
Sesil baru saja duduk di sofa ruang tamu papinya dengan membawa map berwarna merah di tangannya, sementara Swan masih berada di dalam kamar belum turun ke bawah.
Malam ini Sesil bertekad akan membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Di tengah rasa menunggunya, tiba-tiba terdengar deru mesin mobil parkir di garasi mobil papinya. Sesil masih bersikap setenang mungkin.
"Nak..?" Tiba-tiba suara Adibjo terdengar di ambang pintu ruang keluarga.
"Ayah sudah datang?" Sesil tersenyum menyambut kedatangan ayah mertuanya yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Kau kemari?" pertanyaan Swan di tujukan pada besannya yang juga tiba-tiba datang ke rumahnya.
"Tentu saja, putriku yang meminta" Jawab Adibjo santai, kemudian Adibjo terlihat menyodorkan paper bag ke hadapan Sesil.
"Nak, itu perhiasan keluaran terbaru, ayah sengaja membelikannya untukmu"
"Ayah tidak perlu repot-repot" Sesil merasa tak enak hati karena ayah mertuanya selalu memanjakan dirinya.
Tiba-tiba wajah Sesil berubah menjadi datar, pikirannya melayang entah kemana karena mungkin sebentar lagi perhatian Ayah mertuanya akan terbagi dengan Yasmine, begitupun perhatian Nathan juga akan di bagi dua. Ada rasa tidak suka muncul dalam benak Sesil, tapi secepat mungkin Sesil menepis pikiran kotornya.
"Ambilah Nak" tukas Adibjo
Sesil hanya tersenyum mengambil paper bag pemberian dari ayah mertuanya. Setelah melihat isi paper bag tersebut Sesil mengucapkan banyak terimakasih pada ayah mertuanya.
"Ayah disini?" Tiba-tiba suara Nathan mengejutkan semua orang yang duduk di ruang tamu.
Melihat semua orang berkumpul tiba-tiba nalurinya berkata akan terjadi sesuatu yang buruk hari ini. Karena Nathan sudah bisa membaca apa yang Sesil inginkan.
Dengan dipenuhi banyak pertanyaan, Nathan duduk di samping Sesil. Namun pandangan mata Nathan tersita pada map merah yang berada di tangan istrinya.
Melihat semua sudah berkumpul, Sesil menghela nafasnya, mengatur perasaannya dan menenangkan hatinya sebelum memulai berbicara.
"Ayah, Papi. Sesil mengajak kita semua berkumpul di sini karena ada hal penting yang harus Sesil sampaikan. Nathan akan menikah lagi dengan Yasmine teman masa kuliahnya"
Adibjo dan Swan melebarkan matanya mendengar ucapan dari putrinya. Mereka berdua tidak menyangka hal ini akan terjadi, terlebih lagi dalam agama memiliki dua istri itu di larang.
Nathan diam saja tanpa ekspresi, dia masih menahan emosinya menunggu apa yang akan istrinya katakan selanjutnya. Istrinya sungguh keras kepala dan tidak bisa di atur.
"Sayang, papi tidak salah dengar?" Swan menajamkan matanya melihat menantu dan putrinya bergantian
"Nak pikirkan lagi" Timpal Adibjo
"Papi, Ayah. Sesil sudah pikirkan matang-matang semua keputusan ini. Sesil tidak bisa memberi Nathan keturunan. Sesil bukan wanita yang sempurna Ayah, Papi. Jadi biarkan Nathan memiliki kebahagiaan yang utuh dari wanita yang sempurna" Ucap Sesil meyakinkan
"Kau ini sungguh keras kepala. Sudah ribuan kali aku katakan kalau aku tidak akan sudi menikah lagi dengan wanita manapun. Satu-satunya istriku ya cuma kau" Bentak Nathan yang sudah tak kuasa menahan emosinya.
__ADS_1
Tubuhnya begitu terasa lelah setelah seharian bekerja, di tambah hari ini istrinya bertingkah di luar nalar manusia.
Semua orang terdiam, Swan dan Adibjo menutup mulutnya rapat-rapat, membiarkan sepasang suami istri itu menyelesaikan perdebatan mereka.
"Aku sudah berbicara dengan Yasmine, dia sudah setuju menjadi istri kedua"
"Mau dia setuju atau tidak, aku tidak peduli dan bukan urusanku" Tukas Nathan.
"Kau tau bukan dalam agama kita memiliki dua istri itu di larang Tuhan? apa kau sudah lupa apa yang kita ucapkan di hadapan Tuhan saat hari pernikahan kita?" Imbuh Nathan lagi, "kenapa kau sangat keras kepala Sil? hanya karena menginginkan keturunan kau merelakan aku menikah lagi? banyak cara yang bisa kita lalukan, kita bisa adopsi bayi dari panti asuhan dan kita besarkan layaknya anak kita sendiri"
"Aku tau Nath memiliki dua orang istri di larang, tapi Tuhan juga pasti akan memahami jika keadaannya seperti ini. Tuhan maha pemaaf Nath" Sanggah Sesil
Nathan menghela nafasnya serta mengusap kepalanya dengan kasar, rasanya dia sudah tidak bisa menghentikan kemauan istrinya itu.
