Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Mengganggu Saja


__ADS_3

Dave dan Yasmine berdiri tepat di pintu utama resort milik keluarga sesil, tangan dave memencet bel pintu utama.


Suara bel membuat nathan berdecak kesal, pasalnya saat itu dia baru saja memeluk pinggang istrinya dan hendak menciumnya, namun semua itu di urungkannya saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Mengganggu saja" Nathan menggerutu dengan kesal sembari beranjak dari duduknya.


Nathan berjalan mendekat ke arah pintu lalu nathan membuka pintu tersebut. Dan saat pintu terbuka muncullah wajah Dave dan Yasmine berdiri di ambang pintu sambil di tangan mereka masing-masing membawa satu buah koper.


"Hai nath.." Yasmine melebarkan senyumnya saat menyapa nathan, sedangkan dave masih terlihat diam saja dengan wajah datarnya yang tak bersahabat itu.


"Yasmine??" Sesil beranjak dari duduknya saat mendengar suara yasmine, bahkan dia dengan segera menghampiri yasmine.


"Hai masuklah" Sesil melebarkan senyumnya menyambut hangat kedatangan dari teman barunya itu.


"Minggirlah !" Sesil menarik tubuh nathan yang menghalangi pintu yang terbuka sebelah itu.


"Jangan hiraukan dia yas, dia memang menyebalkan" Sesil melirik ke arah Nathan dan menjulurkan lidahnya sembari sesil berlalu meninggalkan nathan.


"Yas, lihatlah, aku sudah mengedit beberapa foto kita, apa kau menyukainya?" Sesil dengan begitu antusias menunjukkan hasil editan fotonya saat dirinya dan yasmine sudah duduk di sofa dan melihat ke arah layar laptop.


"Oke, bagus, aku suka!" Yasmine menganggukkan kepalanya


"Ini bukannya laptop milik nathan?" Yasmine melirik ke arah sesil, dan sesil menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"Sil, apa kau tau, ada satu folder rahasia di laptop ini yang di beri pass code oleh nathan?" imbuh yasmine lagi.


"Oh, iya aku tau" Jawab sesil lagi, namun matanya masih asik melihat ke layar laptop dan mengedit foto.


"Kau tau?" Yasmine menggoyangkan lengan tangan sesil dengan begitu antusias.


"Iya, memangnya ada apa sih?" Sesil mengeryit keheranan melihat yasmine yang begitu antusias


"Aku sangat ingin tau isi folder itu sil, apa kau tau pass code nya?" Imbuh yasmine lagi, yasmine memang sangat penasaran, bahkan semua teman lelaki nathan juga sama seperti dirinya, pasalnya hanya satu folder yang benar-benar begitu misterius.


Sesil sejenak menutup aplikasi Photo Shop, dan beralih ke folder yang yasmine maksudkan.


"Ini bukan?" Sesil menunjuk layar laptop yang terdapat satu folder dengan name Lyly Flower.


Yasmine mengangguk dengan pasti, bahkan matanya begitu berbinar tatkala sesil menekan beberapa angka pass code folder tersebut.


Dan saat folder tersebut terbuka, mata yasmine terbuka begitu lebar, karena yasmine tidak menyangka folder yang di rahasiakan oleh nathan berisi semua foto sesil dari masa remaja, di universitas, saat pernikahan, dan sepertinya saat kemarin mereka menikmati sunset di pantai


"Kau jangan terkejut, dia memang penguntit" Imbuh sesil, mata sesil melirik ke arah sebelah tepat dimana nathan baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Siapa yang penguntit?" Seru Dave, bahkan suara Dave begitu terkejut mendengar sesil mengatakan itu.


"Lihatlah dave, yang selama ini membuat kita penasaran, aku sudah melihatnya" Yasmine terkekeh sambil melihat ke arah dave.


"Apa?" Dave beranjak dari duduknya dan berganti posisi duduk di sebelah yasmine.


Nathan beranjak dari duduknya hendak melarang dave, namun dengan cepat sesil menahan tubuh nathan, dan memegang nathan erat-erat.


Dave melihat layar laptop, dan dia sangat terkejut melihat semua foto sesil sejak masih mengenakan baju Sekolah Menengah Pertama hingga kemarin saat melihat sunset.


Dave benar-benar tak menyangka kalau nathan memang sudah menyukai sesil sejak dulu, bahkan sejak sebelum mereka satu universitas yang sama.


