
Setelah kejadian semalam Sesil begitu tak bergairah, bahkan sedari pagi dia mengurung diri di dalam kamarnya di lantai bawah.
Beberapa kali Bi Nung mengetuk pintu dan meminta Sesil mengisi perutnya, namun Sesil masih menolaknya.
Rasanya Sesil begitu enggan melakukan apapun.
Semua perkataan Nathan terngiang di dalam kepalanya.
Hatinya terasa sakit dan bulir air matanya kembali tumpah.
Sesil tidak mungkin menceritakan ini terhadap papinya, papinya sudah terlalu banyak beban yang di pikulnya.
"Jika mami masih ada" Bibir Sesil bergetar kembali saat mengingat maminya. Hatinya semakin sakit dan air matanya semakin deras mengalir di pipinya.
Saat ini yang Sesil butuhkan adalah menceritakan semua isi hatinya pada maminya.
"Lebih baik aku ke makam mami" Sesil berusaha mengusap air matanya dan beranjak dari ranjangnya.
Dia hendak menuju lantai dua mengambil pakaian ganti dan membersihkan diri di kamar mandi atas.
Sesil keluar kamar tanpa menutup kembali pintu kamar yang di tempati olehnya.
Sesil masuk ke dalam kamarnya dan juga Nathan, dia memandang ke arah dinding yang masih terpasang foto pernikahan dirinya dan Nathan.
Sesil menatap sendu foto tersebut dan bulir air matanya kembali tumpah, pernikahan yang awalnya bahagia ternyata sebentar lagi akan berakhir, pernikahannya hanya akan berusia satu tahun saja.
Sekuat tenaga Sesil mencoba menguatkan hatinya dan menghapus air matanya.
Dia kemudian mengambil baju ganti yang berada di dalam lemari dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke kamar mandi.
Ting..tong..ting..tong...
Suara bell pintu depan membuat Bi nung yang sedang sibuk mencuci pakaian di belakang sejenak mematikan mesin cuci untuk membuka pintu.
Dan saat pintu terbuka nampak seorang wanita paruh baya yang asing di mata Bi Nung.
"Cari siapa nyonya?"
"Sesil ada ? Saya tante dari Nathan, kebetulan ada keperluan yang harus saya bicarakan dengan Sesil" Kintani menatap ke dalam rumah mencari keberadaan Sesil
"Oh, mari masuk nyonya" Bi Nung percaya saja dan mempersilahkan Kintani untuk masuk dan mempersilahkan Kintani menunggu di ruang tamu, sementara dirinya menuju kamar yang Sesil tempati, namun sayangnya sudah kosong.
"Maaf nyonya, sepertinya Nona sedang mandi di kamar atas, biar saya panggilkan"
"Tidak perlu, saya akan menemuinya di atas" Kintani beranjak berdiri dari duduknya
"Tapi nyonya..."
"Saya ini Tante dari suami Sesil, apa ada masalah hah?" Kintani berucap dengan nada penuh penekanan dan mengintimidasi, membuat Bi Nung langsung menggelengkan kepalanya karena takut.
Kintani mengacuhkan Bi Nung yang masih berdiri mematung di posisinya.
Bi nung yang merasa tidak tenang, berusaha menghubungi Nathan lewat telefon rumahnya. Namun Nathan sama sekali tidak mengangkatnya.
Nathan yang pagi ini sedang ada meeting dengan dewan direksi untuk membahas peleburan Carnal Group menjadi Adigja group memang sengaja mendissilent ponselnya.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Tuannya namun tidak ada jawaban, akhirnya Bi Nung menyerah dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Sementara Kintani masuk ke dalam kamar yang di yakini di tempati oleh Nathan, kebetulan pintunya terbuka maka dengan leluasa Kintani langsung masuk ke dalamnya dan benar dugaannya ini kamar Nathan, karena dengan jelas terpasang foto pernikahan keponakannya dengan putri semata wayang pemilik Carnal Group yang sebentar lagi akan berpindah tangan ke keluarga Adibjo.
Kintani hanya tersenyum sinis menatap foto pernikahan Nathan yang sebentar lagi pasti akan berganti dengan surat cerai.
