
Sandra tengah melamun di ruang tamu, menatap keluar jendela yang memperlihatkannya cerahnya cuaca hari itu. Beruntung Alfian masih tidur siang sehingga dia bisa bebas sendirian. Risih rasanya di ikuti kemanapun dia melangkah, meskipun itu oleh suaminya sendiri.
Sandra sedang dilema saat ini. Dia kasihan kepada Gilang yang selalu menjadi sasaran Alfian jika cemburu. Padahal,, pada kenyataannya mereka sudah benar-benar tidak ada perasaan seperti dulu lagi. Ingin Sandra menjauh dari Gilang ... Tapi dia tidak bisa mengabaikan semua kebaikannya. Sandra juga tidak tega membuat laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu terluka dan bersedih.Tapi jika masih berhubungan dengan Gilang, Sandra cemas dan takut hal itu hanya akan membuat Gilang semakin terluka dengan sikap Alfian yang terus menyalah artikan kedekatan mereka. Sedangkan di sisi lain, Sandra juga sangat mencintai suaminya, dia juga ingin menjadi istri penurut dan patuh serta tidak membuat suaminya marah kepadanya. Apalagi sekarang Sandra sudah bertekad dan memutuskan untuk berhenti meminum pil kontrasepsi dan rutin meminum vitamin dan obat penyubur kandungan agar segera bisa mendapatkan keturunan seperti keinginan suaminya.
Sandra menghembuskan nafas sejenak.
" Kenapa San ?" Tanya Bibi Nani.
" Eh bibi, sejak kapan bibi di sini ?" Tanya Sandra kaget.
" Sejak tadi,, bibi perhatiin ada yang sedang kamu pikirkan ya ? Melamun sampai-sampai tidak sadar jika bibi sudah masuk dari tadi." Tanya Bibi Nani.
" Gak kok bi... Sandra sedang mengenang bapak sama ibuk ... " Ucap Sandra berbohong.
" Jangan berbohong sama bibi, bibi hafal betul dengan kamu. Tapi kalau memang tidak mau cerita ya gapapa.. Bibi juga gak akan maksa." Tukas Bibi Nani.
" Mm, maaf bi..." Ucap Sandra yang merasa jika apa yang ada di pikirannya tidaklah harus di ceritakan kepada Bibi Nani.
" Lhah, kenapa minta maaf...Itu kan hak kamu. Sudah makan sama minum obat belum ?" Tanya Bibi Nani lembut.
" Sudah bi... Sandra sudah sembuh kok bi.. Maaf ya bi, kita merepotkan terus." Ulang Sandra meminta maaf.
" Hmm, dalam sehari bibi bisa dengar sampai puluhan kali kata maaf dari kamu. Bibi jadi merasa seperti orang asing." Ucap Bibi Nani pura-pura tersinggung.
" Yah bi, jangan bicara begitu. Bukan maksud Sandra begitu bi...."
__ADS_1
" Iya...iya.... Bibi ngerti kok, makanya jangan sungkan terus kalau sama bibi." Timpal Bibi Nani yang melihat raut kecemasan di wajah Sandra.
" Huft.... Untunglah. Aku pikir bibi marah,, oya bi, sejak Sandra datang kemarin ,kok Paman Joni gak kelihatan ?" Tanya Sandra.
" Itu, pamanmu sibuk.... Biasalah kalau anak-anak habis ujian. Ya sudah pasti di depan laptop terus kerjanya." Ujar Bibi Nani.
" Oh, Pantesan. Oya bi... Kalau kabar Kak Dean bagaimana ?" Tanya Sandra yang sudah lama sekali tidak mendengar kabar dari kakak sahabatnya itu.
" Dean dan suaminya baik... Hanya saja keadaan finansial dan anak mereka kurang baik. Usaha suaminya sedang mengalami masalah.. Apalagi, Fahri anak mereka sedang sakit dan butuh biaya yang banyak. Tapi Bibi dan paman mu sudah membantu sebisa kami kok. Ku harap masalah mereka segera teratasi." Ucap Bibi Nani sambil memaksakan senyumnya. Sedangkan Sandra tahu ,, pasti Bibi Nani sangat sedih memikirkan nasib anak dan cucunya yang sedang tidak baik-baik saja.
" Bibi kok gak pernah cerita kalau anak kak Dean sakit. Emang Fahri sakit apa bik ?" Sandra bertanya tentang cucu Bibi Nani yang kini masih berusia tiga tahun.
" Penyakit jantung,, bibi dan paman juga belum lama ini tahu kalau Fahri punya penyakit serius. Dean tidak pernah bercerita meski kami sering berkomunikasi." Ucap Bibi sedih.