"Kalian lihat kan, Nathan penguntit, untung saja tidak punya fotoku saat aku mandi, karena rumahku di jaga ketat, jika saja tidak di jaga ketat pasti dia juga memilikinya" Sesil tertawa kencang, bahkan kali ini yasmine dan dave ikut tertawa.


Membuat nathan membungkam mulut sesil. Natha. benar-benar malu karena kelakuan istrinya itu.


"Diamlah, kenapa kau membuka aib ku hah?" Nathan mendengus kesal, sesil menjawab ucapan nathan, namun suara sesil tertahan di balik telapak tangan nathan yang membekap mulutnya.


"Ku pikir kau tidak suka perempuan, ternyata kau seorang predator" Dave tak hentinya tertawa, bahkan membuat nathan memlototkan matanya ke arah dave.


Karena folder foto tersebut, dave jadi tak secanggung tadi, bahkan raut wajahnya terlihat bersahabat dari sebelumnya.


"Tuan, Nona, makan malam sudah siap" Suara penjaga resort sejenak menghentikan tawa mereka.


"Terimakasih paman" jawab sesil.


Kemudian Nathan mengajak kedua sahabatnya untuk makan malam bersama.


Di sela acara makan malam, yasmine dan sesil terus saja berbincang, bahkan sesil mengacuhkan keberadaan nathan.


Setelah acara makan malam, sesil mengajak yasmine untuk mencetak foto-foto milik mereka, yasmine juga menyetujuinya, karena foto itu akan. di bawa oleh yasmine besok saat pulang sebagai kenang-kenangan.


Sesil mengajak yasmine menuju salah satu ruangan kusus yang di sediakan oleh Papinya untuk menyimpan koleksi kamera. Karena swan tau betul mendiang istrinya dan putrinya serta ayahnya adalah pecinta fotografi, di ruangan itu juga di lengkapi dengan alat pencetak foto.


Saat memasuki ruangan tersebut, yasmine tak hentinya berdecak kagum melihat semua koleksi kamera antik milik keluarga sesil.


Sesil hanya tersenyum menanggapi setiap celotehan yang keluar dari mulut yasmine.


Hampir dua jam lamanya sesil berada di ruangan tersebut, karena seusai mencetak foto, yasmine banyak menanyakan perihal koleksi kamera milik keluarga sesil.


Bahkan mereka berdua mengobrol hingga lupa waktu kalau ini sudah pukul 11.00pm.


"Astaga sil, ini sudah larut" Yasmine menepuk jidatnya karena dia terlalu asik mengobrol dengan sesil hingga lupa waktu.

__ADS_1


Yasmine segera mengajak sesil kembali ke kamar untuk beristirahat.


Yasmine tidur di kamar lantai satu, kamarnya bersebelahan dengan kamar milik dave.


Saat melewati ruang tamu, sesil tak melihat nathan dan dave, sepertinya mereka berdua sudah beristirahat terlebih dahulu.


Dengan riang, sesil menapaki anak tangga menuju lantai dua.


Sementara itu, nathan sedang mencari piyama tidur di kopernya, karena piyama yang kemarin malam dia kenakan sedang di cuci karena bajunya terkena percikan darah saat nathan sedang melakukan itu bersama sesil untuk pertama kalinya.


Nathan mulai membuka tatanan baju yang berada di koper, karena sesil tidak memindahkan pakaian yang mereka bawa ke dalam lemari yang berada di kamar tersebut.


Dan saat nathan sedang membongkar baju di koper, nathan tidak sengaja menemukan sebuah gaun yang membuatnya tersenyum begitu lebarnya.


Dia tak menyangka istrinya menyiapkan gaun itu untuk di bawa serta dalam acara honey month mereka.


Nathan mengambil piyama tidur miliknya dan gaun milik sesil.


Nathan segera berganti piyama tidur, setelah selesai berganti piyama, nathan merebahkan tubuh ya di atas tempat tidur.


Gaun milik sesil di sembunyikan di balik selimut.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka, dan menyembullah wajah sesil dari balik pintu.


"Kau belum tidur?" Ucap sesil,saat dirinya melihat nathan malah tersenyum menyambut kedatangannya.


"Kemarilah, aku menunggumu" Nathan menepuk kasur yang kosong di sebelahnya.


