
Rena menatap jam di dinding usang yang ada di dalam ruang tahanannya. Dia cemas kenapa mamanya belum mengunjunginya, padahal hari ini adalah jadwal mamanya mengunjunginya. Ya,, Bu Reisa tidak datang setiap hari untuk menjenguk Rena. Hal itu dia lakukan untuk menghemat biaya dan juga untuk memata-matai Sandra. Rena sudah tidak sabar ingin mendengar kabar bahagia atas kehancuran rumah tangga mantan kekasihnya itu. Jujur saja saat ini Rena tengah berharap agar Alfian mau kembali kepadanya meski dia harus memohon dan berlutut terlebih dahulu. Dia masih sangat yakin, cinta Alfian kepada Sandra tidak lebih besar dari cinta Alfian kepadanya dahulu. Rena meyakini jika awalnya Alfian hanya ingin membalasnya. Apalagi pernikahan mereka terjadi karena paksaan dari kedua belah pihak keluarga.
" Gadis kampung itu dan keluarganya juga hanya memanfaatkan kamu Al. Dia tidak lebih buruk dari ku. Tapi aku jauh lebih sempurna dari Sandra !" Ucap Rena masih percaya diri.
Tidak begitu lama, seorang petugas mengabarkan jika mamanya sudah tiba dan menunggunya di ruang jenguk tahanan.
Dengan hati yang berdebar dan sudah tidak sabar, Rena segera menemui mamanya.
Dari kejauhan, Bu Reisa melihat kedatangan Rena yang di antar oleh seorang petugas perempuan. Rena terlihat sangat senang. Bu Reisa semakin tidak tega membawa kabar yang pasti akan mengecewakan putri kesayangannya itu.
Petugas itu kemudian meninggalkan ibu dan anak itu berdua.
" Mama ....." Sapa Rena ceria.
" Hai sayang... Bagaimana kabar mu hari ini ?" Tanya Bu Reisa menutupi kesedihannya.
" Lebih baik dari kemarin ma.. Aku sudah gak sabar ingin segera keluar dari sini. Bagaimana ma ? Alfian sudah menceraikan Sandra belum ?" Tanya Rena tidak sabaran.
" Mm, itu... Anu... itu..." Bu Reisa kelimpungan, bingung harus menjawab putrinya dari mana.
" Kenapa ma ? Kok resah begitu ? Jangan bilang kalau mama gagal lagi !!" Tebak Rena yang mulai terlihat perubahan di raut wajahnya.
" Maaf sayang, sekali lagi mama minta maaf... Mama sudah yakin dan melihat dengan mata kepala mama sendiri jika waktu itu Alfian memukul Gilang sampai babak belur. Bahkan sampai di rawat di rumah sakit beberapa hari ini. Tapi entah kenapa, setelah menghilang beberapa hari, mereka justru pulang dengan keadaan semakin terlihat mesra ." Kata Bu Reisa sambil menunduk.
" Apa !!" Teriak Rena dengan mata membulat sempurna karena terkejut. Hal ini jauh berbeda sekali dengan apa yang dia harapkan.
" Bagaimana bisa ma ! Mama pasti salah lihat !! Atau mungkin, mungkin... Ah, mama selalu saja membuatku kecewa !" Teriak Rena tidak terima dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.
" Maafkan mama Rena.. Mama sudah berusaha dan hampir saja berhasil ! Bersabarlah sebentar lagi. Semua ini pasti karena gadis kampung itu sangat licik dan pintar mengambil hati Alfian !" Dengus Bu Reisa yang melimpahkan kesalahan kepada Sandra.
" Sabar, sabar ,sabar...! Sampai kapan ma ?!! Kalau mama bisanya cuma bilang begitu, bisa-bisa Rena harus sabar sampai Rena keluar dari tempat ini karena habis masa tahanan !" Omel Rena yang marah kepada mamanya.
" Tidak sayang.. Mama sudah berjanji padamu. Mama akan buat kamu keluar dari sini secepatnya !"
" Janji....janji mulu ! Terserah mama deh, Rena kecewa sama mama !" Ucap Rena kasar, kemudian bangkit dan meninggalkan ibunya yang duduk sendiri menatap kepergiannya.
