
" Sandra !" Teriak Kedua temannya setelah melihat Sandra turun dari mobil.
" Pagi semua..." Jawab Sandra sumringah menjawab panggilan dari mereka.
Di dalam mobil Alfian tersenyum senang karena Sandra terlihat bahagia ketika bersama dengan teman-temannya. Alfian kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan.
" Tumben suami lo nggak ikut turun dulu." Ucap Intan.
" Iya , soalnya sudah kesiangan ke kantornya. Tadi kami mampir sebentar ke rumah papa." Jawab Sandra yang kemudian ikut melangkah masuk ke dalam kampus bersama-sama.
" Oh.. " Sahut kedua temannya.
" Eh San, Arkha kenapa sih ?" Tanya Salsa kepo.
" Emang Arkha kenapa ?" Tanya Sandra balik.
" Lo nggak tahu, adik ipar lo yang super ganteng itu sekarang kembali ke mode dingin dan tak tersentuh seperti dulu lagi. Teman-temannya pada heran kenapa dia bisa berubah seperti itu lagi. Padahal belum lama ini sikapnya sudah banyak berubah, lebih welcome dan lebih banyak senyum. Kalau aja dia belum punya cewek, mungkin aku bakalan ikut antri menjadi salah satu kandidat yang mengejar-ngejar cintanya." Ucap Salsa menjelaskan.
" Hmm kalian ini, suka banget kepo sama urusan orang lain. Arkha dari dulu kan emang begitu. Dia hanya bersikap hangat dengan orang yang sudah dikenalnya saja." Timpal Sandra yang sebenarnya tahu alasan Arkha berubah dingin kembali.
" Hehe, ya kita penasaran aja San. Tahu sendiri... Adik ipar lo itu cowok tertampan yang ada di kampus kita. Jadi kabar apa saja tentang dirinya pasti mudah menyebar. Tapi ya emang sih, Arkha emang sudah dari sononya dingin begitu.. Nggak jauh beda dari suami lo..." Imbuh Salsa.
Sandra menggeleng pelan mendengar penilaian temannya terhadap adik ipar dan suaminya. Bagi mereka yang tidak mengenal dekat , sudah pasti akan menilai seperti itu, jadi Sandra sudah tidak terkejut lagi. Yang penting pada kenyataannya, Suami dan adik iparnya adalah orang yang hangat dan baik. Tidak perduli bagaimana pun penilaian orang lain.
Selesai kuliah, Sandra pamit terlebih dahulu kepada kedua temannya. Tadi dia sempat khawatir karena Nurul tidak mau mengangkat telepon dan tidak membalas pesan dari nya. Tapi syukurlah, saat hendak keluar tadi, Nurul membalas pesannya dan setuju bertemu dengannya di taman kota.
Sandra kemudian naik taksi online yang sebelumnya sudah dia pesan terlebih dahulu. Setelah mobil taksi melaju, Sandra tidak menyadari jika Rena kembali mengikutinya dengan taksi juga.
Setelah sampai di taman kota, Sandra celingukan mencari Nurul. Ya, sahabatnya itu kembali menghubungi jika dirinya sudah sampai duluan.
" Sandra... Di sini...!" Teriak Nurul dari kejauhan.
Sandra tersenyum senang melihat sahabatnya duduk melambaikan tangan di bawah pohon rindang di pojok taman.
" Nurul ... Aa... Kangen..." Ucap Sandra dengan manja.
" Hehe, kaya dah bertahun-tahun aja nggak ketemu." Olok Nurul.
" Wah, kamu bawa makanan Rul ?" Tanya Sandra yang melihat berbagai cemilan dan jajanan khas pedagang kaki lima di atas kursi taman yang Nurul tempati. Perutnya mendadak menjadi lapar melihat semua jajanan itu.
" Iya,, lama nggak jajan cilok, batagor sama seblak ,, pengen banget. Kita makan yuk, aku juga sudah belikan buat kamu. Lengkap dengan sambel yang banyak seperti kesukaan kamu." Jawab Nurul antusias.
" Wah .. Makasih,, kamu memang the best !" Sahut Sandra mengacungkan kedua jempolnya.
" Lhah tapi kok nggak ada minumannya ?" Tanya Sandra kemudian.
" Hehe, iya lupa ... " Ucap Nurul tertawa nyengir.