" Astaghfirullah... Ya ampun bi,,, Fahri masih begitu kecil.." Ucap Sandra sambil menutup mulutnya karena terkejut.
Sandra terbelalak mendengarnya. Dalam hati merasa bersalah karena tidak tahu keadaan orang-orang di sekitarnya dan hanya sibuk dengan hidupnya sendiri. Padahal keluarga Bibi Nani sudah sangat baik kepadanya. Bahkan Dean lah yang membantu dan memberinya pekerjaan di restoran Alfian dahulu.
" Maaf bi... Sandra tidak tahu, Sandra terlalu sibuk dengan hidup Sandra sendiri." Sesal Sandra.
" Jangan minta maaf lagi nak.... Semua itu tidak ada kaitannya dengan mu."
" Tentu saja ada bi, aku juga keluarga kalian. Paman bibi , Nurul dan juga kak Dean selalu baik kepada Sandra. Selalu membantu Sandra saat Sandra susah maupun senang. Tapi saat Kak Dean butuh bantuan dan dukungan... Sandra justru belum pernah sekalipun ada dan membantunya." Ucap Sandra sedih.
" Sudahlah, bibi tidak berpikir sampai sejauh itu, lagi pula bibi tidak ingin merepotkan siapapun. Kita doakan yang terbaik agar Dean dan keluarganya bisa segera melewati masa sulit ini." Ucap Bibi Nani tulus.
__ADS_1
Sandra menggelengkan kepalanya. Tetap saja dia merasa sangat tidak enak. Sekarang hidupnya sudah mapan, hidup enak dan bisa membangun usaha sendiri. Bahkan suaminya sangat kaya,, bisa di bilang saat ini Sandra lebih dari sekedar mampu untuk membantu keluarga Bibi Nani,,tapi pada kenyataannya,, selama ini dia justru sibuk dengan hidupnya sendiri.
" Tenang saja sayang... Bibi jangan bersedih dan cemaskan apapun.." Kata Alfian tiba-tiba.
" Mas ?" Tanya Sandra terkejut.
" Eh nak Al..Sejak kapan berdiri di situ. Sini duduk.." Ucap Bibi Nani tetap tersenyum seperti biasanya.
" Mas sudah dengar semuanya ?" Tanya Sandra.
" Iya, mas sudah dengar. Tapi kalian jangan cemas dan jangan bersedih lagi. Cucu bibi tidak akan kenapa-kenapa. Bahkan Minggu depan sudah di jadwalkan untuk operasi. Tentang biaya,, semuanya sudah beres." Kata Alfian menenangkan.
Bibi Nani tak bisa berkata-kata apapun. Raut wajahnya menampakkan kelegaan dan kebahagiaan mendengar kabar baik itu.
" Apakah semua itu nak Al yang lakukan ?" Tanya Bibi Nani .
" Maaf bi, bukanya saya bersikap lancang , tapi bagi saya dan Sandra, keluarga bibi sudah menjadi keluarga saya juga. Jadi sudah sepantasnya saya melakukan hal itu." Ucap Alfian ikut senang melihat wajah bahagia Bibi Nani.
"Bibi tidak bisa berkata apa-apa.. Terimakasih nak.. Terimakasih banyak..." Ucap Bibi Nani menangis bahagia.
Sandra ikut terharu mendengarnya, kemudian memeluk Bibi Nani untuk menenangkan perempuan setengah baya yang sudah dia anggap sebagai ibunya juga.
" Bagaimana caranya bibi membalas semua kebaikan kalian. Bibi berhutang banyak kepada kalian. Bahkan ini bukan kali pertama nak Al memberi bantuan kepada keluarga bibi. Biaya kuliah Nurul... Dan juga uang waktu itu...."
" Sttt, bibi... Tidak ada istilah berhutang di antara kita. Sudah sewajarnya kami membantu bi." Ucap Sandra menenangkan.
__ADS_1
" Apa yang di katakan Sandra benar. Bibi jangan berpikir apapun untuk membalasnya karena hal itu tidak perlu. Iya, nanti beri tahu paman ya bi... Lusa kita semua akan menengok Fahri ke rumah sakit. Orang suruhan saya tadi memberi kabar, jika mulai hari ini Fahri sudah ada di rumah sakit untuk menjalani serangkaian perawatan sebelum operasi di laksanakan." Kata Alfian lagi.
Bibi Nani tidak hentinya mengucapkan syukur dan terimakasih. Dengan hati yang lega dan gembira atas bantuan yang di berikan oleh Alfian, Bibi Nani segera pamit untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut kepada suaminya.