__ADS_1
" Ayo bu, aku sudah selesai !" Kata Rena kepada petugas yang mengawasinya,lalu mengantarkan Rena kembali ke ruang tahanan.
Melihat Rena yang kembali dengan wajah yang kesal. Teman-teman satu sel nya bertanya-tanya ada apakah gerangan ? Karena dari kemarin temannya yang angkuh dan sombong itu terlihat baik-baik saja dan bahkan berseloroh jika dirinya akan segera meninggalkan tempat ini.
" Sepertinya , ada yang sedang kecewa karena mimpinya gak kesampaian !" Kata salah seorang rival Rena di dalam sel itu.
" Apa maksudmu ?!" Tanya Rena yang merasa jika kata-kata itu di tujukan kepadanya. Bukan hal baru lagi, dia tahu jika teman-teman satu sel nya tidak ada yang menyukainya.
" Ops... Ada yang ngerasa nih temen-temen ?" Lanjut perempuan itu yang lebih tua dari Rena.
Teman-teman yang lain menyambutnya dengan tawa mengejek juga.
" Diam !!" Bentak Rena yang tersulit emosinya karena di tertawakan seperti itu.
" Lo yang diam bacot ! Sejak kedatangan lo, lo selau berisik dengan kesombongan lo itu ! Dari dulu lo bilang akan segera keluar dari sini .. Mana buktinya ?! Dasar pembual !!" Sahut yang lain.
" Aku bukan pembual ! " Sanggah Rena memanas.
" Halahhh... masih menyangkal lagi. Kalau gitu buktiin !! Jangan bisanya ngomong tapi songong gak ada buktinya ! " Imbuh yang lain.
" Kalian tidak tahu siapa aku ! Aku ini artis terkenal !!" Teriak Rena tidak terima di hina oleh teman-teman satu selnya.
" Udahlah, terima nasib aja... Mau lo itu artis kek, pejabat kek... Konglomerat kek... Jika disini,, kita itu sama-sama tahanan ! Sama-sama sampah masyarakat !! Hahaha !!!"
" Kurang ajar !!" Rena yang tidak terima di samakan dengan mereka, hilang kendali kemudian menghampiri wanita yang lebih tua dari usianya itu lalu menarik rambutnya dengan kasar.
" Rasakan ini !" Teriak Rena yang semakin kuat menarik rambut perempuan itu.
" Aaa!!! Lepas berengsek !! Lepas !! Sakit...!" Teriak teman Rena yang menjadi sasaran amukannya.
" Lepasin temen kita Rena !" Kata teman yang lain.
Akhirnya terjadilah aksi tarik menarik,, jambak menjambak dan saling memukul di antara para tahanan itu. Rena yang hanya sendirian tentu kalah melawan mereka yang berkomplot. Wajahnya yang mulus mendapatkan banyak cakaran sehingga mengeluarkan darah segar. Hal itu membuatnya menangis histeris.
" Aaa ... Wajahku ... Wajah ku !!!" Teriak Rena menangis histeris. Bagaimana tidak histeris ? Wajahnya adalah aset berharganya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai model dan artis. Tentu wajahnya jugalah yang dia banggakan karena dengan wajah itu pula dia bisa menggaet produser-produser kaya yang bisa mempromosikan dirinya sampai terkenal dan menjadikannya artis ternama.
__ADS_1
" Rasakan itu !" Sahut perempuan yang di jambak tadi. Tampilannya terlihat tidak lebih baik dari Rena. Rambutnya banyak yang rontok, bajunya koyak dengan penampilan yang acak-acakan.
Untung saja, polisi yang sedang bertugas sedang keliling dan mendengar keributan mereka. Sehingga perkelahian mereka dapat di lerai. Rena sampai harus di larikan ke klinik khusus untuk para tahanan karena lukanya yang terparah di bandingkan dengan yang lainnya. Sedangkan para tahanan yang terlibat aksi pengeroyokan itu, di amankan oleh petugas lainnya dan akan mendapatkan sanksi hukuman tambahan karena tingkah mereka.
