Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kedatangan Gilang


__ADS_3

Sandra baru selesai mandi dan berganti pakaian di kamar hotel yang tadi untuk makeup.


Lelah. Itu yang Sandra rasakan saat ini. Lelah raga dan lelah pikiran. Sandra merebahkan dirinya di atas kasur yang sangat empuk.


Saat tengah melamun , Bu Lastri masuk dan menghampirinya.


" Sudah mandi ? " Tanya beliau.


" Eh ibuk , kapan masuk ? " Sandra balik bertanya.


" Baru saja. " Ucap Bu Lastri tersenyum.


" Ibu tau apa yang sekarang kamu pikirkan. Jangan takut. Dulu ibu juga sama takutnya saat menikah dengan bapak. Cemas , gugup, malu .Tapi semua baik-baik saja." Lanjut Bu Nani.


Sandra tak mampu berucap. Dia beringsut dan berbaring di pangkuan ibunya.


" Jelas beda bu, ibu menikah dengan bapak karena saling cinta. Berbeda dengan Sandra bu. " Ucap gadis manis itu.


" Kita tidak akan tau takdir apa yang sudah Allah siapkan untuk kita nak. Allah bisa membolak-balikkan hati kita dengan mudah. Jalani saja dulu. Dekatkan diri kepada Allah. Jika ini sudah kehendakNya maka kita hanya perlu berusaha yang terbaik. Belajarlah menjadi istri yang baik, istri yang taat dan patuh kepada suami. Layani suami kamu sebaik mungkin. Perasaan sayang itu akan hadir dengan sendirinya.Jarak antara benci dan cinta itu sangat dekat. Yang penting kamu ikuti saran ibu tadi. " Ucap Bu Lastri menasehati putrinya


" Tetap saja bu." Rengek Sandra.


" Semua yang terjadi kepada kita bukanlah suatu kebetulan nak. Sejak kamu bertemu dan menolong Pak Wijaya hari itu, hingga bapak kamu bisa berteman baik dengan beliau. Semua itu adalah skenario Allah untuk mempertemukan kalian dengan sebuah ikatan sakral ini. " Bu Lastri tetap Sabar menasehati putrinya.


" Baik bu, Sandra akan berusaha. " Ucap Sandra pada akhirnya.


" Ibu percaya sama putri ibu." Bu Lastri lalu menciumi pucuk kepala Sandra.


" Oh ya bu, ibu masih di sini beberapa hari kan. Sandra masih kangen. "


" Ibu menginap dua malam lagi di sini. Setelah itu ibu harus kembali ke kampung. Banyak yang harus ibu urus."


" Yah ibukkk, kalau gitu selama ibu masih di sini Sandra tidur sama ibu ya ? " Pinta Sandra.


Tanpa di duga Bu Lastri justru menjewer telinga Sandra.


" Aduh sakit bu....! " Sandra mengaduh .


" Bagaimana bisa kamu bilang begitu nak ! Kamu sudah jadi istri orang sekarang. Kamu harus tidur dengan suami kamu mulai malam ini !" Ucap Bu Lastri tegas tanpa melepaskan tangannya.


" Aa, iya iya bu... Sandra minta maaf." Rintih Sandra kesakitan.


" Hm.. Ingat baik-baik nasehat ibu. " Ujar Bu Lastri lalu melepaskan jewerannya dari telinga Sandra.


" Iya bu. .ih ..." Sandra mengelus telinganya yang kini terasa panas.


" Ehem ! " Terdengar suara seseorang berdeham .


" Ah nak Al. Sini masuk .... Ibu baru saja mau pergi. Sini temenin istri kamu, ibu permisi dulu. " Ucap Bu Lastri setelah tahu siapa yang datang. Kemudian beliau beranjak dari tempat tidur.


" Baik bu. " Alfian mengangguk singkat.


Bu Lastri pun meninggalkan keduanya di sana.


Diam sejenak.


" Ada apa tuan ! " Tanya Sandra ketus.


" Apa begitu cara berbicara dengan suamimu ? " Tegur Alfian yang sepertinya tadi juga mendengarkan nasehat Bu Lastri kepada Sandra.


" Aa. ! " Ucap Sandra tertegun.


" Oh ... ada perlu apa mas ? " Lanjut Sandra berusaha agar terdengar selembut mungkin.


Alfian tersenyum kecil namun sedetik kemudian berusaha kembali jutek.

__ADS_1


" Apa harus ada keperluan dulu untuk menemui istri sendiri ?" Tanya Alfian lagi.


" Ya tidak sih .. " Ucap Sandra gugup .


" Sebentar lagi MUA akan meriasmu lagi. Saya juga mau memperingatkan kamu. Nanti semua yang hadir di acara resepsi adalah orang-orang penting . Saya harap kamu bisa menjaga sikap. Cukup tersenyum seperlunya dan jangan banyak bicara."


