
Swan menatap kepergian putrinya dari kamarnya, putrinya terlihat lesu sekali, mungkin terlalu capek akibat penerbangan tadi siang dam kemacetan lalu lintas kota semarang, swan mengerutkan keningnya mengingat kepulangan sesil yang di antar oleh seorang pria, nampak tidak asing dari mobil yang di kendarai tapi swan belum tau siapa pemilik mobil tersebut, di tambah lagi sesil meninggalkan mobilnya di pemakaman dan lebih memilih pergi bersamanya.
Setau swan, putrinya tidak banyak memiliki teman, karena putrinya cukup tertutup dalam hal pergaulan, dan cenderung lebih malu seperti mendiang maminya.
"Lalu siapa dia? apa mungkin kekasihnya?" swan bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku akan menyelidikinya" sambung swan lagi, kemudian swan kembali menatap layar laptop dan melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Sesil berjalan keluar dari kamar papinya dengan gontai, perkataan papinya tentang dean membuat dirinya meragu, pasalnya papinya selama ini tidak pernah meminta apapun dari dirinya, berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu minta ini itu.
Sesil sangat ingin menolaknya, namun sesil tak sampai hati mengecewakan papinya, orang yang sangat di sayangi olehnya, yang sudah membesarkan serta merawat dirinya seorang diri.
Sesil berjalan menyusuri lorong lantai dua, karena letak kamar sesil tak begitu jauh dari kamar papinya.
Sesil membuka knop pintu kamarnya dan masuk kedalam, kemudian sesil menjatuhkan dirinya ke atas kasurnya, kedua matanya terpejam, dan anehnya wajah nathan muncul di dalam pikirannya, sontak sesil langsung membuka matanya dan menepuk kedua pipinya menggunakan kedua telapak tangannya.
"This is impossible, he is not my type !!!!! no, no ,no !!!!" sesil menggelengkan kepalanya.
Namun bayangan nathan kembali datang di hadapannya, seolah olah nathan sedang tersenyum menggoda dan mengedipkan matanya.
"Dia sungguh menyebalkan, kenapa bayangnya menghantuiku" sesil menggerutu dengan kesal dan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Sesil melepaskan bajunya dan menyalakan shower, sesil berdiri di bawah guyuran air shower yang membasahi sekujur tubuhnya.
Otak dan kepala sesil sedikit merasa lega, lebih dari satu jam sesil menghabiskan waktu di dalam kamar mandi.
Setelah selesai memanjakan diri, sesil mengenakan handuk kimono berwarna biru muda dan keluar dari kamar mandi.
Sesil berjalan menuju meja rias, kemudian dia mengambil hair dryer lalu mencolokkan ke dalam sakelar yang berada dekat dengan meja rias, kemudian sesil mengeringkan rambutnya yang basah.
Setelah rambutnya benar benar kering, sesil berganti baju dengan mengenakan kimono berwarna toska, kemudian sesil merebahkan diri di atas ranjang tidurnya, sesil mengambil tas slempang yang di bawanya tadi, kemudian merogoh ponselnya, namun ketika sesil mengambil ponselnya tak sengaja ada sebuah kertas kecil ikut terbawa.
Sesil membalikkan kertas tersebut dan matanya seketika melebar, ternyata kertas tersebut adalah kartu nama nathan.
"Kapan dia memasukkan kartu namanya ke dalam tasku" Sesil menyipitkan matanya mencoba mengingatnya, lama sesil berfikir namun sesil tidak menemukan jawabannya.
"Ah sudahlah ! biarkan saja" sesil kembali menyimpan kartu nama nathan ke dalam tasnya. Kemudian sesil membuka ponselnya, ternyata ada banyak sekali chat dan panggilan masuk dari sahabatnya imelda.
Imelda adalah anak angkat dari dyana dan dokter james, karena ketika mereka menikah, mereka cukup lama tidak di karuniai seorang anak, maka dari itu mereka memutuskan untuk mengadopsi imelda, imelda dan sesil hanya terpaut satu tahun, dan imelda lebih tua dari sesil.
Imelda kini sudah menjadi dokter ternama di kota bandung.
Sesil mencoba menelfon imelda, namun tidak ada jawaban, akhirnya sesil mengirim chat singkat kepada imelda.
__ADS_1
Imel, aku sudah sampai di indonesia, kapan kamu akan datang ke semarang √sesil
Sesil menguap beberapa kali menunggu balasan dari imelda, namun tak kunjung mendapat balasan, akhirnya sesil tertidur.
Keesokkan paginya, swan sudah duduk di meja makan memakan sarapannya, namun sepertinya putrinya belum bangun.
Swan tak tega membangunkan putrinya, sepertinya putrinya masih terlalu lelah.
