
Nathan dan Sesil baru saja menyelesaikan acara makan siangnya, kini sesil membereskan kotak makan dan memasukkan kembali ke dalam kresek.
Sedangkan nathan mengambil dua botol minuman dingin dan satu buah apel dari dalam kulkas kecil di dalam ruangannya, kebetulan stock buah hanya tinggal satu saja.
"Ambilah.." nathan menyodorkan sebotol minuman dingin dan satu buah apel ke depan sesil.
Sesil meraih botol minuman itu dan langsung meneguknya.
"Kau tidak suka apel?" nathan mengeryit heran karena sesil hanya mengambil air minumnya saja.
"Suka" jawab sesil
"Lalu ?" nathan menaikkan satu alisnya
"Kan hanya satu, jadi buat kau saja" imbuh sesil.
"Buat kau saja" nathan kembali menyodorkan apel tersebut, dan dengan mendengus kesal sesil meraih apel tersebut lalu menggigitnya, setelah satu gigitan, sesil menyodorkan apel itu ke depan mulut nathan.
"Ayo makanlah, kita kongsi.." sesil melebarkan senyumnya, sedangkan nathan diam saja tak merespon sesil sama sekali.
"Kenapa ? kau jijik makan apel satu berdua denganku?" seketika senyum sesil berubah menjadi manyun, sesil mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Siapa bilang?"nathan lantas langsung menggigit apel yang di makan sesil.
Seketika sesil tersenyum ke arah nathan, membuat nathan semakin gemas terhadapnya.
Kemudian mereka berdua saling bergantian menggigit satu apel hingga apel tersebut habis, setelah habis sesil benar-benar merasa kenyang.
Namun tiba-tiba telefon di kantor di meja nathan berbunyi, nathan dengan segera beranjak mendekati meja kerjanya dan mengangkat telefonnya.
"Halo..."
"..."
"Baik pi.." nathan lantas menutup panggilan telefonnya dan meletakkan kembali gagang telefon tersebut ke tempat semula, sedangkan sesil sedang menatap aneh ke arah nathan.
Kemudian nathan pun berjalan kembali mendekat ke arah sesil.
"Papi memintaku untuk membantunya mengecek keuangan kantornya, apa kau mau ikut ke sana?" tanya nathan.
Sesil nampak berpikir sejenak dan memutarkan bola matanya. Sebenarnya sesil malas untuk ikut, tapi di sana pasti ada sasha, dan sesil tau betul sasha sangat terobsesi dengan nathan, ada sedikit rasa tidak suka jika nanti sasha mencuri kesempatan untuk mendekati nathan, karena saat kemarin mereka menikah, baik nathan maupun papinya tidak mengundang sasha.
"Sil..!" Nathan kembali memanggil sesil, membuat sesil terbangun dari lamunannya.
"Baiklah aku ikut" seru sesil, kemudian mereka berdua menuju kantor Carnal Group.
***
Saat sesil dan nathan memasuki kantor Carnal Group, sapaan hangat terlontar dari setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka, bahkan sebagian dari mereka memberi ucapan selamat dan doa atas pernikahan mereka. Sesil dan nathan tak hentinya tersenyum kepada para staf yang begitu hangat menyapanya.
Bahkan tiba-tiba saja, sesil mengandeng lengan tangan nathan dengan begitu mesra.
__ADS_1
Kini mereka berdua memasuki lift menuju lantai tujuh belas tempat dimana ruangan Swan berada.
Setelah lift terbuka, nathan dan sesil berjalan beriringan menuju ruang swan.
"Kalian?" Suara sasha terdengar dari balik punggung mereka, membuat nathan dan sesil seketika membalikkan badannya.
"Ini kantor, jika anda ada keperluan dan ingin bertemu dengan pimpinan, di harapkan anda tidak membawa istri anda kemari" Ucapan sasha terdengar begitu menyentak di telinga nathan.
"Oh, atau sesil ingin menunjukkan Simpanannya kepadamu?" Sasha menarik sebelah sudut bibirnya dan tersenyum sinis ke arah nathan.
"Simpanan? simpanan apa?" sesil menyernyit heran mendengar penuturan sasha.
"Jangan dengarkan dia" Nathan mengajak sesil berlalu meninggalkan sasha, namun dengan segera tasya menarik tangan sesil
"Dasar wanita tidak tau malu, kau ini berani sekali membawa nathan kemari? apa kau mau meminta jatah proyek kepada simpananmu untuk membantu perusahaan nathan?" Suara sasha terdengar mengeras dan membuat keributan.
"Maksudnya?" Sesil menaikkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan ucapan sasha.
"Dia kira kau..."
"Sayang..?" Suara bariton Swan yang baru saja keluar dari lift membuat ketiganya menoleh ke arahnya, bahkan nathan tak lagi melanjutkan kata-katanya serta sasha juga langsung melepaskan cengkraman tangannya dari lengan sesil.
