Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Hari Pertama Tinggal di Apartemen


__ADS_3

Sandra dan Alfian sampai di supermarket. Mereka bersama-sama memilih barang-barang kebutuhan rumah mereka.


" Sayur mayur dulu atau keperluan yang lain dulu ? " Tanya Sandra kepada Alfian.


" Terserah kamu aja. " Jawab Alfian sambil mendorong troli.


" Kita beli sabun mandi dan teman-temannya dulu ya ?" Ajak Sandra.


Alfian mengangguk kemudian mengikuti Sandra yang berjalan dengan santai.


" Mas mau sabun yang mana ?" Tanya Sandra.


Alfian menunjuk sabun mandi yang biasanya dia pakai sedangkan Sandra memilih beberapa sabun dengan aroma yang berbeda-beda.


" Bukankah sudah tahu ?" Tanya Alfian.


" Ya buat memastikan aja mas, biasanya kan kita tinggal pakai. Takutnya nanti di rumah mas nyalahin aku karena aku yang beli." Ucap Sandra penuh pertimbangan.


" Trus kenapa kamu milih sabun bermacam-macam begitu ?" Tanya Alfian keheranan.


" Biar gak bosan sama wanginya, yang penting kan satu merk." Jawab Sandra polos.


Alfian menggelengkan kepalanya.


" Kalau shampo mas biasanya pakai yang mana ?" Tanya Sandra lagi.


" Alfian kemudian menunjuk shampoo yang dia gunakan setiap harinya.


" Waah ... Ternyata shampoo kita sama mas. " Ucap Sandra kegirangan.


" Bukankah memang setiap hari kita juga sudah memakai shampo yang sama ?" Alfian semakin keheranan dengan sikap Sandra.


" Ya gak apa-apa mas... Memastikan lagi." Jawab Sandra enteng.


" Hm.." Geram Alfian.


Kemudian Sandra mengambil dua sikat gigi , odol ,deterjen, pewangi ruangan, pewangi pakaian, dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya, termasuk berbagai makanan, minuman dan cemilan kesukaannya.


" Kita mau beli apa lagi ?" Tanya Alfian yang lelah mendorong troli yang penuh belanjaan.


" Mie instan mas... Aku perlu stok mie instan..." Kata Sandra penuh semangat.


" Gak boleh mie instan ! Tidak sehat. Kamu lihat ? Belanjaan mu sudah penuh snack yang banyak mengandung bahan adiktifnya seperti ini. Sekarang kita beli sayur dan buah-buahan segar aja. " Tolak Alfian tidak setuju.


" Itu kan buat cemilan mas, bukan buat makan. Kalau mie instan baru buat makan."


" Gak boleh !" Tolak Alfian lalu mendorong troli menuju tempat sayur dan buah-buahan.


" Menyebalkan sekali, terlalu banyak aturan." Gerutu Sandra sambil mengekori Alfian di belakangnya.


" Kamu suka masak apa ?" Tanya Alfian.


" Seadanya bahan aja yang aku masak mas." Jawab Sandra ketus. Dia masih kesal karena Alfian melarangnya beli mie instan.


" Oke.. Bantu aku memilih sayur-sayuran." Pinta Alfian.


Akhirnya mereka memilih bersama-sama.


" Aku gak suka jeruk mas . Belinya gak usah banyak-banyak." Ucap Sandra saat melihat Alfian memasukkan satu keranjang buah jeruk.


" Oya .. Kalau begitu kamu suka buah apa ?" Tanya Alfian yang baru tahu jika istrinya tidak suka buah berkulit oranye itu.


" Aku suka buah pisang dan alpukat." Kata Sandra memberi tahu.


" Pisang ?" Tanya Alfian keheranan.


Sedangkan Sandra mengangguk mengiyakan.


" Kalau pisang mas mau gak ?" Tanya Alfian tersenyum jahil.


" Semua jenis pisang aku suka mas ..." Ucap Sandra yang belum mengerti maksud Alfian.


" Benarkah.... Kalau begitu nanti di rumah kamu mau pisang mas ?" Lanjut Alfian tersenyum girang.


" Akhirnya ada kesempatan." Imbuh Alfian dalam hati.


" Emang di rumah sudah ada pisang emas ?" Ucap Sandra balik bertanya.