Pandangan mata Kintani teralihkan ke arah pintu kamar mandi yang tertutup dan terdengar suara gemericik air di sana, sepertinya Sesil memang sedang mandi, maka dengan senang hati Kintani akan menunggu sambil duduk santai di sofa.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Sesil dari dalam sana yang sudah mengenakan pakaian rapih.
Kedua mata Sesil terbuka lebar saat melihat wanita paruh baya yang di anggap asing duduk di sofa kamarnya dengan menyilangkan kaki.
"Anda siapa?" Sesil berjalan mendekat ke arah Kintani yang juga sedang menatapnya.
"Kintani Larasati"
"Istri dari mendiang om Nathan sekaligus tante Nathan"
"Oh maafkan Sesil tan, Nathan tidak pernah menceritakan tante sebelumnya" Suara Sesil terdengar merasa tidak enak karena tidak mengenali tante dari suaminya sendiri.
"Hm, selamat untuk perceraian kalian" Kintani menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis
__ADS_1
Sesil begitu terkejut mendengar ucapan Kintani, bagaimana bisa Kintani tau semua ini. Apa Nathan sudah menceritakan masalah rumah tangganya kepada tantenya?
"Pasti kau bingung kan mengapa Nathan tiba-tiba berubah sikap dan memutuskan untuk menceraikanmu" Kintani beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Sesil yang diam mematung
"Biar saya jelaskan gadis bodoh!" Kintani tertawa Sarkas dan mendorong tubuh Sesil dengan jari telunjuknya
"Om Nathan yang tak lain adalah suamiku, mati di tangan mantan kekasih papimu, tapi itu semua juga atas dasar campur tangan papimu ! Papimu terlalu hebat dan licik hingga mampu menciptakan skenario luar biasa, bahkan mampu membunuh seseorang dengan menggunakan kemarahan orang lain.
"Maksud anda?"
"Kau pasti tau Tasya kan? Tasya tidak akan melakukan hal keji seperti itu pasti mendapat provokasi dari papimu, kau tau sendiri Tasya cinta buta terhadap papimu, dia rela melakukan apapun demi mendapatkan papimu !"
"Tidak, Tidak mungkin !!! Papi bukan pembunuh" Sesil menggelengkan kepalanya berkali-kali dan memegang dadanya yang terasa sakit.
"Kau memang anak pembunuh ! Kau tidak tau saja betapa kejamnya papimu di luar sana ! Dan aku datang ingin menuntut balas atas kematian suamiku" Kintani menarik paksa tangan Sesil keluar menuju Balkon kamarnya.
"Lepas, lepaskan aku!!" Sesil meronta mencoba menjauhkan tangan Kintani yang mencengkram lengannya dengan erat. Seolah tak mendengarkan ucapan Sesil Kintani terus menarik tubuh Sesil berjalan mendekat ke arah balkon.
"Jika dulu suamiku di bunuh dengan cara mengenaskan aku juga ingin melakukan sedikit pemanasan" Kintani mendorong tubuh Sesil hingga membentur pagar besi pembatas, Sesil memegang perutnya yang terasa sakit, wajahnya semakin memucat karena merasakan perutnya sakit luar biasa.
Seolah belum puas dengan apa yang di lakukan, Kintani menarik kembali tubuh Sesil dan membawanya ke dekat tangga kecil yang berada tepat di sebelah kanan balkon tersebut, tangga yang menghubungkan Sesil dengan taman belakang rumahnya.
"Selamat menikmati keponakanku sayang" Kintani mendorong tubuh Sesil hingga terjatuh terguling-guling di tangga.
Sesil merasakan badannya sakit tapi tidak sesakit perutnya.
Kintani tertawa puas melihat Sesil tergelatak di bawah sana kemudian dengan tidak berperasaan Kintani pergi dari balkon dan meninggalkan rumah Nathan
"Nona..." Bi Nung berteriak menghampiri Sesil, kebetulan Bi nung sedang menjemur pakaian yang baru saja di cucinya di halaman belakang.
Bi Nung mengangkat kepala Sesil dan meletakkan di pangkuannya, tidak ada luka serius di bagian kepala Sesil, tapi kakinya terdapat banyak sekali darah.
