
Dean dengan brutal mulai melepaskan pakaian yang sesil kenakan, berawal dari jaket tebal yang membaluti tubuh sesil, dean mengambil gunting dan mulai merusaknya layaknya seperti seorang psikopat.
"Jika kau menurut sedikit saja, dan lebih menghargai usahaku untuk berubah, mungkin ini semua tidak akan terjadi" ucap dean sembari tangannya terus menggunting jaket yang sesil kenakan.
"Dean lepaskan, jika papiku mengetahui hal ini, sudah di pastikan seluruh keluargamu akan menderita" ucap sesil dengan isak tangisnya.
"Oh, tentu saja aku tidak akan sebodoh itu, setelah aku menikmatimu, akan aku bakar villa ini, satu-satu nya orang yang boleh memilikimu hanya aku, jika aku tidak bisa maka orang lainpun tidak bisa" seru dean, kemudian dean membuang gunting yang di pegangnya, karena jaket yang sesil kenakan sudah terlepas, kini tinggal piyama yang membaluti tubuh sesil.
Dean menarik sudut bibirnya sebelah, kemudian mulai melepas kancing piyama sesil satu persatu, sesil terus berusaha berteriak meminta tolong berharap ada orang yang mendengar jeritannya.
Sesil terus berusaha berontak hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.
Kini dean menduduki tubuh sesil dan memandangnya begitu penuh nafsu, piyama yang sesil kenakan sudah terlepas hanya tinggal pakaian dalam yang melekat di tubuhnya.
Dean mendekatkan wajahnya hendak mencium sesil, namun sesil meludah ke arah dean, hal tersebut membuat dean gelap mata dan mencekik sesil.
Lama-kelamaan pandangan mata sesil buram, dan rasanya sangat sesak, akhirnya sesil pun tak sadarkan diri.
Dean terus melancarkan aksinya saat sesil kini sudah pingsan di tangannya, dean mencoba membuka celana panjang yang sesil kenakan, namun sialnya tiba-tiba pintu ruangan villa tersebut di dobrak paksa oleh seseorang.
Sontak saja dean menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke belakang, masuklah nathan dengan wajah merah padam dan kedua tangannya mengepal.
Nathan melihat sesil yang sedang terkulai lemas pingsan di lantai, bahkan dean dengan tidak manusiawi duduk di atas perut sesil.
"Oh, ada pahlawan rupanya? kau datang untuk menyaksikan kekasihmu aku tiduri?" dean tertawa sarkas dan bangkit berdiri menghadap nathan.
Nathan tidak menanggapi ucapan dean, pandangan matanya hanya terfokus ke arah sesil yang memejamkan matanya, hati nathan berdesir hebat, rasanya dia benar-benar merasa bersalah karena sudah lengah menjaga gadis kecilnya, untuk kesekian kalinya nathan merasa selalu kecolongan dari dean.
Tanpa aba-aba lagi, dean langsung menyerang nathan, keduanya berkelahi cukup hebat, namun nathan dengan mudah mengalahkan dean, karena nathan memang menguasai dua cabang bela diri, yaitu judo dan karate.
Dean terkulai lemas dengan wajah yang membiru, rasanya nathan belum puas jika hanya melihat dean terkulai lemas begitu, mata nathan menyapu seisi ruangan mencari benda berat, nathan melihat ada balok kayu di pojok ruangan, nathan bangkit dari atas tubuh dean dan berjalan mengambil balok tersebut, nathan membawa balok tersebut ke arah dean, kini kaki kanan nathan menginjak perut dean, tangan kanan nathan terangkat dengan menggenggam balok kayu.
"Ampun nath, ampun" dean mencoba meminta ampun kepada nathan, namun sayangnya nathan sudah kehilangan akal sehatnya, semua bayang sesil yang sudah menderita, dan bahkan nathan pernah melihat di depan mata kepalanya sendiri gadis kecilnya di tampar tanpa rasa iba, semua berkecamuk di dalam pikiran nathan, tanpa basa-basi lagi nathan mengangkat balok kayu tersebut dan menghantamkannya ke kepala dean, membuat darah segar mengalir di sana.