"Sebentar, aku akan berganti pakaian terlebih dahulu" Sesil mendekat ke arah koper dan mencari piyama tidur miliknya, melihat istrinya membongkar koper, nathan segera beranjak dan mendekat ke arah sesil


"Apa kau mencari ini?" Nathan memperlihatkan ligeria berwarna biru muda milik sesil tepat di depan wajah sesil, membuat sesil melebarkan matanya karena terkejut, sesil dengan cepat merebut ligeria pemberian imelda dan menyembunyikannya di balik punggung, wajahnya terlihat sangat merona menahan malu, sesil tak menyangka nathan menemukan gaun memalukan itu.


"Pakailah, aku menunggumu" Nathan tersenyum dan mencolek dagu milik istrinya.


"Tidak mau" Seru sesil


"Untuk apa di bawa kalau tidak di pakai hm?" Nathan kali ini mencubit pipi sesil, membuat sesil semakin malu di buatnya.


"Ini tidak sengaja terbawa, dan lagi pula ini gaun pemberian imel, bukan aku yang membelinya" tukas sesil lagi.


"Berarti aku harus berterimakasih kepada imel. Hm dan sekarang pakailah, aku menyukai gaun ini" Nathan berlalu dari hadapan sesil menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya kembali.


Sedangkan sesil masih berdiri mematung di posisinya.


Sesil benar-benar bingung saat ini, harus menuruti permintaan nathan atau tidak.


"Aku menunggumu" Nathan melebarkan senyum di bibirnya, dan menepuk kasur kosong di sebelahnya.


"Baiklah" Sesil mengerucutkan bibirnya sembari berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


Tak lama kemudian, sesil sudah keluar dari kamar mandi, sambil kedua telapak tangannya menutupi dadanya.


Rasanya dia begitu malu mengenakan ligeria pemberian imel. Karena terlihat begitu tembus pandang seperti tidak mengenakan pakaian saja.


Sedangkan nathan tersenyum puas melihat istrinya tampil begitu menggoda, membuat nathan semakin menginginkan sesil menamani malam panjangnya.


"Shit!! Harusnya aku tidak membawanya kemarin" Umpat sesil dalam hatinya, dengan rasa yang begitu malu sesil berjalan mendekat ke arah nathan. dan saat sesil berdiri tepat di tepi ranjang, nathan langsung menarik sesil hingga duduk di pangkuannya, bahkan nathan langsung mencium bibir sesil yang selalu membuat nathan mabuk kepayang.


Nathan dengan rakus memakan bibir milik istrinya, kedua tangannya bahkan sudah tidak bisa di kendalikan lagi.


Saat ciuman nathan semakin panas, bahkan nathan memberi jejak-jejak kepemilikan di leher jenjang milik sesil. Sesil mendesah saat nathan terus membuatnya menginginkan hal itu lagi.


Tok..tok..tok..


Terdengar ketukan pintu kamar yang di tempati oleh sesil.


Nathan nampak mengacuhkannya, dia terus saja menyerang sesil yang kini duduk di pangkuannya.


Namun pintu kembali di ketuk, membuat sesil melepaskan ciuman nathan.


"Sepertinya ada yang mencari kita, biar aku saja yang membukanya" Sesil hendak beranjak dari pangkuan nathan, namun dengan cepat nathan menarik tangan sesil hingga tubuh sesil kembali terduduk.


"Kenapa?" Sesil menaikkan satu alisnya


"Kenapa kau bilang? kau mau di lihat oleh orang dengan pakaian seperti ini?" Nathan menatap tajam ke arah istrinya, dan sesil hanya tersenyum pelik, pasalnya dia lupa kalau dia mengenakan ligeria.


"Tetap di sini, biar aku yang membukanya" Imbuh nathan.


"Menganggu saja" Nathan menggerutu lalu bangkit berjalan menuju pintu, saat pintu terbuka, nathan melihat yasmine berdiri di depan pintu. Nathan menatap tajam ke arah yasmine, nathan begitu kesal karena acaranya sudah di ganggu.


"Nath, maaf menganggu, ini ponsel sesil tertinggal di ruang tamu, dan sedari tadi terus berdering, takutnya panggilan telefonnya penting" Yasmine menyodorkan benda pipih yang tak lain adalah ponsel milik sesil.


Tanpa menunggu jawaban nathan, yasmine berlalu pergi dari hadapan nathan.


Nathan pun segera menutup pintu dan tak lupa menguncinya rapat-rapat.

__ADS_1


"Siapa?" Sesil melontarkan pertanyaan ke arah nathan yang baru saja kembali.


