Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Panik


__ADS_3

Bu Reisa terlihat sangat bersemangat menceritakan tentang semua yang telah dia lakukan untuk membuat hubungan antara Alfian dan Sandra hancur. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, Rena juga terlihat sangat antusias dan bersemangat mendengarkan cerita ibunya yang sukses membuat keributan di dalam rumah tangga mantan kekasihnya itu.


" Mama memang hebat . Bagus ma, aku sangat senang mendengarnya. Rasanya dendam ku kepada gadis udik itu sedikit terbalaskan. Tapi tidak cukup sampai di sini ma, kita harus bisa membuat mereka lebih hancur dan lebih menderita lagi." Tutur Rena lirih seperti biasa. Dia takut ada yang mendengarkan obrolan mereka.


" Tenang sayang, mama akan berusaha lebih keras lagi. Mereka harus membayar hinaan yang sudah mereka lontarkan kepada mu."


" Iya ma... Tapi mama harus hati-hati. Alfian bukan orang yang bodoh. Dia bisa melakukan apa saja." Kata Rena memperingatkan ibunya.


" Tentu sayang .. Ibu akan melakukannya dengan baik dan hati-hati. Oya ini ,, bawalah masuk semua makanan ini. Bagi dengan teman-teman mu di dalam untuk merayakan keberhasilan mama. Tadi sudah lolos dari pemeriksaan petugas." Ucap Bu Reisa menyerahkan beberapa rantang makanan untuk Rena.


" Siap ma..."


****


Sandra masih menangis sesenggukan sepeninggal Alfian.


Kejadian yang dulu pernah dia alami seperti dejavu dan terulang lagi. Sandra ingat sekali bagaimana emosinya Alfian setelah memergokinya berciuman dengan Gilang sebelum mereka resmi menikah dulu. Saat itu Alfian juga sama murkanya dan bahkan hampir melecehkannya juga di kos. Tapi untung saja, saat itu Alfian masih punya hati nurani dan hanya mengancamnya untuk tidak bertindak bodoh lagi sebagai wanita.


" Kamu benar mas, aku masih sama bodohnya dengan waktu itu. Bahkan di saat sekarang aku sudah menjadi istri kamu. Aku belum bisa menjadi istri yang baik, yang patuh dan menghormati mu sepenuhnya. Kamu memang pantas marah dan membenciku. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang hampir sama meskipun kini dengan keadaan yang berbeda. Kini tidak ada perasaan lagi antara aku dan Mas Gilang. Meski begitu harusnya aku bisa menjaga perasaanmu, bisa menjaga nama baikmu. Dan bisa lebih menghargai mu sebagai seorang suami." Gumam Sandra menyalahkan diri sendiri.


" Maaf ibu,, Sandra membuat kesalahan lagi. Sandra belum bisa menepati janji Sandra untuk menjadi seorang istri yang baik , yang patuh dan taat pada suami. Maafkan Sandra Bu... Maafkan Sandra Pak.. Jika kalian masih hidup, kalian pasti sangat kecewa kepada Sandra. Huhuhu..." Tangis Sandra pilu.


" Kamu pantas marah,kamu pantas membenciku, kamu pantas kecewa dengan sikap ku mas... Bukan hanya berbohong dan sengaja menunda keinginan untuk punya anak, tapi aku juga telah menyakiti perasaan mu dengan kedekatan ku dengan Mas Gilang. Hubungan kalian belum lama membaik, tapi kini aku sudah membuat hubungan kalian hancur lagi dengan kesalahpahaman ini." Lanjut Sandra menyesal.


Sandra masih betah menangis menyesali sikapnya. Sampai-sampai Sandra tertidur hingga pagi menjelang.


Sandra terbangun karena perutnya yang melilit kesakitan karena lapar. Sandra lupa kemarin dia hanya makan sekali saat makan siang saja. Apalagi tenaganya juga habis untuk menangis dan bertempur dengan Alfian kemarin, menyisakan rasa ngilu dan sakit di sekujur tubuhnya.