Nathan menarik sebelah sudut bibirnya dan memiringkan kepalanya.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan, aku akan pastikan kau tidak bisa hidup tenang" nathan membuang balok kayu tersebut ke sembarang arah, Nathan kemudian berlari ke arah sesil, nathan melihat tangan sesil yang masih terikat tali, kemudian nathan terlebih dahulu melepaskan tali tersebut. Nathan seketika menelan air liurnya saat melihat tubuh bagian atas sesil yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Dan dengan cepat Nathan melepaskan swetter yang melekat di tubuhnya, nathan takut jika terlalu lama melihat sesil dengan kondisi seperti ini nathan takut tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, setelah swetter terlepas dari tubuh nathan, kemudian memakaikannya ke tubuh sesil, karena baju sesil sudah tidak berbentuk lagi.
Setelah swetter tersebut terpakai di tubuh sesil nathan terlebih dahulu mengambil ponsel sesil yang terjatuh di sofa. Setelah memasukkan ponsel sesil ke dalam saku celananya, nathan segera membopong sesil keluar dari villa tersebut, dan saat melewati dean, nathan mendengar suara dean meminta tolong padanya.
Nathan membopong tubuh sesil dan mendudukkannya di mobilnya, nathan meraih kotak obat dan mengambil minyak kayu putih untuk memberi perangsang supaya sesil cepat sadarkan diri.
Setelah nathan mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidung sesil tak lama kemudian sesil menggerakkan kepalanya.
__ADS_1
Nathan menarik nafasnya lega dan menepuk pipi sesil dengan perlahan.
"Sil..?" Nathan mencoba memanggil sesil, namun sesil malah histeris dan memukulkan tangannya ke sembarang arah
"Pergi !!! Don't touch me !" sesil terus berteriak histeris dengan mata yang masih terpejam.
"Sil buka matamu, ini aku nathan" Nathan mencoba meraih tangan sesil dan menggenggamnya.
Sesil yang merasa familiar dengan suara nathan pun perlahan membuka matanya.
Setelah memastikan bahwa itu nathan, sesil segera memeluk nathan dengan erat, bulir air matanya kembali pecah saat teringat dengan apa yang sudah dean lakukan.
"Tenanglah, kau aman bersamaku" nathan membalas pelukan sesil, bahkan nathan memeluk sesil dengan sangat erat, sesil hanya bisa menangis sesenggukkan di dada bidang nathan, bahkan kaos berwarna putih uang nathan kenakan kini mulai basah karena air mata sesil.
"Tenangkan dirimu sil, sudah ada aku di sini" Nathan mengusap puncak kepala gadis kecilnya, rasanya nathan bisa ikut merasakan apa yang sesil rasakan saat ini.
Cukup lama sesil menangis, kini sesil melepaskan pelukannya dari nathan, sesil menyandarkan dirinya di sandaran bangku mobil.
Nathan mengusap air mata sesil dengan kedua ibu jarinya.
Sesil meraba dadanya sendiri, dia baru menyadari kalau saat ini dia sudah mengenakan pakaian, yang sesil ingat terakhir kali ialah dean melepaskan kancing baju piyama yang dia kenakan.
Sesil memegang kedua buah dadanya dan sejenak melirik ke arah nathan yang sedang menatapnya.
"Aku sudah menyentuhnya.." nathan menarik sebelah sudut bibirnya, nathan memang sengaja ingin menggoda sesil, sontak saja sesil memlototkan matanya dan langsung menampar pipi nathan dengan telapak tangannya.
"Karena kau menyentuh hal yang seharusnya tidak boleh untuk kau sentuh" Seru sesil
"Aku hanya bercanda, kenapa kau serius menamparku" nathan mendengus dengan kesal, dan meraih ponselnya dari dashboard mobilnya, nathan menekan beberapa digit nomor, dan saat terhubung, ternyata nathan menelfon salah satu rumah sakit untuk meminta ambulan datang ke lokasi. Setelah nathan menyebutkan lokasinya nathan menutup panggilan teleponnya.
