
Sandra keluar dari kamar Alfian dengan kesal . Bagaimana bisa Alfian melakukan hal seenaknya seperti tadi. Tidak bisa di biarkan, Sandra akan membuat perhitungan nanti. Menyetujui permintaan Alfian bukan berarti dia mau di perlakukan seenaknya saja, apalagi seperti tadi. Sandra bergidik mengingat kejadian barusan. Dasar Mesum !
Sampai di bawah Sandra melihat Pak Wijaya sedang duduk santai di ruang tamu. Kebetulan, Sandra ingin segera pamit pulang.
" Papa.... " Tegur Sandra kepada calon mertuanya.
" Eh , sudah ngobrolnya ? Cepat sekali, mana Al ? " Tanya Pak Wijaya.
" Tuan masih di kamar pa." Ucap Sandra terdengar kesal.
Pak Wijaya tersenyum melihat tingkah anak muda itu.
" Tuan ?? Apakah selama ini kamu masih memanggilnya seperti itu? " Tanya Pak Wijaya lagi terkekeh.
"Dia calon suami kamu nak, sebaiknya kamu biasakan memanggilnya dengan sebutan yang lebih cocok dengan hubungan kalian. Seperti kamu memanggil saya papa , kamu bisa memanggilnya dengan sayangku , cintaku , suamiku , atau apa lagi ya bahasa kerennya anak muda sekarang.... hehehe " Lanjut beliau tersenyum.
" Maaf pa, saya belum terbiasa.. Nanti saya pikirkan lagi." Balas Sandra malu.
" Ya, harus... kalau bisa mulai dari sekarang. Kalian bertengkar ? " Tebak beliau.
Sandra menggeleng cepat.
" Ada apa ? " Tanya Alfian menyahut dari belakang.
" Enggak ada, papa hanya bertanya kepada calon menantu papa kenapa masih memanggil mu dengan sebutan tuan. Sebentar lagi kalian akan sah menikah, hubungan kalian antara suami dan istri bukan antara majikan dan bawahan." Jelas Pak Wijaya.
" Jangan di besar-besarkan pa, lagian terserah dia mau panggil apa. "
" Tidak bisa begitu, tidak enak di dengar, kurang pantas."
" Sudahlah pa ! " Kekeh Alfian.
" Tidak, papa mau dengar sekarang Sandra memanggilmu dengan sebutan yang lebih manis. " Iseng Pak Wijaya. Dia tau kedua anak muda itu tersipu malu.
" Tapi pa ! Papa jangan...."
" Mas Alfian. " Panggil Sandra lirih melerai anak dan ayah itu.
" Nah begitu lebih enak didengar, apalagi jika di tambah dengan panggilan sayang.." Goda Pak Wijaya puas.
" Ah sudah, aku antar dia pulang dulu ! " Kata Alfian mengalihkan pembicaraan.
" Ya benar, hari sudah malam. Sayang kamu belum mau tinggal. Akan lebih baik jika kamu juga segera pindah ke sini nak, papa sudah tidak sabar. Papa yakin rumah ini akan terasa lebih hidup saat kamu tinggal di sini." Ujar beliau.
" Saya rasa, saya belum pantas tinggal di sini pa, sebelum saya sah menikah dengan tuu.. maksud saya ... sebelum saya sah menikah dengan mas Alfian. " Ralat Sandra buru-buru. Lidahnya masih kelu dan malu untuk memanggil Alfian seperti itu. Padahal dengan mudah dia menyebutkanya untuk orang lain.
" Ya papa mengerti, ya sudah pulanglah. Biar di antar Al ."
" Tidak usah pa, saya diantar sopir saja. Tu..em... Mas Al pasti lelah. " Tolak Sandra. Dia ingin menghindar dari Alfian. Sandra masih kesal dengan perbuatan Alfian tadi.
__ADS_1
" Sudah tugas dia mengantar kamu. Akan lebih aman jika kamu di antar calon suami mu pulang." Tegas Pak Wijaya.
Sandra pun menurut, tidak enak menolak permintaan Pak Wijaya yang begitu perhatian kepadanya.
" Baik pa . Sandra pamit dulu. " Ucap Sandra mengalah dan mencium telapak tangan Pak Wijaya berpamitan.
Sandra dan Alfian kini sudah berada di dalam mobil. Kemudian Alfian melajukan mobilnya dengan santai.
" Saya tidak mau di panggil dengan sebutan tadi." Kata Alfian datar.
" Ya . " Jawab Sandra singkat dan ketus.
" Kamu marah?" Tanya Alfian heran.
" Tidak."
" Kamu marah..." Jelas Alfian lagi.
" Tidak ."
"Marah."
" Tidak tuan, tidak ya tidak." Ucap Sandra jengkel.
" Wahh, hebat sekali kamu. Belum apa-apa sudah berani membentak ku !" Ucap Alfian kembali sinis.
" Bukan begitu tuan, saya hanya tidak suka tuan berbuat hal seperti tadi. Saya tidak suka tuan selalu mencium saya se enaknya." Ujar Sandra.
" Lalu hanya Gilang yang boleh menciummu se enaknya begitu ?! " Alfian mulai menaikkan nada bicaranya.
" Bukan itu maksud saya tuan, lagi pula itu tidak sengaja..." Berbicara dengan Alfian benar-benar menguras energi Sandra. Marah salah ,diam salah , semua serba salah. Menjelaskan pun juga percuma.
