Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Menyukai Sandra ??


__ADS_3

Di tempat berbeda, Alfian tengah memimpin rapat di kantornya. Sejak pagi dia di sibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang melelahkan.


" Rapat saya cukupkan sampai di sini. Kalian semua boleh istirahat dan kembali ke ruang kerja masing-masing. " Perintah Alfian menutup rapat.


Setelah semua pergi, Dias langsung menutup pintu ruang rapat tersebut.


" Ada apa ?! " Alfian langsung bertanya, pasti ada sesuatu yang ingin segera Dias sampaikan.


Dias mendekati Alfian yang tengah mengendurkan dasinya. Langkahnya terlihat ragu dan bimbang.


" Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan tuan. Ini tentang... Nona Sandra .. " Jelas Dias sambil menyerahkan handphone milik Alfian yang dari tadi di pegang Dias. Begitulah Alfian. Dia memang tidak suka di ganggu jika sedang rapat,maka dari itu dia selalu menitipkan handphonenya kepada Dias, agar jika ada yang menghubunginya, Dias bisa menjawabnya supaya dia tetap fokus pada rapatnya.


Alfian menerima handphone itu. Ada sebuah kiriman video dari orang suruhannya yang dia tugaskan untuk mengawasi Sandra. Alfian kemudian membuka video tersebut. Tidak butuh waktu lama. Wajahnya langsung berubah murka melihat video tersebut. Alfian kemudian melempar asal handphonenya di atas meja.


" Apa-apaan Gilang ! Masih punya nyali dia menemui gadis udik itu ! " Bentak Alfian emosi.


" Kurasa karena dia sangat frustasi." Dias menanggapi dengan bahasa yang lebih santai karena kini mereka hanya berdua.


Alfian berdecak mendengarnya.


" Mereka berani bertemu di belakang ku ! Sial ! Apa yang Arkha lakukan hingga dia bisa seteledor ini ?! Dasar tidak becus !" Alfian mulai tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


" Sabar Al... Marah-marah tidak akan ada gunanya. Kurasa sudah jelas. Dari video ini kita bisa tahu jika Sandra tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan Gilang. Dia menyuruhnya pergi dan mencari gadis lain. " Dias mencoba menenangkan Alfian.


" Lalu untuk apa dia menangis sampai seperti itu ? Menangisi perpisahannya kan ! Itu karena dia masih mencintai Gilang !" Ucap Alfian panas.


" Dan dimata Gilang, dia membuatku seperti orang yang bersalah dan tidak punya hati karena perpisahan mereka ! Sampai kapan dia akan terus berfikir seperti itu ?!" Lanjut Alfian mengamuk.


" Ya mungkin... Tapi jangan terlalu kejam kepadanya. Berilah dia waktu untuk menenangkan diri dan melupakan yang terjadi. Setidaknya kita tahu, tidak ada harapan lagi bagi Gilang. Kurasa Sandra sangat keren. Di usia yang masih terbilang belia. Dia sudah bisa menahan egonya untuk orang-orang yang dia kasihi. Jarang sekali seorang gadis seusianya bisa berkorban seperti itu."


" Kamu membela mereka lagi ? "


" Tidak.... Aku tidak membela Gilang maupun Sandra. Aku hanya menilai Sandra menurut pandangan mataku. Cobalah sedikit saja memahami keadaan mereka." Balas Dias ketakutan.


" Lalu aku harus bagaimana sekarang ? Membiarkan mereka kembali bersama ? "Tanya Alfian. Tangan kanannya mengepal kuat lalu dia memukul meja dihadapannya.


BRAKK !

__ADS_1


Hening sejenak.


" Sekarang aku tanya. Apa kamu menyukai Sandra ?" Tanya Dias memberanikan diri.


" Mana mungkin aku menyukainya? Gadis itu selalu membuatku emosi. Melihatnya membuatku muak." Balas Alfian kesal.


Dias tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Bukan Alfian namanya jika tidak keras kepala.


" Kalau begitu, untuk apa kamu marah melihat mereka berdua bertemu ? "


" Itu... itu karena mereka menghianatiku ! " Alfian menjawab dengan bodohnya.


" Al ..... Al.... Untuk apa kamu membohongi diri sendiri ? Untuk apa kamu merasa di hianati jika kamu tidak menyukai Sandra ? Jika memang kamu tidak menyukainya, kamu tidak perlu marah. Tidak perlu repot-repot mengirim orang untuk mengawasinya juga. Biarkan Sandra hidup bebas seperti sebelumnya. Kamu tidak perlu perduli dengan semua urusannya. Tapi kenyataannya sebaliknya, kamu cemburu melihatnya bertemu dengan pria lain." Dias terkekeh.


