagiaan mereka.
Suasana menjadi kurang nyaman setelah pembicaraan itu.
" Ayo balik ke kamar. Aku mau tidur siang. " Ajak Alfian kemudian.
" Mas duluan saja. Aku masih mau disini. " Jawab Sandra.
Alfian menatapnya dengan tajam. Barulah Sandra mengerti.
" Ehm... Ba... baiklah. Aku ikut dengan mas. Papa, Neta, kita permisi dulu." Pamit Sandra.
Pak Wijaya mengangguk sedangkan Neta kembali terlihat sedih. " Kak Sandra beruntung sekali." Batinnya.
Setelah Alfian dan Sandra tak terlihat. Pak Wijaya duduk di sebelah Neta.
" Maafkan papa, papa tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian bertiga. Maafkan papa yang selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk kalian. Papa sungguh ayah yang buruk. " Ucap Pak Wijaya berkaca-kaca.
" Jangan bilang begitu pa, papa ayah terbaik bagi Neta. Harusnya Neta yang minta maaf karena Neta kurang bersyukur. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing. Terimakasih karena papa sudah berjuang sendiri selama ini untuk memberikan yang terbaik untuk kami." Balas Neta yang langsung menghambur ke pelukan papanya.
Begitulah Neta , gadis itu selalu mengesampingkan kesedihannya meski terkadang dia tidak bisa menutupinya. Dia selalu berfikir positif atas segala sesuatu yang terjadi.
Beruntung sekali dia mempunyai anak yang bisa mengerti keadaannya. Di bandingkan dengan kakak-kakaknya, Neta lebih dewasa dan bijak menyikapi keadaannya yang harus bekerja membanting tulang sendiri demi kebahagiaan mereka.
" Tumben gak ke mall atau jalan-jalan. Biasanya kamu suka sekali ?" Tanya Pak Wijaya mengubah topik.
" Rencananya mau ngajak kak Sandra ,tapi Neta takut sama kak Al. Semalam kakak terlihat tidak suka waktu melihat kak Sandra ketiduran di dalam Neta. " Ucap gadis itu.
" Hmmm... Kamu maklumin kakakmu dulu ya ? Mereka baru saja menikah. Hari-hari pertama pernikahan memang sangat berarti. Dulu saja papa malah gak ingin lepas sama sekali dari ibumu. Sampai-sampai ibumu mengancam papa untuk tidur di luar karena jengkel." Ucap Pak Wijaya mengingat masa lalunya.
" Hahaha... Ternyata papa sebucin itu kepada mama."
Mereka berdua kemudian terkekeh bersama.
" Mas .... ? " Tanya Sandra setelah sampai di kamar.
" Jangan pernah bahas masa kecil mu lagi ! Aku tidak mau Neta bersedih. Masa kecilnya tidak seberuntung kamu yang bisa menikmatinya bersama orang-orang tersayang ! " Bentak Alfian.
" Baik mas . Maafkan aku."
Alfian melengos. Lalu dia mengambil dompet, mengambil sebuah kartu kredit berwarna hitam lalu memberikannya kepada Sandra.
" Ambil ini. Sebagai suamimu aku wajib memberimu nafkah. Kartu kredit ini bisa kamu gunakan untuk memenuhi semua kebutuhan mu. " Alfian menjelaskan.
Sandra mengambil kartu kredit itu. Lalu menatap Alfian kebingungan.
__ADS_1
" Aku tidak bisa menggunakannya mas . Lagi pula mana bisa aku memakai kartu ini saat membeli bakso atau siomay." Kata Sandra mengembalikan kartu itu.
" Bakso ? " Lagi-lagi Alfian terkejut mendengar perkataan gadis itu.
" Aku memberimu kartu kredit tanpa limit, tapi yang ada di pikiranmu hanya ingin membeli semangkuk bakso ? " Alfian tidak bisa mempercayainya. " Bahkan kamu bisa beli mobil dan rumah mewah dengan kartu itu !" Ucap Alfian keheranan.
" Aku tidak butuh rumah atau mobil mas. Disini aku sudah mendapatkan fasilitas yang lebih dari cukup. Bahkan aku tidak pernah membayangkan sebelumnya." Kata Sandra terus terang.
" Lalu maumu apa ?! "
" Mm .. Kalau boleh... aku minta uang saku buat kuliah saja.... Tapi yang kes !" Imbuh Sandra cepat.
" Maumu berapa ? "
" Eee.... enam....."
" Oke .... Enam juta satu minggu. Nominal yang sangat kecil. Dasar gadis bodoh !" Potong Alfian.
" Enam juta ? " Sandra mengulang perkataan Alfian.
" Kurang ? Mau sepuluh , dua puluh atau tiga puluh juta ? Tapi aku tidak punya uang kes sebanyak itu sekarang."
" Enggak.... bukan kurang.. Enam juta terlalu banyak untuk seminggu. Aku hanya ingin enam ratus ribu."
" Apa ! Enam ratus ribu ?" Alfian menggeleng tidak percaya.
" Dapat apa uang segitu untuk satu Minggu. Jangan membuatku malu . Orang akan berfikir aku terlalu pelit kepada istri ! "
" Tapi akukan hanya butuh uang bensin dan uang makan mas. Seratus ribu per hari sudah cukup ! " Sandra tetap menolak.
" Kamu tidak dengar ? Jangan membuatku malu."
" Tidak akan ada yang tahu."
" Aku tidak suka dibantah !" Alfian kemudian mengambil uang kes di dalam lemari kecil di kamar itu.
" Ini enam juta untuk satu Minggu. Harus habis. Dan kartu kredit ini tetap harus kamu terima. Terserah mau kamu pakai atau tidak. Aku juga tidak perduli !" Ucap Alfian.
Dengan enggan akhirnya Sandra menerima uang dan kartu itu.
" Dasar orang kaya. Sukanya maksa dan buang-buang duit. Tidak tahukah jika di luar sana banyak orang yang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk selembar uang ? Ini justru di suruh menghabiskan uang. " Batin Sandra kesal. Kalau saja dia bisa melawan..
" Sekarang aku mau tidur, semalam kamu membuat tidurku tidak nyenyak !" Ucap Alfian lalu merebahkan tubuhnya.
" E...a... eee..." Sandra gugup tidak tahu mau ngomong apa.
" Aku mau belajar saja. " Ucapnya tersipu malu.
Alfian masih tersenyum kecil meski kedua matanya sudah terpejam.
" Gadis itu pasti sedang salah tingkah sekarang !" Batin Alfian senang.
__ADS_1