Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Gagal Lagi !


__ADS_3

Sampai di apartemen... Alfian masih terlihat marah.


" Mas gak balik kerja ?" Tanya Sandra ragu-ragu.


" Gak." Jawab Alfian singkat. Wajahnya masih terlihat masam.


" Mm, mau aku bikinin kopi ?" Lanjut Sandra bertanya.


" Hm." Balas Alfian.


Sandra menghela nafas panjang mendengarnya. Kemudian dirinya pergi ke dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu kopi hitam untuk Alfian dan satu kopi susu untuk dirinya. Tidak lupa Sandra juga membawa setoples cemilan untuk teman ngopi.


" Ini mas kopinya." Ucap Sandra setelah menaruh nampan ke atas meja.


" Hm.." Alfian yang sejak tadi memejamkan matanya sambil bersandar pada sofa tergugah saat mencium aroma kopi buatan Sandra.


" Mas mau aku masakin apa nanti ?" Tanya Sandra membuka percakapan.


" Terserah...." Balas Alfian sambil menyeruput kopinya. Kedua matanya kembali berbinar setelah mencicipi kopi buatan Sandra.


" Mas masih marah ?"


" Iya..."


" Kan aku sudah minta maaf mas...."


" Tapi aku masih sangat cemburu Sandra. Aku tidak suka melihat dirimu dekat-dekat dengan pria lain selain diriku !" Batin Alfian kesal.


" Mas, sudah dong ... " Sandra kemudian duduk di sebelah Alfian.


Cup !!


Alfian membulatkan kedua matanya dengan sempurna ketika Sandra tiba-tiba mencium pipinya terlebih dahulu.


" Jangan marah lagi." Bujuk Sandra.


" A.. aku tidak marah, tapi jangan ulangi lagi. Jauhi dokter itu !" Ucap Alfian yang masih tidak menyangka akan mendapatkan ciuman dari Sandra.


" Iya... Aku masih ingat kok." Balas Sandra meskipun dirinya bingung mengapa Alfian terlihat tidak suka dengan Dokter Tian.


" Cemburu kah ?" Batin Sandra lalu tersenyum.


" Oya , acara besok jadi ?" Tanya Alfian kemudian.


" Jadi dong mas .. Nurul aja sampai semangat empat lima." Tutur Sandra memberi tahu.


" Oke baiklah... Kedua temanmu juga jadi ikut ?"


" Sepertinya jadi mas... " Balas Sandra sambil mengambil cemilan di dalam toples.


Alfian kemudian menatap Sandra yang tengah asik menyantap cemilan. Emosi yang tadi masih bercokol di hatinya berangsur luluh melihat wajah Sandra yang tersenyum. Sampai saat ini Alfian tidak menyangka jika dirinya akan jatuh cinta pada gadis yang dulu sering dia hina.


" Mas kenapa menatap aku begitu ?" Tanya Sandra yang menjadi salah tingkah di perhatikan seperti itu oleh suaminya.


" Karena kamu manis." Ucap Alfian memuji.


" Iiih, mas sekarang selain mesum juga mulai pinter ngegombal ya....?" Balas Sandra tersipu.


" Hehehe... terserah,, aku hanya berusaha jujur saja." Kata Alfian terkekeh.

__ADS_1


" Aa .. aku , mau mandi dulu." Ucap Sandra kemudian. Berdekatan dengan Alfian lama-lama bisa menggangu kesehatan jantungnya yang kini berdegup dengan kencang.


" Aku ikut... Kita mandi bersama ya ? " Sahut Alfian mencari kesempatan.


Sandra melotot ke arah suaminya.


" Gak boleh..." Jawab Sandra lalu lari ke dalam kamar.


Alfian tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. Dirinya membayangkan bagaimana bahagianya jika keinginannya itu terwujud. Apalagi bayangan sequisi yang lembut kenyal milik istrinya terngiang jelas dalam ingatannya.


Drt...Drt...Drt...