" Ya sudah, aku beli minuman sebentar..." Kata Sandra.
" Aku ikut, aku mau ke kamar mandi." Sahut Nurul kemudian.
Jadilah mereka berdua meninggalkan makanan mereka di sana. Hal tersebut mengundang senyum untuk seseorang yang sejak tadi memata-matai mereka.
" Ini kesempatan emas bagiku." Ucap Rena sambil tersenyum.
Rena kemudian melihat ke sekeliling... Kebetulan sekali taman itu sepi pengunjung hari ini. Setelah memastikan keadaan aman. Rena berjalan mengendap-endap ke kursi taman yang Sandra dan Nurul tinggal. Sekali lagi, Rena memastikan keadaan sekeliling, karena masih aman dan tidak ada yang melihat. Rena buru-buru mengambil sebuah bungkusan kecil dari kantung tasnya kemudian menaburkan isinya ke beberapa makanan yang ada di sana. Setelah selesai, Rena buru-buru pergi dan kembali bersembunyi.
Tidak berselang lama, Sandra dan Nurul kembali. Setelah minum air mineral, Sandra segera mencicipi makanan yang sudah Nurul beli.
" Wahhh, enak banget..." Dengan lahap dan tanpa jeda, Sandra memakan semua makanan yang ada. Membuat Nurul keheranan dengan tingkah sahabatnya itu.
" Pelan-pelan San... " Ucap Nurul yang terheran-heran.
" Jangan kaget ya... Sekarang makan ku banyak banget." Balas Sandra sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
" Iya, tapi pelan-pelan saja makannya. Kalau kamu mau kamu habiskan saja semuanya." Imbuh Nurul sambil mencicipi makanan itu juga.
" Hehe, habis kapan lagi aku bisa makan-makanan seperti ini Rul.. Tahu sendiri Alfian bagaimana, dia tidak suka jika aku jajan makanan sembarangan."
" Hm, terserah deh... "
" Oya... Beneran kamu putus dengan Arkha ?" Tanya Sandra kembali ke tujuan awalnya bertemu dengan Nurul.
" Dia bercerita ?" Tanya Nurul balik.
" Baru tadi pagi..." Jawab Sandra.
" Oh... iya , kita sudah berakhir..." Jawab Nurul sambil memaksakan senyumnya.
" Kamu yakin dengan keputusan kamu itu ?" Tanya Sandra lagi.
" Entahlah, tapi mungkin ini yang terbaik. Orang seperti ku tidak pantas bersanding dengan orang sepertinya."
Sandra geram sendiri mendengar penuturan sahabatnya.
" Apanya yang nggak pantas sih Rul... ? Sekarang aku mau tanya, kamu masih sayang nggak sama Arkha ?" Tanya Sandra sambil mengamati wajah Nurul dengan seksama.
" Apa gunanya sayang jika setiap hari aku harus menelan pil pahit dengan mendengarkan gunjingan dari teman-temanku San. Aku juga merasa tidak nyaman setiap kali jalan dengannya. Lagi pula aku tidak ingin melihatnya malu karena jalan dengan perempuan seperti ku."
" Oh ayolah Rul... Jangan berpikiran sempit seperti itu. Mana Nurul si pemberani yang aku kenal ? Masa kalah sih sama omongan orang lain. Aku tahu yang kamu alami tidaklah mudah. Tapi sayang sekali jika kamu harus menyerah hanya karena gunjingan orang. Dengarkan aku, yang saling mencintai itu kalian, yang menjalani hubungan juga kalian. Untuk apa kamu mendengarkan gunjingan orang lain. Yang penting kan kita tidak seperti yang orang-orang bilang dan pasangan kita menerima kita dengan apa adanya. Bagiku hal itu sudah cukup untuk bertahan. Lawan saja mulut-mulut gatal yang berani ngomong seenaknya itu !" Tukas Sandra yang kesal membayangkan bagaimana setiap hari sahabatnya harus mendengar cacian dari orang lain.
" Tapi aku nggak seberani kamu San..." Ucap Nurul kemudian.
