Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kepergian Ibu Lastri.


__ADS_3

Alfian keluar dari ruang IGD dengan mata merah. Jelas sekali laki-laki itu habis menangis.


" Ada apa mas ? Ibu gimana ? Aku mau lihat ibu.!" Kata Sandra cepat. Sandra pun akhirnya masuk menemui ibunya.


Bu Lastri terlihat semakin pucat. Kedua mata beliau juga terlihat basah. Sandra bertanya-tanya apa yang baru saja Alfian dan ibunya bicarakan ?


" Ibu....." Panggil Sandra sambil menangis.


Bu Lastri mencoba tersenyum melihat anaknya.


" Ibu kenapa ? Bukankah tadi ibu baik-baik saja ?" Tanya Sandra sesenggukan. Bu Lastri hanya menggelengkan kepalanya.


" San....anak ibu...ada yang ingin ibu tanyakan." Ucap Bu Lastri lirih.


Sandra mendekatkan kepalanya agar bisa mendengar ucapan ibunya dengan jelas.


" Kamu mengenal Rena ?" Tanya beliau. Bu Lastri kemudian mengambil nafas panjang.


" Rena siapa Bu. Ibu jangan bertanya macam-macam. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana ibu supaya cepat sehat." Balas Sandra. Dia sedikit terkejut kenapa ibunya bisa tahu tentang Rena.


" Jawab ibu nak. Kamu mengenal Rena ?" Bu Lastri mengulang kembali pertanyaannya.


Sandra kemudian mengangguk pelan. Terlihat Bu Lastri menjadi murung setelah itu.


" Kamu tahu siapa itu Rena ?" Tanya Bu Lastri lagi.


Sandra tak bisa berbohong kepada ibunya.


" Sandra tahu bu. Tapi ibu jangan khawatir." Kata Sandra terbata.


Buliran bening kembali mengalir dari kedua sudut mata Bu Lastri.


" Maafkan ibu nak,, maafkan ibu ..." Kata beliau lirih.


" Ibu, ibu jangan minta maaf. Ibu jangan berfikir apapun buk... Ibu cepatlah sembuh. Sandra takut bu.."Sandra kemudian memeluk ibunya sambil menangis.


" Berjanjilah satu hal pada ibu...." Lanjut Bu Lastri.


Sandra mendongak dan menggelengkan kepalanya.


" Jangan bicara seperti itu... Sandra takut bu... huhu "


Bu Lastri meraih tangan Sandra dan menggenggamnya dengan erat.


" Berjanjilah pada ibu.... Mulai sekarang, pikirkanlah kebahagiaanmu terlebih dahulu. Maafkan bapak ibu yang terlalu banyak mengaturmu." Bu Lastri berbicara sangat pelan. Tiba-tiba Bu Lastri tersengal dan terbatuk, nafasnya terlihat naik turun sangat cepat. Sandra yang panik melihatnya langsung berlari keluar mencari pertolongan.


" Dokter, ibu saya dok . Tolong ibu saya dok !" Teriak Sandra.


Beberapa dokter lalu datang ke ruangan Bu Lastri. Sandra yang ingin ikut masuk di cegah oleh beberapa perawat yang ada.


" Nona tunggu di sini saja." Perintah perawat itu.


" Tapi sus...., ibuku ....."


Alfian maju ke depan dan merangkul Sandra. Hatinya ikut teriris melihat istrinya menangis dan panik seperti itu.


" Lepas... " Ucap Sandra kemudian.


" Sandra...." Ucap Alfian yang tidak mau melepaskan istrinya.


" Aku bilang lepas. Apa yang ibu bicarakan kepadamu ?" Tanya Sandra emosi setelah melihat Alfian.

__ADS_1


" Ibu..., ibu...." Alfian tidak mampu menjawab pertanyaan Sandra.


" Jawab Alfian ! Katakan padaku bagaimana ibu bisa tahu soal Rena !" Teriak Sandra.


Semua yang ada di sana ikut terkejut mendengar penuturan Sandra.


" Jika sampai ibuku kenapa-kenapa, aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Camkan itu !" Lanjut Sandra.


