Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
My First Kiss ??


__ADS_3

Gilang dan Sandra sudah sampai di tempat kos Sandra. Gilang menepikan mobilnya di bawah pohon rindang di samping pos penjagaan yang terlihat sepi. Mungkin mang Udin ketiduran atau sedang keliling memantau keadaan di sekitar tempat kos tersebut.


"Makasih untuk semuanya ya mas ." Ucap Sandra setelah Gilang mematikan mesin mobilnya.Rasanya hanya kata terimakasih terus yang dia ucapkan pada Gilang.


" Hanya makasih ? " Tanya Gilang menanggapi.


" Maksudnya ??" Tanya Sandra balik bertanya sambil menatap Gilang malu dan tidak mengerti.


" Ya habis dari tadi terimakasih terus, tidak perlu begitu. Kan aku dah bilang. Santai saja. "


" Hehe ... ya kan gimana.. Mas Gilang dah banyak banget bantuin aku." Ucap Sandra lega, dia pun mulai salah tingkah.


" San .." Tanya Gilang lirih dan terlihat serius.


" Ya ?" Jawab Sandra grogi, dia takut Gilang akan mengungkapkan perasaannya lagi karena jujur Sandra bingung harus menjawab apa.


" Kamu tetap yakin mau nikah sama Alfian?"


Gilang menatap Sandra dengan serius. Ada rasa kesedihan dan kecewa di hatinya.


" Mas sudah tau sendiri apa jawabannya. Aku bisa apa..Lagi pula ini demi orang tua ku juga. Selama ini almarhum bapak sudah begitu banyak berjasa dalam hidupku. Dengan menunaikan wasiat dari beliau semoga bapak bisa lebih tenang di sana." Ucap Sandra sedih.


" Benarkah sudah tidak ada kesempatan untukku?" Tanya Gilang lagi.


Sandra menarik nafas dalam-dalam. Seolah ada beban berat yang tiba-tiba mengganjal di hatinya.


Di satu sisi, mulai ada rasa di hatinya untuk Gilang. Ya Sandra mengakui hal itu. Entah sedikit atau banyak Gilang telah memberi warna baru di hidupnya. Selain baik dan perhatian Gilang lebih menjadi sosok yang selalu ada dan melindunginya kapanpun itu.Lagi pula dia juga begitu membenci rencana pernikahannya sendiri. Terlebih kenyataan bahwa Alfian yang akan menjadi suaminya semakin membuatnya membenci kenyataan yang tengah dihadapi.Tapi di sisi lain, bayang-bayang almarhum ayahnya selalu terlihat di benaknya. Ya jika dia belum bisa berbakti semasa beliau masih hidup, maka sekarang ini mungkin saatnya Sandra berbakti kepada beliau dengan menuruti keinginan terakhirnya.


Sandra menggelengkan kepalanya perlahan.


" Apa kamu benar-benar akan mengorbankan hidupmu ? Apakah sedikit saja, sedikit saja tak ada perasaan terhadapku ? "


" Jawab aku San, " Desak Gilang.


Sandra tetap terdiam,namun perlahan air mata mulai terjatuh membasahi pipinya.


" **** ..... sial ! Aku rasa aku tau jawabannya."Gilang memukul setir mobil yang ada di depannya kemudian memeluk Sandra.


Semakin erat ,,dan semakin erat di iringi tangisan lirih dari Sandra.


Sandra bingung harus bagaimana. Berat baginya untuk mengakui perasaannya kepada Gilang sedangkan dia akan menikah dengan sahabatnya.

__ADS_1


Sandra melepaskan pelukan Gilang. Baginya ada perasaan atau tidak,semua itu tidak akan mengubah keadaan. Keputusannya sudah bulat, terlebih ibunya sudah sangat bahagia dengan pernikahan ini. Sandra tidak ingin membuat orang tua satu-satunya kecewa dan terluka jika pernikahan ini gagal.


" Perasaan itu gak penting mas, keputusan ku sudah bulat. Aku akan menikah dengan Tuan Alfian." Kata Sandra lirih.


" Tapi itu penting bagiku San, jika memang kamu juga mempunyai perasaan yang sama untukku. Bagaimana bisa aku merelakan mu bersama orang lain ? Apa lagi itu sahabatku sendiri. Ah ini membuatku gila ! " Seru Gilang.


