
" Wah , keterlaluan. Bagaimana bisa aku hanya di tinggal berdua dengan tuan !" Keluh Sandra.
Sandra membuka pintu dengan sandi yang tadi sempat Alfian beri tahukan.
Pintu terbuka, Perlahan Sandra memasuki kamar itu. Sama seperti kamar pengantin pada umumnya. Banyak bunga mawar bertebaran di lantai menuju ranjang yang telah di hias indah, lengkap dengan bunga mawar merah dan dengan hiasan dua angsa putih yang membentuk love di tengahnya. Kamar itu sangat harum dengan wangi lembut yang menenangkan. Sandra berhenti di depan meja rias. Menatap pantulan dirinya dari kaca.
Sandra tersenyum getir. Hari ini benar terjadi. Dia telah sah menjadi menantu dari keluarga kaya yang sangat terpandang. Tapi dirinya sama sekali tidak bahagia, buliran bening kembali menjatuhi pipinya.
" Semoga bapak tenang di sana. Sandra sudah mewujudkan permintaan bapak. " Sandra terisak.
Belum siap. Pada kenyataannya Sandra memang belum siap menerima kenyataan pernikahannya sendiri. Dia masih ingin bebas . Masih ingin mewujudkan impian-impian kecil di hidupnya. Masih ingin merasakan indahnya menjalani masa muda yang penuh tantangan.
" Padahal minggu depan aku baru berusia sembilan belas tahun." Ucap Sandra lirih di sela-sela isakan tangisnya.
" Kata orang cinta saat remaja itu menyenangkan. Kenyataannya tidak buatku." Batinnya nelangsa mengingat Gilang yang tadi terlihat begitu sedih.
Pintu kamar terbuka. Alfian masuk dengan menenteng jas di satu tangannya.
Pandangan matanya langsung tertuju kepada Sandra yang tengah sibuk menghapus air matanya.
"Terserah. Mau menangis darah pun aku tidak akan perduli." Batin Alfian kemudian melempar jas nya ke sofa dan masuk ke kamar mandi.
Alfian mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Tangannya terkepal erat mengingat pertemuannya dengan Gilang barusan. Selesai acara, anak buahnya memberi tahu jika Gilang ingin menemuinya secara pribadi. Karena penasaran Alfian pun menemuinya.
Sepuluh menit yang lalu.
" Ada apa. Mau memberiku selamat lagi ?" Ejek Alfian begitu sampai di ruang Gilang menunggu.
Gilang tersenyum sinis .
" Gak akan ! " Ucapnya.
" Kalau begitu jangan basa-basi , langsung saja katakan apa maumu !" Hardik Alfian.
" Jangan sentuh Sandra. " Pinta Gilang. Kali ini suaranya terdengar lebih rendah dan memelas .
" Dia istriku sekarang. Aku mau ngapain ke dia itu bukan urusanmu. ! "
" Please Al, kamu tidak mencintainya. Jangan merusak hidup seorang gadis." Lanjut Gilang.
" Jangan sok suci Gilang. Kita kenal bukan hanya setahun dua tahun.. Sudah banyak sekali gadis-gadis yang menjadi korban rayuan mu. Apa perlu aku mengingatkan berapa gadis yang kamu rusak ?"
" Beda Al, semua itu terjadi karena sama-sama mau. Seperti kamu dengan Rena ! Sekarang aku sudah berubah,aku benar-benar mencintai Sandra. !"
" Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu ! Berengsek.. Dia istriku sekarang. Aku mencintainya atau tidak, dia berkewajiban membiarkan hak ku sepenuhnya ! Ingat,dia sudah menikah ! " Kata Alfian mulai meninggi.
" Jangan lampiaskan kebencianmu padanya. Di sini dia juga korban. Bukan hanya kamu yang terpaksa harus menikah. Dia juga terpaksa. " Jelas Gilang.
" Jangan sok menasehati ku . Perlu aku tegaskan. Dia sendiri yang kemarin memohon padaku agar melanjutkan pernikahan ini !"