Sandra mengerjapkan kedua matanya yang terasa berat. Kedua netranya melihat sekeliling mencari keberadaan Alfian. Namun tak ada tanda-tanda suaminya itu berada. Sandra memaksakan dirinya untuk berdiri, kemudian dengan sisa tenaga yang ada , Sandra pergi ke dapur. Siapa tahu suaminya sudah berada di sana.


Sandra menatap dapur dengan sendu. Alfian juga tidak ada di sana. Jadi semalam Alfian tidak pulang lagi.

__ADS_1


Dengan sedih Sandra kembali ke kamar. Dia mencari ponselnya untuk mencoba menghubungi Alfian.


Sandra tertegun sejenak, ternyata ada pesan masuk dari Alfian.


" Aku banyak pekerjaan di kantor. Jaga dirimu." Bunyi pesan dari Alfian.


Sandra menghempaskan tubuhnya duduk kembali di sofa.


" Mas beneran sibuk atau kembali menghindari ku? " Tanya Sandra yang tidak mungkin di dengar oleh Alfian.


Sandra sangat sedih dengan keadaan rumah tangganya sekarang. Sikap Alfian yang sempat menghangat dan sangat perhatian kepadanya kini kembali dingin seperti dulu. Entah sampai kapan Alfian akan marah kepadanya.


" Gak boleh cengeng Sandra... Jangan menangis lagi." Kata Sandra menguatkan dirinya sendiri.


Untuk mengalihkan kesedihan yang tengah dia rasakan, Sandra berinisiatif untuk mengunjungi Nurul.


Ya, jika hanya di rumah, Sandra tetap akan terus bersedih menyesali kebodohannya. Untuk itu dia pergi ke tempat Nurul. Karena hanya Nurullah menurutnya yang bisa memahami kondisinya saat ini. Sayangnya, Nurul ternyata tidak ada di kos. Jelas saja, Nurul kuliah di jam segini. Ternyata beban berat yang sedang dia rasakan dan pikirkan saat ini, membuatnya menjadi tidak bisa berpikir dan konsentrasi. Dengan gontai dan lemah, Sandra meninggalkan kos-kosan itu.


" Assalamualaikum bapak, Assalamualaikum ibu.. Sandra datang pak, bu... Maafkan Sandra yang sudah lama tidak menjenguk bapak sama ibu. Bapak dan ibu bagaimana ? Apakah kalian sudah bertemu di alam sana ? Sandra kangen, Sandra rindu kepada kalian." Sapa Sandra setelah duduk di antara makam Bapak Imam dan Ibu Lastri.


" Bapak, ibu... Selain rindu, Sandra juga ingin bercerita... Banyak sekali yang ingin Sandra sampaikan. Maaf ya pak, bu... Sandra belum bisa menjadi anak yang berbakti,Sandra belum bisa menjadi istri yang baik seperti yang kalian sampaikan dahulu. Sandra sedih,, Sandra bingung kepada siapa Sandra harus bercerita. Sandra takut akan membuat masalah dan membuat khawatir orang lain lagi jika menceritakannya." Kedua mata Sandra kembali berair di hadapan kedua makam orang tuanya.


***


Di kantor,, Alfian tidak bisa bekerja dengan tenang, dirinya selalu kepikiran Sandra. Sungguh bukan niatnya mengabaikan istrinya, namun hatinya masih belum bisa memaafkan kejadian kemarin. Lebih dari apapun, sejujurnya Alfian hanya takut jika benih-benih cinta di antara Sandra dan Gilang kembali bersemi seiring dengan kedekatan mereka yang mulai intens lagi. Dia masih ingat amarah Gilang dulu, Alfian masih ingat dengan jelas bagaimana Gilang mengancamnya di saat hari pernikahan, bahwa dengan cara apapun, Gilang akan merebut Sandra darinya. Meski Gilang sudah bilang sudah merelakan Sandra untuknya dan akan bertunangan, tapi dia tidak yakin dengan perasaan Gilang terhadap calonnya. Apalagi pertunangan itu bukan kehendak Gilang sepenuhnya, melainkan keputusan sepihak dari kedua orang tuanya untuk memperkuat kerjasama bisnis di antara mereka. Dia yakin jika sebenarnya Gilang terpaksa menyetujui rencana pertunangan itu. Hatinya masih bisa merasakan, jika rasa sayang Gilang kepada istrinya masih sangat besar. Dia tidak ingin apa yang dia takutkan benar terjadi. Dia sangat mencintai Sandra, dia tidak mau kehilangan istrinya.


