
" Ke ruanganku sekarang !" Alfian membentak Sandra di depan semua orang yang berkumpul di sana .
" Baik tuan. " Balas Sandra pasrah.
" Ahhh !! Kenapa jadi serumit ini hidupku ! "Keluh Sandra dalam hati.
Dengan gontai dia mengikuti Alfian yang sudah pergi lebih dahulu.
" Apa-apaan tadi hah ! Bilang sama kekasih mu itu agar bisa jaga sikapnya atau pernikahan kita gagal ! Akan aku adukan semua kepada papa dan ibumu ! " Ancam Gilang langsung.
" Saya bukan kekasih Gilang tuan ! Saya akui semalam saya berbuat hal bodoh tapi saya tidak pernah jadian atau menjadi kekasih Gilang. " Sandra mencoba membela diri .
" Bukan kekasihnya?? Kalau begitu kamu tak lebih dari gadis murahan ! "
" Saya bukan gadis seperti itu tuan !"
" Bukan gadis seperti itu ? Lalu kamu mau bilang kamu gadis baik-baik begitu ? Gadis baik-baik tidak akan mau di cium oleh sembarang laki-laki terlebih tanpa ada hubungan apapun !"
Sandra tersentak. Apa yang di katakan Alfian benar lagi. Dia tidak ada hubungan apapun dengan Gilang. Status mereka hanyalah teman tidak lebih dari itu. Benar Sandra mulai menyukai Gilang dan Gilang juga sudah berkali-kali menyatakan cintanya.Namun status mereka tetap hanya sebatas teman karena memang Sandra belum pernah menerima pernyataan cinta Gilang. Bodoh Sandra . Kamu gadis bodoh !! Hanya karena terbawa perasaan....
" Jawab ! Kalau bukan gadis murahan, gadis seperti apa kamu ini !? Tidak bisa menjawab .. hah !" Teriak Alfian semakin meninggi.
" Mungkin .. mungkin gadis bodoh tuan ! " Jawab Sandra lirih.
" Memang, seperti itulah dirimu ! Gadis kampung, udik, tidak tau diri dan bodoh ! Mimpi apa sampai papa menjodohkan diriku sama gadis sepertimu !"
" Silahkan hina saya sepuas anda tuan . Tapi tolong jangan gagalkan pernikahan ini. " Ucap Sandra menyerah . Terserah Alfian mau menghinanya seperti apa. Yang penting dia harus bisa meyakinkan Alfian agar pernikahan ini tetap berlanjut.
" Bukankah kemarin kamu sendiri yang meminta tolong padaku untuk menggagalkan pernikahan ini ? Kenapa sekarang kamu justru kekeh melanjutkannya. Padahal aku sudah berbaik hati hendak mewujudkan permintaanmu kemarin. " Senyum Alfian mengejek.
" Karena ibu saya tuan. Saya tidak ingin mengecewakan ibu saya. Persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Saya takut penyakit ibu kambuh, saya takut ibu kecewa, saya takut ibu bersedih . Aku mohon tuan. Jika saja tuan menolak sejak awal mungkin semua ini tidak terjadi." Isak Sandra tak bisa menahan sedihnya.
" Jadi kamu menyalahkanku ? "
" Tidak tuan, hanya saja ibu saya sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan ibu terlihat lebih sehat dan bahagia sekarang. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan ibu dengan kepedihan lagi. Saya mohon maafkan saya.. " Tangis Sandra semakin menjadi mengingat sosok Bu Lastri yang selalu tersenyum dan sabar menghadapi Sandra selama ini.
" Oke, saya maafkan.. tanda tangani surat ini sekarang ! Tadi Dias ke sini mencarimu tapi kamu sedang sibuk. "
" Baik tuan. "
Sandra pun menandatangani surat pranikah tersebut tanpa membaca ulang lagi. Tidak ada pilihan lain. Saat ini kebahagiaan ibunya yang utama.
" Bagus . Mulai sekarang kamu akan menuruti semua perintah ku ! " Senyum Alfian puas.
__ADS_1
Sandra hanya menunduk sedih. Bayangan pernikahan sudah ada di depan mata. Namun bukan pernikahan bahagia tentunya. Entah apa yang sudah di siapkan Alfian untuknya . Dia yakin laki-laki itu sudah mempersiapkan semua hal buruk untuk menyiksanya. Sebulir bening air mata jatuh ke pipi Sandra. Sakit. Perih, sedih . Namun sekali lagi, ini sudah keputusan yang Sandra ambil.
" Maafin aku mas Gilang .. Selamat tinggal... " Batin Sandra.
"Selain bodoh ternyata kamu juga gadis cengeng. " Ejek Alfian.
" Pakai handphone ini, dan lebih baik mulai sekarang kamu berhenti bekerja !" Alfian menyodorkan sebuah handphone keluaran terbaru yang jelas lebih mahal dari yang Gilang belikan kemarin.
Sandra diam tak bergeming. Semalam Alfian mengambil handphone barunya dan sekarang menggantinya dengan handphone yang lebih mahal ? Sama-sama handphone sama saja fungsinya. Apa coba maksudnya !
" Ambil ! " Sentak Alfian.
"Ba...baik " Sandra terpaksa menerima handphone itu. Daripada dia murka lagi. Batinnya.
"Tuan,, tapi saya masih ingin bekerja .. " Pinta Sandra.
" Kamu baru saja menandatangani surat itu. Kamu tahu maksudnya. Apapun itu kamu harus menuruti semua mauku ! Jangan coba membuatku marah lagi !" Bentak Alfian untuk yang kesekian kalinya.
