Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Bersyukur ada kamu


__ADS_3

Sesil mendengus dengan kesal melihat orang yang baru saja tiba, jika tau papinya akan meeting dengan ayah dean, lebih baik sesil tidak ikut datang kemari, dan mengapa papinya juga tidak memberitahu dirinya kalo ayahnya dean lah yang menjadi kliennya.


"Apa kabar om" dean tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah swan untuk menjabat tangan swan.


swan menyambut uluran tangan dean dan tersenyum ramah.


"Om baik, kamu?"


"Puji tuhan, baik om" pandangan mata dean beralih ke samping swan dimana sesil kini tengah duduk dengan wajah yang berubah menjadi kesal.


"Sesil apa kabar"? dean menyapa sesil dan tersenyum ke arahnya.


Namun sesil menjawabnya dengan singkat dan nampak tetap acuh.


"Nak, kau mengenal tuan swan?" tuan wira menatap putranya semata wayangnya.


"Iya ayah, kebetulan putri dari om swan dulu satu sekolah dengan dean" dean mendudukkan dirinya tepat di samping ayahnya.


"Kok ayah baru tau"? wira mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban dari putranya.


"Ya kan ayah tidak pernah bertanya, dan juga ayah kan baru pertama bertemu dengan sesil kan?" jawab dean panjang lebar.


Tuan wira hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian tuan wira meminta dokumen dari dean dan mulai menjelaskan terhadap swan.


Kurang lebih satu jam meeting berjalan, dan sepanjang meeting dean tak henti menatap wajah sesil, sedangkan sesil tetap saja acuh tanpa memperdulikan dean, sesil tetap fokus. Karena sesil ingin membantu papinya mengurus perusahaan papinya, sesil tak tega bila harus melihat papinya yang sudah tua masih harus repot dan pulang malam mengurus pekerjaan.


Sejam berlalu begitu cepat, perut sesil beberapa kali berbunyi, karena memang sesil merasa lapar karena tadi pagi sesil tidak sempat sarapan.


"Om, bagaimana kalau kita makan siang bersama sekalian? sepertinya sesil juga lapar om?" dean mengusulkan idenya setelah meeting ayahnya dan swan selesai.


"Maaf dean, om tidak bisa, 1jam lagi om ada penerbangan ke luar kota untuk meninjau proyek di sana, sesil makan siang di temani dean ya nak?" swan melirik ke arah putrinya.


"Sesil ada ini pi..."


"Sesil..." swan memotong ucapan putrinya terlebih dahulu.


"Baiklah pi, pak wira ikut bergabung bersama kami kan"? Sesil berharap ayah dean bisa bergabung makan siang bersamanya, sesil benar benar kegerahan jika harus makan berdua saja dengan dean.


Awalnya wira ingin menyetujui permintaan sesil, namun karena dean menginjak kakinya, jadi tuan wira menolak ajakan sesil dan beralasan ada janji makan siang dengan mamanya dean.


Kini dean dan sesil duduk berdua di dalam ruang vvip, yang tertutup rapat, sesil sangat takut bila dean akan berlaku macam macam terhadap dirinya.


Dean berdiri dan berjalan mendekati sesil, kemudian dean duduk di samping sesil.


"Dean, sepertinya aku bosan dengan ruangan tertutup seperti ini, terasa pengap sekali" sesil mengibas ngibaskan telapak tangannya.


"Maksudmu, kau menolak makan siang bersamaku? kau lupa, papimu yang meminta?" dean sedikit menekan sesil menggunakan nama swan.


"Bukan, maksudku, kita makan di lantai dua saja yang terbuka kan pasti lebih sejuk dan nyaman sembari melihat pemandangan luar?" sesil mencoba menahan emosinya, sesil takut jika sesil berkata kasar maka dean akan leluasa menyakiti dirinya.


Dean terdiam dan menggaruk dagunya memikirkan permintaan sesil.