" Tuan, bagaimana ?" Tanya Dias yang sejak tadi dengan panjang dan lebar menjelaskan hasil rapat dengan klien pagi tadi.


" Tuan ??" Sapa Dias lagi di hadapan Alfian. Tapi sayangnya Alfian belum juga sadar.


" Heh, Al !" Dias menepuk bahu Alfian sedikit keras.

__ADS_1


Alfian terkejut lalu melotot memandangi Dias yang justru menatapnya penuh tanda tanya.


" Apa ?" Tanya Alfian sarkas.


" Yeee, malah balik tanya. Jadi sejak tadi kamu gak dengerin aku ngomong ? Lo gak niat bikin aku ngulang menjelaskannya lagi kan ??"


" Ck... Aku yang jadi bosnya. Jadi terserah aku maunya gimana " Sindir Alfian.


" Sial... Makanya jangan melamun terus. Kalau khawatir ya samperin lah. Kalau cinta jangan kebanyakan gengsi. Segera selesaikan masalah kalian jangan sampai berlarut-larut. Dari pada kamu jadi gak fokus kerja, yang ada kerjaan juga bakal terbengkalai." Ucap Dias .


" Diam lah , Kaya kamu ahli saja dalam permasalahan rumah tangga, kamu tidak akan pernah paham. Apalagi pacar saja belum punya !" Ledek Alfian tidak terima.


" Kamu kenapa sih Al, masing berfikir yang berlebihan tentang Gilang. Aku tahu, dia hanya sayang sebatas kakak kepada adiknya. Dia hanya ingin membuat Sandra tersenyum lagi."


" Jangan bahas tentangnya saat bersamamu, atau kamu keluar saja dari ruangan ini."


" Ck... Selalu saja ..." Keluh Dias.


Alfian menatapnya dengan tajam yang membuat Dias kemudian terbungkam.


" Entahlah,hari ini aku sangat mencemaskan Sandra. Aku ingin pulang tapi rasanya aku belum siap menemuinya. Aku belum bisa melupakan kejadian kemarin dan tidak ingin semakin membuatnya terluka karena amarah ku. Tapi aku sangat merindukannya. " Kata Alfian.


" Al.... Al... Kamu kebanyakan gengsi dan ego. Jika ada masalah harusnya segera selesaikan, jangan malah terus-terusan menghindarinya. Penyakit kok malah di kasih pupuk. Yang ada malah semakin menyebar ke mana-mana. " Kata Dias sok bijak.


" Ya udah daripada kerja gak fokus juga , ngapain gak pulang terus mastiin keadaan Sandra. Kalau yang aku amati sih, Sandra tipe orang yang susah makan kalau sedang banyak masalah. Jangan-jangan dari kemarin,dia gak makan terus sekarang pingsan di dalam apartemen." Lanjut Dias.


Alfian tersentak seketika. Benar apa yang dikatakan Dias. Sandra bahkan dulu pernah beberapa hari tidak makan saat ibunya meninggal karena terlalu sedih. Dengan panik, Alfian kemudian bangkit dan bergegas pulang ke apartemennya.


" Cancel saja semua pertemuan hari ini. Lagi pula semalam aku sudah mengoreksi beberapa berkas penting yang akan kita bahas beberapa hari ke depan."


" Baik Tuan, serahkan saja seperti biasa." Balas Dias yang tahu bagaimana watak Alfian saat sedang panik.

__ADS_1


" Gaya saja sok jaim dan dingin. Aslinya khawatir kan ? Baru dengar seumpama Sandra tidak makan saja sudah panik begitu. Apalagi kalau dengar Sandra sakit atau yang lain." Ejek Dias setelah Alfian menghilang dari pandangan matanya.


__ADS_2