Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Asisten Baru


__ADS_3

Rutinitas pagi yang biasa mereka lakukan sebelum melakukan aktivitasnya. Sesil dengan setia duduk menemani suaminya menikmati sarapan pagi yang di sediakan oleh Bi Nung.


Beberapa kali ponsel Nathan berbunyi, beberapa pesan masuk dari Emilia tertera dengan jelas di layar ponsel miliknya.


Hari ini Nathan memiliki segudang pertemuan penting mulai dari jam 9 pagi hingga sembilan Malam.


Semenjak Nathan memegang kendali penuh atas perusahaan keluarga istrinya dia sangat sibuk dan harus pintar-pintar mengatur waktu bertemu dengan istrinya di sela kesibukan yang luar biasa.


"Sayang, hari ini aku sangat sibuk, mungkin akan lembur nanti malam" Nathan menatap istrinya sambil mulutnya terus mengunyah sarapan pagi.


"Hm" Sesil menganggukkan kepalanya memahami kesibukan suaminya. Sebenarnya dia merasa sangat kesepian kalau di tinggal Nathan bekerja, tapi dia bisa apa?


Di tambah lagi papi, tante serta om nya saat ini masih fokus mengurus pengobatan opahnya di negri kanguru.


Nathan menatap wajah istrinya yang muram, dia paham betul perasaan istrinya saat ini. Namun tidak ada yang bisa di lakukan oleh Nathan saat ini.


"Sayang?" Nathan memanggil istrinya dengan lembut, membuat Sesil mengalihkan pandangannya menatap ke arah suaminya dengan tatapan sendu


"Aku baik-baik saja Nath" Sesil memaksaakan senyuman di bibirnya


"Aku berusaha akan menyelesaikan pekerjaanku secepat yang aku bisa. Kau baik-baik saja di rumah ya"


Nathan beranjak berdiri dari kursinya dan mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut dan berpamitan untuk pergi ke kantornya.


Carnal Group


Nathan berjalan memasuki lobi perusahaan, dan melihat emilia menunggu di sana.


"Selamat pagi Bos" Emilia menyapa Nathan dan Nathan hanya menganggukkan kepalanya saja


"Jadwal hari ini bos, jam 09.00 ada pertemuan dengan client dari singapura, Mrs. Magdalena di hotel Cempaka"


Nathan mengangguk tanda mengerti apa yang sekretarisnya katakan. Emilia masih terus berjalan di samping Nathan dengan sibuk membacakan jadwal bosnya, hingga keduanya masuk ke dalam lift bahkan saat Nathan sudah duduk di dalam ruang kerjanya Emilia masih membacakan jadwalnya yang panjang seperti rangkaian kereta api.


Nathan memijat pelipisnya, kepalanya terasa begitu pusing dengan pekerjaannya yang tak pernah ada habisnya. Saat Emilia baru saja menyelesaikan tugasnya tiba-tiba saja pintu ruangan kerja Nathan di ketuk.


Emilia berjalan mendekat kemudian membuka pintu ruang kerja bosnya.


Emilia mengernyitkan dahi melihat seorang pria muda seumuran dengan dirinya berdiri dengan setelan jas terlihat begitu berwibawa.


"Saya mencari CEO Nathan Adibjo" Pria tersebut membungkukan badan memberi hormat kepada Emilia.


"Silahkan masuk" Emilia membuka pintu tersebut dan menyuruh pria asing itu masuk.


"Selamat pagi CEO, perkenalkan saya Bram, orang yang di utus langsung oleh Tuan Sean untuk membantu anda. Saya adalah salah satu manager di anak perusahaan Carnal Group yang berada di Jakarta" Bram membungkuk memberi salam kepada Nathan.


Nathan terdiam sejenak melihat Bram yang berdiri dengan tenang di hadapannya. Bram memiliki wajah yang tenang, alis tebal wajah yang cukup lumayan serta aura yang luar biasa. Nathan yakin Bram sudah melalui seleksi yang cukup panjang hingga dia terpilih untuk di kirim membantunya di sini.


"Emilia, kau bisa keluar"


"Baik bos" Emilia berjalan keluar dan menutup pintu ruang kerja bosnya dan kembali ke meja kerjanya.


"Silahkan duduk" Nathan mempersilahkan Bram duduk.


"Baiklah, kau di sini akan menjadi asisten pribadiku. Wanita yang tadi berdiri di sampingmu adalah sekretarisku" Ucap Nathan. Kemudian Nathan membuka laci meja kerjanya dan melemparkan sebuah amplop berwarna coklat ke depan Bram.


