
Tok tok tok..... Terdengar suara ketukan di kaca mobil Alfian.
Sandra bernafas lega karena akhirnya ada seseorang yang bisa menolong nya dari rasa canggung . Alfian masih tetap marah kepadanya.
" Maaf Tuan, ada masalah tadi malam ,jadi kami baru bisa sampai ." Kata Dias menjelaskan kepada Alfian.
" Suruh nyari montir saja tidak becus,! Kau tau semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karena lapar ! " Bentak Alfian.
" Sekali lagi maafkan saya Tuan . "
Alfian geram tidak menanggapi. Melihat Alfian acuh , Dias tahu bosnya itu masih marah dan lebih baik segera menyelesaikan masalah yang ada.
" Kau mulai saja ! " Perintah Dias kepada seorang montir.
" Baik Pak . " Balas sang montir lalu bergegas mengerjakan tugasnya.
Sandra turun dari mobil. Dan menghampiri Dias .
" Mas Dias...... terimakasih ." Ucap Sandra sambil tersenyum manis.
Alfian melengos .. " Sok caper " Batin Alfian.
Dias juga tersenyum dan mengangguk kepada Sandra.
" Sekretaris sialan, kenapa malah balas senyum-senyum. " Lanjut Alfian dalam hati. Alfian semakin kesal melihat mereka yang asik mengobrol dan terlihat langsung akrab.
" Semalam saya sudah mengabari Bu Lastri, jadi nona tidak perlu cemas. " Kata Dias.
" Terima kasih mas , kebetulan sekali, handphone ku rusak jadi aku tidak bisa menghubungi siapapun . " Balas Sandra sedikit keras sambil melirik ke arah Alfian berharap dia mendengar karena handphone nya benar-benar rusak dibanting oleh Al.
Alfian yang mendengarnya memutar bola matanya kesal.
" Hei udik, kamu pikir aku gak tau maksud kamu . Hp butut seperti itu sudah ketinggalan jaman, lagi pula siapa juga yang bakal menghubungi kamu , tentu saja selain pria bodoh itu ! " Hardik Alfian.
" Biarpun butut itu handphone saya Tuan, Tuan tidak boleh seenaknya merusak sesuatu yang bukan milik anda ! Dan siapapun yang menghubungi saya itu bukan urusan anda ! " Balas Sandra juga kesal .
Biar bagaimanapun , walaupun itu handphone murah itu adalah handphone yang dibelikan oleh ayahnya dengan susah payah.
" Akan ku ganti seratus kali lebih mahal dan bagus dari itu ! " Sahut Alfian enteng .
" Ini bukan masalah murah atau mahal Tuan ! Apa kau tidak punya sopan santun sedikitpun ! " Sandra mulai marah .
" Sopan santun ?! Udik ! Apa membuat dan memanggil seseorang dengan julukan yang tidak baik itu juga sopan ? Apa lagi membicarakannya dengan orang lain ! Apa , bos Sableng kamu bilang ?? Akan ku buat perhitungan dengan mu dan juga dengan Gilang ! " Bentak Al tidak mau kalah.
" Kau sendiri memanggil ku udik, kampungan,gadis jelek dan masih banyak lagi Tuan ! Anda yang memulainya. Jangan marah atau menyalahkan orang lain sebab anda sendiri yang membuat orang lain berbuat seperti itu ! "
" Kau ! " Al tidak bergeming, dia kehabisan kata-kata. Karena memang dialah yang pertama menjuluki Sandra dengan sebutan yang tidak pantas.
" Belajarlah menghargai orang lain Tuan, tidak semua orang bisa menerima kau perlakukan sesuka hati ! " Kata Sandra.
Dias yang melihat situasi menjadi tidak nyaman segera mencari ide supaya pertengkaran itu tidak berlanjut dan berakibat lebih buruk lagi.
" Maaf Tuan, nona, saya rasa mobilnya sebentar lagi selesai , sebaiknya kalian berdua bersiap . " Kata Dias.
Alfian dan Sandra hanya diam . Saling melirik marah dan tidak suka .
" Sudah selesai Tuan ! " Kata montir beberapa saat kemudian.
" Terima kasih, pergilah . " Perintah Dias sambil menyodorkan sebuah amplop.
Setelah berterima kasih dan pamit , montir itu segera masuk ke dalam mobil yang tadi dia bawa dan melajukannya.
" Mari Tuan, nona. Saya yang akan menyetir mobilnya. " Ajak Dias.
Alfian dan Sandra segera masuk ke dalam mobil. Sandra memilih duduk di kursi belakang sendiri. Sedangkan Alfian duduk di depan bersama Dias. Mobil pun mulai melaju ke rumah Sandra.