Lama tak mendapat jawaban, sesil kembali memanggil dean


"Dean, bagaimana?" sesil menyentuh lengan dean.


"Baiklah, tapi jangan beraninya kau kabur" dean menatap tajam ke arah sesil.


Kemudian dean dan sesil berjalan keluar ruangan menuju lantai dua cafe. Semilir angin dan pemandangan kota semarang.


Kedatangan sesil dan dean menarik perhatian seseorang yang kebetulan sedang melakukan meeting dengan kliennya, mata itu tak lain tak bukan adalah mata milik nathan.


Nathan meyipitkan matanya, memastikan penglihatannya tidak salah.

__ADS_1


Kebetulan dean memilih meja yang terletak tidak jauh dari meja yang di tempati oleh nathan.


Dean dan sesil sama sekali tidak menyadari keberadaan nathan yang duduk satu cafe dengan mereka.


"Gadis kecilku" nathan menarik kedua sudutnya menjadi sebuah senyuman.


Sesil sedikit lega karena mereka sekarang berada di ruangan terbuka, itu akan mengurangi sedikit resiko dean akan berlaku kasar terhadapnya, meskipun dulu dean pernah menampar sesil hanya karena salah membeli tiket bioskop.


Dean melambai ke arah pelayan, dan pelayan datang menghampiri mereka berdua dan menyerahkan buku menu terhadap sesil dan dean.


Dan dengan arogannya, dean yang memilih semua menu makan santap siang mereka, tanpa meminta saran terlebih dahulu sesil menginginkan apa.


Setalah pelayan mencacat pesanan dean, pelayan tersebut pamit.


Dean duduk berhadapan dengan sesil, dean menatap wajah sesil yang nampak semakin sexi saja.


"Sayang" dean mencoba meraih tangan sesil, dan dengan cepat sesil menghindarinya.


Dean membrengut dengan kesal ke arah sesil.


"Kau menolakku?" dean menatap tajam sesil yang duduk tepat di depannya.


"Iya"


"Karena nathan?" dean tak lagi bisa menahan emosinya yang sudah membuncah.


"Betul" sesil masih nampak acuh saja tak menghiraukan dean yang wajahnya sudah memerah.


"Aku, lebih baik dari nathan ! apa hebatnya lelaki itu di bandingkan dengan aku hah?" dean menggebrak meja makan, sontak menarik beberapa pengunjung cafe, termasuk nathan yang ikut melihat ke arah sesil.


Badan sesil seketika bergetar, sesil merasa takut, namun sesil berpura pura setenang mungkin menghadapi dean.


Sesil dengan diam diam mengambil ponsel yang disimpan di dalam tas jinjingnya. Sesil awalnya ingin menelfon om sean, namun pergerakan tangan sesil terbaca oleh dean, dean merampas ponsel sesil dan membantingnya ke arah lantai hingga tak berbentuk.


Dean mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali dia memukul sesil saat ini juga, namun dean masih mencoba untuk sabar.


"Sil dengarkan aku, aku akan membahagiakan kamu tetaplah di sisiku" dean mencoba menurunkan nada bicaranya.


Tam selang beberapa lama, datang seorang pelayan menghampiri meja mereka mengantar makanan yang sudah di pesan.


Sesil menarik nafasnya dalam dalam dan memungut ponselnya yang sudah rusak, dan sesil kembali duduk lagi, sesil melihat ke arah meja makan, semua menunya daging, sedangkan sesil seorang vegetarian. Sesil kemudian beralih ke arah minuman, bukan minuman yang sesil sukai.


Sesil menarik nafasnya dengan dalam, dean selalu memaksakan kehendaknya.


"Ayo makan" dean menyodorkan steak ke arah sesil.


"Aku tidak makan daging dean" sesil mendorong kembali piringnya ke arah dean.


"Kau diet?" dean menaikkan kedua alisnya


"Aku memang vegetarian, apa kau tidak tau? nathan saja tau"! sesil mendengus dengan kesal


"Nathan?" terdengar nanda tidak suka dari mulut dean.


