
Bandara Achmad Yani Semarang...
Sesil duduk menikmati satu gelas jus di tangannya, sambil terus mengobrol bersama Yasmine, hari ini Yasmine akan kembali ke Australia tempat dimana kedua orang tuanya menetap. Karena selama dindonesia Yasmine tinggal menetap di rumah neneknya.
Dan hari ini Yasmine memutuskan untuk menetap di Australia bersama kedua orang tuanya.
Sesil dan Yasmine tak hentinya tertawa bersama, karena pasti akan lama bisa saling berjumpa kembali seperti ini.
Sementara Nathan belum juga datang padahal penerbangan Yasmine empat puluh lima menit lagi.
Sambil menunggu, Sesil memberikan sebuah hadiah kecil untuk Yasmine, sebuah jaket rajut yang di rancang oleh desainer langganan Sesil. Jaket rajut yang hanya ada satu di indonesia sengaja Sesil pesan sebagai hadiah kenang-kenangan dari Sesil untuk Yasmine, sahabat baiknya.
"Kalian sudah menunggu lama?" Suara Nathan terdengar di belakang punggung Sesil. Seketika itu pula Sesil menoleh dan melihat tubuh tegap suaminya berdiri di belakangnya mengenakan kemeja tanpa dasi dan jas.
"Sayang.." Sesil melebarkan senyumnya menyambut kedatangan suaminya.
"Sil, Nath. Sepertinya aku harus segera melakukan boarding pass" Seru Yasmine sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Terimakasih untuk hadiahnya ya" Yasmine mengangkat paper bag berisi jaket rajut dari Sesil untuknya.
"Terimakasih Yas" Sesil memeluk Yasmine dengan erat, dia pasti akan sangat merindukan sosok Yasmine yang ceria.
Sebulan tinggal bersama Yasmine membuat Sesil bisa memahami sikap Yasmine yang selalu tulus padanya, bahkan Yasmine rela membantu Nathan untuk membuatnya sadar kalau membawa orang ke tiga di tengah-tengah rumah tangganya bukan keputusan terbaik.
"Terimakasih Yas, untuk segala kebaikanmu. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh lagi" Sesil melepaskan pelukannya dari tubuh Yasmine kemudian kedua wanita berbeda umur itu saling memandang satu sama lain.
"Jaga Nathan Sil, kamu sangat beruntung memiliki suami seperti Nathan, di benar-benar mencintaimu sepenuh hati, oh dan soal tiket liburan lebih baik kalian saja yang pergi ya" Yasmine mengembalikan dua lembar tiket ke tangan Sesil.
"Ingat, jangan bawa wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kalian ya" Pesan Yasmine melirik Nathan dan Sesil secara bergantian.
Setelah mengucapkan salam perpisahan Yasmine segera melakukan boarding pass sementara Sesil dan Nathan kembali ke rumah.
^
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Sesil kepada suaminya. Dia merasa heran karena Nathan malah meminta Bram yang membawa mobilnya pulang, sementara durinya malah memilih mengemudikan mobilnya.
"Aku mau pulang, biarkan saja Bram yang mengerjakan semua tugasku, buat apa aku memiliki asisten kalau tidak bisa mengantikan aku saat aku malas bekerja" jawab Nathan santai
Nathan terus melajukan mobilnya menyusuri jalan, namun Sesil di buat terkejut saat laju mobilnya tidak mengarah kembali ke rumahnya.
"Kita mau kemana?" Seru Sesil yang merasa Nathan malah entah membawanya kemana.
"Ke rumah Ayah, Ayah belum mengetahui kebenaran masalah ini"
__ADS_1
"Oh" Sesil membulatkan bibirnya.
Nathan terus melajukan mobilnya mengarah ke rumah Ayahnya. Hingga kurang dari satu jam mobil yang Nathan kendarai sudah sampai di depan rumah bernuansa jawa klasik begitu elegan dengan banyak ukiran kayu di dinding rumah tersebut.
Saat Nathan memasuki halaman rumahnya, beberapa penjaga menyambut hangat kedatangannya.
"Ayah, kami datang" Nathan mendorong pintu utama hingga terbuka lebar.
"Ayah.." panggil Nathan lagi, kali ini bahkan dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
"Ada apa?" Jawab Adibjo terlihat keluar dari ruang tamu. Matanya terlihat sangat tidak ramah menyambut anak dan menantunya yang membuatnya merasa sakit kepala.
"Ada yang ingin kami bicarakan" Imbuh Nathan
"Jika kalian ingin membicarakan kalau istri keduamu hamil, ayah tidak sudi mendengarnya. Bahkan Ayah tidak akan mengakui anak itu sebagai cucu Ayah, apapun alasannya. Cucu Ayah hanya akan lahir dari rahim Sesil" Tegas Adibjo, tanpa melihat Nathan dan Sesil, Adibjo masuk kembali ke ruang tengah dan mendudukkan tubuhnya di sana. Bahkan dia terlihat memijat pelipisnya.