Di perjalanan semua terdiam. Dias melihat lewat spion mobil. Terlihat Sandra duduk di pinggir kaca sambil termenung sedih . Alfian yang melihat Dias mengamati Sandra merasa kesal.
" Fokuslah menyetir atau kau sengaja cari mati ! " Kata Alfian.
" Eh, baik Tuan. " Balas Dias sambil diam-diam tersenyum meskipun hanya sedikit.
Perjalanan pun berlanjut . Sandra dan Alfian masih tertidur saat mereka sudah sampai di depan rumah Sandra.
__ADS_1
Di teras, Bu Lastri sudah menunggu mereka dengan cemas. Tentu saja dia mengkhawatirkan Sandra , karena Sandra lah alasan Bu Lastri tetap semangat menjalani hari-harinya setelah kepergian Pak Imam.
" Tuan, kita sudah sampai . " Kata Dias.
" Alfian mencoba membuka mata dan merentangkan kedua tangannya. Seluruh badannya terasa sangat pegal.
" Nona ... ! " Panggil Dias.
" Iya, aku sudah bangun . " Timpal Sandra sambil menguap.
"Sandraa...... " Sambut Bu Lastri.
" Maaf Bu, " Kata Sandra sambil mencium telapak tangan Bu Lastri.
" Iya gak apa-apa. Ibu cuma khawatir , semalam Pak Dias menelfon ibuk, katanya kamu gak bisa pulang karena ban mobilnya bocor . " Kata Bu Lastri.
" Gak apa-apa bu, sudah beres, untung ada mas Dias . "
" Ya udah ayo masuk, mari nak , pak ... silahkan masuk ." Ajak Bu Lastri kepada Alfian dan Dias.
" Ibuuu.... Sandra lapar . " Kata Sandra manja.
Bu Lastri tersenyum. " Anak ini ,dah mau nikah masih saja manja sama ibunya " Batin Bu Lastri.
" Ya sudah... ibu dah siapin makan buat kalian semua. Ayo kita makan sama-sama. " Ajak Bu Lastri.
" Nak Alfian, Pak Dias mari makan sekalian. " Lanjutnya.
Alfian yang juga sudah sangat lapar mengikuti Bu Lastri dan Sandra ke dapur,di ikuti Dias di belakangnya.
Semua makan dengan lahap . Selain karena lapar, masakan Bu Lastri memang sangat enak. Tanpa sadar Alfian sudah nambah beberapa kali.
" Tuan lapar apa doyan ... ?" Tanya Sandra sedikit mengejek.
" Uhuk uhuk .... " Alfian terbatuk.
" Sandra kamu apaan sih, cepat ambilkan nak Alfian minum ! " Kata Bu Lastri.
" Ini ... , lain kali kalau mau makan berdoa dulu ." Ejek Sandra lagi.
" Apa sih bu, Sandra kan gak salah ngomong . Iya kan Tuan ? " Tanya Sandra .
Alfian diam saja dan menghabiskan minuman dari Sandra. Meskipun dalam hati sebenarnya dia sangat kesal.
Dias justru tersenyum melihat mereka sambil menikmati makanannya.
" Sandra, nak Alfian ini tunangan kamu, jadi kamu harus bersikap baik dan lembut kepadanya. Apa seperti itu bapak dan ibu mengajarimu ." Tutur Bu Lastri.
" Maafin Sandra Bu . " Kata Sandra lirih.
Bu Lastri menggelengkan kepalanya.
" Bukan ke ibu. " Balas Bu Lastri.
" Maaf Tuan. " Kata Sandra terpaksa.
" Ehem.. " Alfian hanya ber deham tidak menyahuti permintaan maaf dari Sandra
" Dasar , pasti sengaja ." Geram Sandra .
Sunyi , hanya suara piring dan sendok yang berdenting.
" Ehm... " Kali ini Dias yang berdeham untuk mencairkan suasana.
" Tuan, saya harus ke kantor sekarang. Ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Tuan Wijaya berpesan beliau menyuruh anda beristirahat dulu di sini . Nanti akan ada sopir yang menjemput Tuan."
" Aku juga banyak pekerjaan . Aku mau ke kantor . "
" Semua sudah saya handle Tuan, sebaiknya Tuan istirahat disini ."
" Pasti akal-akalan papa lagi " Batin Alfian.
" Nona apa nona yakin mulai besok akan kembali bekerja ? " Tanya Dias .
__ADS_1
Sandra menatap wajah ibunya. Bu Lastri tersenyum dan mengangguk.
Sandra pun akhirnya mengangguk kepada Dias.