Alfian kalah telak , dia tidak mampu menyangkal apa yang di katakan Dias.


" Cemburu ? Benarkah aku kesal dan marah karena cemburu ?Apa benar aku menyukai gadis udik itu ? Sejak kapan ? " Tanya Alfian dalam hati.


Alfian memejamkan kedua matanya. Mencoba berfikir jernih dan meredam emosinya.


Alfian membuka matanya lalu menatap Dias dengan tajam.


" Melupakan Rena ? Entahlah, aku sendiri bingung dengan diriku. Setiap bertemu dengannya, aku seperti... biasa saja. Padahal aku tadinya ingin memberinya kesempatan. Tapi.... "


" Tapi enggan .... ? Itu karena di hatimu sekarang sudah ada perempuan lain. Dan perempuan itu adalah Sandra, istri kecilmu. " Potong Dias bersemangat.


" Sandra ? Aku tidak yakin... Bahkan setiap aku bersamanya, kita hanya selalu bertengkar atau melihatnya menangis di pojok ruangan. Dan itu membuatku sangat kesal ! Apa itu yang kamu maksud menyukainya ? " Tanya Alfian mengelak.


"Bisa jadi, kamu pasti kesal dengan dirimu sendiri karena tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Sandra menangis. Cinta itu unik Al .. Dulu kamu sangat tergila-gila kepada Rena sampai-sampai kamu tidak sadar jika dia hanya memanfaatkan mu saja. Maaf...., aku baru berani mengatakannya sekarang.... Jika ku katakan dulu, mungkin sekarang aku tidak akan ada di sini.... Karena saat itu kamu akan marah dengan siapa pun yang berbicara buruk tentangnya. Hidupmu dulu terlalu di monopoli oleh Rena. Paman yang sadar akan hal itu lalu mengirim mu ke luar negeri. Kau pikir paman melakukannya tanpa alasan ? Tentu saja ada alasannya. Dia ingin kamu menyadari jika Rena tidak pernah benar-benar mencintaimu dan hanya memanfaatkan kekayaan mu. Buktinya, dia justru memilih meninggalkanmu dari pada menjalani hubungan jarak jauh yang tidak begitu sulit di jaman modern ini. Tentu saja, dia merasa tidak ada yang bisa dia dapatkan lagi jika kamu jauh darinya. Lalu tidak lama kemudian dia juga pergi ke luar negeri. Aku pernah dengar jika dia bertemu dan mempunyai hubungan terlarang dengan salah satu produser tanah air. Itu sebabnya setelah dia kembali ke sini... Karirnya sebagai artis pendatang baru langsung melejit. Lupakan saja itu, kembali ke Sandra ... Dia gadis yang tumbuh di tengah keluarga yang kekurangan. Wajahnya juga tidak begitu cantik. Penampilannya sangat sederhana, tapi dia sudah mandiri sejak kecil. Hidup yang berat membuatnya dewasa sebelum waktunya. Namun banyaknya kasih sayang dari orang tuanya membuatnya kadang manja dan sedikit keras kepala seperti kamu. Sandra gadis yang rajin dan mau bekerja keras. Dia hanya ingin mengandalkan dirinya sendiri tanpa merepotkan orang lain. Selain pembawaannya yang ceria dan polos, kepribadiannya juga sangat baik. Dia juga masih terjaga dari pergaulan bebas, tidak seperti kebanyakan remaja saat ini. Hal itulah yang membuat papamu dan Gilang tertarik dengannya. Secara garis besar, Sandra gadis yang istimewa jika di bandingkan dengan Rena yang hanya cantik dari penampilannya saja. Maka wajar saja jika akhirnya kamu menyukainya." Dias menjelaskan panjang lebar.