" Sudah dong.... Kapan pun sayang mau pasti selalu ada."Jawab Alfian sambil mengerlingkan mata lagi.


" Tunggu-tunggu... Maksud mas gimana sih ?" Tanya Sandra jadi curiga melihat tingkah Alfian yang mendadak menjadi genit.


Alfian lalu menunduk melihat bagian bawah perutnya.


" Maksudku pisang mas yang ada dibawah sini." Bisik Alfian kepada Sandra.


" Mas Alllll ???!!! Aku pikir pisang emas bukan pisang hidup ! " Tabok Sandra kesal.


" Aaa.... Sakit Sandra ... Malu di lihat orang !" Jerit Alfian malu.


" Mas kenapa sih mesum terus ?" Tanya Sandra lirih sambil mencubit lengan Alfian.

__ADS_1


" Aaa.... sakit... Kan mesumnya cuma sama kamu...." Bela Alfian.


Sandra melotot kesal kepada suaminya.


" Jadi bagaimana ?" Tanya Alfian.


" Bagaimana apanya ?" Tanya Sandra sambil memasukkan pisang ambon dan beberapa buah lainnya kedalam troli.


" Pisang mas..." Kata Alfian berharap.


" Gak !" Kata Sandra dengan cepat.


" Sampai kapan San ?" Tanya Alfian.


" Mas, kok malah bahas begituan sih. Kalau di dengar orang lain bagaimana ? Sudah yok pulang." Ajak Sandra lalu meninggalkan Alfian yang menatapnya penuh harap. Wajahnya sudah bersemu merah karena malu mendengar permintaan Alfian.


" Sial !" Umpat Alfian.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di apartemen. Sedikit lama karena perjalanan macet.


Sandra menatap kagum apartemen milik suaminya. Dia tidak menyangka jika apartemen itu begitu luas dan mewah.


" Kamarku yang mana mas ?" Tanya Sandra kemudian.


Alfian tersenyum lalu mendekati Sandra. Kedua tangannya tersimpan di saku celananya.


" Bukan kamarku, tapi kamar kita. Kita akan tidur di kamar yang sama. Sandra .. Kita pindah bukan untuk pura-pura berumah tangga. Tapi untuk memulai rumah tangga kita yang sesungguhnya. " Ucap Alfian serius.


" Ta....., tapi...."


" Please, tidak ada tapi-tapian... Ku mohon Sandra. Mari kita mulai dari awal. Kita tulis lembaran baru di pernikahan kita. Dan jangan pernah ucapkan kata pisah lagi karena aku tidak ingin berpisah darimu." Lanjut Alfian.


Sandra terdiam membisu tidak dapat menjawabnya.


" Apa maksud kamu mas ? Kenapa kamu tidak mau berpisah ? Bukankah kamu membenciku ?" Tanya Sandra.


Alfian menggelengkan kepalanya.


" Aku.... aku tidak membencimu ... Maafkan perlakukan ku yang dulu. Aku akan mencoba memperbaiki semua sikap ku." Ucap Alfian tulus.


" Tapi kenapa mas ? Kenapa kamu berubah ? Jika memang kamu tidak membenciku untuk apa kamu melakukan semua ini ? Apakah kamu menyukaiku ? Apakah itu alasannya kenapa kamu ingin tetap mempertahankan pernikahan ini ? Tapi jika itu alasannya kenapa kamu tidak mengatakannya kepada ku ? Atau semua ini hanya pura-pura saja bagimu ? Demi keuntungan mu sendiri ? Haruskah aku mempercayaimu ?" Tanya Sandra dalam hati. Dia hanya bisa menerka-nerka apa maksud dari perkataan Alfian.


" Sandra ... Sandra ... Bagaimana ? Kamu mau kan memulai hidup baru bersama ku ?" Tanya Alfian penuh harap.


" Mmm ... Itu, terserah kamu aja mas. Tapi... Aku..., aku belum siap jika harus melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang istri." Ucap Sandra lirih. Masih ada keraguan yang dia rasakan dalam hatinya. Lagi pula mereka bisa memulai dari mengenal satu sama lainnya dengan lebih serius terlebih dahulu.


Alfian tersenyum senang. Akhirnya Sandra setuju untuk memulai hidup baru bersamanya. Setidaknya satu masalah sudah terselesaikan.