Nathan dan Sesil kompak masuk ke dalam menyusul Adibjo. Bahkan Sesil langsung duduk di samping Ayah mertuanya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya, mungkin ayah mertuanya banyak memikirkan keegoisan Sesil selama ini.
"Ayah.." panggil Sesil lembut.
"Nak, maafkan Ayah. Ayah sangat sayang padamu, tapi untuk kali ini Ayah menolak idemu yang meminta Nathan menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan" Adibjo menarik nafasnya dengan berat.
"Usia pernikahan kalian masih dua tahun wajar jika belum mendapat momongan. Dan jika ada kelainan yang terjadi pada rahimmu, kalian bisa mengadopsi anak dari panti asuhan, dan kalian besarkan layaknya anak kalian sendiri, bahkan ayah juga akan menganggapnya cucu ayah sendiri daripada kalian meminta wanita lain mengandung anak kalian, ayah tidak akan sudi menyebutnya cucu ayah" tegas Adibjo
Sementara Adibjo menatap lekat-lekat mata Sesil, mencari kebenaran dari sorot mata menantunya, kemudian Adibjo juga mengalihkan pandangannya menatap putra semata wayangnya yang duduk di depannya.
"Benar Ayah, maafkan jika Nathan tidak memberi tau ayah sebelumnya, karena semuanya terlalu cepat. Setelah pertengkaran antara aku dan Sesil terjadi di rumah papi, mulai sejak itu aku memutuskan untuk menjalankan rencanaku, berharap istriku akan sadar jika di madu itu tidaklah mudah. Dan puji Tuhan Sesil sekarang sudah sadar dan mengakui kalau dirinya tak mampu. Mungkin cara Nathan salah Ayah, tapi itu semua Nathan lakukan karena Nathan ingin membuat Sesil sadar serta Nathan tidak ingin kehilangan wanita yang sangat Nathan cintai"
"Benarkan?" Adibjo melebarkan senyumnya, wajahnya terlihat bersemangat kembali. Rasanya Adibjo seperti mendapat harta karun saat mendengar kabar ini dari putranya. Hatinya lega karena putranya masih berpegang teguh pada janji yang dia ucapkan, kalau Nathan tidak akan menyakiti Sesil untuk kedua kalinya.
"Ayah sangat senang mendengar ini, bagaimana kalau sebagai wujud rasa syukur Ayah, Ayah akan membelikan kalian tiket berlibur. Terserah kalian akan berlibur kemana" Seru Adibjo antusias. Dia berharap jika Nathan dan Sesil kembali berbulan madu maka saat kembali Sesil bisa hamil kembali.
"Tidak perlu Ayah, kami akan ke Paris minggu depan" Seru Sesil sambil mengambil amplop berisi tiket liburannya dan menunjukkan pada Adibjo.
"Siapa bilang kita akan ke Paris?" Sangkal Nathan
"Memangnya kau tidak mau ke Paris, kan sayang tiketnya sudah aku beli mahal-mahal" Imbuh Sesil sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku kan tidak menyuruhmu membelinya, jadi ya kalau kau mau pergi, ya pergilah sendiri"
"Nathan.." Adibjo mengeraskan suaranya bahkan matanya menatap tajam Nathan, seolah-olah dia akan menerkamnya saat itu juga.
"Hehehe, Ayah. Nathan hanya bercanda" Nyali Nathan menciut melihat wajah garang ayahnya.
__ADS_1
"Sebenarnya, Nathan sudah mempersiapkan liburan untuk kami, tepatnya lusa" Seru Nathan
"Kemana?" Tanya Sesil antusias
"Ke suatu tempat yang tak kalah indah dengan Paris tentunya. Tapi aku tidak akan memberitahumu dimana tempatnya. Pokoknya suprise" Nathan menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum ke arah istrinya.
"Ayah, lihatlah Nathan" Sesil menggoyangkan lengan Adibjo, bahkan wajahnya terlihat begitu cemberut.
Adibjo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah menantunya.
"Nathan, sudahlah beritahu saja" Seru Adibjo menengahi
"Pokoknya tidak Ayah. Ini suprise" Kekeh Nathan tak mau kalah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak akan ada konflik berat lagi ke depannya.
Ada yang bisa menebak Nathan akan membawa Sesil berlibur kemana?😁
Yang bener, Srayu kasih voucher kuota😁
Jawaban di tunggu paling lambat besok jam 10 pagi😁
__ADS_1
Sesuai janji Srayu, kalo tidak akan ada orang ketiga di Kasih Terakhir 2♥️