Bu Reisa yang baru saja tiba di rumahnya, tiba-tiba berteriak histeris setelah mendapatkan kabar dari pihak kepolisian. Dengan segera, Bu Reisa kembali ke rumah tahanan untuk melihat kondisi Rena.
Dalam perjalanan, Bu Reisa menangis meratapi nasib putrinya. Masuk ke dalam bui saja sudah membuat putrinya menderita, apalagi sampai di keroyok beramai-ramai seperti yang tadi dia dengar dari petugas yang mengabarinya.
" Putriku .... Putriku...." Sebut Bu Reisa dalam tangisnya.
Rena di rawat dan di jaga dengan ketat oleh petugas kepolisian di klinik. Saat ini dirinya masih menjalani tindakan pertolongan. Rena menjerit-jerit histeris saat para perawat membersihkan luka di wajahnya. Perih, nyeri dan takut .. Itulah yang Rena rasakan saat ini. Dia takut luka di wajahnya akan meninggalkan bekas yang tidak bisa di obati. Padahal selama ini Rena selalu merawat dan menjaga kecantikannya dengan ekstra.
" Wajahku suster !!! Sakit... Jangan berikan itu pada wajahku !!" Teriak Rena.
" Sabar mbak...,, istighfar. Kalau lukanya tidak di bersihkan dan di obati,nanti bisa infeksi." Jawab perawat dengan ramah.
" Tapi sakit sus.... Wajahku tidak akan cacat kan sus ?" Tangis Rena.
" Kami akan berusaha bu..." Jawab perawat yang ikut membantu.
Tidak berselang lama, Bu Reisa telah sampai, setelah mendapatkan penjelasan secara detail dari petugas yang tadi menolong Rena dari amukan para tahanan yang lain. Bu Reisa berteriak murka agar orang-orang yang telah melukai putrinya di beri hukuman yang sangat berat. Setelah petugas berhasil menenangkan Bu Reisa, barulah petugas itu mengantarkannya ke tempat Rena di rawat sekarang.
" Rena.... Dok, bagaimana keadaan putriku ?" Tanya Bu Reisa setelah melihat Rena yang wajahnya di balut dengan perban dan terbaring lemas di ranjang.
" Keadaan Bu Rena sudah membaik Bu. Kami baru saja memberikannya obat penenang agar dia bisa tidur dan beristirahat, karena sejak tadi Bu Rena berteriak dan menangis histeris yang bisa membuat luka di wajahnya justru semakin parah." Kata dokter menjelaskan.
" Tapi putri saya tidak kenapa-kenapa kan dok ?" Tanya Bu Reisa khawatir.
" Selain luka parah di wajahnya, yang lainnya hanya luka-luka kecil dan lebam bu." Jawab dokter.
" Apa ? Terus bagaimana dengan wajah putri saya nanti dok ? Bisa sembuhkan ? Wajah putri saya bisa kembali seperti semula kan dok ?" Tanya Bu Reisa lemas.
" Tentu saja bisa sembuh bu. Tapi mungkin akan berbekas karena cakaran yang ada di wajah putri ibu sangat banyak dan dalam karena di sebabkan oleh kuku-kuku panjang yang lumayan tajam." Imbuh dokter itu.
Bu Reisa tak kalah histerisnya setelah mendengar penjelasan dari dokter. Tubuhnya terkulai lemas menatap putrinya yang kini tidak sadarkan diri. Bayangan kecemasan dan ketakutan terpancar jelas pada wajah perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
" Bagaimana ini nak ? Bagaimana kamu bisa melanjutkan hidup jika wajahmu terluka ? Bagaimana kamu akan mendapatkan Alfian dan pekerjaan lagi jika wajahmu penuh dengan bekas luka ?" Rintih Bu Reisa di samping ranjang Rena.
" Operasi.... Ya .... Dengan operasi plastik ! Dengan operasi plastik wajah kamu pasti bisa kembali cantik. Tapi bagaimana dengan biayanya ? Bahkan mama tidak bisa mengeluarkan kamu dari sini karena terkendala biaya. Rena... Huhuhu... Mama harus bagaimana sayang... Kenapa semua ini terjadi kepada mu ?" Tangis Bu Reisa pilu.