"Kau memanggil ambulan untuk siapa?" sesil mengernyit keheranan
"Untuk cacing di dalam rumah itu" Nathan menunjuk ke arah villa tempat sesil tadi di sekap.
"Dean maksudmu?"
"Ya, siapa lagi ! Aku tadi sedikit memukulnya, dan ya gitu lah, sedikit keluar darah, akan tidak menyenangkan jika dia mati dengan mudah, aku punya cara sendiri untuk menyiksanya hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri" Nathan menarik sudut bibirnya dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Kenapa kau bisa tau aku ada di sini?" Sesil kembali melontarkan pertanyaan ke arah nathan
"Dari GPS ponselmu, aku menyusulmu ke tempat kau berada terakhir kali saat share lock denganku, tapi kau tidak ada di sana, aku mencoba menghubungimu tapi aku tidak menjawab, awalnya aku mau menyusul ke villa papimu, tapi aku mencoba melacak ponselnya terlebih dahulu karena perasaanku tidak enak, dan benar saja kan firasatku tidak melenceng" Nathan mulai melajukan mobilnya meninggalkan villa dean.
Nathan mengarahkan mobilnya ke arah villa milik swan.
Dan saat mobil dean terparkir di halaman villa swan, terlihat swan sedang mengumpulkan beberapa anak buah.
__ADS_1
Dan saat sesil turun dari mobil, seketika swan membubarkan anak buahnya, dan berjalan dengan cepat menghampiri putrinya.
"Sayang, kemana saja? papi sangat menghawatirkanmu?" swan langsung memeluk sesil dengan begitu erat, swan takut kehilangan wanita yang dia cintai untuk kedua kalinya.
"Dean, hm hampir saja memperkosa sesil pi" sesil berucap dengan tubuh yang masih gemetar.
"Apa???" swan seketika melepas pelukan putrinya ,dan menatap kedua bola mata putrinya.
"Om lebih baik kita masuk, nanti nathan akan menjelaskan semuanya"
Kemudian mereka bertiga memasuki villa tersebut.
Dan saat sampai di ruang tengah, terlihat imel sedang menangis di pelukan dyana, imel benar-benar merasa bersalah karena sudah lalai menjaga sesil, saat melihat sesil memasuki ruangan, seketika imel melepas pelukan mamahnya.
"Sesil..." imel berteriak dan berlari menghampiri sesil, sesil hanya diam saja dengan wajah yang masih begitu pucat
"Sepertinya sesil masih shock, bisakah kau membatu om untuk memeriksanya?" pinta swan kepada imel, karena memang imel adalah seorang dokter, maka dengan segera imel mengajak sesil untuk masuk ke dalam kamar, dyana juga ikut mendampingi sesil, sedangkan james ikut bergabung dengan nathan dan swan mengobrol di ruang tamu.
Nathan menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
"Jadi begitulah om ceritanya, saya ingin mempercepat rencana pernikahan saya dengan sesil, bukan saya tidak percaya pada om, tapi jika kami sudah menikah, maka saya bisa mengawasi sesil selama 24jam non stop, adakan pernikahan yang sederhana saja, yang penting kami sah di mata Tuhan" imbuh nathan.
Swan seketika mencerna semua perkataan nathan, benar adanya bahwa jika sesil sudah menikah itu akan lebih aman untuknya.
Swan juga akan membawa kasus ini ke polisi, swan ingin setidaknya dean merasakan dinginnya jeruji besi. Baru setelah itu swan akan perlahan menyiksa dan mengambil nyawanya sebagai pembalasan atas semua sikap dean yang sudah membuat putri kesayangannya menderita selama ini.
Swan mengepalkan kedua tangannya, guratan kemarahan tergambar jelas di raut wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Komentarnya yang banyak dong pems