"Baik kalau kau masih tidak mau menikah dengan Yasmine atau wanita lain. Aku sudah tidak mau berdekatan denganmu lagi" Sesil menyerahkan map merah yang sedari tadi di pegang olehnya kepada suaminya.
"Apa ini?" Nathan menyipitkan matanya melihat map yang kini berada di tangannya, sementara Sesil beranjak dari sofa menuju kamar miliknya.
"Ada apa ini?" Swan dan Adibjo kompak menanyakan hal yang sama.
Namun seolah tidak perduli dengan pertanyaan dari kedua orang tuanya, Nathan membuka map tersebut dan matanya terbuka lebar, bahkan karena terlalu lebar sampai terlihat bola mata Nathan hendak keluar dari tempatnya.
Map yamg sedari tadi di pegang oleh istrinya ternyata sebuah kertas yang bertuliskan gugatan cerai yang di layangkan oleh Sesil padanya.
Dengan kasar Nathan membuka pintu dan menutupnya dengan sangat keras, membuat Sesil sangat terkejut dan melihat ke arah Nathan yang sedang berjalan ke arahnya.
Dengan kasar Nathan melemparkan map ke lantai, dia meraih Sesil dan menarik istrinya dengan kasar, tanpa berkata Nathan membawa Sesil ke atas ranjang dan mendorongnya dengan kasar ke atas ranjang.
Sesil begitu takut melihat kemarahan Nathan, tapi ini sudah menjadi keputusannya.
Nathan dengan brutal menyobek gaun yang membalut tubuh istrinya, begitu juga dia melepas dengan asal kemeja kerja yang masih melekat di tubuhnya.
Dengan membabi buta Nathan mencium bibir istrinya, bahkan bukan ciuman melainkan gigitan yang membuat bibir Sesil berdarah.
Dengan kalap Nathan memberi banyak tanda merah di leher istrinya. Sesil hanya diam saja pasrah dengan perlakuan kasar Nathan padanya. Hampir dua tahun menikah, baru kali ini Nathan bersikap sangat kasar ketika di atas ranjang, biasanya Nathan akan melakukannya penuh cinta dan kasih sayang.
Sesil merasakan sakit di area dadanya karena ulah Nathan yang menggigitnya dengan tidak berperasaan.
Puas bermain di area dada, Nathan kembali mencium bibir istrinya. Namun aktivitasnya terhenti saat dirinya melihat air mata Sesil mengalir dari sudut mata istrinya.
Nathan yang sadar akan kelakuannya langsung menjauhkan tubuhnya dari istrinya.
Dia duduk di tepian ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sesil masih terus menangis dan menatap iba suaminya yang duduk memunggungi dirinya.
__ADS_1
Sesil beranjak duduk dan langsung memeluk suaminya dari belakang. Sesil merasakan tubuh Nathan panas, sepertinya dia benar-benar marah.
Nathan menjauhkan tangan istrinya yang melingkar di perutnya. Kemudian dia berbalik badan dan melihat istrinya.
Nathan menatap sendu bibir istrinya yang pecah, leher jenjang Sesil terluka karena kebrutalan dirinya.
Perlahan Nathan menarik dagu Sesil lalu menatapnya dalam.
"Kau sudah yakin dengan apa yang kau inginkan?"
Sesil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah, jika ini keputusanmu dan bisa membuatmu bahagia aku akan melakukannya. Jika menikahi Yasmine membuat kau tetap berada di sisiku, aku akan melakukannya sayang" Suara Nathan terdengar begitu lirih di telinga Sesil, kemudian tiba-tiba saja Sesil merasakan kecupan di keningnya. Kecupan yang begitu lama, bahkan Sesil merasa keningnya tiba-tiba basah.
Sesil melepaskan kecupan kening Nathan dan menatap suaminya, ternyata Nathan menitikkan air matanya. Namun seolah tak ingin istrinya tau kesedihan hatinya, Nathan segera menghapus air matanya.
"Aku akan menikah lusa, biar semua di urus oleh Emilia" lanjut Nathan lagi, dia beranjak dari duduknya kemudian mengambil kemeja miliknya yang berada di lantai. Kemudian mengenakannya kembali.
Setelah berpakaian kembali, Nathan berlalu keluar kamar. Sedangkan Sesil masih terdiam di posisinya. Babak kehidupan baru akan segera dia jalani.
.
.
.
.
.
.
.
.
Percaya deh sama srayu, Srayu pasti selalu punya kejutan hehehe
Btw, Sedih sih kalau banyak yang unfav cerita Srayu, tapi ya sudah tidak apa-apa😁
Ikhlas kok Srayu, Karena Srayu selalu berpegang pada ide yang berada di dalam kepala😁
Tenang-tenang ya sayangkuh, jangan bertengkar😘
Kuatkan hati kalian🖤
__ADS_1