" Kalau begitu di mana kamar kita mas ? " Tanya Sandra yang salah tingkah setelah mendapatkan pelukan dari Alfian.


" Ayo aku tunjukkan. " Balas Alfian tak kalah canggung.


Sandra kemudian masuk ke dalam kamar. Kamar mereka terlihat luas. Bahkan tempat tidurnya juga berukuran king size. Kamar itu juga sudah di lengkapi dengan kamar mandi, televisi, washing clothes dan meja belajar untuk Sandra. Sedangkan untuk tempat kerja Alfian, berada di ruang yang berbeda.


"Selamat datang di apartemen mu sayang... Sekarang apartemen ini bukan hanya milikku tapi juga milikmu, jadi jangan sungkan."Ucap Alfian.


" Makasih mas.." Jawab Sandra. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana.


" Kamu istirahat saja dulu. Kalau mau mandi, mandi saja .... Semua pakaian dan keperluan mu sudah tertata rapi di sini."


" Kalau begitu untuk apa tadi kita beli keperluan rumah ? Buang-buang duit dan waktu saja !" Keluh Sandra.


" Hehehe, agar kita bisa meluangkan waktu bersama. Lagi pula semua itu tetap akan di pakai. Sudah istirahat saja.... " Jawab Alfian jujur.


" Baiklah.... Mas sendiri mau kemana ?" Tanya Sandra.


" Aku mau beresin barang-barang belanjaan kita tadi."


" Aku bantu ya ?" Tawar Sandra.


" Tidak usah. Kamu istirahat saja. Aku tidak akan lama."


Alfian kemudian pergi meninggalkan Sandra di kamar seorang diri. Sedangkan Sandra merenung sambil duduk di sisi ranjang setelah Alfian menutup pintu kamar.


" Apa yang sedang ku lakukan ? Kenapa dengan mudahnya aku memberikan kesempatan kepadanya ? Kenapa bibir ini mengiyakan begitu saja permintaannya ? Haruskah aku benar-benar memulai hidup baru bersamanya?" Tanya Sandra dalam hati.


" Tapi... Dia sudah banyak berubah sekarang. Bahkan terkadang dia lebih bersabar dari pada diriku." Lanjut Sandra bergumam. Tidak di pungkiri dia juga sangat senang di perlakukan dan di perhatikan seperti itu oleh Alfian.


" Ah sudahlah, aku mau mandi dulu." Ucap Sandra.


Sandra kemudian mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai dia keluar kamar dan melihat-lihat isi apartemen suaminya itu. Ada ruang tamu yang luas, ada dapur dan juga ruang kerja dan ruang keluarga. Bahkan juga ada ruang untuk berolahraga.


" Apartemen ini lengkap sekali." Batin Sandra.


" Kenapa tidak istirahat ?" Tanya Alfian yang baru keluar dari dapur.


" Gak capek mas. Lagi pula takut ketiduran... Sebentar lagi kan Maghrib." Balas Sandra .


" Ooh... Kamu mau makan apa untuk makan malam ? Biar aku yang masak." Ucap Alfian.


" Emang mas bisa masak ?" Tanya Sandra penasaran.

__ADS_1


" Bisa sedikit-sedikit. Dulu aku hidup sendirian di luar negeri jadi mau ngapain aja harus mandiri, termasuk memasak." Jawab Alfian.


" Ohh..." Tanggap Sandra. Dia baru tahu ternyata Alfian tidak seburuk yang pernah dia bayangkan. Didalam pikirannya.... Alfian pasti tipe orang yang serba manja dan harus di layani, mengingat sikap Alfian yang dulu bahkan mengambil air minum di sebelahnya saja harus meminta tolong kepadanya untuk mengambilnya.


" Mau di masakin apa ?" Tanya Alfian lagi.


" Apa saja deh mas." Jawab Sandra. Lalu menunggu di meja makan sambil bermain ponsel. Dia berkirim kabar kepada Nurul jika dia sudah tinggal di apartemen sekarang.


" Jadi kamu langsung pindah ?" Pesan dari Nurul.


" Iya .. mulai hari ini." Sandra balas mengirimkan pesan.