" Kenapa nggak berani ? Kita punya hak bebas mau berkencan dan menikah dengan siapa saja. Selagi saling mencintai dan tidak merusak hubungan orang dan tidak merugikan banyak orang kenapa harus takut dan mundur ? Setiap manusia punya keunikan, kelebihan dan keistimewaan masing-masing. Tidak harus yang cantik dan kaya saja yang bisa dan boleh bersanding dengan lelaki tampan dan kaya. Mereka yang menggunjing dan menghujat mu hanyalah orang-orang yang iri dengan kebahagiaan orang lain. Jadi untuk apa kamu menghancurkan hidup mu demi orang-orang seperti itu ?" Lanjut Sandra membara. Dia paling tidak suka dengan manusia yang punya mulut hanya di pakai untuk menyakiti orang lain.
" Aku tahu,aku tidak berhak ikut campur dalam urusan kalian. Tapi sebagai sahabat aku hanya ingin memberi mu nasehat. Jika kamu masih sayang maka pertahankan lah... Jika tidak, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua tergantung hati. Tapi sedikit informasi saja nih... Aku lihat sekarang Arkha seperti orang gila, tidak pernah bercukur, sering melamun, dan kembali menjadi pendiam dan dingin kepada semua orang." Lanjut Sandra berusaha menarik simpati sahabatnya. Karena dia akhirnya tahu jika sebenarnya Nurul juga masih menyukai Arkha.
Nurul sedikit terkejut mendengarnya, kemudian kembali menunduk. Ada rasa bersalah yang mengganjal di dalam hatinya.
" Ah ? Ini apa ? Dari siapa ?" Tanya Sandra bertanya kepada anak kecil itu.
" Tidak tahu kak, tadi ada orang yang meminta tolong untuk menyerahkan ini kepada kakak." Setelah berkata seperti itu, anak lelaki tersebut kemudian berlari meninggalkan mereka.
" Apa San ?" Tanya Nurul yang kemudian melihat jika sahabatnya berubah menjadi panik.
" Nggak tahu, nggak usah di buka Rul. Takutnya orang iseng lagi. " Kata Sandra kemudian.
" Orang iseng ?"
" Iya , kemarin ada orang yang sengaja nakut-nakutin aku dengan boneka." Sahut Sandra bergidik ngeri.
" Sini coba aku lihat..." Pinta Nurul mengambil amplop berwarna coklat berukuran besar.
" Jangan Rul ! Aku takut !" Cegah Sandra..
" Kalau kamu takut biar aku saja yang membukanya." Kekeh Nurul yang semakin penasaran.
Nurul kemudian berbalik memunggungi Sandra kemudian membuka amplop besar itu.
Nurul membelalakkan matanya dengan lebar.
" Apa Rul isinya ?" Tanya Sandra yang menjadi ikut penasaran.
" Ah, nggak apa-apa kok San. Benar kamu, sebaiknya kita nggak usah lihat." Tutur Nurul.
" Tuh kan , apa ku bilang ? Tapi kok kamu kaya terkejut begitu, jadi penasaran nih... Bukan hal yang menakutkan kan isinya ?" Tanya Sandra.
" Eh, itu... Itu isinya... Nggak usah di lihat deh, bikin muntah... Nanti jadi nggak nafsu makan lagi !" Kata Nurul terbata.
" Iih tapi kok aku jadi semakin penasaran gini sih... Coba aku lihat.." Sandra merebut amplop di tangan Nurul dengan paksa.
__ADS_1
Setelah membuka isinya Sandra ikut melotot menyaksikan foto-foto fulgar suaminya bersama Rena dahulu. Ya, Sandra yakin itu foto lama karena Alfian dan Rena masih terlihat begitu muda.
" San, kamu nggak kenapa-kenapa kan ?" Tanya Nurul hati-hati.
" Apa ? Oh.. Nggak kok... Lagi pula Alfian sudah pernah mengakuinya jika dulu hubungannya dengan Rena jauh di batas wajar." Ucap Sandra berusaha bersikap baik-baik saja.
Meski begitu, entah mengapa hati Sandra tetap merasa sakit melihat foto-foto mesra itu. Padahal dia sudah pernah dengar sendiri jika Sandra bukanlah orang pertama yang pernah Alfian sentuh. Meski itu hanya masa lalu dan tidak mungkin terjadi di masa sekarang, namun tetap saja nalurinya sebagai perempuan tidak terima melihat bukti kemesraan suami dan mantan kekasihnya di masa lalu.
