
Nathan masih asik melahap makanan yang sesil bawakan untuknya. Dan sesil pula masih duduk di tempat yang sama sembari menatap nathan yang memakan masakan dari dirinya, rasanya sesil sungguh senang karena nathan selalu menghargai apa yang di berikan oleh sesil.
"Kenapa kau melihatku seperti itu hah? Apa kau mau juga? No.. No.. ini makanan punyaku, jangan harap aku memberimu ya" Nathan menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri di depan wajah sesil.
"Aku mana suka makan daging, kau lupa?" sesil mengeryitkan dahinya
"Ingat, kau ini alergi daging kan, hm jadi ya sudah sama habiskan makananmu"
Kemudian sesil beranjak berdiri dari kursinya dan pergi dengan mulutnya menggerutu kesal. Dan nathan hanya terkekeh melihat tingkah gadis kecilnya, namun baru beberapa langkah sesil kembali membalikkan badannya dan kembali menghampiri nathan
"Ada apa lagi" suara nathan terdengar sengau, karena mulutnya penuh dengan makanan, sesil hanya diam saja, kemudian sesil mengambil laptop yang terletak di samping meja kecil samping tempat tidur nathan.
"Mau di bawa kemana laptopku sil" Seru nathan, namun sesil diam saja dan membawa laptop nathan ke arah sofa, kemudian sesil mendudukkan tubuhnya di sana dan meletakkan laptop nathan di pangkuannya.
"Jangan kau kacaukan laptopku, aku sedang membuat laporan kerja sama antara aku dan papimu, kau jangan mengacau" nathan berteriak kesal ke arah sesil dan di balas oleh sesil dengan menjulurkan lidahnya ke arah nathan.
"Sil, cepat kembalikan" Seru nathan kembali, bukan soal pekerjaan yang membuat nathan takut sesil membuka laptopnya, namun ada satu file yang berisi banyak foto sesil, nathan takut sesil mengetahuinya. Semua foto sesil di ambil oleh nathan tanpa sepegetahuan sesil.
"Diamlah, jangan cerewet ! Aku yang akan membuat laporan kerja ini, jika papiku berani menolak dan mengatai pekerjaanku jelek aku akan melayangkan surat pernyataan ngambek dan akan tinggal bersama opah dan oma, kau bilang saja jika papiku berani memarahimu" sesil berkata dengan sombongnya, seolah-olah dia benar-benar berani melawan papinya.
"Gadis kecil banyak gaya" imbuh nathan
"Apa katamu? Gadis kecil? aku ini sudah dewasa !!! yang seharusnya tumbuh juga sudah tumbuh!!!" Sesil memlototkan matanya ke arah nathan
"Memangnya apanya yang tumbuh?" nathan seketika menahan tawanya.
"Diam !!! Atau aku pergi" Sesil kembali melayangkan ancamannya, seketika nathan menjadi diam namun rasanya dia sangat ingin tertawa saat ini, tapi nathan takut sesil akan benar-benar marah dan pergi.
Sesil terlihat membuka layar laptopnya, dan mulai menyalakannya, saat layar desktop terbuka mata sesil lebar mendapati foto dirinya lah yang menjadi wallpaper layar laptop nathan, foto saat dirinya wisuda kemarin, sangat terlihat anggun dengan kebaya yang melekat di tubuhnya saat sesil memberikan pidato atas prestasi dirinya saat di wisuda tempo hari, sesil melirik ke arah nathan yang baru saja selesai menyelesaikan makannya.
"Ehm.." sesil berdehem namun nathan masih cuek saja tidak menghiraukan sesil
__ADS_1
"Nath, kau dapat fotoku dari siapa?"
"Foto apa"? nathan mengangkat alisnya dan beranjak turun dari ranjang menghampiri sesil.
Dan saat nathan sampai di sofa, nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, nathan lupa kalau wallpaper layar laptopnya foto sesil yang di ambil olehnya secara diam-diam saat sesil wisuda.
"Kenapa diam saja?" sesil kembali melayangkan pertanyaannya
"Katanya kau mau membantu aku mengerjakan laporan, kenapa bawel sekali hah" Nathan menarik laptopnya dari pangkuan sesil namun sesil menahannya.
"Jawab dulu" sesil kembali mendesak nathan.
Nathan memutar otaknya mencari jawaban namun nathan tidak menemukan alasan yang tepat atas jawaban sesil.
"Nath, halo?" sesil mengibaskan telapak tangannya karena nathan malah bengong tidak jelas
"Itu...." Nathan ragu-ragu melanjutkan kata-katanya, dan sesil semakin mengernyit keheranan
"Tak ku sangka kau penguntit" Terdengar nada ejekan dari kata-kata yang sesil katakan.
"Dari pada kau mengambil fotoku dengan sembunyi-sembunyi, sini aku berikan fotoku secara cuma-cuma" Sesil menyalakan kamera laptop nathan dan mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua.
"Ayo cepat pose" Sesil menarik nathan mendekat ke arah dirinya, kemudian mereka berdua melakukan beberapa pose, setelah beberapa kali mereka berpose, sesil mengganti foto wallpaper di layar laptop nathan, sesil tersenyum puas
"Begini kan adil" sesil terkikik pelan dan nathan pun melihat foto yang terpampang di layar laptopnya, foto mereka berdua yang pertama kali, nathan menarik kedua sudut bibirnya.
"Sudahlah, mana yang harus aku kerjakan" sesil membuka file-file nathan, dan nathan langsung mengarahkan sesil membuka file laporan yang baru setengah di kerjakan olehnya, kini sesil dan nathan asik mengerjakan laporan keduanya sembari sesekali nathan bersikap usil kepada sesil.
Setelah beberapa lama, laporan yang di susun sesil sudah selesai di kerjakan, sesil menyimpan file tersebut dan hendak membuka isi laptop nathan, namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka, masuk seorang gadis bermata cokelat dan memiliki lesung pipi di kedua pipinya.
"Nathan, bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Kenapa kau bisa di sini?" nathan mengernyit heran melihat gadis yang baru saja memasuki kamar rawat inapnya
"Aku datang bersama ayahmu, dan aku juga sudah mendapat pekerjaan di kota ini" sambung gadis bermata cokelat yang kini berdiri di hadapan nathan dan sesil, dan tak berselang lama lelaki paruh baya juga memasuki kamar rawat nathan.
"Ayah ? kapan kembali?" seru nathan
"Baru saja, tadi ayah mendengar dari pelayan di rumah kalau kau di rawat disini" Pak adibjo menatap ke arah sesil yang kini sedang duduk di samping nathan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1