
Setelah melewati perjalanan yang begitu jauh menurut Sandra. Akhirnya mereka tiba di depan rumah Sandra. Bendera putih di pasang di gang masuk ke arah rumahnya. Terlihat banyak orang yang datang bertakziah . Seketika itu Sandra tak kuasa lagi menahan sedih dihatinya . Sandra segera turun dari mobil begitu mobil berhenti. Berlari menerobos rombongan orang yang datang menuju rumahnya.
" Bapakkkk, bapaaak , bapaaak " Teriak Sandra.
Bibi Nani yang sudah menunggunya di depan pintu tak kuasa menahan tangis. Dipeluknya Sandra yang sudah dia anggap seperti putrinya.
" Sabar sayang , bapak sudah tenang , sudah tidak merasakan sakit lagi ,jangan menangis ,ibumu pasti tidak akan kuat melihatmu bersedih." Kata Bibi Nani disela tangisnya.
" Huhuhuhu.... bapak bi, kenapa bisa, bapak dimana bi ." Tangis Sandra.
Bibi Nani memapah Sandra mendekati jenazah Pak Imam yang memang sudah di mandikan dan dimasukkan kedalam peti.
Sandra terduduk di samping peti jenazah ayahnya. Dipeluk dan di ciumnya peti itu.
"Bapak, kenapa bapak ninggalin Sandra, bapak , Sandra pulang pak ... ini ... ini Sandra bawa gaji pertama Sandra pak, ini buat bapak, Sandra sudah bisa mencari uang pak, Sandra bisa bantu bapak dan ibu... Bapak jangan tinggalin Sandra ... Huhuhuhu ."
Sandra menangis histeris disamping peti jenazah ayahnya. Dari dalam kamar beberapa orang memapah ibunya.
"Ibuuukkk ...." Sandra memeluk ibunya yang terlihat sangat lemas.
Kedua perempuan ibu dan anak itu menangis tersedu. Kepergian Pak Imam membuat keduanya sangat terpukul.
Beberapa orang yang berada di sana ikut larut dalam kesedihan, karena memang Pak Imam adalah orang yang baik, rajin beribadah dan suka menolong orang disekitarnya meski beliau sendiri sedang dalam kesulitan.
Para pelayat semakin banyak yang datang dan mensholatkan jenazah Pak Imam.
Sandra yang mulai bisa tenang dan mengontrol kesedihannya duduk tidak jauh dari peti jenazah bersama ibu dan Bibi Nani. Entah sejak kapan Nurul sudah berada di sampingnya, memeluk dan mengelus pundak Sandra, memberi semangat dan menguatkan Sandra.
Saat ini Sandra tidak bisa berfikir dengan jernih, meski sudah tidak meraung dan terisak namun air matanya masih belum bisa berhenti. Kepalanya mulai terasa berat dan pandangan matanya mulai kabur. Namun dia tahan sebisa mungkin. Dia tidak ingin kehilangan momen-momen terakhir bersama ayahnya. Rasa bersalah dalam diri saat tidak berada di samping ayahnya disaat-saat terakhir ayahnya membuatnya tidak ingin menyesal tuk kesekian kalinya.
Hari semakin siang, proses pemakaman pun akan segera dimulai . Tidak sedikit orang yang ikut dalam proses pemakaman Pak Imam. Karena Bu Lastri beberapa kali pingsan. Maka banyak orang yang mencegahnya ikut dan menjaganya di rumah. Sandra ikut ke makam ditemani Syefa dan Nurul. Terlihat Gilang , Pak Wijaya dan beberapa tetangga juga ikut mengiringi pemakaman Pak Imam. Karena memang Pak Imam dan Bu Lastri sudah tidak memiliki sanak saudara lagi.
Saat di pemakaman Sandra tak kuasa lagi menahan Isak tangisnya . Pandangan matanya semakin kabur dan sakit di kepalanya semakin menjadi. Tubuh Sandra terjatuh sebelum seseorang tiba-tiba saja menangkap tubuhnya dari belakang . Sandra sempat terlihat terkejut sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
" Sandra, Sandra, bangun ... " Isak Nurul disampingnya.
Sandra terbaring di kamarnya. Sayup-sayup dia mendengar beberapa orang saling berbicara.
Sandra membuka kedua matanya, hening seketika. Dilihatnya sekeliling, ada Ibu dan Nurul yang memegang kedua tangan kanan dan kiri di samping tempat tidur.
