Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Lemon Tea


__ADS_3

Sesil masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya,Tubuhnya terasa begitu lemas. Sesil memejamkan kedua matanya, sementara Nathan duduk di tepian ranjang sembari tangannya menyeka keringat yang membasahi dahi istrinya.


"Aku tidak apa-apa, ini pasti lambungku sedang kambuh" Ucap Sesil lirih.


Nathan tak mengucapkan sepatah katapun, rasanya dia begitu mengkawatirkan keadaan istrinya saat ini.


"Kau pasti mau bekerja kan? bekerjalah, aku akan tiduran di saja di sini" Imbuh Sesil lagi, kali ini Sesil membuka kedua matanya yang terlihat sayu untuk menatap mata dari Nathan.


"Aku panggilkan dokter ya?" Bujuk Nathan, namun dengan cepat Sesil menggelengkan kepalanya.


Nathan hanya bisa menarik nafasnya panjang.


"Ya sudah aku ambil laptop dulu, kau jangan kemana-mana" Nathan beranjak dari ranjang menuju ruang kerjanya untuk mengambil laptop.


Tak memakan waktu lama, Nathan sudah kembali lagi ke kamar dengan membawa laptop dan beberapa berkas di tangannya. Kemudian dia duduk kembali di tepi ranjang. Awalnya Sesil menyuruh Nathan untuk duduk di sofa, namun Nathan menolaknya dan bersikeras untuk duduk di tepi ranjang, karena dia tak mau berjauhan dengan istrinya.


Sesil begitu iba melihat Nathan yang harus bekerja siang malam untuk mengurus dua perusahaan sekaligus. Awalnya Sesil ingin membantu Nathan, namun di larang oleh suaminya.


"Nath.."


"Kenapa sayang?" Nathan langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang kini di pangkunya.


"Maafkan aku ya, hingga saat ini bahkan aku belum bisa memberimu seorang putra" Ucap Sesil lirih, karena sudah hampir satu tahun usia pernikahan mereka, Sesil belum memiliki tanda-tanda kehamilan sama sekali. Bahkan Sesil yakin kalau Nathan sangatlah ingin memiliki seorang anak.


"Kau ini bicara apa hm? aku yakin Tuhan suatu saat pasti akan menitipkan bayi di dalam rahimmu" Nathan melebarkan senyumnya sembari tangannya mengusap perut datar istrinya.


Sesil begitu terharu, karena selama pernikahan mereka, Nathan selalu bersikap baik dan menuruti apapun yang di minta oleh dirinya.


"Sudah tidurlah" Nathan mengecup kening Sesil dan membenarkan selimut untuk membalut tubuh Sesil, dan Dia kembali fokus melanjutkan pekerjaannya.


Hingga hampir tengah malam, Nathan baru menyelesaikan pekerjaannya. Dia sejenak melirik ke arah istrinya yang sudah terlelap tidur.


Nathan menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum memandangi istrinya yang tidur begitu lelapnya. Rasanya Nathan masih tak menyangka kalau gadis pujaannya kini benar-benar menjadi pendamping hidupnya.


Nathan mengusap pipi Sesil dengan begitu lembut, kemudian dia beranjak menuju meja sofa untuk menyimpan laptop dan beberapa berkas pekerjaan. Setelah meletakkan kembali berkas dan laptop di atas meja. Nathan kembali menuju ranjang, dan dengan perlahan Nathan membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


Nathan memandangi wajah istrinya yang begitu cantik dan semakin cuby. Hormon lelakinya kembali muncul, namun Nathan sekuat tenaga menahannya, karena dia tau Sesil saat ini sedang tidak enak badan.


Nathan menekan libidonya sendiri dan membaringkan tubuhnya di samping Sesil, tangan Nathan melingkar sempurna di perut istrinya, dan dia berusaha memejamkan matanya.


Entah berapa lama Nathan terlelap, tiba-tiba saja ada yang menepuk pipinya perlahan.


"Nath, bangun" Ucap Sesil sambil menepuk pipi suaminya dengan perlahan


"Nath" Panggil Sesil lagi, Nathan yang baru saja tertidur rasanya enggan sekali membuka kedua matanya, dia hanya berdehem untuk menjawab istrinya


"Nath, bangun" Ucap Sesil lagi, kali ini entah mengapa matanya terasa panas dan berkaca-kaca, namun Nathan masih tak bergeming akan posisinya, membuat Sesil kecewa dan mengurungkan niatnya, dia kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, dan entah mengapa tiba-tiba saja air matanya tumpah.