" San ... Kamu yakin nggak kenapa-kenapa ? Terus wajah kamu kok pucet San ?!" Teriak Nurul panik.
"Hueeek....."
" Hueeekkkk..."
Tiba-tiba Sandra memuntahkan semua makanannya kembali.
" San kamu kenapa ?" Tanya Nurul semakin panik melihat sahabatnya tiba-tiba muntah.
" Auch... Perutku sakit.." Ringis Nurul bersamaan.
" Aduh kenapa nih ?" Rintih Nurul lagi. Tapi dia tetap berusaha membantu Sandra yang sepertinya lebih kesakitan. Keringat dingin sudah membasahi wajah dan baju sahabatnya itu.
" San .. Minum dulu..." Nurul menawarkan air mineral yang tadi Sandra minum.
" Huueekk... Ah sakit Rul... Perutku sakit banget !" Keluh Sandra yang terus muntah sambil memegangi perutnya.
Nurul yang ketakutan kemudian segera berlari mencari pertolongan. Nurul sampai tidak memperdulikan rasa sakit di perutnya sendiri. Baginya keselamatan sahabatnya lebih penting saat ini.
" Pak tolong pak... Tolong antar temen saya ke rumah sakit !" Teriak Nurul setelah sampai di pinggir jalan.
Untung saja Nurul bertemu dengan orang baik yang bersedia mengantar dirinya dan juga Sandra ke rumah sakit terdekat.
Setelah kepergian mereka, Rena muncul dari tempat persembunyiannya sambil menyunggingkan senyum liciknya.
Sampai di rumah sakit, Sandra langsung di bawa ke IGD untuk menjalani pemeriksaan. Nurul menungguinya sambil meringis menahan sakit di perutnya. Untung saja para perawat juga menyadari hal itu.
" Mbak, mbak sepertinya juga tidak baik-baik saja,,. sebaiknya mbak juga periksa sekalian." Ucap seorang perawat.
" Baiklah sus, perut saya sakit sekali." Kata Nurul yang akhirnya tidak bisa menahan rasa sakitnya.
Jadilah Sandra dan Nurul sama-sama di rawat di IGD.
Setelah di beri obat, Sandra dan Nurul bisa tidur dengan nyenyak. Mereka baru terbangun saat hari sudah menjelang sore.
" Jam berapa sekarang ?" Tanya Sandra yang sadar terlebih dahulu.
" Nurul ,kamu kenapa ?" Tanya Sandra yang melihat sahabatnya terbaring di ranjang sebelahnya. Kebetulan ruangan itu hanya berisi mereka berdua.
Perlahan, Nurul juga ikut membuka kedua matanya karena sayup-sayup mendengar suara Sandra yang memanggilnya.
" Kalian sudah sadar ?" Tanya seorang perawat yang masuk. "Sebentar saya panggilkan dokter terlebih dahulu." Lanjut perawatan itu kemudian pergi meninggalkan mereka lagi.
" Syukurlah, keadaan kalian sudah membaik." Ucap dokter berkacamata itu dengan ramah.
" Kita sebenarnya kenapa dok ?" Tanya Nurul setelah di periksa.
" Kalian keracunan makanan. Dari hasil lab yang kami periksa,ada kandungan racun berbahaya yang kami temukan. Untung saja kalian datang ke sini tepat waktu sehingga kami bisa segera menanganinya dan keadaan anda serta janin anda juga baik-baik saja." Ucap dokter itu menatap Sandra dengan senyum ramahnya.
" Ja... Janin dok ?" Tanya Sandra terbata. Sedangkan Nurul membekap mulutnya dengan kedua tangannya saking terkejutnya.
" Iya ibu.. Setelah kami periksa juga, ternyata ibu sedang hamil. Dan usia kandungan ibu kini menginjak lima minggu jadi masih sangat rentan sekali. Saya harap setelah ini, ibu lebih berhati-hati lagi dalam memilih makanan yang hendak anda konsumsi." Ujar dokter itu.
Sandra tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penuturan dari dokter itu. Perlahan Sandra meraba perutnya yang masih rata dengan perasaan tak menentu. Sandra masih tidak percaya jika dirinya kini tengah hamil.
Sedangkan di luar ruangan, Rena yang masih diam-diam mengikuti Sandra untuk memastikan keadaannya semakin membencinya setelah mendengar kabar kehamilan itu.
__ADS_1