" Baik mas . Saya tahu. "


" Bagus. Bersiaplah !"


" Oke ."


Setelah itu Alfian pergi , tepat saat beberapa anggota MUA masuk membawa gaun dan persiapan lainnya yang akan Sandra kenakan untuk resepsi.


Resepsi sore itu berlangsung sangat meriah. Ada begitu banyak hidangan dan hiburan musik dari musisi ternama di tanah air yang meramaikan acara tersebut. Sandra bak seorang putri raja hari itu. Semua perhatian berpusat kepadanya dan Alfian. Para tamu undangan yang hadir silih berganti mengucapkan selamat kepada mereka berdua.


" Capeknya.. " Keluh Sandra mulai lelah.


" Jaga sikapmu, tetap tersenyum dan berdiri yang benar !" Perintah Alfian sedikit berbisik.


" Kapan selesainya mas. Sudah dua jam lebih , aku lelah berdiri. Aku rasa gigiku juga sudah sangat kering saking lamanya tersenyum. " Balas Sandra juga berbisik.


" Selamat tuan. Semoga bahagia. " Ucap salah seorang tamu memotong pembicaraan mereka.


" Terimakasih Tuan Roy . Suatu kehormatan anda bisa datang menghadiri acara ini " Alfian berbasa-basi.


" Wah , muda dan cantik. Pintar sekali tuan memilih seorang istri." Ucap laki-laki itu. Sandra tersenyum mengangguk.


" Tentu. " Jawab Alfian singkat.


Masih banyak lagi tamu yang silih berganti mengucapkan selamat atau berbasa-basi kepada mereka berdua.


Hingga Sandra yang menunduk lelah di buat kaget dengan kehadiran Gilang di sana.


Gilang melangkah gontai mendekati mereka berdua. Tentu Sandra bisa melihat kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam di sana. Hati Sandra menjadi tak karuan. Tidak tega rasanya melihat Gilang .


Sedangkan Alfian berdiri dengan angkuh dengan rahang mengeras. " Untuk apa dia ke sini. Awas saja kalau sampai bikin ulah." Batinnya.


Setelah sampai Gilang tersenyum kecut kepada Alfian.


" Selamat." Gilang mengucapkan selamat kepada Alfian. Tangannya terulur menjabat tangan Alfian kemudian memeluknya. Semua tahu dia sahabat Alfian tentu tidak akan ada yang tahu atau curiga bagaimana hubungannya dengan Alfian saat ini.


" Aku tidak akan menyerah... !" Bisiknya kepada Alfian.


Seketika telinga Alfian memerah. Dia mengepalkan tangannya untuk mengontrol emosinya. Raut mukanya berubah kesal, rahangnya mengeras menahan gemuruh amarah di hatinya.


Gilang tersenyum licik kemudian beralih ke Sandra. Pandangan matanya berubah sendu, tak bisa berucap apapun di depan gadis yang dia sukai. Gilang tersenyum lemah dan berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.


Sepeninggal Gilang, Sandra berubah jadi murung. Dia jadi lebih pendiam.


" Senyum . " Bisik Alfian.


" Meski kamu menangis darah sekarang. Tetap tidak akan merubah keadaan. Kenyataannya, kamu menikah dengan saya dan bukan dengan kekasihmu itu. Lihatlah,dia sangat menyedihkan." Alfian mencemooh Gilang yang terlihat duduk lesu di salah satu kursi tamu undangan yang hadir.


Sandra tak menghiraukan omongan Alfian dan memilih diam. Dia terpaksa tersenyum mengikuti kemauan Alfian meskipun hatinya sedang kacau .


Sedangkan di tempat para tamu undangan berkumpul menikmati jamuan pesta . Gilang mengamati kedua sejoli itu dengan mata merah. Entah karena marah atau sedih yang pasti pria yang tak kalah tampan dengan Alfian itu terlihat tidak baik-baik saja. Dia meminum minuman beralkohol yang di sediakan di sana.


" Aku pasti akan merebutnya. Dia milikku. " Ucap Gilang meracau.


Neta berlari menghampiri kedua kakaknya.


" Tamunya banyak sekali, susah sekali mau berbicara dengan kakak. Selamat ya kak . Neta ikut bahagia. Neta juga seneng akhirnya Neta punya saudara perempuan." Neta memberi selamat pada keduanya dan memeluk mereka satu persatu.


" Kak Al kak Sandra. Selfi bareng yuk !" Neta kemudian berdiri di antara Alfian dan Sandra.

__ADS_1


" Hadap kamera. Kak Sandra lihat ke sini. Siap ya.. Satu....dua... ciss !" Ucap gadis itu .


Neta terlihat bahagia sekali.


" Sudah sana, jangan ganggu kakak . " Perintah Alfian.


" Gak mau , aku mau selfi yang banyak sama kalian. Kak Sandra bilangan kak Al nih, biarin aku disini sebentar. " Neta meminta bantuan kepada Sandra.Namun Sandra yang sedang tidak fokus tidak mendengar percakapan adik kakak itu.