Nathan yang sudah terbangun namun enggan membuka kedua matanya yang terasa begitu berat, mendengar suara istrinya menarik ingus dari hidung.


Seketika Nathan langsung membuka matanya dan sangat terkejut ketika melihat istrinya duduk menyandar sambil menangis.


"Sayang..?" Nathan beranjak dari tidurnya dan duduk di samping istrinya yang sedang menangis. Telapak tangannya secara naluri menghapus air mata Sesil yang turun dengan derasnya.

__ADS_1


"Sayang ada apa? Maafkan aku?" Nathan terlihat begitu menyesal karena dirinya mengacuhkan istrinya. Namun Sesil diam saja tak bergeming, rasanya dia begitu merasa kesal dan marah. Dia sendiri saja tidak tau mengapa dia harus seperti ini.


"Sayang..??" Nathan kembali berusaha memanggil istrinya.


"Aku mau minum" Ucap Sesil sambil sesenggukkan menahan air matanya.


"Oh kau haus?" Nathan segera meraih gelas yang berisi air putih di atas meja kecil yang terletak tepat di samping ranjang tidurnya.


Setelah meraih gelas, Nathan menyodorkan gelas tersebut kepada istrinya.


"Aku tidak mau air putih" Jawab Sesil dengan begitu ketusnya


"Aku mau es lemon tea" Imbuh Sesil lagi, kali ini Nathan begitu terkejut, karena cuaca di luar sedang hujan deras dan malah istrinya menginginkan Es Lemon Tea, Nathan sejenak melirik ke arah jam dinding yang terletak di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 01.26am.


"Kenapa? kau tidak mau membuatkannya untukku?" Ucap Sesil dengan mengerucutkan bibirnya, rasanya dia begitu kesal akan sikap Nathan yang masih diam di tempat.


"Sayang, di luar kan hujan der..."


"Memangnya kenapa kalau hujan deras? yang hujan kan di luar kan? di dalam rumah tidak ada hujan kan? pokoknya aku mau Lemon Tea sekarang" Sesil memotong ucapan Nathan dengan begitu kesalnya, bahkan kali ini Sesil melipat kedua tangannya di atas perut.


Nathan hanya bisa menghela nafasnya panjang melihat tingkah istrinya yang akhir-akhir ini menjadi sering marah dan meminta hal yang menurut Nathan aneh.


Nathan beranjak turun dari ranjang dan mengaitkan tali piyama tidurnya. Dia mengenakan sendal dan hendak berjalan keluar kamar, namun seketika langkah kakinya terhenti dan berbalik badan karena Sesil mengikutinya dari belakang.


"Tunggu di sini saja sayang"


"Tidak mau, aku mau ikut" Ketus Sesil sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Nathan.


"Ya sudah ayo" Nathan menggelengkan kepalanya, dan kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju dapur rumah mereka.


Sementara dirinya mengambil panci dan menuangkan setengah gelas air minum dan menyalakan kompor, setelah kompor menyala Nathan meletakkan panci yang berisi air di atas api.


Kemudian Nathan mengambil gelas panjang dan menuangkan dua sendok gula pasir ke dalam gelas tersebut, setelah menuang gula tersebut nathan memasukan air mendidih yang sudah dia rebus tadi kemudian dia mengaduk gula,teh dan air panas hingga larut, setelah larut Nathan kemudian mengambil lemon segar dari dalam kulkas dan mencucinya terlebih dahulu.


Setelah di cuci Nathan mengambil pisau untuk memotong lemon tersebut, setelah berhasil memotongnya, Nathan kemudian memeras lemon tersebut dan mengambil airnya saja.


Setelah mendapatkan cukup perasaan air lemon, nathan mencampurkan air lemon ke dalam teh yang tadi dia buat, kemudian Nathan memasukkan beberapa kotak es batu yang dia sudah siapkan.


Setelah siap Nathan membawanya kepada Sesil yang sedari tadi duduk menunggu di meja makan.


Sesil begitu girang saat melihat segelas Es Lemon Tea yang begitu menggoda di matanya, bahkan beberapa kali Sesil menelan air liurnya.