"Di dalam amplop itu, ada beberapa foto, mulai dari istriku dan seluruh keluargaku. Aku tidak mau kau tak mengenal anggota keluargaku" Imbuh Nathan lagi. Bram terlihat begitu tenang dan mengamati satu persatu foto di dalam amplop tersebut.


"Aku tidak suka ada kesalahan sekecil apapun dalam urusan apapun. Aku suka segala sesuatu yang perfeck. Dan tugas pertama yang harus kau lakukan adalah mempelajari berkas ini" Nathan menyodorkan map ke depan Bram, dan Bram juga langsung menerima lantas membukanya


"Itu adalah perusahaan kecil yang ingin aku hilangkan dari dunia bisnis. Di dalam situ juga ada foto wanita yakni putri tunggal dari pemilik perusahaan ya g bekerja sebagai seorang model. Kau paham apa yang aku inginkan bukan?" Nathan menautkan kedua alisnya menatap ke arah Bram yang nampak sibuk membaca berkas-berkas tersebut.


"Baik CEO, saya akan kerjakan sesuai apa yang anda inginkan" Bram menutup kembali map tersebut dan mengangguk tanda mengerti instruksi Bos barunya.

__ADS_1


"Kau harus menghilangkan mereka tanpa sisa, karena putri mereka sudah berani merendahkan istriku. Jadi pastikan kau melakukannya dengan apik" ucap Nathan penuh penekanan.


"Kau boleh kembali bekerja, meja kerjamu bersebelahan dengan Emilia, dia yang akan membantumu mempelajari berkas-berkas yang harus kau kuasai. Jangan sampai kau membuat kesalahan atau kau akan aku pecat dari perusahaanku"


"Baik CEO, saya paham. Saya permisi" Bram beranjak berdiri dari kursinya kemudian membungkuk memberi hormat dan mundur beberapa langkah kemudian membalikkan badan keluar ruang kerja Nathan.


Nathan meraih gagang telefon yang terletak di atas meja kerjanya, kemudian dia menekan beberapa digit nomor dan panggilan terhubung


"Halo om, Asisten yang om utus sudah mulai bekerja hari ini"


"Baguslah, dia orang pilihan om dan papi kamu. Om yakin dia memiliki kemampuan yang akan mendukungmu dalam bekerja" Suara Sean terdengar dari balik gagang telefon yang Nathan pegang


"Terimakasih om, semoga Bram bisa menjadi asiten kepercayaanku"


"Ya sudah om, Nathan akan kembali bekerja. Salam untuk semua keluarga di Australia" Kemudian Nathan menutup panggilan telefonnya dan mulai bekerja kembali, dia mulai memeriksa berkas-berkas dan memberikan beberapa coretan sebagai koreksi dari pekerjaan anak buahnya yang menurutnya kurang benar.


^


Crowne Plaza Semarang Hotel


"Terimakasih, senang bisa bekerja sama dengan anda" Nathan berdiri dan menjabat tangan clientnya yang berasal dari negeri sakura.


Kemudian keduanya saling membungkuk satu sama lain di ikuti oleh asisten beserta sekretaris dari kedua belah pihak.


Kemudian Mr.Kotaro pergi keluar dari ruang pertemuan mereka.


Nathan menarik nafasnya lega karena berhasil menarik investor besar ke dalam perusahaannya. Dia sejenak mendudukkan dirinya di kursi kembali. Begitu juga dengan Bram dan Emilia yang masih setia menunggu Bosnya.


Nathan mengambil segelas wine dan meminumnya. Rasanya tubuhnya begitu pegal karena terus menerus melakukan pertemuan sepanjang hari ini.


Sejenak Nathan melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sudah pukul 22.04 tapi pekerjaannya baru saja selesai. Nathan kembali menuang wine ke dalam gelas yang kosong lalu meneguknya hingga tandas tak berbekas.


"Bram, kau butuh waktu berapa lama?" Nathan mengalihkan pandangan matanya menatap tajam Bram


Emilia sejenak melirik Bram, dia penasaran apa yang di maksud oleh Bosnya.


"Bagus, aku tunggu kabar baiknya" Nathan beranjak berdiri berlalu dari ruang meeting di ikuti oleh kedua asistennya.


Ketiganya berpencar pulang menggunakan mobil masing-masing.


^


Nathan memarkirkan mobilnya di bagasi mobil, kemudian dia segera masuk ke dalam rumahnya.