" Kak, kak Sandra.... ! " Ucap Neta lebih keras.


Karena tak kunjung mendengar, Alfian menyenggol punggung Sandra dengan pundaknya.


" Ah, apa ?!" Tanya Sandra kaget.


" Kakak baik-baik saja ? Tanya Neta khawatir.


" Ha ? Oh iya .. kakak baik. Cuman capek saja dari tadi berdiri. " Jelas Sandra berbohong.


" Tuh dengar sendiri kan , sana pergi. Lagi pula tadikan kita sudah ada sesi foto." Usir Alfian lagi.


" Yah kak Al .... , pelit banget di ajak foto !" Gadis itu bergumam lirih. Takut kakaknya mendengar dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Akhirnya acara resepsi pun selesai dan berjalan dengan lancar. Sandra bernafas lega. Akhirnya dia bisa beristirahat setelah ini. Batin Gadis itu.


Sandra berjalan ke kamar pengantin yang telah di siapkan di hotel itu , di bantu oleh Nurul yang memegangi gaun belakangnya yang panjang.


" Aaahh... Aku lelah sekali. Pipiku kram rasanya seharian ini di paksa terus tersenyum. " Sandra berucap sambil memijat kedua pipinya.


" Tamunya emang luar biasa sih. Dan orang kaya semua. Kamu tau ... tadi tamu kita yang dari kampung banyak yang berbisik-bisik. Tadinya mereka gak percaya kalau kamu bakalan nikah sama orang kaya beneran. Seperti ketiban rejeki nomplok. " Kata Nurul memberi tahu .


" Aku tau, bahkan mereka terang-terangan berbicara di depanku kalau aku ini beruntung hanya karena sebuah wasiat. Mereka bilang bapak sangat pintar dan licik sehingga membuat wasiat seperti itu untuk menggaet menantu yang kaya. Kalau saja ini bukan di hari pernikahan dan banyak tamu penting dari keluarga papa. Sudah aku sobek di tempat mulut mereka." Ucap Sandra emosi.


" Hah , mereka sampai bilang begitu ? Wahh, ternyata selama ini kita bertetangga dengan ular . " Tanya Nurul tak percaya .


" Biarin saja. Nanti akan ku balas .. Tapi bukan sekarang. Aku ingin beristirahat malam ini. "


" Oke, aku, bibi dan ibu berada di lantai bawah kamar nomor 652 . Jika kamu mencari, kita ada di sana. Tapi sepertinya kamu akan sibuk malam ini.Gak bakal deh nyariin kita. " Goda Nurul.


" Tukan mulai lagi. Lama-lama aku pites juga kamu Rul. "


" Hahaha. Santai sayang... Eh jangan lupa kado dari aku harus kamu pakai. Aku yakin tuan Al akan sangat senang." Ujar Nurul.


" Dia ? Senang ? Kamu niatnya kasih kado buat aku apa dia sih . Kok dia yang senang. " Ucap Sandra kesal.


" Jangan marah dong, itu buat kalian berdua kok. Hehehe. Nurul berjalan dengan cengengesan. Namun Sandra tidak percaya. Dia mulai curiga pada sahabatnya itu.


" Awas aja ya kalau aneh-aneh." Ancam Sandra.


" Gak lah .... mana aku berani . " Balas Nurul. Namun Sandra tidak mempercayainya begitu saja.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di kamar yang dimaksud.


" Sampai. Ini kamarnya. Tadi aku dah di kasih tau. " Jelas Nurul.


" Kok sepi ?" Tanya Sandra melihat ke sekeliling. Tak ada satu orang pun melintas di sana.


" Sandra ! Jangan oon deh. Mana mungkin suamimu memilih kamar yang sama dengan tamunya. Ini kamar VVIP. Hanya ada dua kamar di lantai ini. Satu milik suamimu satu lagi mungkin kosong." Ucap Nurul sambil mengangkat bahunya.


" Ck.. Aku ikut kamu aja deh , kita tidur bareng. Aku takut nih ?" Keluh Sandra.


" Mana ada pengantin tidur sama temennya di malam pertama ! Jangan macam-macam ah. Nanti kalau suamimu marah , habis kita semua ! " Nurul mengingatkan sahabatnya.


" Dah jangan banyak alasan. Sana masuk, mandi dan bersiaplah .... aku pergi dulu. Dada ...." Lanjut Nurul dan bergegas pergi.


" Rul, Rul .... , tunggu. Rul ... iih ribet banget sih gaun ini. !" Ucap Sandra kesal. Gaun itu mempersulitnya berjalan.

__ADS_1


Nurul terkekeh tak menghiraukan panggilan Sandra.


" Semoga kamu bahagia. Selamat bersenang-senang." Senyumnya.


__ADS_2