Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Mengatakan yang Sebenarnya


__ADS_3

Alfian ingin sekali menghampiri Gilang lalu memukul pria itu. Namun Dias justru mencegahnya.


" Jangan Al. Tahan dulu emosimu. Lihatlah sisi baiknya, Sandra bisa tersenyum dan sudah mau makan sekarang." Bujuk Dias yang lebih bijak.


Alfian kemudian berjalan mundur. Benar yang dikatakan Dias. Berhari-hari Sandra hanya menangis dan melamun. Makan pun juga hanya sesuap atau dua suap.


" Tapi kenapa...... Kenapa justru laki-laki lain yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa seperti itu ? Bahkan dia langsung menurut saat Gilang menyuruhnya makan. Kenapa... Kenapa laki-laki itu bukan aku ?" Tanya Alfian lirih. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya.


" Sabar Al... Nanti aku yang akan bicara pada Gilang." Ucap Dias menenangkan.


" Gak ... Ini urasan pribadiku. Biar aku sendiri yang berbicara padanya." Jelas Alfian. Wajahnya terlihat sangat murung.


Dias tersenyum kecil. Dia senang akhirnya Alfian sudah mulai bisa mengontrol emosinya dan tidak gegabah dalam bertindak.


" Sabar bro... Jodoh gak akan kemana."


Setelah itu Alfian dan Dias kembali ke dalam mobil. Mereka berdua lebih memilih untuk menunggu Gilang keluar. Bukan karena Alfian pengecut, tapi saat ini dia lebih mementingkan kondisi Sandra. Sakit memang melihat istrinya bahagia saat dengan orang lain tapi Alfian berusaha untuk menghiraukan perasaannya.


Tiga puluh menit kemudian Gilang pamit pulang agar Sandra bisa istirahat. Tak di sangka mereka bertiga melihat Alfian dan Dias yang berada di dalam mobil.


Alfian lalu keluar dan menghampiri mereka bertiga.


" Aduh gawat !! Bakalan ada perang dunia ketiga nih ! " Batin Nurul.


Sandra tidak menghiraukan kedatangan Alfian lalu masuk ke dalam rumah.


" Hai Al, Dias ..." Sapa Gilang sedikit kaku.


" Ngapain kamu ke sini ?" Tanya Alfian ketus pada pria dihadapannya itu.


" Aku datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada Sandra ..." Kata Gilang.


Alfian menatapnya dengan tajam. Ingin rasanya memukul, menendang dan menonjok Gilang. Namun dia mencoba untuk mengendalikan dirinya. Dias sudah memperingatkannya, jika dia melakukan hal buruk Sandra akan semakin membencinya. Dia tidak ingin itu terjadi.


" Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Tapi tidak di sini. " Kata Alfian kemudian.


" Oke, aku juga ingin menjelaskan sesuatu kepadamu."


Mereka bertiga akhirnya meninggalkan rumah Sandra setelah berpamitan kepada Nurul. Dua mobil mewah terlihat meninggalkan pekarangan rumah tersebut.


" Kukira bakal ada kejadian adu jotos. Mm.... Kurasa Alfian sudah mulai berubah." Gumam Nurul.


" Mereka mau ke mana ?" Tanya Sandra yang kembali keluar setelah mengintip kepergian Gilang,Dias dan suaminya.


" Entahlah... Katanya sih mereka ingin membicarakan sesuatu." Jawab Nurul.


" Ku harap Mas Al tidak berbuat sesuatu yang buruk kepada Mas Gilang." Harap Sandra cemas.


" Kurasa tidak mungkin, jika tuan Alfian ingin berbuat sesuatu yang buruk sudah bakal dia lakukan dari tadi. Kan ada Dias juga diantara mereka, dia pasti bisa mencegah hal itu terjadi. Lagi pula ya San..., harusnya yang kamu cemaskan itu suamimu bukan pria lain. Aku mulai kasihan sama Alfian sekarang." Ucap Nurul menohok.


" Maksud mu ?" Tanya Sandra yang merasa terusik.


" OMG .... Emang kamu gak sadar jika suamimu sudah pulang sejak tadi ? Dari tadi dia mengamati kalian dari dalam mobil. Suamimu itu hebat lho, dia bisa menahan amarahnya saat melihat istrinya tertawa sambil di suapi oleh laki-laki lain. Padahal terlihat jelas dari raut wajahnya jika dia sangat marah." Ucap Nurul yang mulai kesal dengan sahabatnya yang tidak peka.

__ADS_1


" Bukan menahan marah, tapi emang dasarnya dia gak marah. Untuk apa juga dia marah ? Orang yang di cintai nya Ian Rena bukan aku !" Sahut Sandra sewot.


" Terserah deh, susah ngomongin kamu San, keras kepala banget. Kamu gak nyadar atau gimana sih. Jelas-jelas suamimu terlihat marah dan cemburu begitu saat melihat Gilang." Ucap Nurul lalu masuk ke dalam rumah.


" Nurul tunggu....., jangan ngambek dong...." Sandra bergegas menyusul Nurul.


" Terserah, aku kesel sama kamu !" Balas Nurul merajuk.


Alfian, Dias dan Gilang...., ketiganya kini sedang duduk sambil menikmati kopi di sebuah kafe.


" Sudah lama kita tidak berkumpul bertiga seperti ini." Ucap Gilang membuka suara.


" Gak usah basa-basi deh.... " Sahut Alfian.


" Oke.... Apa yang mau kamu bicarakan padaku ?" Tanya Gilang to the poin.


" Aku tahu, kamu pasti senang karena sekarang Sandra sudah tidak mempunyai alasan untuk mempertahankan pernikahan kami. Kamu mau mengambil kesempatankan ? " Tuduh Alfian meluapkan emosinya.