Nathan hanya tersenyum samar menantikan pertunjukan yang akan menghiburnya sebentar lagi.
"Papi..?" sesil tersenyum ke arah swan yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa sayang?" swan mengelus puncak kepala putrinya.
"Entah, sesil juga bingung pi..?" sesil menaikkan kedua bahunya.
"Sekretaris papi bilang simpanan-simpanan gitu, apa papi punya simpanan? atau sekretaris papi menanyakan simpanan uang?" sesil dengan polosnya bertanya ke papinya.
Swan menghela nafasnya dengan berat, dan sedikit memijat pelipisnya karena melihat kepolosan sesil.
Swan tau, pasti sasha mengira kalau sesil adalah simpanannya, karena tempo hari saat sesil datang kemari swan memanggilnya dengan kata sayang, Bahkan swan juga mengecup sesil di depan mata sasha.
Tapi di balik itu semua, swan tidak tau kalau sasha juga menyukai nathan menantunya itu.
Swan melirik tajam ke arah sasha yang berdiri mematung seolah menunggu eksekusi.
"Dia putriku, jadi jangan sekali-kali kau menghinanya, nanti saya tunggu surat pengunduran diri anda di atas meja kerja saya sepulang kerja, atau anda ingin di pecat secara tidak hormat dan tidak mendapat surat rekomendasi!" tukas swan.
Sesil seketika melebarkan matanya, sesil tak mengerti mengapa papinya bisa sekejam ini dan asal memecat orang. Walaupun sesil tidak menyukai sasha, tapi sesil tidak akan membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan.
"Pi, no ! sesil tidak setuju!" sesil menggelengkan kepalanya ke arah papinya, tapi sepertinya swan tetap pada pendiriannya.
Melihat papinya diam saja, sesil beralih menatap nathan yang sedang tersenyum senang penuh kemenangan.
"Nath.." sesil memlototkan matanya ke arah nathan.
"Baiklah, baiklah, pi lebih baik kita bicarakan masalah ini di dalam" nathan mencoba mengajak swan untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
"CEO, tolong beri saya kesempatan, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini" sasha mengatupkan kedua tangannya dan memelaskan wajahnya ke arah swan, sedangkan swan acuh tak acuh tanpa mau menatap wajah sasha.
Kemudian swan membuka pintu ruang kerjanya dan masuk terlebih dahulu ke dalam, kemudian sesil ikut menyusul papinya ke dalam.
"Pakai otak..!" Nathan menunjukkan jari telunjuknya ke samping kepalanya sendiri sembari tersenyum sinis ke arah sasha, dan nathan pun ikut masuk ke dalam ruang kerja swan dan menutup pintu rapat-rapat.
Sasha menghentakkan kakinya dengan kesal, kedua tangannya mengepal.
Rasanya sasha sudah tidak memiliki celah untuk bisa merebut nathan, sesil bukanlah lawan yang sebanding dengannya.
Sedangkan di dalam sana, sesil berkacak pinggang di samping papinya yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.
"Pi, papi tidak boleh memecat sekretaris papi, mba galuh kan lagi cuti hamil, nanti siapa yang akan membantu papi?" bujuk sesil.
"Nanti papi cari sekretaris baru" swan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari setumpuk map di hadapannya.
"Pokoknya sesil akan marah kalau papi memecat dia, karena sesil tidak suka membawa urusan pribadi kedalam pekerjaan"! sesil menghentakkan kakinya dan meninggalkan papinya.
Sesil menghempaskan tubuhnya di sofa tepat samping nathan.
"Baiklah, ini demi sesil, sudah jangan ngambek lagi" swan memijat kembali pelipisnya yang terasa pusing karena tingkah sesil.
Kemudian Swan meraih gagang telefon dan menelfon sasha.
Baru satu kali dering, sasha langsung mengangkatnya
"Saya beri anda satu kesempatan, jika anda berani menyakiti putri saya, jangan harap anda dan keluarga anda bisa menikmati sesuap nasi dengan nikmat" tanpa mendengar jawaban sasha, swan langsung memutus panggilan telefon dan meletakkannya kembali pada tempat semula.
"Yeay, papi terbaik" sesil berlari dan langsung mengecup pipi swan dan tersenyum lebar.
Sedangkan sasha semakin di buat meradang atas ancaman swan, sasha bersumpah akan menghancurkan rumah tangga sesil bagaimanapun caranya, tiba-tiba sasha memiliki sebuah ide cemerlang, sasha tersenyum senang, karena ide ini takkan mengotori tangannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Nggak ada yang kasih saran? nanti srayu pisahin nathan sama sesil loh😁 kalo udah pisah baru pada marah-marah, kaya season satu akhirnya sad, eh srayu di hujat.
oh iya, KASIH TERAKHIR season satu udah ada versi audionya loh, apa di sini udah ada yang dengerin ya*???