Ponsel Alfian berbunyi ada pesan masuk dari Rena. Perempuan itu sudah tahu jika Alfian dalang dari kehancuran hidupnya. Dia terus saja meminta tolong kepadanya agar membebaskannya dari kasus hukum yang menimpanya. Jika tidak, dia mengancam akan balas dendam dan menghancurkan hidupnya juga. Alfian yang tidak perduli dan tidak tertarik untuk menanggapinya lalu mengabaikan pesan itu lagi dan menaruh ponselnya kembali.


" Shh.. Apa yang bisa kamu lakukan untuk balas dendam pada ku ? " Ucap Alfian meremehkan.


Dia lalu mengikuti Sandra masuk ke dalam kamar. Suara gemericik air masih terdengar dari kamar mandi, itu tandanya Sandra masih belum selesai mandi. Alfian kemudian melemparkan jas nya kedalam ranjang pakaian kotor. Setelah itu dia berbaring di tempat tidur sambil menunggu Sandra selesai mandi.


Tidak lama kemudian, Sandra keluar hanya dengan mengenakan handuk sampai di atas lutut untuk menutupi tubuhnya. Aroma shampo dan sabun yang wangi menyeruak dari tubuhnya. Rambutnya yang basah masih meneteskan sedikit air dari ujungnya. Alfian menelan ludah melihatnya. Ada sesuatu yang bangkit di dalam dirinya.


" Mas, tolong ambilkan handuk kecil dari lemari... Aku lupa jika ingin berkeramas juga." Sandra meminta tolong kepada Alfian. Dia masih berdiri di depan pintu kamar mandi karena takut membasahi lantai jika dirinya pergi mengambil handuk sendiri.


Alfian bangkit kemudian membuka lemari dan mengambilkan handuk yang Sandra maksud.


" Biar aku bantu mengeringkan rambut mu." Ucap Alfian yang menatap Sandra tanpa berkedip.


" Tidak usah mas..." Balas Sandra yang ingin meminta handuk itu tapi Alfian justru membuatnya duduk di depan meja rias kemudian membantu Sandra mengeringkan rambutnya.


Ini kali pertama Sandra di perlakukan seperti itu oleh Alfian. Ada rasa malu dan canggung karena Alfian terus menatapnya tanpa berkedip. Sandra bisa melihatnya dari pantulan kaca di depannya.


" Sandra... " Ucap Alfian serak.


Alfian membalikkan tubuh Sandra, kini mereka saling berhadapan dan beradu pandang. Tanpa menyiakan kesempatan yang ada, Alfian mencium bibir Sandra dengan rakus.


" Buka mulutmu... " Pinta Alfian yang sudah berkabut nafsu.


Sandra melakukan apa yang Alfian katakan. Keduanya semakin larut dalam suasana. Alfian kemudian membopong tubuh Sandra dan membaringkannya di ranjang tanpa melepaskan pagutan di antara keduanya.


Sandra kembali merasakan sensasi aneh yang pernah dia rasakan sebelumnya bersama Alfian. Tubuhnya meremang dan menegang karena sentuhan Alfian. Tidak butuh waktu lama, handuk yang menutupi tubuh Sandra sudah terlepas entah ke mana.


" Apakah dia akan meminta haknya sekarang ?" Batin Sandra yang masih tersadar.


Dia menatap kepada suaminya yang kini tengah asik memainkan jari-jarinya.


Ting tong ting tong


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi,, mengagetkan keduanya.


" Shial !!" Umpat Alfian kesal. Selalu ada saja yang menggangu dirinya di saat seperti itu.


" Mas... Lihat dulu siapa yang datang." Ucap Sandra sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Alfian kemudian bangkit dan memakai pakaiannya dengan kesal.


" Aku lihat dulu siapa orang yang telah mengganggu kesenangan ku !" Ucap Alfian kemudian keluar dari kamar.


Sandra sendiri kemudian mengatur nafasnya dan pergi ke ruang ganti dengan memakai selimut.


" Haii bro !" Sapa Gilang dan Dias setelah Alfian membuka pintu apartemennya.

__ADS_1


" Haish Sial ! Kalian mengganggu saja !" Kata Alfian kesal.