" Aku tidak menasehati, aku kasihan padanya. Bisakah kamu membayangkan betapa sedihnya dia jika kamu mengambil semua darinya ? Meskipun kalian menikah, pernikahan kalian belum tentu selamanya. Wasiat itu hanya menginginkan kalian menikah dan kalian sudah mewujudkan hal itu. Tidak masalah jika kalian berpisah baik-baik.Lepaskan Sandra... biarkan dia bebas dari pernikahan ini dan hidup sesuai keinginannya." Pinta Gilang.
Alfian tertawa mencemooh.
" Semudah itu kamu bilang. Jika aku tidak akan pernah melepaskannya kamu mau apa ?! Akan ku jawab. Aku tidak kasihan sedikit pun kepadanya. Urus saja urusanmu sendiri. Dia istriku ! Terserah aku mau bagaimana memperlakukannya !" Balas Alfian.
" Aku mohon Al ! Jangan paksa aku berbuat nekat ! " Ancam Gilang frustasi.
" Terserah... ! " Ujar Alfian lalu melangkah pergi. Gilang terlihat begitu kacau. Dia duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Lupakan dia ! " Lanjut Alfian sebelum menghilang pergi.
Sekarang Alfian masih mengingat kata-kata Gilang tadi. Seistimewa apakah gadis udik itu hingga Gilang bertekuk lutut mencintainya ? Alfian tahu betul jika selama ini Gilang tipe laki-laki yang tidak serius dalam mencintai seseorang. Bahkan hidupnya terbiasa di kelilingi perempuan-perempuan cantik yang datang dan pergi menemaninya. Bagaimana dia bisa sampai jatuh cinta pada gadis kecil yang miskin.
" Ah sial ! " Alfian berteriak di kamar mandi.
Di luar, Sandra selesai melepaskan semua aksesoris yang dia kenakan. Tinggal berganti pakaian. Namun dia sangat kesulitan saat hendak melepaskan resleting gaunnya ke bawah. Tangannya tidak sampai.
" Sulit sekali. Padahal tinggal sedikit lagi. " Ucap Sandra tetap berusaha.
Tiba-tiba Alfian sudah berdiri di belakangnya ,membantunya menurunkan resleting gaunnya. Refleks Sandra menutup kedua matanya karena Alfian hanya memakai handuk kecil untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Jantung Sandra berdetak kencang. Tubuhnya bergetar antara malu dan takut. Tapi tidak ada pergerakan. Sandra mencoba membuka salah satu matanya. Tidak ada. Alfian sudah pergi, mungkin sedang berganti pakaian di ruang ganti .
" Huh.... bisa-bisa jantungan kalau begini terus. ! " Keluhnya kemudian masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Selesai mandi Sandra mengintip dari balik pintu kamar mandi. Kamar itu terlihat sepi. Sepertinya Alfian tidak ada di dalam kamar. Sandra menggunakan kesempatan itu untuk berlari ke ruang ganti. Di sana sudah tersedia berbagai baju dari baju tidur hingga gaun pesta. Sandra memilih baju tidur yang paling tertutup. Setelah itu dia keluar. Masih belum terlihat siapa pun. Sandra menghela nafas panjang...
" Hufft... baguslah,semoga saja dia tidur di kamar lain." Gumamnya.
Sandra berjalan melewati sofa , pandangan matanya tertuju pada tumpukan kado dari para tamu undangan dan kerabat.
" Waah.... banyak sekali. " Serunya.
" Ehm.... kado dari Nurul tadi mana ya ...? " Sandra memilah-milah dan mencarinya di tumpukan kado yang menggunung itu.
" Ehem !" Tiba-tiba Alfian muncul di belakang Sandra.
" Astaghfirullah ! " Sandra beristighfar kaget.
" Gitu aja kaget ! " Sungut Alfian.
" Gimana gak kaget, tiba-tiba tuan muncul berdeham keras, bukannya ngucap salam kek ! Ngagetin aku tau ! " Ucap Sandra yang sudah mulai terbiasa menyebutkan "aku" jika bersama Alfian. Dia masih sering di tegur oleh Pak Wijaya saat berbicara formal kepada Alfian.
" Auh ... !" Sandra meringis kesakitan. Alfian menyentil keningnya dengan jari.
" Suka-suka aku , inikan kamar ku !" Ucap Alfian.
" Ck ... " Sandra berdecak.