Dengan tidak sabar Sesil meraih gelas tersebut dan meminumnya, Namun tiba-tiba saja wajah Sesil berubah menjadi datar, dan mendorong gelas tersebut menjauh dari hadapannya.


"Kenapa sayang? apa kurang manis,m" Nathan mengeryitkan dahinya saat melihat raut wajah istrinya, tadi sebelum Nathan memberikan kepada Sesil, dia sudah terlebih dahulu mencobanya dan Nathan rasa minuman buatannya sudah enak dan pas


"Kurang rasa lemonnya" Ucap Sesil dengan begitu manjannya, membuat Nathan tersenyum menanggapi istrinya yang begitu manja.


Tanpa berbicara apapun, Nathan meraih gelas tersebut dan kembali memotong lemon dan memasukan perasan air lemon ke dalam gelas.


Kemudian Nathan mengaduk dengan sendok, setelah di rasa tercampur antara air teh dan lemon, Nathan membawa kembali gelas tersebut dan meminta Sesil mencobanya.


Namun saat Sesil mencobanya dia menggelengkan kepala dan meminta Nathan memasukkan tiga lemon lagi, karena Sesil merasa minuman buatan Nathan tidak terasa lemonnya sama sekali.

__ADS_1


Nathan benar-benar bingung akan tingkah istrinya yang menurut dirinya aneh, meskipun merasa Aneh, Nathan tetap menuruti permintaan Sesil.


Benar saja, segelas air teh yang di campur dengan lima lemon segar yang menurut Nathan terasa sangat Asam, namun malah Istrinya begitu lahap meminumnya.


Bahkan Sesil menenggak hingga habis tak bersisa setetes pun di dalam gelas tersebut.


"Enak sekali" Sesil menjilat bibirnya dengan lidahnya. Rasanya lemon tea yang baru saja dia minum terasa begitu enak.


"Nath.." Sesil melebarkan senyumnya menatap ke arah Nathan yang duduk di sampingnya.


"Gendong" Imbuh Sesil dengan begitu manjanya, membuat Nathan begitu gemas dan langsung merengkuh tubuh istrinya dan menggendongnya di depan.


Rasanya dia begitu gemas melihat istrinya yang manja, Sesil langsung mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher suaminya, bahkan Sesil tak hentinya menatap wajah tampan suaminya.


Nathan berjalan perlahan menaikki anak tangga, sesekali Nathan melihat ke wajah Sesil yang sedang menatapnya, sedangkan Sesil kembali mengingat momen hari pernikahan mereka, saat itu pula Nathan membopong tubuh Sesil menuju lantai dua kamarnya. Dan hari ini entah mengapa Sesil tiba-tiba ingin mengulang momen itu kembali.


Nathan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, dan kembali menuju pintu untuk menutup pintu kamarnya, setelah menutup dan mengunci pintu.


Nathan kembali mendekat ke arah ranjang dan melihat Sesil masih menunggunya di sana.


Nathan naik ke atas ranjang dan merangkak di atas tubuh istrinya, kini nathan tepat berada di atas tubuh Sesil.


Kedua mata mereka saling beradu pandang, dan Nathan tak sanggup lagi mengendaalikan dirinya lagi, dengan perlahan Nathan mengecup bibir seksi Sesil yang begitu menggiurkan, setelah puas menikmati bibir istrinya, tangan Nathan melepaskan pengait piyama yang istrinya kenakan, hingga menampakan tubuh bagian dalam sesil yang hanya terbalut dengan pakaian dalam saja.


Nathan segera menikmati tubuh istrinya yang sangat dia rindukan.


Nathan membawa Sesil menikmati kenikmatan yang selalu mereka rindukan. Rasanya sudah beberapa hari mereka tak melakukannya. Hingga malam ini Nathan begitu menikmati permainan mereka, suara dernyitan ranjang yang mengiringi permainan mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Ada yang kangen sama Sesil dan Nathan??


Maaf srayu lama nggak up, soalnya srayu kemarin sibuk mengurus acara pertunangan srayu, dan puji Tuhan acaranya lancar semua🙏

__ADS_1


Terimakasih untuk yang sudah mengucapkan via DM IG, Doa terbaik dari kalian semoga di kabulkan Tuhan🙏


Terimakasih buat semua yang sudah mengucapkan, maaf srayu tidak bisa sebutkan satu persatu🙏 Peluk jauh buat semua penggemar karya receh srayu😍♥️🤗*


__ADS_2