" Maafin aku mas, .." Sesal Sandra.


Untuk sesaat mereka saling beradu pandang. Sandra hendak berpaling namun Gilang mencegahnya. Mendekatkan kepalanya dan ya... hal itu terjadi begitu saja. Gilang mencium dan ******* bibir Sandra dengan lembut.


Sandra terkejut.Jantungnya berdetak sangat kencang. Untuk pertama kalinya dia berciuman. Lebih tepatnya di cium seseorang. Larut dalam suasana Sandra tidak tahu harus berbuat apa, hanya mencoba menikmati sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Hatinya bergetar, nafasnya berdetak tidak beraturan.


Karena tak ada penolakan Gilang semakin berani melanjutkannya, menikmati dan mengeksplor semakin dalam, menyalurkan segala emosi dan perasaan yang ada.


Dag dig dug dag dig dug...


Tak henti-hentinya Sandra memukul dadanya yang berdetak kencang. Dia tadi berlari kencang dari mobil Gilang ke kamarnya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


" Aduuuh , kenapa bisa sih... ! Bodoh Sandra ,kamu buat masalah sekarang !" Rutuknya.


"Aaa ... kamu gila Sandra !! Apa yang kamu lakukan. aduuuh.." Sandra terus merutuk sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Kejadian tadi terus terulang di kepalanya. Gawat jika sampai ada orang yang melihatnya. Bukan hanya bisa di usir dari tempat kos,tapi dia juga telah membuat masalah besar. Dengan begitu dia sama saja seperti memberikan harapan untuk Gilang sedangkan pernikahannya sudah ada di depan mata. Jika sampai Gilang berbuat sesuatu, persahabatannya dengan Alfian pasti akan semakin hancur. Belum lagi jika Bu Lastri dan Pak Wijaya tahu. Aaah tidaaakk, membayangkan bagaimana malu dan terlukanya hati ibunya membuat Sandra semakin merasa bersalah.


Tiba-tiba pintu kamar kos Sandra terbuka dengan keras.Tadi Sandra memang lupa mengunci pintu kamarnya setelah masuk.


Dan betapa terkejutnya Sandra melihat siapa yang datang dan berdiri dengan mata merah di depan pintu kamarnya.


Sandra hendak berlari dan mengunci pintu kamarnya namun terlambat. Alfian sudah terlebih dulu masuk dan mengunci pintu kamar itu.


Terlihat jelas jika Alfian sangat murka saat ini. Baru kali ini Sandra melihat wajah marah Alfian yang seperti itu. Takut, tentu saja Sandra takut. Siapapun yang melihatnya pasti akan merinding ketakutan.


" Tuan Al . " Hanya kata itu yang mampu Sandra ucap.


Alfian mulai mendekat. Sandra semakin takut. Apa gerangan yang membuat Alfian ke sini ? Apa ada masalah yang serius ? Kenapa tatapannya menakutkan seperti itu? Atau jangan-jangan...


"Happb" Sandra menutup mulutnya.


" Tidak, tidak mungkin jika Tuan Alfian melihat kejadian tadi. Dia baru saja sampai." Batinnya.


Alfian semakin mendekat, Sandra mulai mendengar suara nafasnya yang naik-turun karena emosi.

__ADS_1


" Tuan kenapa ke sini ? " Tanya Sandra mencoba memberanikan diri.


Tanpa berkata apapun Alfian menarik Sandra dengan kasar. Satu tangannya ia gunakan untuk mendekap tubuh Sandra dan tangan satunya lagi menjambak rambut panjang Sandra.


Lalu tanpa aba-aba Alfian mulai mencium Sandra. ********** dengan kasar dan sedikit menggigitnya. Sandra yang tidak bisa melawan ataupun berbicara menangis ketakutan. Tak ada kasihan. Melihat Sandra menangis Alfian semakin erat menjambak rambut Sandra. Memaksa Sandra membuka mulutnya agar dia lebih leluasa melakukan apa yang dia inginkan.


Terus dan terus. Alfian terus ******* tanpa henti seperti hendak menghapus setiap kotoran yang ada di bibir dan mulut Sandra .Hingga Sandra tersengal tidak bisa bernafas baru Alfian melepaskannya dan mendorongnya ke tempat tidur.


