
Waktu cepat berlalu. Hari ini tepat satu minggu sudah Sandra dan Al bertunangan. Tidak ada perbedaan bagi mereka. Hanya status saja yang berubah. Sekarang Al juga di sibukkan dengan peresmian Hotel barunya . Hadiah pertunangan dari Pak Wijaya .
Sedangkan Sandra dan ibunya di buat tak berdaya karena setiap hari, Pak Wijaya selalu mengirimkan barang-barang mahal ke rumah mereka. Seperti televisi ,kulkas , sofa , mesin cuci ,dan lemari pakaian ,semua pengeluaran terbaru.
Sebetulnya Pak Wijaya juga ingin merenovasi dan membangun ulang rumah mereka namun Bu Lastri menolak mentah-mentah dengan dasar rumah itu adalah rumah peninggalan Pak Imam yang penuh dengan kenangan mereka, sehingga Pak Wijaya tidak bisa memaksanya.
Siang itu Al datang bersama sekertaris barunya bernama Dias .
Dias merupakan salah satu teman karib Al yang sangat bisa di percaya. Selain itu, Dias yang ramah dan humoris tapi tegas dan disiplin menjadi nilai tambah selain wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi tegap.
" Sandra....... nak, bangun ! " Teriak Bu Lastri saat mengetahui calon menantunya turun dari mobil.
" Iya bu, ada apa sih sampai teriak-teriak begitu. " Tanya Sandra sambil mengucek matanya.
" Itu lho, nak Al datang. Tumben datang kemari, pasti nyari kamu . " Ujar ibunya.
" Siang Bu ." Sapa Alfian. Dias mengangguk sopan di belakangnya. Dia sudah tau siapa mereka karena Pak Wijaya sudah memberi tahu sebelumnya.
" Eh iya nak, masuk .. ayo masuk dulu ." Ajak Bu Lastri.
" Sebentar ibu bikinin minum ." Kata Bu Lastri hendak pergi ke dapur.
" Tidak usah Bu , saya hanya sebentar, saya ingin mengajak Sandra pergi sebentar. " Tolak Alfian.
" Pergi ? " Tanya Sandra kaget. Ada angin apa Alfian mengajaknya pergi.
Alfian diam saja tidak menyahut.
" Iya nona, hari ini Tuan Al ingin mengajak anda berbelanja keperluan nona ." Jelas Dias yang melihat Sandra dan ibunya bingung.
" Perkenalkan nama saya Dias, saya sekertaris sekaligus asisten Tuan Al " Dias memperkenalkan diri.
Bu Lastri tersenyum mengangguk .
" Belanja ?? Mm sepertinya saya tidak memerlukannya. " Kata Sandra jujur.
" Pintar sekali acktingmu, kau berpura-pura menolak aku ajak belanja tapi kamu dan ibumu menerima semua barang mewah yang papa berikan kepada kalian ! " Batin Al kesal. Ditatapnya wajah Sandra dengan raut tidak suka.
" Ini perintah dari Tuan Wijaya nona, jadi saya mohon nona jangan menolak dan segera bersiap ! " Kata Dias.
__ADS_1
" Ini orang sama saja, sama-sama suka maksa !" Batin Sandra.
" Tidak , hari ini saya sibuk ! " Tolak Sandra lagi.
Al sudah mulai terlihat kesal. Menurutnya ini hanya membuang-buang waktu saja. Kalau bukan karena papanya yang memaksa dan mengancamnya , tidak akan dia bersedia kemari.
" Kau , jangan membantah ! " Kata Al tegas .
Bu Lastri yang menyadari Al mulai kesal segera melerai keduanya.
" Sudah , Kamu ikut nak Al saja nak. Dia kan tunangan kamu , bentar lagi jadi calon imam kamu , turuti apa yang dia mau . Lagi pula seharian ini ibu lihat kamu tidak ada kerjaan. Tidak ada salahnya pergi keluar bersama kalian berdua bisa saling mengenal satu sama lain . " Ucap Bu Lastri.
Dengan kesal Sandra berdiri dan bergegas ke kamarnya berganti pakaian.
" Dasar nyebelin. Datang - datang gangguin orang tidur saja. Kamu pikir aku gak tau , kamu kesini cuma karena papa kamu yang kaya itu ! Bukan karena sungguhan ingin ajak aku belanja ! " Gerutu Sandra.