"Bi...sa-sakit" Sesil memegang perutnya yang terasa Sakit
"Nona bertahanlah" Bi nung meletakkan kembali kepala Sesil di atas rumput,kemudian dirinya berlari masuk ke dalam, dengan tergopoh-gopoh Bi Nung membuka buku telefon dan mengangkat gagang telefon.
Bi Nung menekan beberapa digit nomor namun sayangnya Tuannya masih tidak menjawab panggilannya.
Bi nung kembali melihat beberapa nomor yang tertera pada buku, awalnya dia ingin menghubungi Swan, tapi niatnya di urungkan tatkala mengingat kalo Swan sekeluarga sedang membawa Kinos berobat ke Australia.
Badan Bi Nung semakin bergetar hebat, dia bingung harus menghubungi siapa lagi. Bi Nung kembali melihat deretan nomor yang tertera pada buku tersebut dan seperti menemukan harta karun Bi Nung menekan nomor Adibjo, berharap Tuannya yang ini bisa membantunya, dan benar saja saat terhubung langsung di jawab oleh Adibjo
"Nona kenapa Bi ? Bicaralah yang jelas" Suara Adibjo terdengar ikut panik dari balik sambungan telefon
"Nona jatuh dari tangga dan mengalami pendarahan hebat, sepertinya Nona sedang mengandung Tuan"
"Bagaimana bisa? Ya sudah cepat hubungi ambulan, saya akan segera kesana"
"Tunggu Tuan, saya tidak tau berapa nomor rumah sakitnya"
" Astaga Ya Tuhan, ya sudah biar aku yang menghubungi, Bibi jaga menantu saya ya" Tanpa menunggu lama Adibjo langsung mematikan panggilannya. Sedangkan Bi Nung kembali berlari ke taman belakang rumah menghampiri Sesil yang tergelatak tak berdaya di sana.
"Nona bertahanlah" Bi Nung kembali meletakkan kepala Sesil di pangkuannya dia begitu iba melihat majikannya bersimbah darah seperti itu, Sesil yang dalam keadaan seperti itu masih bisa tersenyum ke arah Bi Nung.
Hampir dua puluh menit berlalu akhirnya terdengar sirine ambulan berhenti tepat di depan rumah, Bi nung kembali meletakkan kepala Sesil di rumput dan keluar menuju halaman depan. Tidak ada satpam penjaga karena satpam di rumah ini kebetulan sedang cuti pulang kampung.
Bi Nung membuka pagar rumah dan mengarahkan petugas medis ke halaman belakang rumah.
Para petugas medis langsung membawa tubuh Sesil menuju ambulan.
Saat mobil ambulan bagian belakang di tutup, berhentilah sebuah mobil berwarna hitam tepat di belakangnya.
Adibjo dengan wajah panik menghampiri petugas medis tersebut.
"Lakukan yang terbaik"
"Baik Tuan" Kemudian petugas medis tersebut langsung membawa ambulan menuju rumah sakit, sedangkan Adibjo mengikutinya menggunakan mobilnya.
^
Adibjo berdiri mondar-mandir di depan ruang IGD, berharap memantu dan calon cucunya baik-baik saja.
Adibjo terlihat kembali merogoh ponselnya dari dalam saku celana yang di kenakan saat itu, berharap kali ini dia berhasil menghubungi putranya yang sudah puluhan kali di telefon tapi tak kunjung menjawab, namun usahanya kali ini masih nihil, Nathan belum juga mengangkat panggilan telefonnya.
"Anak itu benar-benar kelewatan" Adibjo meremas ponsel di tangannya dan membalikkan badan melihat ke arah Bi Nung yang duduk di kursi tunggu dengan wajah yang begitu pucat.
"Bi sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa menantuku jatuh dari tangga?" Adibjo menatap wajah Bi Nung penuh selidik
__ADS_1
"Saya tidak tau tuan, kebetulan saya sedang menjemur cucian di halaman belakang rumah dan mendengar teriakan Nona dari arah balkon" Bi Nung menggelengkan kepala dengan rasa takut, karena memang dia benar tidak mengetahui kejadian persisnya seperti apa.