Sandra menangis tersedu. Bibirnya berdarah. Namun hal itu masih tak membuat Alfian merasa kasihan.


" Mari kita selesaikan. " Ucap Alfian geram. Lalu dia mulai membuka kancing kemejanya.


Sandra memang belum dewasa tapi bukan berarti dia tidak tahu apa yang akan Alfian lakukan.


" Jangan tuan, aku mohon." Rengek Sandra.


Alfian tersenyum sinis.


" Kenapa ? Bukankah sebentar lagi kamu juga akan menjadi istriku ? Jangan sok jual mahal jika kenyataannya dirimu sebaliknya ! Sudah ku bilang wanita sepertimu hanyalah wanita munafik. Kenapa,, marah ?? Tidak terima ? Kenapa takut ? Apa yang kamu takutkan. Toh aku juga akan menikahi mu." Alfian melempar kemejanya asal. Terlihat tubuh atletis, putih mulus dengan roti sobek sempurna.


Sandra beringsut ketakutan mencoba duduk dan menghindar. Namun sayang, lagi-lagi Sandra kalah cepat dengan Alfian. Dia sudah di atas tubuh Sandra dan menguncinya hingga sulit bergerak.


" Mau kemana, di sini saja . Kita nikmati bersama. " Bisik Alfian yang langsung membuat bulu kuduk Sandra berdiri.


" Jangan tuan,aku mohon , tolong lepasin aku tuan . Tolong... " Rintih Sandra. Air matanya terus mengalir dari kedua sudut matanya.


" Kenapa? Kamu menolak ku ? Hei.. aku sudah memperingatkan mu. Jaga nama baik keluargaku dan juga dirimu sendiri. Sebodoh itukah dirimu hingga tidak punya malu berciuman dengan laki-laki lain padahal sudah mau menikah? Hahhh , cepat jawab ! Apa alasanmu. Semurah atau sebodoh itukah dirimu ! Hah "


Deg..


Apa yang Sandra takutkan benar adanya. Ternyata benar. Alfian melihat kejadian tadi.


" Maaf Tuan, maaf... " Mohon Sandra.


" Maaf ...., ya.... akan aku maafkan setelah kita melakukannya."


" Tidak, jangan tuan ,. jangan lakukan. " Sandra berteriak semakin takut dan mencoba memberontak melepaskan diri.


" Kenapa, berikan aku satu alasan. Jika dengan mudah kamu mau di cium orang lain, kenapa menolak calon suamimu sendiri ? Apa aku harus menunggu sampai saatnya kita sudah sah nanti ? Apa kamu pikir aku mau menerima barang bekas?! Terlebih bekas si brengsek itu ! Tentu aku mau jadi yang pertama. Bukankah itu hak ku ? Aku tidak percaya wanita murahan sepertimu bisa menjaga kehormatan mu sendiri hingga pernikahan nanti ! "Bentak Alfian. Kedua matanya murka menatap Sandra.


" Maafkan aku tuan, bukan begitu maafkan aku. " Sandra terisak di bawah kungkungan tubuh Alfian.

__ADS_1


" Saya pikir kamu wanita yang berbeda, sayang kepada orang tuamu hingga mau menyetujui pernikahan ini meskipun kamu sendiri tidak menginginkannya. Kamu sendiri juga yang bilang jika pernikahan bukanlah mainan. Lalu apa yang kamu lakukan ini ? Kamu bermain dengan laki-laki lain bahkan setelah kita bertunangan.Saya memang tidak perduli , terserah kamu mau ada hubungan dengan siapa. Tapi saya sudah memperingatkan, berhati-hatilah,kamu bukan kamu yang dulu lagi. Ada ibumu yang harus kamu lindungi dan jaga nama baiknya. Ada banyak mata-mata dari keluarga ku yang mengawasi setiap gerak gerik mu. Seperti halnya dirimu yang tidak ingin ibumu kecewa dan terluka, aku pun juga begitu terhadap papaku . Jadi ku ingatkan untuk yang terakhir kali. Jaga sikap dan perilakumu ! "


Setelah berkata demikian, Alfian berdiri.Menjauh dari tubuh Sandra, mengambil kemejanya, memakainya dan pergi meninggalkan Sandra yang ketakutan.


__ADS_2