" Tapi..."
" Pergi ,kemasi semua barang-barang kamu yang ada di sini. Nanti saya jemput di kost kamu. Papa mengundang kita untuk makan malam. Ada yang ingin papa bicarakan !"
Terasa percuma melawan Alfian. Apa lagi di situasi sekarang yang tidak memungkinkan untuk Sandra mengelak maupun menolak. Setelah perdebatan yang tetap di menangkan Alfian, Sandra meninggalkan ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Sedih, kecewa, marah, terluka. Namun dia bisa apa ?
" San, Lo baik-baik aja kan !" Tegur Bima yang melihat Sandra berjalan sambil melamun.
" San.... gimana ? Tuan Alfian maafin kamu kan ?!" Tanya Syefa yang ikutan nimbrung begitu melihat Sandra.
Sandra menggeleng. Enggan rasanya berbicara saat ini .
" Aku di pecat ..." Aku Sandra.
"Hah ?? Serius San !" Teriak Syefa kaget.
Sandra diam tak menanggapi dan hanya mengangguk sedih
" Gue turut prihatin. Sebenarnya gue pengen bantuin lo, tapi gue sendiri takut di pecat. Loe tau sendiri gue udah punya istri dan orang tua yang harus gue tanggung." Bima menepuk pundak Sandra lembut.
" Iya aku ngerti. Thanks !" Balas Sandra tersenyum kecil.
Syefa yang masih shock dengan apa yang dia dengar masih menutup mulut tidak percaya.
" Udah gapapa." Ucap Sandra yang mengerti tatapan sedih dari temennya itu.
__ADS_1
" Maafin aku San, kita...kita gak bisa .... " Ucap Syefa terbata.
" Aku ngerti kok. Lagi pula keputusan Tuan Alfian sudah mutlak. Siapapun tidak akan bisa merubahnya."
" Thanks ya Fa ,Bim .. Kalian sudah baik dan banyak membantu selama aku disini. "
" Sandra...... " Syefa memeluk Sandra dengan erat.Sandrapun membalas pelukan itu dengan lembut. Tidak menyangka secepat ini dia harus meninggalkan teman-teman yang baru saja menghiasi hari-harinya saat bekerja.
" Semoga persahabatan ini tetap ya.. " Ucap Sandra tercekat. Sebentar bukan berarti tidak ada kenangan indah yang mereka lewati bersama.
" Tentu saja. Saling kabar dan bertemu. Kalau ada libur aku akan main ke tempat mu. Semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan baru." Doa Syefa .
" Semoga segera dapat kerja di tempat lain. " Ucap Bima sedih. Meski tidak terlalu dekat , tapi Sandra adalah teman kerja yang ringan tangan dan cekatan. Saat keadaan keteteran Sandra dengan sigap bisa membantunya sehingga pekerjaan berjalan lancar.
Sandra mengangguk. Tidak ingin berlama-lama dia meninggalkan kedua temannya itu dan mengemasi barang-barangnya. Selesai berkemas Sandra masuk ke ruangan Bu Henny.
Setelah membuka pintu terlihat Bu Henny tersenyum kecut menatapnya.
" Sebenarnya aku kecewa dengan keputusan Tuan Alfian, tapi mau bagaimana lagi. Aku gagal membujuknya." Terang Bu Henny .
Sandra tersenyum. Ternyata ada beberapa orang yang perduli dengannya. Bahkan tadi teman-teman yang lain juga ikut menyalami dan mengucapkan perpisahan buatnya.
" Saya mengerti bu, terimakasih atas kepeduliannya ."
" Ya , tapi ya sudahlah. Lagi pula kamu calon istrinya. Mana mungkin dia memperkerjakan istrinya sendiri. " Lanjut Bu Henny.
"Ssttt... Ibu ! " Bisik Sandra mengingatkan.
Namun Bu Henny cuek saja tak perduli dengan kecemasan Sandra yang takut ketahuan . Akhirnya Sandra mengangkat kedua bahunya dengan pasrah.
" Tidak ada karyawan lain yang segesit kamu jika kamu keluar. Sebenarnya kita butuh orang-orang seperti mu di sini . Apalagi restauran ini mulai banyak pengunjung tak terduga setiap hari. Sayang sekali." Keluh Bu Henny.
" Saya mengerti bu, saya doakan semoga besok anda mendapatkan karyawan baru yang lebih baik lagi kerjanya dari saya." Hibur Sandra.
Bu Henny menghela nafas panjang.
" Oke, ini gajimu.... Semoga bermanfaat. Dan apapun yang terjadi jangan sungkan menghubungi saya. Sebisanya akan saya bantu." Tutur wanita berwajah judes tapi baik itu.
" Terimakasih Bu Hen, pasti saya akan sangat merindukan omelan anda." Canda Sandra agar suasana berubah menyenangkan.
" Hehehe... Jangan khawatirkan soal itu. Nanti setelah kamu resmi menikah kita akan sering bertemu lagi. Hampir setiap hari saya ke rumah Pak Wijaya. " Kekeh Bu Henny.
Memang benar. Bu Henny adalah salah satu orang kepercayaan Pak Wijaya jadi tidak heran jika Bu Henny juga sering keluar masuk rumah Pak Wijaya.
__ADS_1
" Baik bu, Terimakasih atas bimbingannya selama saya disini .Kalau begitu saya permisi. " Pamit Sandra mengulurkan tangannya kepada Bu Henny.
Bu Henny berdiri menjabat tangan itu dan memeluk Sandra . Sangat disayangkan dia kehilangan karyawan istimewanya.