Gilang tertawa sinis mendengarnya.


" Kamu masih tidak berubah sama sekali. Langsung asal tuduh tanpa menanyakan kebenarannya terlebih dahulu."


" Bukankah dulu kamu juga begitu saat aku akan bertunangan dengan Sandra ? Bahkan kamu langsung memukulku tanpa bertanya terlebih dahulu." Alfian mengingatkan.


" Jadi kamu balas dendam ?" Tanya Gilang. Suasana menjadi sedikit tegang.


" Sudah-sudah jangan bertengkar. Kita bicarakan dengan kepala dingin di sini, malu di dengar orang." Kata Dias menengahi.


" Dia yang mulai duluan." Sahut Gilang.


Gilang tersenyum kecil.


" Kamu menyukainya ? Jatuh cinta padanya ?" Lanjut Gilang.


" Bukan urusanmu." Alfian.


" Al...Al.... Tidak ku sangka kamu terjatuh di perangkapmu sendiri. Tapi untuk apa kamu menyembunyikan perasaanmu ?" Gilang tertawa mengejek.


" Sial !" Balas Alfian.


" Hahaha... Tenang saja Al .. Aku tidak akan merebut Sandra darimu." Ucap Gilang.


Alfian dan Dias saling pandang karena kaget dengan pernyataan Gilang.


" Aku gak salah dengar ?" Tanya Alfian tidak percaya.


" Tentu saja. Aku datang jauh-jauh juga untuk mengatakan hal ini. Terimakasih..... Terimakasih untuk apa yang telah terjadi kemarin. Kini aku menyadari jika yang kurasakan pada Sandra bukanlah cinta tapi lebih kepada kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Aku memang menyukainya, ingin melindunginya dan ingin selalu melihatnya bahagia tapi aku salah mengartikannya selama ini. Aku yang marah setelah mengetahui tentang perjodohan kalian menjadi terobsesi kepadanya karena merasa dia adalah milikku, aku yang terlebih dahulu mengenalnya, bahkan aku berhutang nyawa kepada Sandra. Aku tidak terima melihatmu yang suka menyiksanya malah di jodohkan dengannya. Semua itu membuatku hilang akal. Aku merasa cemburu dan sakit hati." Ucap Gilang sambil termenung.


" Be... benarkah itu ?" Tanya Alfian saking terkejutnya.


Gilang tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Alfian tersenyum lega lalu memukul lengan Gilang sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


" Thanks...." Ucap Alfian.


" Aau... Sakit brengsek !" Ucap Gilang meringis.


" Hahahaha..." Alfian justru tertawa senang melihatnya.


Dias ikut bahagia melihat kedua sahabatnya kembali seperti dulu. Inilah yang selama ini dia inginkan.


" Tapi.....Sandra ingin berpisah." Kata Alfian kembali murung.


" Ya, tadi Sandra juga memberitahuku. Dia juga menceritakan tentang kejadian yang terjadi." Sahut Gilang.


" Dia salah paham."


" Aku tahu. Tapi aku sudah menyarankannya untuk berpikir ulang. Tenang saja aku pasti akan membantumu mendapatkan hatinya." Ucap Gilang serius.


" Aku tidak yakin bisa mendapatkan hatinya, dia sangat membenciku. Terlebih setelah kejadian ini." Ucap Alfian tidak percaya diri.


" Kamu gak akan menyerah begitu saja kan ?"


" Tentu saja tidak, aku tidak akan melepaskannya, tidak akan."


" Bagus. Tapi aku ingin kamu berjanji sebelum aku membantumu."


" Janji ? " Alfian mengerutkan keningnya.


" Ya, berjanjilah padaku kamu akan membuatnya bahagia... Jangan pernah menyakitinya lagi."


" Tentu saja, mana mungkin aku melakukan hal bodoh itu lagi ?"


" Oke , aku pegang kata-katamu. Biar bagaimanapun aku berhutang nyawa padanya. Apapun yang membuatnya bersedih atau terluka aku tidak akan membiarkannya begitu saja."


Alfian mengangguk setuju. Perasaannya lega luar biasa. Gugur sudah saingan cintanya, dan kini persahabatannya dengan Gilang juga kembali seperti semula.


" Sudah kelar ?" Tanya Dias yang sedari tadi hanya seperti obat nyamuk di antara mereka.


Mereka tersenyum dan mengangguk bersama.


" Ku dengar kamu membantu bisnis paman dan bibi di luar negeri. Apa kamu akan menetap di sana ?" Tanya Alfian mengubah topik pembicaraan.


" Entahlah, aku belum memikirkan sampai sejauh itu. Aku masih harus kembali ke sana. Tapi mungkin setelah bisnis di sana lancar aku akan kembali ke sini." Jawab Gilang.


" Jadi sekarang kamu hanya berkunjung ?" Tanya Alfian lagi.


" Iya... Beberapa hari yang lalu Dias mengabari tentang ibu Sandra ... Tapi saat itu aku belum bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi baru kemarin aku bisa pulang." Ungkap Gilang.


Alfian menatap Dias dengan tajam yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak menduga jika Gilang akan mengatakan yang sebenarnya di depan Alfian.


" Dasar penghianat ! Jadi kamu sudah tahu sebelumnya jika Gilang akan datang ?" Ucap Alfian.


" Hehehe, sorry.... Aku khawatir melihat kondisi Sandra... Makanya aku memberi tahu Gilang. Ku rasa saat ini hanya Gilang yang bisa menenangkan Sandra." Timpal Dias membela diri.


" Dasar !! Lihat saja, akan ku potong gaji mu bulan ini karena membuatku kesal ! " Ancam Alfian.

__ADS_1


" Jangan dong Al .. Harusnya kamu malah berterima kasih padaku !"


" Gak akan !"


__ADS_2