" Tapi kamu mau, kamu menikmatinya juga kan ! " Alfian semakin kesal.
" Lho lho lho. Tadikan yang kesal aku, yang harusnya marah aku, kenapa jadi dia yang marah-marah gak jelas sih ? " Batin Sandra dongkol. Sandra memutar kedua bola matanya dengan malas.
" Sudahlah, saya tidak ingin bertengkar terus dengan tuan. Saya sudah minta maaf dan bahkan tuan sudah dua kali mencium paksa saya. " Sandra mendengus mengingatnya.
" Terserah saya !" Balas Alfian.
" Tuan tidak bisa begitu. Tuan tidak boleh egois dengan memaksa seseorang menerima semua perlakuan tuan. Apa lagi jika orang itu tidak menyukai tuan ."
" Tidak usah menasehati... Dengar, jangan lupakan surat yang kamu tanda tangani kemarin, sebaiknya kamu menghafalkannya !" Ucap Alfian tidak terima.
" Tapi saya tetap tidak setuju dengan hal tadi. Saya akan menuruti semua perintah anda . Dengan syarat tidak ada kontak fisik di antara kita, dan tuan tidak boleh mencampuri urusan pribadi saya. Misal saya mau berteman dengan siapa ,pergi kemana,mau apa tuan tidak berhak ikut campur. Dengan begitu saya akan menuruti semua yang tuan mau. Di luar saya bisa hidup bebas seperti yang saya mau tapi jika sudah di rumah saya hanya akan menuruti dan melayani semua kebutuhan tuan. Begitu pun dengan tuan. Saya tidak akan mencampuri kehidupan pribadi anda. Tuan tenang saja meski begitu saya juga tetap akan menjaga batasan saya selama di luar. "
Alfian tercengang mendengar ucapan Sandara. Bagaimana bisa gadis udik ini sekarang berani dengannya ?
" Kamu membuat negoisasi ? " Tanyanya kemudian.
__ADS_1
" Iya tuan. " Jawab Sandra yakin.
" Siapa kamu sampai berhak bernego dengan saya. Jangan besar kepala dulu . Saya sama sekali tidak tertarik dengan dirimu dan juga kehidupanmu. Jangan bermimpi saya akan menyentuhmu setelah menikah nanti. Kamu jauh dari kriteriaku ! " Ejek Alfian.
Sedangkan Sandra justru terlihat lega mendengar ejekan itu. Tadinya Sandra sempat cemas memikirkan hal yang tidak-tidak. Meski menikah muda Sandra tidak ingin hamil dulu. Masih jauh dari keinginannya menjadi seorang ibu di usia dini. Apa lagi Sandra juga takut jika pernikahan ini tidak selamanya. Kasihan anaknya nanti jika menjadi korban ke egoisan kedua orang tuanya.
" Kalau begitu tuan setuju kan ? " Desak Sandra.
" Terserah !"
" Kalau terserah saya anggap tuan setuju." Ucap Sandra kegirangan.
Alfian malas menanggapi.
" Mm.. terus mulai sekarang saya harus panggil tuan gimana ?" Lanjut Sandra .Dia penasaran kenapa Alfian tidak mau di panggil mas.
" Terserah asal jangan mas. Saya tidak suka mendengarnya, apa lagi kamu memanggil Gilang juga seperti itu !" Ucap Alfian.
" Lalu saya harus panggil apa ? Saya terbiasa memanggil mas atau mbak kepada orang yang lebih tua dari saya. " Tanya Sandra bingung.
" Kalau kakak gimana? Kakak saja ya tuan . " Bujuk Sandra.
" Emang sejak kapan kamu jadi adikku ! " Sentak Alfian.
" Abang?? "
" Kamu kira saya abang ojol, abang baso !" Bentak Alfian lagi.
" Ya ampun tuan , kalau begitu tuan langsung bilang saja mau di panggil gimana." Ucap Sandra kesal.
" Terserah ! " Balas Alfian.
" Jangan buat saya bingung, kalau begitu saya tetap akan panggil tuan mas saja ! Kan emang benar tuan udah mas emas ... Udah gak ABG lagi ! " Omel Sandra .
" Gak . Saya gak mau. !"
" Terserah." Giliran Sandra yang kini bilang terserah.
" Kamu ...! " Ucap Alfian geram karena Sandra menirukannya.
Keduanya kembali diam . Hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di kost Sandra.
" Saya masuk dulu tuan, eh mas .." Ucap Sandra sengaja.
Alfian melotot tidak suka namun Sandra tersenyum tidak perduli.
" Oke, kita lihat nanti. Akan saya balas ! " Ucap Alfian dalam hati.
Sandra turun dari mobil. Tanpa menunggu lama Alfian langsung melajukan mobilnya dengan kencang. Niatnya tadi ingin mengerjai Sandra kembali,justru dia yang emosi lagi di buatnya.
__ADS_1
Sampai di kost , seperti biasa Nurul sudah menunggunya di teras dan bertanya kemana perginya Sandra. Mereka akhirnya mengobrol sambil sesekali tertawa bersama. Setiap hari bertemu tidak membuat kedua gadis itu kehabisan bahan obrolan.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin menusuk. Penghuni kost yang lain sudah tidur terlelap. Sandra dan Nurul masuk ke dalam kamar masing-masing setelah puas mengobrol hingga lupa waktu.