"Nathan itu tidak lebih dari seorang pebisnis rendahan"! sambung dean lagi


"Mungkin bisnis keluarga nathan tidak sebagus keluargamu, tapi sikap dan sifat nathan jauh lebih baik darimu, bahkan dia tau semua tentangku! dia memang menyebalkan, tapi dia tidak pernah menyakitiku"


Sesil menarik nafasnya panjang dan melanjutkan kata katanya lagi.


"Aku yakin papiku akan setuju jika aku lebih memilih nathan, kekayaan papiku sudah cukup membuat nathan berada di atasmu ketika kami menikah kelak, kau tau kan, aku pewaris tunggal dari carnal group? Tentu saja suamiku kelak yang akan meneruskan perusahaan papiku"


Dean menggebrak meja untuk kedua kalinya, dean sangat tidak suka mendengar semua ucapan sesil.

__ADS_1


"Pelayan" suara seseorang yang sangat familiar di telinga sesil, suara yang selalu membuatnya kesal tapi selalu membuat jantungnya berhasil berdegup dengan kencang, sontak sesil menoleh ke arah sumber suara.


Nathan sedang duduk di sana dengan seorang asisten, nathan tersenyum ke arah sesil.


Sesil sedikit lega, karena jika dean berani macam macam, sesil yakin nathan akan membantunya.


Nathan nampak memesan sesuatu kepada pelayan.


Sedangkan dean masih tidak menyadari kehadiran nathan.


"Sesil dengarkan aku, aku bisa menghancurkan perusahaan keluarga adibjo dengan sekali tepuk" dean kembali mempengaruhi sesil.


Namun belum sempat dean melanjutkan kata katanya, datang seorang pelayan mengantarkan cappucino dingin kesukaan sesil.


"Nona, ini minuman anda, tuan muda bilang anda di minta menunggu sebentar, karena tuan masih ada meeting" setelah meletakkan gelasnya, pelayan itu pergi dari meja sesil.


"Tuan muda?" dean mengerutkan dahinya.


Kemudian sesil nampak menoleh ke arah nathan dan tersenyum, nathan pun membalas senyuman sesil.


Kemudian sesil menatap kembali ke arah dean.


"Dean dengarkan aku, aku tidak mau dekat dengan seseorang yang arogan sepertimu, hubungan kita di masa lalu hanya sebuah kesalahan semata"


"Sil tapi..." perkataan dean terpotong karena nathan datang menghampiri mereka berdua.


"Sil, maaf sudah menunggu lama" nathan menatap mata sesil dengan dalam


Kemudian tangan nathan terulur mengusap puncak kepala sesil.


"Ayo kita pergi, aku ingin mengajakmu makan seafood lagi" nathan meraih tangan sesil dan menggenggamnya dengan erat, seolah olah nathan tidak akan membiarkan siapapun mengambil sesil dari sampingnya.


Tangan sesil terasa sangat dingin dan gemetar, nathan benar benar merasa tidak tega.


Sesil beranjak berdiri dari kursinya. Namun tangan kiri sesil di cekal oleh dean.


"Mau kemana" dean menyipitkan matanya ke arah sesil dan nathan.


"Selangkah saja kau berani pergi, aku akan pastikan kontrak kerja sama antara ayahku dan papi mu batal, belum lagi aku akan adukan kamu telah meninggalkan aku saat makan siang" dean kembali mencoba menekan sesil.


"Silahkan, aku tidak takut !" sesil mengibaskan tangan dean, dan tiba tiba menghambur ke dalam pelukan nathan. Entah mengapa sesil selalu merasa aman bila di dekat nathan, meskipun nathan begitu bersikap menyebalkan.


Sesil merasa bersyukur ada nathan yang datang menyelamatkan dirinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Katakan saran kalian pems🤞

__ADS_1


__ADS_2