"Kenapa kau ceroboh sekali meninggalkan ponsel di ruang tamu hm?" Nathan menyodorkan ponsel yang di pegangnya ke arah sesil.


"He.." Sesil tersenyum pelik dan meraih ponselnya.


Sesil membuka kunci layar ponselnya, dan ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari papinya.


Karena memang sesil belum memberi kabar hari ini kepada papinya, sesil segera mengirim pesan singkat kepada papinya, supaya papinya tidak kawatir lagi.


"Dari papi" Sesil meletakkan kembali ponselnya di meja kecil samping tempat tidurnya


Sedangkan nathan terlihat kekesalan di wajahnya.


"Tidur saja lah,aku lelah" Nathan menjatuhkan dirinya di kasur kosong sebelah sesil, rasanya gairah nathan sudah hilang karena gangguan yasmine barusan.


Sesil hanya menggelengkan kepala saat melihat wajah kesal suaminya dan kini memejamkan mata di sampingnya.


Namun sesil yakin Nathan tidak tidur, sesil menggeser tubuhnya mendekat ke arah nathan, dan memeluk dada bidang suaminya.


"Kau marah karena papi mengganggumu?" Suara Sesil terdengar begitu datar di telinga nathan, membuat nathan langsung membuka matanya dan menatap ke arah sesil.


"Tidak sayang, bukan seperti itu" Nathan memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.


"Lalu?" Sesil memberanikan diri menatap mata suaminya.


Nathan diam saja tidak menjawab pertanyaan dari istrinya, dia melihat ada kesedihan di bola mata sesil.


Nathan kembali teringat saat sesil mengatakan dia memutuskan dean karena dean tidak suka sesil berakhir pekan menemani papinya.


"Bukan seperti itu sayang aku mencintaimu dan juga mencintai papimu seperti aku mencintai ayahku" Nathan mengecup mesra bibir sesil.


Awalnya hanya ciuman biasa, namun karena sesil membalas ciuman nathan dan lebih berinisiatif memulai ciuman yang panas, membuat gairah nathan tersulut kembali, nathan menindih tubuh sesil dan menciumnya dengan rakus, kedua tangannya juga sudah bergerilya di balik gaun milik sesil.


Nathan melepaskan gaun sesil, dan perlahan dia melepaskan semua pakaian yang melekat dalam tubuh sesil.


Tiba-tiba saja telefon rumah yang terletak di atas meja kecil berdering. Nathan dan sesil mengacuhkannya, karena mereka berdua sudah tenggelam dalam suasana panas yang mereka ciptakan.


Namun dering telefon tak hentinya berbunyi, membuat nathan menggeram dengan kesal.


"Shitt.." Nathan beranjak dari atas tubuh sesil dan meraih gagang telefon tersebut.


"Halo.." Suara nathan terdengar begitu tak bersahabat


"..."


"Apa? Kebakaran?? baiklah saya akan segera ke sana" Nathan meletakkan kembali gagang telefon di tempatnya, dan beranjak berdiri mencari baju ganti.


"Nath ada apa?" Sesil begitu keheranan melihat nathan yang terlihat begitu panik.


"Dapur resto terbakar sayang, ada satu tabung gas meledak" imbuh nathan sambil mengganti piyama dengan kaos oblong.


"Aku akan mengecek ke sana, kau tunggu di sini dan jangan kemana-mana sampai aku kembali" Nathan mengecup kening sesil, dan segera berlalu.


Tangannya meraih kunci mobil dan sebuah jaket di atas sofa.


Nathan segera berlalu keluar kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


Dia dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga, dan tak menyadari dave yang melihatnya saat dia berdiri di ambang pintu kamarnya.


Dave melihat nathan mengendarai mobil dan pergi dari resort.


Seketika dave membawa langkah kakinya menuju lantai dua, dua kini berdiri tepat di depan kamar tidur yang sesil tempati, dan perlahan tangannya terulur menyentuh knop pintu kamar tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Srayu baru sempat up, apa ada yang nungguin ya???


Bakalan slow up, soalnya srayu lagi banyak pikiran di kehidupan nyata, semoga tetap sabar menunggu up srayu🙏


Yang suka komentar nyinyir, sama srayu di block aja ya, maaf🙏

__ADS_1


dari pada bikin srayu tambah nggak mood nulis.


Hidup nyata sudah berat, jangan di tambah berat dengan komentar yang nyinyir😔*


__ADS_2