Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Memohon


__ADS_3

Bulir air mata mengalir semakin deras dari pelupuk matanya. Dia tak menyangka anak dalam kandungannya pergi sebelum sempat merasakan hangatnya sinar mentari pagi.


Sesil menghapus air matanya dengan telapak tangannya, dia ingin berusaha tegar seperti apa yang di ajarkan oleh papinya. Tapi sayangnya air matanya tak sejalan dengan keinginannya, meskipun Sesil berusaha menghapusnya tapi air matanya malah di rasa semakin deras mengalir di kedua sudut matanya, bahkan bantal yang di gunakan untuk menyandarkan kepalanya mulai basah terkena cairan bening itu.


Adibjo begitu iba melihat menantunya seperti itu, tapi di satu sisi dia bingung harus melakukan apa terhadap menantunya yang masih terlihat mengeluarkan air matanya.


"A-a-yah" Sesil berucap dengan sesenggukan, meskipun Adibjo hanya ayah mertuanya, tapi Sesil tau Ayah mertuanya begitu menyayangi dirinya. Ayah mertuanya sering mengirimkan berbagai makanan ke rumahnya, memberikan berbagai macam barang untuknya. Bahkan ketika ayahnya kembali dari perjalanan ke luar negri, ayahnya selalu memberikan oleh-oleh untuknya, bahkan bisa di bilang Adibjo lebih menyayangi dirinya ketimbang Nathan, terbukti dengan Adibjo bahkan kadang tak memberi putranya oleh-oleh dari luar negri.


"Ada apa nak?" Adibjo mengusap puncak kepala menantunya, dia begitu tak tega melihat Sesil menangis terisak-isak. Jika tau putranya akan menyakiti gadis ini, dulu dia mungkin akan melarang hubungan keduanya.


"Ayah, apa benar yang di katakan tante Kintani?" Sesil menggigit bibir bawahnya, sambil mengingat semua perkataan Kintani padanya


"Apa ini ayah penyebab Nathan berubah sikap pada Sesil? penyebab Nathan akan menceraikan Sesil ayah?" Sesil berkata dengan suara yang begitu lirih, hatinya terasa begitu sakit. Hari ini dia kehilangan anak dalam kandungannya, dan besok Nathan akan mengurus perceraian mereka bagaikan pepatah mengatakan '*Sudah jatuh tertimpa tangga pula'


"Anak itu keterlaluan sekali*" gumam Adibjo dalam batinnya, dia tak menyangka putranya sudah berlaku terlalu jauh dan begitu bodoh


"Ayah kenapa diam saja? apa semua itu benar?"


"Nak dengarkan Ayah, jika di sini ada yang harus di salahkan adalah Ayah. Semua ini terjadi karena ayah menutupi kematian dari adik ipar ayah. Bukan tanpa alasan Nak, kematiannya adalah Aib di keluarga kami, maka dari itu Ayah selalu meminta Nathan melupakan kejadian itu. Tapi sayangnya Nathan begitu bodoh hanya dengan satu sumber dia menilai permasalah ini hingga membuatmu harus terluka kembali" Adibjo menghela nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Kembali? Maksud ayah?" Sesil menautkan alisnya dan menatap ayah mertuanya yang wajahnya berubah menjadi murung


"Jadi adik ipar ayah adalah Mantan kekasih dari mendiang mami mu nak" Adibjo memejamkan matanya dan lagi-lagi menghela nafasnya serta mencoba menyusun kata-kata untuk menjelaskan semua kejadian di masa lampau. Kejadian yang sudah lama di kubur olehnya.


Setelah cukup tenang, Adibjo menceritakan semua kejadian yang sebenarnya terjadi, dari awal pertama Ayu dan Arik berpacaran, hingga mereka berdua terpisah saat menjelang hari pernikahan, Adibjo juga seakan tak mau menutupi apapun lagi dari menantunya dia menceritakan betapa kejamnya adik iparnya dan semua perlakuan adik iparnya terhadap Sesil dan seluruh keluarga Cornelio.


Sesil merasakan dadanya sesak luar biasa. Dia tak menyangka memiliki sejarah masa lalu yang begitu mengerikan dan masih berhubungan dengan Nathan.


Air mata Sesil perlahan mengering, dia mulai mencerna segala permasalahan yang menimpanya. Rahasia Tuhan begitu tak terduga, dan di balik semua masalah yang menimpa dirinya Tuhan selalu memiliki jalan penyelesaian yang terbaik, bahkan memberikan dia banyak sekali kelebihan yang tak di miliki oleh orang lain.