Setelah memakan habis sarapannya dan meminum teh panas, swan bangkit dari kursinya, mengambil tas kantor dan menjinjingnya.
Kemudian swan berjalan keluar rumah, di depan pintu utama sudah terparkir mobilnya dan supirnya sudah menunggunya, setelah supir membuka pintu mobil dan mempersilahkan swan masuk, swan duduk di kursi belakang.
2 hour later...
Sesil mengerjapkan matanya akibat secercah sinar matahari yang masuk melalu celah celah jendela kamarnya, sesil mengumpulkan segenap kesadarannya dan duduk di atas ranjang.
Sesil mengacak rambutnya dan melihat ke arah jam dinding kamarnya. Seketika matanya terbuka lebar ketika mendapati jam menunjukkan pukul 09.00am.
"Ahhhh kenapa papi tidak membangunkan aku" sesil menggerutu dengan kesal dan berlari menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian kerja, sesil menuruni anak tangga dan berjalan keluar.
"Ah sial, aku lupa ! mobilku di bengkel" sesil menepuk kepalanya sendiri dengan telapak tangannya sendiri.
Kemudian sesil melihat ke arah garasi rumahnya, sesil malas sekali membawa mobil papinya yang terjajar rapih di garasi, semua mobil itu memiliki body yang besar, tidak sesuai dengan dirinya. Dengan terpaksa sesil menuju dapur untuk mencari supir pengganti, benar saja sopir pengganti sedang menikmati secangkir kopi yang di buatkan oleh bibi eun.
"Baik non" sopir tersebut kemudian meletakkan gelas kopinya dan berjalan menuju garasi mobil.
Sesil menunggu di depan pintu utama rumahnya, tak berselang lama supir tersebut datang, sesil dengan segera masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan, sesil meraih ponsel yang dia simpan di dalam tasnya, ada beberapa pesan masuk dari imelda dan papinya.
Setelah membaca pesan dari papinya, sesil meminta sopirnya mengantar ke cafe mawar yang terletak tak jauh dari kantor papinya, papinya bilang akan ada meeting di sana jam 10.30am.
Sesil melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya
"Semoga masih keburu" gumamnya lagi.
Mobil yang membawa sesil berhenti tepat di depan lobi cafe mawar, sesil dengan segera turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe tersebut.
Sesil menyapu ke beberapa sudut cafe namun tak melihat papinya, sesil kemudian meraih ponsel dan mencoba menghubungi papinya.
"Papi, ada di ruang vvip sayang, kemarilah" setelah mendengar jawaban dari papinya sesil memanggil salah satu karyawan cafe untuk mengantarnya menuju ruang vvip.
__ADS_1
Setelah sampai di depan ruangan, pelayan tersebut membukakan pintu untuk sesil, Terlihat swan sedang duduk dengan lelaki paruh baya, mereka berdua nampak sangat akrab mengobrol. Ketika pintu terbuka swan menoleh dan melihat putrinya berdiri di ambang pintu, kemudian swan melambaikan tangan ke arah sesil.
Sesil berjalan menghampiri papinya
"Nak, kenalkan ini tuan Wiradja dari Income properti" swan memperkenalkan rekan bisnisnya.
Kemudian sesil membungkuk memberi hormat dan menjabat tangan tuan wiradja"
"Halo tuan wiradja" sesil tersenyum ramah
"Halo nona sesil, panggil Pak wira saja" tuan wiradja membalas jabat tangan dari sesil, kemudian mereka bertiga duduk saling berhadapan.
"Maaf, kita belum bisa memulai meetingnya, kebetulan berkas yang di perlukan tertinggal, jadi aku sedang menyuruh putraku untuk mengantarnya" tuan wira merasa tidak enak terhadap swan.
"Tidak apa apa, kita malah bisa mengobrol santai" sambung swan lagi
Kemudian mereka bertiga membicarakan tentang prospek kelanjutan dari bisnis kedua perusahaan, sesil mendengarkan dengan seksama bagaimana cara papinya mendapatkan klien, namun seketika obrolan mereka berhenti saat pintu ruangan terbuka.
Sesil menoleh ke arah pintu dan matanya terbuka dengan lebar, sesil sangat terkejut dengan lelaki yang baru saja datang dengan membawa berkas di tangannya.
"Kemari nak" tuan wira memanggil putranya untuk bergabung bersama mereka.
"Dia lagi?" sesil mendengus dengan kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Maaf ya pems, srayu bakal slow up, soalnya srayu capek banget kerjanya🙏
__ADS_1
Daripada maksain nanti palah bakalan banyak typo, terus di demo deh😔
Semoga masih setia dengan cerita receh srayu ya♥️*