" Sorry bro... Ini mendesak." Ucap Gilang kemudian menyeruak masuk ke dalam di ikuti Dian dan juga Alfian yang masih menggerutu.


Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu.


" Apa yang begitu mendesak hingga tidak bisa menghubungiku lewat ponsel terlebih dahulu ?" Tanya Alfian langsung.


" Ini masalah penting Al." Ucap Dias .


" Iya ... Apa ?" Tanya Alfian tidak sabaran.


" Setelah kamu mengirim pesan tadi. Aku dan Gilang segera menyelidikinya. Perempuan bernama Clara itu tidak ada hubungannya dengan Tian dan Rena. Kemungkinan dia hanya cemburu dan kesal melihat Tian dekat dengan Sandra, sehingga dia berbuat seperti itu." Ucap Dias memberi tahu.


" Kau yakin ?" Tanya Alfian memastikan.


" Yakin Al. Gadis itu menyukai dokter itu. Dia hanya tidak suka saja melihatnya begitu akrab dengan Sandra. Tapi dia tidak terlibat dan tidak ada hubungannya dengan rencana Tian maupun Rena." Sambung Gilang.


" Jadi .... Tian dan Rena benar-benar merencanakan sesuatu ?" Tanya Alfian lagi.


" Masalah itu, kita masih kurang yakin... Orang yang kita suruh untuk mengawasinya masih belum memberikan informasi yang valid. Tian hanya berangkat dan pergi dari rumah sakit seperti biasanya saja. Tidak ada yang aneh atau mencurigakan." Sahut Dias menerangkan.


" Terus awasi pria itu ! Biar bagaimanapun kita harus tetap berhati-hati karena dia sepupu dari Rena. Perempuan ****** itu terus menerus meneror dan mengancam ku. Aku takut jika Sandra yang menjadi sasaran mereka." Ucap Alfian.


" Baik Al." Balas Dias.


" Ngomong-ngomong Sandra mana ?" Tanya Gilang celingukan mencari Sandra.


" Ngapain menanyakannya ?" Ucap Alfian meradang.


" Santai bro... Aku sudah menjelaskannya kepada mu. Dan bahkan sudah membantu mu. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri." Balas Gilang cepat.


" Dia di kamar." Balas Alfian singkat.


" Dasar bucin posesif !" Omel Gilang dalam hati.


" Mas Dias .... Mas Gilang.... Kok pada ke sini ? Kalian tidak berangkat bekerja ?" Tanya Sandra keheranan setelah keluar dari kamar. Dia penasaran kenapa suaminya sangat lama di luar.


" Kami tidak sengaja lewat terus mampir." Jawab Gilang.


" Ooh... Kalian mau minum apa ?" Tawar Sandra.


" Tidak usah sayang... Mereka sebentar lagi juga akan pergi." Timpal Alfian sambil melotot kepada kedua sahabatnya dan memberikan kode agar mereka segera pergi dari apartemennya.


" Ehh.... Kalau boleh kopi saja." Ucap Gilang yang tidak memperdulikan Alfian yang mengusir mereka secara halus.


" Iya nona... Saya juga ingin satu cangkir kopi dengan sedikit gula." Imbuh Dias yang juga setuju dengan Gilang.


" Baiklah... Sebentar aku buatkan." Sandra lalu bergegas ke dapur.


" Kenapa kalian tidak segera pergi saja ?" Omel Alfian setelah Sandra berlalu.


" Kami sudah membantu mu Al... Jangan setega itu kepada kami." Jawab Gilang pura-pura sedih.


" Iya .. Hanya secangkir kopi ku rasa tidak berlebihan." Sambung Dias.


" Ck... Mengganggu saja !" Gerutu Alfian lirih. Dia takut Sandra akan mendengarnya.


" Gagal lagi deh ! " Batin Alfian kecewa.

__ADS_1


Kedua sahabatnya itu kemudian saling pandang dengan penuh arti kemudian terkekeh kecil karena telah berhasil menjahili Alfian.


__ADS_2