" Mm, tuan ... eh mas Al.... aku boleh buka kado-kado ini gak ? " Tanya Sandra kemudian.
" Terserah, kamu ambil saja semuanya ! " Alfian melangkah cuek.
" Tapikan ini kado buat kita, berarti punya mas juga."
" Aku tidak membutuhkannya ! " Ujar Alfian.
Sandra mengangkat kedua bahunya pasrah.
" Ya sudah, kalau gitu bantuin aku bukain semua kado ini ya ? " Ajak Sandra.
" Kamu buka aja sendiri. " Tolak Alfian.
" Kan banyak mas, ya udah deh aku ambil yang dari temen-temen aku dulu. Tadi Nurul juga memberiku sesuatu." Sandra kembali mencari kado dari Nurul.
Alfian hanya mengamati gadis itu sambil duduk di atas ranjang.
" Tuan, boleh aku ikut duduk di situ ? " Tanya Sandra.
Alfian diam saja , pura-pura sibuk memeriksa handphone.
" Diam berarti boleh." Kata Sandra kegirangan.
" Siapa bilang boleh. Kamu duduk dan tidur saja di sofa itu ! " Kata Alfian.
" Yah tuan, tapi Sofanya sudah penuh kado .. Baru saja aku menatanya."
Lalu Sandra mendekat dengan membawa beberapa kado dan dia taruh di atas ranjang.
" Ck .. Mengganggu saja ! " Keluh Alfian.
" Cuma numpang sebentar kok mas, aku mau buka kado yang dari keluarga dulu. Bantuin ya ? " Ucap Sandra senang.
Meski tidak menjawab Alfian tak lagi menolak Sandra yang kini mulai membuka kado pertamanya.
" Ini dari ibu ... " Ucapnya antusias.
Sandra membuka kado yang di bungkus kotak kecil itu dengan hati-hati.
" Kalung ? Ehm , ada suratnya juga. " Gumam Sandra setelah membuka kado tersebut.
Alfian yang sejak tadi hanya pura-pura melihat handphone kini tertarik dan mendekat .
Sandra ... Ibu tidak bisa berkata lagi. Ibu bahagia... Sangat-sangat bahagia untuk putri ibu.Ibu bersyukur, sekarang kamu sudah memiliki pendamping hidup yang bisa menjaga dan melindungi mu. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Sandra, ingatlah selalu nasehat-nasehat dari ibu dan jalani rumah tangga kalian dengan baik. Ibu tidak bisa memberimu apa-apa sebagai kado pernikahan kalian. Kalung ini, ibu membelinya dengan bapak sewaktu beliau masih hidup untuk hadiah ulang tahun kamu. Namun ibu rasa ,ini waktu yang tepat untuk memberikannya kepadamu. Berbahagialah. Ibu sangat menyayangimu.
Sandra menitikkan air mata kembali membaca surat itu.
" Cengeng.. ! " Ejek Alfian saat melihatnya.
Sandra segera menghapus air matanya.
__ADS_1
" Biarin ! " Balas Sandra lalu menyimpan kembali kado itu dan menaruhnya di dalam tasnya.
" Aku tau, meski ibu bilang bahagia... Pasti di lubuk hatinya pasti ibu sedih dan kesepian. Sekarang satu-satunya anak yang dia punya sudah menjadi milik orang lain." Ucap Sandra
lalu kembali membuka kado-kado itu.
" Aku yakin tidak begitu. Ibumu bilang bahagia ya berarti bahagia. Cara berfikir mu yang harus kau rubah. Ibumu tidak kehilangan siapapun justru anaknya bertambah satu. Lagi pula semua ini keinginan almarhum suaminya. Pasti ibumu bahagia wasiat dari suaminya sudah terlaksana. " Ucap Alfian.
" Mm... kamu benar juga. Kurasa aku yang terlalu khawatir dan takut akan keadaan ibu. Sandra menanggapi.
" Ini hadiah dari papa, biar ku buka . " Ucapnya melanjutkan.
Sandra membukanya dan terheran saat melihat sebuah kunci.
" Ini kunci apa ? " Tanyanya polos.
" Itu kunci mobil bodoh ! " Ucap Alfian.