Alfian terlihat berfikir. Memang benar.. Kepribadian Sandra jauh lebih baik dari Rena. Sandra tidak suka dandan berlebihan, gadis itu tidak suka berfoya-foya. Bahkan kartu kredit yang diberikannya sampai sekarang belum ada notifikasi pemakaian. Bahkan semua tas, sepatu dan pakaian branded yang ada di rumah sama sekali belum dia sentuh. Sandra lebih suka memakai barang-barang sederhana. Orang yang dia kirim untuk mengawasi Sandra juga sering mengirim foto-foto atau kegiatan amal Sandra. Ya Sandra senang berbagi. Uang saku yang Sandra minta ia gunakan untuk membeli banyak pakaian, sepatu dan tas sekolah untuk anak. Lalu Sandra membagikan semua itu ke anak-anak yang hidupnya kurang beruntung. Sandra juga tidak pernah mau di antar jemput memakai mobil. Dia menolaknya dengan alasan tidak terbiasa dan lebih nyaman menaiki sepeda motor. Mungkin saja begitu, tapi sepulang kuliah Sandra suka berkeliling di jalanan, membeli makanan dari para pedagang kecil lalu membagikannya cuma-cuma kepada pengamen, pengemis maupun anak-anak jalanan. Alfian tersenyum mengingatnya.


" Al ? Heh.. Kamu masih dengerin aku kan ?! " Tanya Dias sambil melambaikan tangannya di depan wajah Alfian yang melamun.


" Ah apa ?!" Alfian justru balik bertanya.


" Al ... Al.... sudah jangan mengelak lagi. Terlihat jelas jika kamu menyukainya.

__ADS_1


" Lalu aku harus gimana ?" Aku Alfian akhirnya.


" Dia sangat membenciku. Membuatnya marah dan kesal adalah salah satu cara agar aku bisa berbicara dan berdekatan dengannya." Imbuhnya.


" Hmm... Kalau kamu terus begitu dia justru akan semakin membencimu. " Dias mendengus .


" Kamu harus berubah demi dia. Mungkin dengan begitu dia akan mulai tertarik dengan mu ." Ucap Dias.


" Berubah ?" Tanya Alfian.


Dias mengangguk pasti. " Jika selama ini kamu sering memperlakukannya dengan buruk, maka perbaikilah mulai dari sekarang. Perlakuan dia dengan baik, tunjukkan perhatian,dan berilah kejutan-kejutan kecil dengan hal yang dia sukai." Usul Dias.


" Apa itu justru tidak akan membuatnya besar kepala ?" Tanya Alfian ragu.


" Bukan besar kepala Al.... Tapi tersanjung.... Perempuan akan merasa senang karena di perhatikan dan di perlakukan dengan baik. Begitu saja tidak paham ! "


" Dulu Rena tidak seribet itu."


" Ya bedalah Al ! Rena jadi kekasihmu karena ada maunya ! Yang penting duit cair belanja aman masa bodoh dengan dirimu yang cuek. Berbeda dengan Sandra. Dia tidak menginginkan sesuatu dari mu. Makanya kamu harus berusaha mengambil hatinya agar dia luluh dan balas menyukaimu. Itu yang kamu inginkan kan ?" Protes Dias kesal. Jengkel sekali melihat sahabatnya tulalit.


" Trus masalah video ini gimana ? Aku tidak terima Gilang main belakang begini. Aku harus menghajarnya ! " Ucap Alfian kembali panas.


" Gilang sudah tidak ada harapan. Sandra menolaknya dan lebih mementingkan pernikahan kalian. Itu berarti dia tahu batasannya sebagai seorang istri. Tinggal usaha mu saja untuk meraih hatinya." Dengan sabar Dias menjelaskan kepada Alfian.


Alfian menghela nafas panjang. Membuat hati Sandra luluh menurutnya lebih sulit dari pada masalah yang lainnya.


" Aku tidak yakin itu akan mudah. Gadis itu tidak bisa di tebak. Dia tidak suka kemewahan,uang atau berbelanja. Aku tidak tahu apa yang disukainya. "


" Bukankah Neta dekat dengannya ? Kamu bisa mencari informasi darinya tentang apa saja yang di sukai Sandra."


" Ide bagus, kenapa aku tidak bisa berfikir sampai ke situ ? " Alfian mengangguk-angguk setuju.


" Itu karena kamu terlalu gengsi dan lamban mengakui perasaanmu sendiri." Ucap Dias kemudian melangkah pergi.


" Aku mau makan siang ! Kamu membuat jam makan siang ku semakin mulur !" Imbuh Dias.


Alfian yang mendengarnya terkekeh lalu melemparkan pulpen ke arah Dias yang menggerutu karena kelaparan. Memang sudah pukul dua siang. Alfian sendiri sudah merasakan perutnya keroncongan.

__ADS_1


__ADS_2