Tuhan sudah merencanakan dan menyusun semua jalan hidupnya dengan begitu berliku, tapi Sesil yakin Tuhannya hanya menguji seberapa mampu dirinya bertahan dan tetap bersyukur di setiap kejadian yang menimpa kehidupannya.


Sesil yakin Tuhan menjodohkan dirinya dengan Nathan pasti bertujuan untuk menghapuskan dendam dan kesalahpahaman yang terpatri di dalam hati Nathan selama puluhan tahun.


Adibjo merasa begitu lega sudah mengatakan semua kebenaran yang selama ini di simpannya hanya karena dia tak ingin menguak luka masa lalu.


Namun Adibjo di buat terkejut dengan ekspresi wajah menantunya yang malah terlihat begitu tegar, bahkan air matanya sudah tak mengalir lagi.


Adibjo mengira Sesil akan marah sama halnya seperti Nathan, karena kelurga suaminya lah yang sudah membuatnya terpisah dengan ibunya.


"Nak..?" Adibjo mengusap kembali pundak menantunya


"Kau baik-baik saja?"


"Ayah, Sesil baik-baik saja" Sesil menganggukkan kepala serta mencoba tersenyum agar tidak membuat ayah mertuanya merasa cemas

__ADS_1


"Apa kau tidak marah terhadap Nathan nak?"


"Untuk apa marah Ayah, kalaupun Sesil marah dan membalas apa yang Nathan lakukan terhadap Sesil apa itu ada gunanya? apa akan mengembalikan anak Sesil lagi?" Sesil berucap dengan sepenuh hatinya, bahkan ucapannya membuat Adibjo tercengang


"Ayah, kemarahan dan balas dendam tidak akan merubah apapun hanya akan membawa kita menuju jurang kehancuran. Semua itu sudah terjadi dan biarlah menjadi bahan pelajaran untuk kita semua, jangan sampai kita juga ikut melakukan hal yang sama. Sesil setidaknya lega, karena papi Sesil tetaplah papi Sesil yang membanggakan, papi Selalu mengajarkan Sesil untuk bijak menyikapi setiap masalah"


"Nak..." Adibjo terlihat berkaca-kaca mendengar jawaban menantunya yang begitu bijaksana bahkan setelah dia mengetahui semua masa lalu dan saat ini juga dia di sakiti oleh suaminya sendiri


"Kau pantas mendapatkan kebahagiaan nak, kejarlah kebahagiaanmu ! Ayah tidak akan membiarkan Nathan mendekatimu lagi atau bahkan dia berani menyakitimu. Ayah adalah orang pertama yang akan membunuhnya"


"Terimakasih Ayah sudah mencintai Sesil seperti putri ayah sendiri" Sesil menepiskan senyumnya menatap lelaki paruh baya yang duduk di sebelah ranjangnya, dia tak menyangka akan seberuntung ini mendapatkan mertua yang begitu tulus menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri.


"Ya sudah, ayah keluar dulu ya. Ayah akan mencarikan makanan untukmu" Adibjo berdiri dari duduknya dan berlalu keluar ruang dimana Sesil di rawat


Saat mendengar pintu terbuka, Nathan yang sedang duduk termenung di kursi tunggu langsung mengahampiri ayahnya yang baru saja keluar dan menutup pintu itu kembali.


"Ayah, bagaimana keadaan istriku?" Suara Nathan begitu terdengar cemas


"Istri kau bilang? bukankah besok kau akan menceraikannya? kau sudah tak pantas di sebut sebagai suami" Adibjo menatap putranya dengan tajam. Perkataan ayahnya begitu menohok hingga dia menutup rapat mulutnya. Wajahnya terlihat begitu frustasi. Bajunya sudah tidak rapih lagi, dua kancing baju bagian atas sudah terlepas, dasi yang di kenakan olehnya juga sudah berantakan, kedua lengan bajunya juga di gulung ke atas.


Adibjo begitu iba melihat kondisi putranya, tapi Adibjo tidak mungkin membiarkan putranya menyakiti gadis sebaik Sesil lagi.


Walau bagaimanapun kesalahan Nathan tidak bisa di tolerir lagi.


"Ayah biarkan Nathan menemuinya ayah, Nathan mohon" Nathan mengatupkan kedua tangannya di depan wajah Ayahnya, berharap Ayahnya memberikan dia izin menemui Sesil di dalam.