Sebetulnya sudah dari beberapa hari yang lalu Sandra berniat kembali bekerja dengan mengajak serta ibunya ke kost . Dia tidak ingin ibunya sendirian di rumah. Tapi Bu Lastri menolak, dia mendukung Sandra kembali bekerja namun tidak ingin ikut , beliau ingin tetap tinggal di rumah menjaga dan merawat rumah peninggalan Pak Imam. Beliau juga tidak ingin jauh dari makam Pak Imam agar beliau bisa sering berziarah. Dengan berat hati Sandra menyetujuinya karena dia tetap ingin fokus ke tujuan semula. Sandra tetap ingin bekerja keras membahagiakan ibunya dan meneruskan sekolahnya dengan hasil jerih payahnya sendiri. Dia tidak ingin memanfaatkan statusnya yang sekarang untuk memudahkan semua impiannya. Sandra tidak ingin bergantung dan merepotkan siapapun meskipun Pak Wijaya berulang kali menawarkan bantuan kepadanya .
" Baik kalau begitu nanti sore sopir akan menjemput nona sekalian. Hari ini nona bisa beristirahat dan berkemas dahulu. " Kata Dias lagi .
Setelah berpamitan Dias meninggalkan rumah Sandra.
" Nak , mandi dan istirahatlah , tidurlah di kamar Sandra. Tapi maaf kamar mandi kita ada di belakang ,tidak satu ruang dengan kamar. " Kata Bu Lastri kepada Alfian.
Alfian menganggukan kepalanya.
" Terima kasih ." Hanya satu kalimat itu yang terlontar dari mulut Alfian .
" Sandra kamu bisa istirahat di kamar ibu , sekarang antar nak Alfian ke belakang . " Perintah Bu Lastri.
Dengan kesal Sandra menuruti perintah ibunya. Bukan kesal kepada Bu Lastri, tapi dia kesal karena Alfian akan tidur di kamarnya.
Selesai mandi , Alfian masuk ke kamar Sandra. Dia kesal karena terpaksa memakai kemejanya lagi yang sudah bau keringat.
" Ini dari mas Dias , tadi saat Tuan mandi mas Dias kembali sebentar katanya lupa memberikan pada Tuan. " Kata Sandra menyodorkan sebuah tas belanja bermerek .
Alfian mengambil tas itu dari tangan Sandra. Didalamnya terdapat pakaian baru untuk Alfian. Celana jeans dan kaos polos lengkap dengan ****** *****. Benar dugaannya.
Pasti ini akal-akalan papanya, semua sudah direncanakan .
" Sial ! " Umpat Alfian.
" Apa !? Sial ? Maksudnya ? " Kata Sandra terlonjak.
" Lupakan ! " Balas Alfian, dia tidak sadar jika masih ada Sandra di sana.
" Kau aneh Tuan, mas Dias memberikan apa yang anda butuhkan bukanya berterima kasih tapi anda malah mengumpatnya. " Kata Sandra.
" Kau diam saja kalau tidak tau apa-apa ! Cepat keluar aku mau ganti baju ! " Bentak Alfian.
Sandra mendengus.
" Tuan anda bisa cepat tua kalau setiap hari pekerjaan Tuan hanya marah-marah terus. Lagi pula saya juga akan keluar. Tapi sebelum itu saya hanya ingin memperingatkan , jangan sentuh atau mengambil apapun yang ada di kamar ini ! " Ucap Sandra .
" Cih, jangan takut ,aku tidak tertarik sama sekali dengan rongsokan yang ada di sini !" Hina Alfian.
Sandra melotot tidak terima . Dia hendak berbicara namun Alfian segera mendorongnya keluar dari kamar dan membanting pintunya.
" Dasar laki-laki sableng ! " Gerutu Sandra.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alfian segera menarik Sandra masuk kembali dan menutup pintunya.
" Apa katamu ! "
" Apa Tuan ...hehe ... aku.. saya...aku.. tidak berbicara apapun. " Kata Sandra takut.
" Aku mendengarnya. " Bisik Alfian sambil mendorong Sandra ke arah tembok.
" Tu tuan, tuan salah paham. " Sandra mencoba mengelak.
Duk ! Tubuh Sandra terbentur tembok, dia sama sekali tidak bisa bergerak karena Alfian semakin memepet dan menghalanginya.
" Jangan pernah sekalipun menyebutku seperti itu lagi , atau.. ! " Ancam Alfian.
" Atau...... " Kata Sandra lirih.
" Atau aku akan....... "
" Jangan pecat saya Tuan ! " Potong Sandra sambil berteriak takut .
" Bfttt.... " Alfian menahan tawa mendengar Sandra.
" Maafkan saya Tuan, saya janji tidak akan menyebut anda seperti itu lagi ." Kata Sandra mendorong Alfian sekuat tenaga dan berlari ketakutan keluar kamar .
Alfian tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
" Gadis itu bodoh atau pura-pura bodoh atau memang benar-benar polos ." Gumam Alfian .