Dia menoleh lagi. Ada Pak Wijaya , Bu Henny, Syefa , Gilang dan Tuan Alfian !! Ya Tuan Alfian berada disini ,berdesakan di dalam kamarnya yang sempit. Sandra ingat betul terakhir sebelum dia pingsan, Tuan Alfian lah yang tadi dia lihat.
" Tuu...tuan ... " Kata Sandra.
Yang dimaksud hanya diam, tanpa ekspresi dan tanpa senyum.
" Sayang, kamu sudah sadar nak ? Ibu khawatir sekali. Kamu pingsan sangat lama. " Ucap Bu Lastri mengelus telapak tangan Sandra.
" Ibukk, bapak buk...... " Tangis Sandra kemudian , begitu ingat kejadian apa yang menimpanya.
"Sttt, sudah-sudah jangan menangis lagi. Kita harus ikhlas nak, ibuk sudah mengikhlaskan kepergian bapak, tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan. " Kata Bu Lastri menenangkan putrinya sambil menyeka kedua matanya.
" Kamu minum dulu ya, mumpung masih anget. " Ucap Nurul sambil tersenyum dan menyerahkan segelas teh manis yang tersedia di meja kecil samping tempat tidur Sandra.
Sandra menerimanya dan meminumnya, haus .. Sandra menghabiskan teh manis itu karena memang sejak pagi tadi Sandra belum minum ,terlebih tenaganya habis untuk menangis .
Semua terlihat lega.
Bibi Nani datang masuk kedalam kamar menghampiri Sandra .
__ADS_1
"Sandra sudah sadar nak, mandi dulu yuk.. setelah itu kita makan malam bersama-sama. " Ucap Bibi Nani.
" Semuanya terimakasih atas kepedulian kalian , mumpung semua sudah matang dan sudah di siapkan mari kita makan malam bersama. " Lanjut Bibi Nani kepada semua yang ada di dalam kamar.
Satu persatu semua orang meninggalkan kamar itu . Saat Gilang melangkah, sebelum keluar dari pintu, Gilang menoleh kepada Sandra. Sesaat Sandra melihat raut muka cemas dan gelisah di mata Gilang sampai akhirnya Gilang menghilang dari pandangan matanya. Sandra tidak tau apa arti tatapan itu. Kepalanya masih terasa berdenyut. Dengan dibantu Nurul Sandra berjalan ke kamar mandi.
" Udah sampai sini saja ." Pinta Sandra.
" Kamu yakin ? " Tanya Nurul.
Sandra tersenyum. " Kamu ikut yang lain saja , nanti aku menyusul. " Ucap Sandra lagi.
" Baik kalau begitu, aku tunggu di sana ya ? " Ucap Nurul akhirnya.
Sebenarnya Nurul tidak tega , namun karena Sandra memaksanya dia pun mengalah.
Di dalam kamar mandi , Sandra segera melepas pakaian yang dia kenakan. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang sudah Bibi Nani siapkan. Tanpa terasa Sandra terisak lagi.
" Maafin Sandra pak ..... " Ucap Sandra sedih.
Setelah selesai mandi akhirnya mereka semua berkumpul di dapur ala kadarnya di rumah Sandra. Karena orangnya banyak ayah Nurul menggabungkan dua meja sekaligus.
Mereka makan dalam diam. Selesai makan , mereka pindah ke ruang tamu yang lebih luas. Bu Henny berpamitan terlebih dahulu, karena banyak pekerjaan yang tadi dia tinggalkan. Setelah menyampaikan duka cita dan salam dari teman-teman yang lain Bu Henny pulang bersama Syefa. Sandra dan Bu Lastri tentu sangat berterima kasih kepada mereka.
Bibi Nani dan Nurul kemudian pamit ke dapur ingin membereskan bekas makan malam tadi. Suasana kembali hening, mereka duduk tanpa bersuara. Sebenarnya Sandra bingung kenapa Gilang ,Pak Wijaya, dan Tuan Alfian masih berada disini . Bukankah ini sudah jam yang tidak lazim untuk bertakziah ? Sandra hendak bertanya namun di urungkan niatnya karena takut tidak sopan.
" Nak, ... " Ucap ibu Sandra memulai pembicaraan.
" Ya bu,, " jawab Sandra. Digenggamnya tangan ibunya dengan erat. Hanya Bu Lastri satu-satunya keluarga yang dia punya saat ini.
" Begini, sebelum bapakmu pergi , bapak ada pesan untuk mu . "
"Pesan ? Pesan apa bu, sepertinya ibu takut mengungkapkannya ,Sandra gak papa bu, katakan saja ." Kata Sandra lembut.
" Sebenarnya ini masalah yang waktu itu nak." Sela Pak Wijaya.
