Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Dia Di Takdirkan Bukan Untukmu !


__ADS_3

Gilang pulang kerumahnya dengan hati hancur. Sesampainya di rumah dia mengamuk dan menghancurkan semua barang yang ada di depannya.


" Den. Tenanglah.... Sabar den... Istighfar...." Ucap Mbok Sum. Dia adalah asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Gilang sejak kecil.


" Awas mbok ! " Teriak Gilang.


" Cerita sama mbok ... Ada apa den ? "


Namun Gilang tidak menggubrisnya dan terus membanting semua barang di ruang tamu itu.


Karena kebingungan melihat tuannya yang tidak seperti biasanya saat sedang marah, Mbok Sum menelpon Dias untuk mencari bantuan. Mbok Sum tahu jika mereka adalah teman sejak kecil. Tidak mungkin dia menghubungi tuan dan nyonya nya yang sedang berada di luar negeri.


Setelah pulang bekerja, Dias langsung menuju ke kediaman Gilang. Sesampainya di sana dia melihat beberapa asisten rumah tangga masih membersihkan serpihan kaca dan barang-barang yang tadi Gilang rusak.


" Den Dias. Syukur Alhamdulillah Den Dias sudah sampai di sini. Tolongin simbok den, Den Gilang ngamuk sejak pulang siang tadi. Sekarang malah mengurung diri di dalam kamar. Tidak mau makan..... Mbok sudah coba bujuk tapi malah di tolak terus." Kata Mbok Sum menjelaskan duduk permasalahannya.


Terlihat jelas jika wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu sangat cemas dengan kondisi Gilang.


" Mbok tenang saja.. aku lihat dia dulu."


Lalu Dias melangkah ke kamar Gilang. Dia mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari dalam.


Dias tidak menyerah.Dia terus memanggil Gilang hingga akhirnya pintunya di buka.


Dias terkejut. Gilang terlihat sangat berantakan. Dia juga mencium bau alkohol dari mulutnya.


" Ngapain kamu ke sini ? Bukankah kamu di pihaknya ?!" Seru Gilang.


" Biarkan aku masuk dulu."


Gilang menatap Dias sebentar kemudian membiarkannya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Kamar itu terlihat tidak lebih baik dari empunya. Barang-barang semua berserakan di lantai.


" Are you okay ?" Tanya Dias. Bahkan dia melihat jika tangan Gilang berdarah.


" Buat apa kamu bertanya ? Kamu sudah tahu jawabannya !" Jawab Gilang sinis.


" Apakah dia bahagia sekarang ? Apa dia menertawakan ku setiap hari ? Apa dia sudah puas membuatku seperti ini ?! Atau kamu ke sini juga untuk memastikan ke hancuranku dan melapor kepada atasan mu ?!" Gilang terlihat emosi mengingat Alfian.


" Tenanglah... tenangkan diri mu dulu. Aku ke sini karena khawatir."


" Khawatir untuk apa ?! Kamu memihaknya, bukankah sudah jelas ? Untuk apa perduli lagi kepada ku ! Aku bukan sahabatmu, aku bukan lagi sahabat kalian !" Teriak Gilang.


" Lang ... please.. tenangkan diri mu. Kita bicara baik-baik. Sekarang kamu bukan seperti Gilang yang ku kenal. Ingat Lang..., kamu bukan Alfian yang mudah meledak dan emosi. Berpikirlah dengan jernih." Dias memohon kepada Gilang. Dia sangat prihatin dengan kondisinya.


Gilang mengambil sebotol alkohol, kemudian meminumnya dengan cepat. Lalu melemparkan botol yang sudah kosong itu ke sembarang arah. Botol itu pecah seketika dengan bunyi yang memekakkan telinga. Gilang mengernyitkan wajah dan mengedipkan kedua matanya yang sangat merah agar tetap sadar.


" Kamu tidak bisa seperti ini terus. Mabuk setiap hari tidak akan membuat Sandra berubah menjadi milikmu. " Terang Dias.


" Pergilah. Tidak ada yang bisa mengerti perasaanku !"


" Aku mengerti Lang... Tapi cobalah berpikir positif dari kejadian ini. Mungkin Sandra di takdirkan bukan untuk mu..."


" Dia di takdirkan untuk pria berengsek itu. Begitukan maksud mu ?! Mudah bagimu berbicara seperti itu karena kamu tidak tahu bagaimana sakitnya ! "Potong Gilang.


Hening sejenak, kedua pria dewasa itu saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing.


" Jika kamu sudah berusaha tetapi tetap tidak bisa meraihnya,itu berarti dia bukan untuk mu. Dia bukan yang terbaik untuk kamu. Mungkin saat ini, ada jodoh lain yang sedang menunggumu... Mulailah hidup yang baru... Kamu tidak harus melupakannya, kamu bisa menjadikannya sesosok adik yang bisa kamu sayangi. Dengan begitu kamu tidak akan kehilangannya. Dan persahabatan kita...."


" Jangan bahas masalah persahabatan... Aku tidak pernah punya sahabat tukang tikung seperti itu !"


Dias menghela nafas panjang.

__ADS_1


" Ayolah... kita masih bisa kembali seperti dulu. Tidak tahukah kalian jika aku juga menjadi korban ke egoisan kalian ? Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan agar kalian bisa saling mengerti dan memaafkan." Kata Dias yang juga terlihat sangat kusut dan lelah.