Alfian menyugar rambutnya frustasi. Lalu dia menjauh dari Sandra yang semakin tersedu di dampingi Bibi Nani. Alfian duduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Pak Wijaya terlihat sedih melihat putra dan menantunya bertengkar di situasi seperti itu. Dia tidak habis pikir apa yang telah di lakukan Alfian maupun Rena hingga membuat ibu Sandra jatuh sakit.


" Al ... " Pak Wijaya menepuk bahu putranya.


Alfian terlihat meneteskan air matanya.


" Apa pa. " Ucap Alfian serak.


" Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa Sandra marah-marah ? Ceritakan pada papa." Ucap beliau.


Dias yang sedari tadi juga ada di ruangan itu juga ikut duduk di samping Alfian untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


" Entahlah pa...." Ucap Alfian. Tubuhnya terguncang dan matanya merah karena menahan air mata.


Di ruang rawat Bu Lastri sebelumnya.......................


" Al.... " Ucap Bu Lastri.


" Ya bu.." Jawab Alfian tenang.


" Apa benar kamu mempunyai kekasih ?" Tanya beliau.


" Kekasih ? Tidak bu... Tidak ada perempuan lain selain Sandra. " Balas Alfian tetap mencoba tenang meskipun hatinya mulai terusik.


" Ibu ... Tolong percaya sama aku. Aku tidak punya kekasih lain. Dari siapa ibu mendengar kebohongan seperti itu ?" Tanya Alfian mencoba meyakinkan mertuanya.


" Tadi seorang perempuan bernama Rena mendatangi ibu. Dia menceritakan tentang hubungan kalian." Ucap Bu Lastri lirih. Bahkan hanya Isak tangis yang kini terdengar dari wanita itu.


Alfian tercengang mendengarnya.


" Rena ? Dia datang menemui ibu ? Jadi.....jadi dia yang membuat ibu jadi seperti ini ?" Tanya Alfian.


" Ibu ingin berpesan padamu... Tolong jangan sakiti Sandra..... Jika memang kamu menyukai orang lain, lepaskanlah Sandra." Kata Bu Lastri kepayahan.


" Tidak bu, ibu tolong jangan bicara seperti itu, aku tidak akan pernah melepaskan Sandra, tidak akan pernah..., aku menyayangi Sandra bu, aku mencintainya.." Alfian menggenggam tangan Bu Lastri untuk meyakinkannya, namun dengan lemah Bu Lastri menghempaskan tangan Alfian.


Bu Lastri tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Hanya air mata saja yang mengisyaratkan betapa sedihnya wanita yang telah melahirkan istrinya itu.


Alfian bingung,resah dan juga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bahkan tanpa dia sadari air mata jatuh membasahi pipinya. Dia berdiri lalu melangkah dengan gontai meninggalkan ibu mertuanya.


" Begitulah pa... Ibu bilang Rena mendatanginya dan mengatakan sesuatu tentang dirinya dan diriku. Ku rasa Bu Lastri salah paham padaku karena itu." Ucap Alfian mengakhiri ceritanya.


" Kurang ajar ! Berani sekali gadis licik itu ! Sekarang buka mata kamu baik-baik. Seperti itulah gadis yang kamu cintai dulu !" Pak Wijaya berkata dengan geram.


" Kamu tenang saja. Biar papa yang memberinya pelajaran !" Lanjut beliau.


" Tunggu om ! Aku rasa kita tidak perlu melibatkan diri untuk membalas perbuatannya. Jika sampai musuh kita tahu dan hal ini menjadi konsumsi publik mereka pasti akan memanfaatkan hal ini untuk menyerang perusahaan. Aku takutnya, bukan hanya Alfian yang menjadi sasaran mereka,tetapi anda juga." Cegah Dias memberi nasehat.


" Lalu kita harus bagaimana ?" Tanya Pak Wijaya.


" Serahkan kepada saya , saya punya ide yang lebih bagus. Sudah sejak lama saya mengintai gadis itu. Akan ku pastikan besok pagi gadis itu tidak akan berani keluar dari rumahnya sekalipun. " Ucap Dias.

__ADS_1


" Apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Alfian.