Bu Lastri menunduk. Beliau tidak tega menyampaikan pesan terakhir dari suaminya.
Sandra semakin bingung tidak mengerti .
" Nak Sandra , sebelum Pak Wijaya pergi selamanya, beliau berpesan untuk tetap melanjutkan perjodohan yang semula kami rencanakan. " Kata Pak Wijaya .
Semua orang terdiam menatap Pak Wijaya . Hanya Gilang dan Alfian yang terlihat terkejut. Terlebih Gilang ,dia terlihat sangat shock.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Ibu..... " Di tengoknya Bu Lastri , berusaha mencari jawaban dari perempuan yang telah melahirkannya. Yang kini menunduk sesenggukan.
" Maafkan ibu nak, tapi ini adalah keinginan terakhir bapakmu , ibu tidak bisa menolak nya. " Ucap Bu Lastri . Beliau menyerahkan handphone bututnya kepada Sandra.
" Di sini , ada rekaman pesan terakhir bapakmu untuk kamu , jika kamu pulang bapak ingin kamu mendengarkannya. Sebenarnya ibuk mau telepon kamu waktu itu, tapi bapakmu bilang jangan mengganggu kamu disaat jam kerja, bapak juga tidak ingin kamu khawatir, akhirnya bapak merekam sendiri dan menyuruh ibu menyampaikannya kepadamu." Tutur Bu Lastri.
Sandra menerima handphone itu dengan gemetar. Dicarinya perekam suara yang ada di handphone tersebut.
" Sandra anak bapak ,, uhuk uhukk uhukkk... ! " Air mata kembali mengalir di kedua sudut matanya. Suara ayah yang ia rindukan yang kini sudah tidak bisa dia dengar lagi.
" Sandra, bapak minta maaf jika keputusan bapak kali ini tanpa persetujuan dari mu dulu. Uhuukk ... uhuukk ! Setelah malam itu, Pak Wijaya datang dan berkata apa yang dia dengar darimu. Sebenarnya bapak sedikit kecewa karena kamu menolak niat baik seseorang. Maafkan bapak jika kali ini bahkan bapak memaksamu untuk mengabulkan permintaan bapak. Mungkin ini adalah permintaan pertama dan terakhir bapak untuk putri bapak... uhuk uhuuuk uhuukk... " Jeda..
" Sandra , mungkin umur bapak sudah tidak lama lagi, dan yang harus kamu tahu. Bapak sedih harus meninggalkanmu di saat kamu belum menikah , belum memiliki seseorang yang bisa menjagamu seperti bapak menjaga dan menyayangimu, terlebih... uhuk uhukk .. ibumu sekarang juga sering sakit-sakitan. Bapak cemas ,bapak sedih memikirkan bagaimana nasibmu kelak ketika kami sudah tidak ada lagi di sampingmu. Saat itulah Pak Wijaya dengan niat baik, memohon kepada bapak untuk menjodohkan putra pertamanya dengan mu agar beliau bisa ikut menjagamu. Bapak percaya Pak Wijaya orang yang tulus dan baik, bapak yakin jika putranya pun pasti baik seperti beliau. Oleh karena itu, bapak mohon... Kabulkan lah permintaan bapak agar nanti jika bapak sudah tiada, bapak bisa pergi dengan tenang. Uhuuukkk , Uhukkkkk hukkkk..."
__ADS_1
" Jadilah anak yang berbakti kepada orang tua, bapak titip ibu nak , semoga kalian bahagia ."
Hening...
" Huhuhuhu ,huhuhuhu .... " Kali ini tangisan Bu Lastri yang memecah keheningan. Sandra memeluk erat ibunya. Tubuhnya gemetar antara sedih dan kecewa. Entah begitu sulit mengungkapkan isi hatinya. Air mata terus mengalir dari kedua matanya yang sudah bengkak karena lelah menangis.
" Sudah bu ." Ucap Sandra.
Semua terdiam menyaksikan interaksi antara ibu dan anak itu.
Nurul dan Bibi Nani yang dari tadi mendengarkan dari dapur ikut menangis melihatnya.
Tuan Alfian dan Gilang yang duduk di bangku paling pojok sama-sama mengepalkan tangannya . Entah apa yang ada dipikiran mereka.
" Jadi nak Sandra, langsung saja ." Lanjut Pak Wijaya.
" Perkenalkan , ini Alfian putra pertama bapak. Dia yang akan menjadi suamimu ! " Kata Pak Wijaya tegas.
" Apaaa !!!!! " Sandra terlonjak kaget .