" Bilang padanya aku tidak akan pernah menyerah. Bagaimanapun caranya aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Gilang tetap saja keras kepala.


" Hentikan Lang ! Sudah cukup ! Kamu merasa hanya kamulah yang paling terluka. Tapi kamu melupakan jika Sandra juga terluka sama besarnya seperti mu ! Kau tahu ?? Gadis itu lebih kuat dari mu ! Dia lebih hebat darimu yang hanya bisa meratapi dan berbuat hal bodoh seperti ini ! Bahkan aku sendiri juga tidak mempercayainya... Sandra bisa terlihat begitu tegar dan pura-pura bahagia untuk orang-orang yang dia sayangi. Tolong... jangan buat pengorbanannya menjadi sia-sia dengan usahamu yang ingin tetap bersamanya. Jangan menambahkan siksa di hatinya dengan kehadiran bayang-bayangmu yang bisa saja menggoyahkan hatinya. Batinnya akan sangat tersiksa. Cobalah pahami jika dia menginginkan kebahagiaan orang tuanya, bukan kebahagiaannya sendiri ! Jika memang sebesar itu kamu mencintainya maka relakanlah dia..., biarkan dia memulai hidup barunya. Apakah kamu ingin menambah deritanya ?? Hidup dengan orang yang tidak dia cintai sudah membuatnya menderita !"


Gilang terpengarah mendengarnya. Selama ini yang dia pikirkan hanyalah perasaannya. Dia terus mencoba meyakinkan Sandra agar kembali padanya. Se egois itu kah dirinya sekarang ? Entah apa yang dirasakan gadis itu. Penderitaan apa saja yang dia alami sejak menikah dengan Al. Kenapa dia tidak bisa berpikir sampai ke situ ?? Sandra juga tidak bahagia dengan pernikahannya. Tapi bukan berarti dia bisa memaksanya kembali kepadanya. Itu akan membuatnya dalam kesulitan dan semakin terluka.


" Aku tidak rela ... sangat sakit rasanya." Kata Gilang berusaha menyangkalnya.


Dias mendekatinya. Menepuk pundak Gilang untuk menenangkannya.


" Lang..... Kamu harus tahu, Al sudah berusaha menggagalkan pernikahan itu . Sebelum hari pernikahan tiba, dia sudah mengatakan keputusannya kepada Sandra. Dia tidak perduli lagi dengan ancaman papanya. Persahabatannya dengan mu menjadi pertimbangan besar baginya. Al tidak seburuk yang kamu kira. Namun, Sandra sendiri yang bersikeras melanjutkan pernikahan itu. Kita tahu jika ibunya yang menjadi alasan terbesarnya. Aku pun begitu, jika aku menjadi Sandra , pasti aku juga melakukan hal serupa untuk orang tua yang telah melahirkannya. Kita harus menghargai keputusannya. Untuk itu cobalah berpikir dari sudut yang berbeda. Anggaplah semua ini sudah takdir mereka. Sekeras apapun kamu berusaha, semua itu akan percuma jika Sandra sudah menyerah dan menerima takdirnya."


" Tapi dia tidak bahagia... Dia tidak menyukai Al. Bukankah itu sama saja dia hidup dalam derita ? Hanya aku yang bisa membuatnya bahagia !"


" Awalnya memang seperti itu. Tapi aku yakin lambat laun akan tumbuh cinta di antara mereka."


" Kenapa kamu bisa seyakin itu ?"


" Karena .... pernikahan tidak akan pernah terjadi jika mereka tidak di takdirkan untuk bersama."


Gilang tersenyum sinis mendengar hal itu.


" Jika Pernikahan adalah sebuah takdir, kenapa banyak pasangan yang berpisah setelah menikah ? Bukankah mereka di takdirkan bersama seperti katamu barusan ?" Tanya Gilang meremehkan.


" Karena mereka tidak bisa mempertahankan takdirnya hingga akhir... Aku percaya jodoh kita adalah orang yang pertama kali menikah dengan kita apapun penyebabnya. Entah karena saling jatuh cinta , karena perjodohan atau pun karena hal lain. Semua itu sudah ditakdirkan. Jika bukan takdir, ya..... seperti yang terjadi padamu. Sekeras apapun kamu berusaha mendapatkannya tidak akan pernah berhasil. Jadi berhentilah menyiksa dirimu sendiri untuk sesuatu yang bukan di takdirkan untuk mu. Lagi pula ...aku bisa melihatnya... Alfian sekarang mulai menyukainya... aku rasa dia jatuh cinta kepada Sandra... Kamu pasti berpikir itu tidak mungkin. Tapi itulah kenyataannya, bahkan dia sudah bisa melupakan Rena dengan sendirinya setelah mengenal Sandra."


" Itu tidak mungkin. Kita tahu segila apa dia mencintai Rena." Sanggah Gilang. Lagi-lagi dia tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar.


" Karena kita tahu dia segila apa saat mencintai seseorang, maka berhentilah sampai di sini. Yang kamu rasakan itu bukan sepenuhnya cinta Lang....tapi sebuah obsesi ! Obsesi dalam diri mu untuk memilikinya.Di tambah dengan perseteruan antara kamu dan Al, semakin membuatmu terobsesi kepadanya ! " Kata Dias mengatakan semua uneg-uneg yang ada di hatinya. Tingkah kedua sahabatnya itu membuatnya sangat pusing.

__ADS_1


__ADS_2