"Sabarlah, besok kamu juga akan tahu. Yang penting sekarang kita harus berdoa untuk kesembuhan ibu Sandra, semoga segera membaik. " Ucap Dias.


" Baiklah, aku serahkan kepadamu." Timpal Alfian yang begitu terpukul.


Dias kemudian pergi dari sana. Dia menghubungi beberapa orang penting yang bisa melakukan rencananya.


" Lakukan malam ini juga. Aku ingin besok pagi berita ini sudah heboh di seluruh negeri." Ucap Dias saat bertelepon.


Sandra sudah tidak menangis lagi saat itu. Gadis manis itu duduk di kursi tunggu yang di sediakan sambil terus melantunkan ayat-ayat suci. Kini dia hanya berdoa semoga ibunya baik-baik saja dan bisa segera sembuh.


Hingga malam duka itupun terjadi. Pukul satu dini hari beberapa dokter kembali berlari ke ruangan Bu Lastri di rawat. Sandra dan Alfian yang hampir saja terpejam dibuat kaget oleh hal itu.


" Apa yang terjadi ? Apa ibu sudah sadar ?" Tanya Sandra kebingungan.


" Ada apa sus ?" Tanya Sandra kepada seorang perawat yang berlari dari ruang ibunya.


" Ibu anda kritis nona. Mohon bantu doa." Kata perawat tersebut.


Seketika tubuh Sandra lemas. Dirinya tidak mampu menopang tubuhnya dan jatuh terduduk di lantai.


" Sandra ! Sandra....., tenanglah. Ibu akan baik-baik saja !" Ucap Alfian. Untuk ke sekian kalinya dia memeluk tubuh rapuh itu meski beberapa kali di tolak.


" Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Bisik Alfian.


Dua orang dokter keluar dari ruangan ibunya dengan raut wajah yang muram.


" Keluarga Ibu Lastri ?" Tanya seorang dokter.


" Ya dok, kami semua keluarganya." Kata Pak Wijaya menghampiri dokter yang masih terlihat muda.


" Maafkan kami pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi meningitis yang diderita ibu Lastri sudah sangat parah. Maaf...., kami tidak bisa menyelamatkan beliau." Kata dokter itu.


Sandra menjerit histeris mendengarnya.


" Tidak mungkin dok.... ! Ibu saya tidak sakit meningitis. Ibu saya hanya mempunyai riwayat vertigo." Bantah Sandra.


" Maaf nona, tapi dari hasil pemeriksaan yang menyeluruh menunjukkan jika ibu anda menderita meningitis ."


" Tidak mungkin dok ! Ibu ....ibu...... " Teriak Sandra histeris.


" Maafkan kami." Kedua dokter itu lalu meninggalkan mereka dengan sedih.


Sandra berlari menemui ibunya, beberapa perawat sedang mencopot semua alat bantu yang menempel di tubuh ibunya.


" Ibu .... Bangun bu...., jangan tinggalin Sandra ...Sandra harus gimana tanpa ibu. Jangan tinggalin Sandra...."


Alfian, Arkha , Dias , Pak Wijaya dan Bibi Nani semua menangis melihat Sandra.


" Innalilahi wa innailaihi roji'un... Kenapa cepat sekali kamu ninggalin kita mb." Ucap Bibi Nani. Perempuan itu lalu mendekati Sandra dan mencoba menenangkannya.


"Bibi, ibu bi.... " Teriak Sandra tidak kuat.


Gadis itu memeluk jenasah ibunya dengan erat.


" Ibu, ibu, Sandra mohon bu ....Huhuhuhuhu."


Alfian tidak tega melihatnya. Dia keluar dari ruangan itu dan menangis sedih. Dia merasa bersalah atas kepergian ibunya Sandra. Dias benar, seharusnya dari awal dia tidak pernah memberikan kesempatan lagi untuk Rena sehingga hal ini tidak akan terjadi. Bu Lastri juga pergi saat beliau masih salah paham kepadanya.


"Tuhan, apa yang harus hamba lakukan....Huhuhuhu." Tubuh pria itu bergetar hebat.

__ADS_1


" Al... , tenangkan dirimu. Kamu harus kuat demi Sandra." Hibur Dias yang mengikutinya.


__ADS_2