"Pergi dan cepat urus surat perceraian kalian ! Sesil berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu" Adibjo mendorong tubuh Nathan hingga terbentur dinding rumah sakit.


Sesil yang mendengar suara ribut-ribut menjadi bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi di luar? suara pria yang menurut Sesil di yakini milik suami dan ayah mertuanya.


"Mungkinkah Nathan datang kemari?" Sesil bertanya pada dirinya sendiri, dan seolah ingin mendapatkan jawaban Sesil berusaha untuk turun dari ranjang namun sayang sekali kedua kakinya seolah mati rasa dan tak bisa di gerakkan.


"Kenapa kakiku??" Sesil kembali mencoba menggerakkan kakinya namun sayangnya usahanya sia-sia saja, sedangkan suara orang bertengkar di luar semakin jelas di indera pendengaran Sesil, membuat Sesil terpaksa turun dari ranjang hingga terjatuh, bahkan infus yang terpasang di punggung tangannya terlepas begitu saja.


"Ah.." Sesil mendesis kesakitan merasakan pantatnya yang sakit terbentur lantai rumah sakit serta jarum infus yang terlepas begitu saja.


Semua rasa sakit itu lantas tak menyurutkan keinginannya untuk melihat keluar, dengan mengesot di lantai Sesil perlahan mendekat ke arah pintu, dengan susah payah akhirnya dia kini berdiri di dekat pintu dan dia pun langsung berusaha menyentuh knop pintu dan pintu itu terbuka sedikit, dengan usahanya akhirnya pintu itu terbuka dan Sesil begitu terkejut dengan pemandangan yang di lihatnya saat ini. Entah apa yang sudah terjadi suaminya sedang berlutut memegang kedua kaki ayah mertuanya dengan berlinang air mata.


Selama mengenal Nathan baru hari ini Sesil melihat Nathan seperti itu, menangis dan merendahkan harga dirinya sendiri.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Sesil kembali mengesot berusaha mendekat ke arah kedua pria yang terlihat sedang bersitegang


"Ayah, izinkan Nathan menemui istri Nathan ayah ! Nathan tau semua ini kesalahan serta kebodohan Nathan, tapi ijinkan Nathan masuk ayah! Entah bagaimana Sesil merespon nanti Nathan tidak perduli, bahkan Nathan bersedia memberikan nyawa Nathan demi mendapatkan maaf dari Sesil" Nathan menenggelamkan wajahnya di betis ayahnya, bulir air matanya semakin deras dan membasahi celana yang Adibjo kenakan saat itu.


Sesil begitu tercengang melihat adegan di depan matanya, hatinya begitu ngilu melihat Nathan melakukan itu semua. Baginya Tuhan menghukum Nathan dengan cara mengambil buah hati mereka saja sudah cukup menyakitkan.

__ADS_1


"Sudah bangun, mau kau bersujud hingga kiamatpun ayah tidak akan membiarkan gadis sebaik Sesil kembali bersama pria kejam sepertimu"


"Ayah..." Suara serak yang berasal dari mulut Sesil membuat kedua pria berbeda usia serta memiliki hubungan darah itu menoleh ke arahnya.


Adibjo melebarkan matanya saat melihat menantunya duduk di lantai dengan mata berkaca-kaca.


Nathan yang melihat istrinya duduk di lantai langsung melepaskan pelukan di kaki ayahnya dan berlari mendekat ke arah istrinya.


Dia menatap iba wanita yang sudah di buatnya menderita dan kini duduk di lantai mengenakan seragam rumah sakit dengan wajah yang masih pucat.


Bulir air mata Nathan menetes kembali dan langsung merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya dengan begitu eratnya.


"Maaf" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulu Nathan saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Maaf ya buat yang sudah kasih saran supaya Sesil membenci dan membalas Nathan. Srayu tidak bisa melakukan itu😭


Srayu tidak bisa merubah karakter Sesil menjadi antagonis. Sedari awal cerita srayu membuat karakter Sesil selalu bijak dalam menyikapi segala permasalahan yang menimpa.


So tapi kalian tidak perlu kuatir, meskipun Sesil tak membalas srayu jamin kok ceritanya akan tetap greget di hati pembaca😁

__ADS_1


Well, terus dukung srayu dengan cara Like,komentar dan vote ya😁


Peluk jauh dari srayu untuk kalian semua😘😍♥️🤗*


__ADS_2