Nathan perlahan membuka knop pintu kamarnya. Sinar lampu kamarnya yang sudah temaram menandakan kalau istrinya pasti sudah tertidur.


Nathan meletakkan tas kerjanya di sofa lalu mengambil satu set baju ganti kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya dari keringat yang di rasa begitu lengket di tubuhnya.


Hampir dua puluh menit lamanya, akhirnya Nathan keluar dari kamar mandi dan perlahan merangkak ke atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.


Matanya melihat ke arah istrinya yang sudah terlelap, wajah cantik dan imut istrinya mampu menghilangkan rasa lelah yang mendera tubuh Nathan.


Tangannya terulur mengusap kepala istrinya, menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.


Nathan tiba-tiba menarik kedua sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman.


Dia tak menyangka kalau gadis pujaannya kini berada di sisinya, membalas perasaanya, menganggapnya ada bahkan bisa di bilang cintanya terbalaskan sudah.


Dulu Nathan hanya bisa melihat Sesil dari jarak jauh, mengambil potret Sesil secara sembunyi-sembunyi, dan kalau dia ingin dekat dengan Sesil, dirinya harus bersusah payah memikirkan kejahilan apa yang harus di lakukannya supaya bisa menarik perhatian wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Bahkan pertemuan kedua mereka di areal pemakaman yang akhirnya membukakan jalan untuk Nathan bisa memiliki Sesil seutuhnya seperti saat ini.

__ADS_1


"Terimakasih Tuhan sudah menciptakan wanita secantik dan sebaik istriku" Nathan membelai lembut pipi Sesil


Sesil yang merasa ada yang mengusik tidurnya seketika mengerjapkan mata mencoba membuka matanya yang sebenarnya sangat mengantuk dan lelah.


"Kau sudah pulang?" Ucap Sesil dengan suara seraknya


"Hm, tidurlah" Nathan mengusap-usap kepala istrinya mencoba menidurkan istrinya kembali, hingga tak butuh waktu lama Sesil sudah kembali masuk ke dalam alam mimpi.


Begitupun Nathan ikut membaringkan dirinya dan memejamkan kedua matanya karena merasa begitu lelah di tubuhnya.


Entah berapa lama Nathan terlelap, dirinya mendengar istrinya mengigau, bahkan kedua tangannya memukul udara kosong di hadapannya


"Mami, mami ! Tunggu Sesil mi, tunggu"


"Sayang, bangun sayang" Nathan menepuk pipi istrinya namun tidak membuat pipi istrinya sakit


"Jangan sakiti mami, jangan" Sesil masih terus meracau tidak jelas dengan mata yang terpejam


"Sayang, bangunlah" Nathan kali ini menepuk pipi istrinya lebih keras, dan usahanya ternyata berhasil.


Sesil membuka matanya dengan nafas yang terdengar begitu memburu, bahkan keringat dingin membasahi dahinya.


"Sayang tenanglah. Minumlah ini" Nathan menyerahkan segelas air putih yang memang selalu tersedia di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Sesil meraih gelas tersebut dan meneguk minuman tersebut hingga habis tak bersisa, kemudian menyerahkan gelas tersebut kepada Nathan, dan Nathan langsung mengembalikan gelas tersebut di tempat semula.


Tanpa berkata apapun, Nathan langsung menarik Sesil kedalam pelukannya. Dia paham betul pasti istrinya mengalamu mimpi buruk.


Nathan membimbing tubuh istrinya untuk berbaring di atas ranjang, Nathan masih memeluk erat tubuh istrinya mencoba memberi rasa aman untuk istrinya.


Sesil perlahan sudah bisa mengatur nafasnya.


"Nath.." panggil Sesil lirih


"Kenapa sayang?"


"Jangan pernah pergi dariku" Sesil mengeratkan pelukannya kepada suaminya. Karena dia tak mau kehilangan orang yang di cintainya seperti dirinya kehilangan maminya dulu.


Nathan tidak menjawab perkataan istrinya, namun dia mengeratkan pelukannya sebagai jawaban atas pertanyaan Sesil.


Karena memang Nathan sudah bersumpah tidak akan meninggalkan Sesil apapun keadannya nanti.


Nathan memberi belaian lembut di rambut istrinya, bahkan memberikan kecupan cukup banyak di puncak kepala istrinya.


Hingga tak lama kemudian keduanya sudah saling terlelap kembali.


.


.


.


.


.


.


.


.


Butuh ide untuk part romantis?

__ADS_1


Kira-kira kegiatan apa untuk Nathan dan Sesil?


Tuliskan saran kalian gengs😘


__ADS_2