" Oke, kapan-kapan wajib ajak aku ke sana ya ? Wajib traktir aku juga , ajak Arkha dan Neta juga biar rame." Balasan dari Nurul.


" Tumben minta aku ngajak mereka ?" Batin Sandra sesaat.


" Oke deh... aku tanya si pemilik rumah dulu setuju atau enggak." Ketik Sandra lalu mengirim pesan itu.


" Mas kapan-kapan boleh ajak Nurul sama temen-temenku ke sini enggak ? Sekalian Arkha sama Neta juga." Ucap Sandra meminta izin.


" Untuk apa ?" Balas Alfian sambil tengah mengaduk sesuatu di wajan.


" Makan bersama mas ... Itung-itung buat ngerayain kepindahan kita di sini. Boleh ya ?" Kata Sandra memohon.


" Oke .. Weekend aja pas semua libur."


Sandra tersenyum sumringah mendengarnya. Lalu buru-buru memberi kabar kepada Nurul , Neta, Arkha dan kedua temannya.


" Makasih mas ." Ucap Sandra kepada Alfian.


" Hanya terimakasih ?" Alfian balik bertanya.


" Maksudnya ?" Tanya Sandra bingung. Menurutnya Alfian selalu banyak bertele-tele seperti itu sekarang.


" Masih kurang jika hanya berterima kasih saja. " Alfian memberi tahu.


" Emang kurang apa mas ?"Tanya Sandra sambil mengerutkan keningnya.


" Cium...." Balas Alfian.


Sandra tersipu malu mendengarnya. Benar-benar suaminya itu sekarang berubah jadi mesum. Kalau tidak peluk pasti minta cium.


" Cepat kemari, dan berikan ciuman untuk ku." Ucap Alfian yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan.


" Boleh di ganti yang lain ?" Tawar Sandra memohon.


Alfian menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya.


" Dasar tukang cari kesempatan !" Omel Sandra dalam hati. Kalau tidak karena Nurul dan teman-temannya mana mau dia menuruti semua kemauan Alfian.


Dengan langkah malas akhirnya Sandra mendekati Alfian.


" Sini menunduk..." Pinta Sandra yang hanya setinggi bahu Alfian.


Alfian membungkukkan tubuhnya ke depan.


Cup !


Sandra mengecup pipi Alfian sekilas kemudian segera berpaling karena malu. " Bagaimana bisa aku menciumnya terlebih dahulu ?" Batin Sandra. Kedua pipinya merona karena malu.


Setelah Sandra mencium pipinya .... Alfian kemudian menarik lengan Sandra dan mendekapnya ke dalam pelukannya.


Mereka saling beradu pandang sedikit lama.


" Jika hanya pipi, itu masih kurang..." Bisik Alfian modus. Dirinya kemudian mendekatkan wajahnya hendak mencium Sandra namun gagal.


" Uhuk...Uhuk...Uhukkk...!" Tiba-tiba keduanya terbatuk karena mencium asap dan bau gosong.


" Ayam nya !!! " Teriak Alfian yang lupa jika tengah menggoreng ayam. Alfian lalu mematikan kompor dan menyiram wajan dengan air menggunakan ember.


" Uhuk.... Uhukkk.... Uhuk...!"


Keduanya masih terbatuk-batuk. Sedangkan dapur mendadak menjadi basah dan berkabut. Asap kecil masih keluar dari wajan penggorengan dan ayam goreng yang kini berwarna hitam pekat.


" Yah gosong.... Kita mau makan apa sekarang mas ?" Tanya Sandra.


Keduanya kembali saling menatap kemudian tertawa bersama.


" Aku pesan makanan lewat aplikasi aja." Balas Alfian yang masih terkekeh lalu mengambil ponsel dari saku celananya.


" Mas sih ... Lihat dapurnya jadi basah semua ... Wajan sekecil itu di siram air seember penuh !" Omel Sandra kemudian.


" Hehehehe.... Namanya juga panik. Kita beresin bersama sambil menunggu makanan yang aku pesan datang." Ucap Alfian membela diri.


" Salah siapa mau cium !" Gerutu Sandra.


Alfian terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Habis, mumpung ada kesempatan...." Ucap Alfian terus terang.


" Maaasss !!!" Teriak Sandra malu.

__ADS_1


__ADS_2