Setelah pamit kepada Bu Lastri mereka bertiga berangkat .
Di dalam mobil tidak ada yang berbicara. Sandra paling tidak suka dengan situasi seperti itu.
" Mmm mas Dias , mas Dias dah lama jadi sekertaris tuan Al ? " Tanya Sandra memecah kesunyian.
" Ohh.... " Sandra manggut-manggut.
" Mas Dias kita mau ke mana ? " Tanya Sandra lagi.
" Tujuan pertama kita ,kita akan pergi ke butik membeli baju untuk nona ." Jelas Dias tanpa menoleh.
" Bajuku kan masih banyak , masih bagus juga, kenapa harus beli ? Buang-buang duit saja ." Kata Sandra polos.
Dias tersenyum melihat Sandra." Sepertinya Sandra memang wanita yang berbeda. Sama seperti yang Tuan Wijaya katakan ." Batin Dias.
" Kau ini cerewet sekali ! Semua bajumu itu baju murahan , tidak bermerek dan ketinggalan jaman ! Kampungan ! " Kata Al menyahut.
Sandra mendelik mendengarnya.
" Walupun murah dan tidak bermerek ,saya nyaman memakainya tuan . ! " Balas Sandra tidak terima.
" Kau nyaman tapi mataku sakit melihatnya ! "
__ADS_1
" Tidak usah melihat ku kalau begitu ! "
" Itu yang ku inginkan ! Dasar perempuan munafik. Kau bahagia kan ayahku memberikan barang mewah untuk mu. Dan ingat ini , Kau terlihat menyedihkan berada di dekat ku jika menggunakan semua pakaianmu itu , aku gak mau kamu malu-maluin ! " Hina Alfian.
" Tuan , nyonya .. tolong jangan berisik , ini mengganggu konsentrasi saya ." Dias membuat alasan melihat situasi sudah mulai memanas . Bisa gawat jika mereka sampai bertengkar. Sedikit banyak Dias sudah tahu bagaimana hubungan diantara keduanya yang saling tidak menyukai.
Sandra terdiam, merapat ke pinggir pintu mobil. Sakit sekali mendengar kata-kata Tuan Al barusan. Ketika keluarganya di tuduh yang tidak-tidak , tidak terima rasanya. Butiran bening mengalir dari kedua sudut matanya. Dias yang melihatnya lewat kaca spion di dalam mobil merasa kasian kepada gadis itu.
Satu jam kemudian mereka telah sampai di sebuah butik pakaian khusus perempuan. Dias turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Sandra dan Alfian.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam butik itu.
Saat hendak masuk tiba-tiba handphone Dias berbunyi. Setelah izin kepada Al , Dias mengangkat telefon itu.
Setelah beberapa saat Dias pun mematikan panggilan itu dan mengantongi benda pipih itu kembali.
" Maaf tuan, ada hal mendesak yang harus saya lakukan sekarang . Ini terkait rencana pembukaan hotel anda lusa ." Kata Dias.
" Sial ! " Kata Alfian.
" Kalau boleh saya mohon izin ke hotel sekarang juga. " Lanjut Dias.
" Baiklah, kamu urus dengan baik ... ! " Perintah Al kemudian. Dalam hati dia kesal sekali. Ini pasti akal-akalan dari ayahnya.
" Siap Tuan, ini kunci mobil anda. Saya pergi menggunakan taxi online saja, jika nanti anda butuh sesuatu silahkan hubungi saya." Kata Dias sambil menyeringai menyerahkan kunci mobil . Tentu saja dia tahu kalau ini hanya akal-akalan Pak Wijaya, karena yang menelfon dia barusan adalah beliau.
" Mas Dias tunggu ! " Teriak Sandra.
Dias dan Al menoleh bersama... Al menatap tajam kepada Sandra..
" Mmm hati-hati..... " Kata Sandra takut , tidak jadi mencegah Dias pergi.
Dias tidak menjawab hanya mengangguk hormat lalu pergi.
" Gawat ,gawat gawat.... kenapa pergi sih ! Bisa mati aku ditinggal berdua sama orang ini !" Batin Sandra.
" Masuk ! " Perintah Al kemudian.
Dengan takut Sandra langsung masuk ke dalam butik dan di sambut oleh dua perempuan cantik karyawan butik itu.
__ADS_1