" Kunci mobil ? Jadi papa memberi kita mobil ? "
" Biasa aja kali. Udah biasa hadiah mobil begitu. "
Sandra menggeleng, lalu menyerahkan kunci mobil itu kepada Alfian.
" Ini untuk kamu saja. Pasti mobilnya sangat mahal. " Kata Sandra.
" Aku sudah bilang tadi, aku tidak memerlukan semua kado ini,jadi semua ini milikmu !" Kata Alfian menegaskan.
" Tidak bisa mas .. Ini terlalu mahal , lagi pula aku tidak bisa mengendarainya. Aku terbiasa bawa sepeda motor. Itu sudah cukup." Tolak Sandra.
Alfian terdiam. Gadis ini begitu polos atau bodoh? Biasanya kaum wanita akan menangis dan berteriak histeris jika mendapatkan hadiah sebuah mobil mahal. Tapi Sandra justru menolaknya." Dasar gadis aneh." Batinnya.
Sandra melanjutkan membuka kadonya. Ada dari Bibi Nani,Neta, Arkha dan Nurul.
Bibi memberinya sebuah mukena baru lengkap dengan mushaf kecil. Isi kado dari Neta adalah sepasang jam tangan bermerek sedangkan Arkha memberikan satu kardus pengaman bermacam-macam merek yang berhasil membuat sepasang pengantin itu saling pandang dan tersipu malu.
" Ehem." Alfian berdeham menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba hadir.
" Di buang aja, aku rasa adikmu benar-benar jahil." Sandra mendorong kotak itu hingga terjatuh dari ranjang.
" Tinggal satu... Ini dari temanmu ? " Tebak Alfian menggoyang kado itu.
Sandra mengangguk dan mengambilnya dari Alfian.
" Tidak usah di buka. Aku yakin dia sama jahilnya dengan Arkha." Ucap Sandra melanjutkan.
" Belum tentu, kalian kan bersahabat baik, mana mungkin dia memberikan hadiah untuk lelucon di hari pernikahanmu. Sini, biar aku yang buka !" Alfian kembali merebut kotak kado tersebut.
" Percayalah, dia terlihat mencurigakan saat memberikannya. Dia bilang kamu akan sangat suka dan senang setelah melihatnya." Terang Sandra.
" Oya.. " Alfian justru semakin penasaran dan ingin membukanya.
" Jangan mas.... " Sandra berusaha merebut kembali kado itu. Tapi Alfian mengangkat kado itu dan merobek dan membukanya di atas kepala agar Sandra tidak bisa merebutnya.
" Ambil kalau bisa ... " Tantang Alfian.
Sandra hendak berdiri dan merebutnya,namun sesuatu tiba-tiba jatuh dari kotak itu. Secepat kilat Alfian mengambil benda itu dan menentengnya. Seketika kedua bola mata sepasang suami istri itu kaget melihat lingerie seksi berwarna merah menyala yang dipegang Alfian..
Alfian kemudian tersenyum licik.
" Wah, sepertinya sahabatmu itu sangat pengertian. Kamu boleh mencobanya sekarang." Bisik Alfian.
Sandra berusaha merebut lingerie tersebut namun Alfian malah mendorongnya hingga terbaring di atas kasur. Dengan cepat Alfian mengungkung tubuh Sandra.
" Tuu ... ma mam... mas... Kamu su.. sudah berjanji kemarin. Mas sudah se ... setuju... " Ucap Sandra terbata. Jantungnya berdetak kencang. Apalagi saat wajah Alfian mendekati wajahnya. Udara terasa panas dan sesak.
" Siapa bilang.... Aku menginginkan malam pertama kita."Ucap Alfian tercekat. Dia sendiri merasa aneh. Jantungnya ikut berdetak dengan kencang melihat wajah Sandra yang manis alami tanpa make up. Alfian semakin mendekatkan wajahnya.
Sedetik kemudian Sandra berteriak dan mendorong Alfian kuat-kuat.
"Tidaakk ... ! " Ucapnya, lalu lari meninggalkan pria itu sendiri.
Alfian duduk di tepi ranjang. Dirinya merasakan panas di sekitar wajahnya. Tubuhnya menegang dan jantungnya berdetak kencang.
" Sial ! Niat mau nakutin dia malah aku yang kena ! " Gerutu Alfian lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi lagi.
__ADS_1