"Tapi tadi ada seorang wanita paruh baya datang ke rumah Tuan, dia bilang tante tuan muda, kemudian beliau memaksa menemui Nona di kamarnya padahal saya sudah melarang dan meminta beliau untuk menunggu di ruang tamu saja namun beliau memaksa langsung naik lantai dua menuju kamar Nona yang sepertinya sedang mandi" Bi Nung menghela nafasnya panjang
"Tante? Saya anak tunggal, dan adik dari istri saya juga sudah meninggal Bi" Tukas Adibjo, mendengar penuturan Adibjo seketika bola mata Bi Nung membulat dengan sempurna
"Apa mungkin dia Kintani" Gumam Adibjo
"Saya sudah menghubungi tuan muda saat wanita itu datang, tapi tuan muda tidak mengangkat panggilan telefon dari saya tuan" Imbuh Bi Nung lagi
"Ya sudah bibi pulang saja ke rumah, biar di antarkan oleh supir saya" Adibjo menghubungi sopirnya yang menunggu di parkiran untuk meminta mengantarkan Bi Nung pulang.
^
Sementara Nathan yang masih berada di ruang meeting tersenyum menyalami satu persatu dewan direksi. Rasa-rasanya semua tujuannya akan terlaksana dalam waktu dekat ini.
Setelah semua dewan direksi keluar ruangan, Nathan kembali duduk di kursinya dan menutup laptopnya.
Dia merogoh ponsel dari saku jasnya dan menyalakannya, dia mengernyitkan dahi ketika melihat puluhan panggilan dari rumah dan juga ayahnya.
Nathan yang merasa penasaran mencoba menghubungi ke rumah namun tidak ada jawaban sama sekali meskipun sudah di cobanya berulang kali.
Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, hatinya terasa begitu ngilu dan nafasnya juga menjadi sesak seketika.
Nathan mencoba menghubungi nomor ponsel Ayahnya dan langsung di angkat oleh ayahnya
"Cepat ke rumah sakit Karyadi, istrimu di rawat di sini!" Seru Adibjo dari balik ponsel
"Tapi Nathan tidak bisa yah, ada hal penting yang...."
"Lebih penting istrimu, datang atau Ayah akan datang ke kantor untuk mengobrak-abrik isi ruanganmu" tanpa menunggu jawaban putranya Adibjo langsung mematikan ponselnya.
Nathan yang takut akan ancaman ayahnya terpaksa menuruti kemauan ayahnya dan bergegas menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh ayahnya tadi.
Sementara Adibjo terus mondar-mandir di depan ruang IGD, sudah hampir setengah jam berlalu tapi dokter belum kunjung keluar, dia semakin merasa cemas akan keadaan dari menantunya itu.
Detik berlalu, menit berjalan, sudah satu jam lamanya Adibjo menunggu dengan begitu cemasnya, hingga akhirnya ruang IGD tersebut membuka dan beberapa perawat dan satu orang dokter keluar dari sana mengenakan pakaian serba hijau.
"Bagaimana keadaan menantu saya dok?"
Sang dokter membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya, dan saat masker terbuka nampak wajah dokter yang datar tanpa ekspresi
"Tuan maafkan kami, kami sudah berusaha yang terbaik tapi..."
"Tapi apa dok? menantu saya baik-baik saja kan?" Cecar Adibjo
"Menantu anda dalam keadaan stabil, tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang di kandungnya"
"Maksud dokter apa?" Suara bariton milik Nathan yang berdiri di ujung koridor menyita perhatian semua orang
"Maksud dokter apa? katakan sekali lagi??" Nathan berjalan me dekat ke arah dokter dan langsung menarik krah bajunya
"Maafkan saya tuan, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Anak anda kami tidak bisa menyelamatkannya"
Nathan begitu terkejut mendengar penuturan dokter, selama ini dia tak mengetahui kalau Sesil sedang mengandung buah hatinya. Seketika tubuhnya lemas dan meluruh jatuh ke lantai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat Hari Raya Paskah bagi teman dan saudaraku yang merayakannya🙏
__ADS_1
Meskipun tidak bisa merayakan seperti tahun-tahun sebelumnya, semoga ke khidmat-an ibadah via online tidak mengurangi suka cita dan makna Paskah itu sendiri🙏
Cinta kasih Tuhan menyertai kita semua,🙏