" Tututu... tuan Al Alfian ?Tidak mungkin " Kata Sandra kaget
" Tapi sayangnya , itu memang benar. Bapak juga kaget ternyata kalian sudah saling mengenal, dan terlebih lagi bapak merasa bodoh karena tidak tahu jika ternyata selama ini kamu bekerja di restoran yang dikelola anak bapak. "
Sandra masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin ?? Orang yang bapak yakini bisa menjaga dan menyayanginya adalah orang yang selama ini menindas dan menghinanya sesuka hati. Tidak , Alfian tidak sama dengan Pak Wijaya yang baik dan lembut. Sandra tidak percaya jika mereka anak dan ayah .
" Tapi om, bukankah ini pemaksaan." Kata sebuah suara .
Ya dia Gilang, dari tadi dia menahan emosinya. Dia berpikir jika ternyata Alfian sudah tau sejak awal jika dirinya di jodohkan dengan Sandra sehingga dengan sengaja Alfian selalu mengerjai Sandra.Terlebih saat ini Gilang menyadari perasaannya kepada Sandra. Kecewa melihat orang yang dia sukai di jodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Semua terdiam..
" Semua ini sudah kami sepakati jauh-jauh hari , tidak ada paksaan antara saya dan beliau. Sekarang hanya menunggu jawaban Sandra karena Alfian sudah setuju dengan keputusan ini ." Tegas Pak Wijaya.
Giliran Alfian yang ter lonjak kaget. Memang beberapa bulan terakhir ayahnya selalu membicarakan perjodohan untuknya. Namun selalu berakhir dengan pertengkaran. Alfian tidak pernah menyetujui perjodohan tersebut. Apalagi saat tahu jika yang di jodohkan dengannya adalah gadis udik yang sangat dia benci. Sedangkan Gilang, kini menatap Alfian dengan tajam . Seketika amarahnya memuncak . Dia merasa sahabatnya sendiri telah membohonginya. Padahal dia tahu betul jika dia bekerja di tempatnya karena ingin mengejar Sandra.
Untuk sesaat semua diam dengan pikiran masing-masing.
" Bagaimana nak Sandra ?" Tanya Pak Wijaya.
Sandra merasa tersudut saat ini. Sebenarnya dia tidak mau, ingin sekali dia menolaknya sekarang juga. Tapi kata-kata bapaknya yang dia dengar barusan membuatnya terpaksa mengangguk setuju. Sandra ingin bapaknya pergi dengan tenang. Dia ingin menjadi anak yang berbakti seperti keinginan terakhir bapaknya.
Pak Wijaya tersenyum . Bu Lastri memeluk Sandra dengan erat . Menangis sejadi-jadinya. Nurul dan Bibi Nani pun juga larut dengan kepedihan yang Sandra rasakan. Mereka tahu isi hati Sandra yang sebenarnya. Tapi merekapun tidak bisa menolong .
" Kalau begitu secepatnya kita laksanakan pertunangan mereka terlebih dahulu. Semakin cepat semakin baik . Saya tahu kita masih dalam masa berduka tapi kita juga harus ingat jika inilah keinginan beliau agar beliau bisa pergi dengantenang . " Lanjut Pak Wijaya.
" Saya menurut saja Pak, Saya serahkan semuanya kepada bapak ." Kata Bu Lastri kemudian.
" Baiklah Bu, kalau begitu saya yang akan melakukan semua perlengkapan yang diperlukan . Ibu tenang saja. Anak buah saya akan mengurus semuanya. Dan nak Sandra ... Sebaiknya nak Sandra tidak usah masuk kerja dulu . Nak Sandra bersiap-siap untuk pertunangan kalian Minggu depan ! " Kata Pak Wijaya
" Hah minggu depan !!! " Ucap Sandra dan Alfian barengan.
Pak Wijaya mengangguk.
Gilang berdiri tidak mampu menahan emosinya lagi. Tanpa permisi dia meninggalkan rumah itu .
Semua kembali terdiam, Pak Wijaya terkejut melihat sikap Gilang. Tidak biasanya Gilang tidak punya sopan santun seperti itu. Karena dia hafal betul bagaimana sikap teman-teman anaknya.
Hari semakin larut , setelah selesai membahas acara tujuh hari yang akan di selenggarakan bersamaan dengan acara pertunangan Alfian dan Sandra , Pak Wijaya dan Alfian pulang dengan mobil masing-masing.
__ADS_1
Bibi Nani dan Nurul menginap di rumah Sandra. Malam ini mereka tidur bersama di ruang tamu.