Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Bantu Aku


__ADS_3

Keesokan paginya, Sesil bangun seperti biasa, dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri, meskipun sudah terhitung tiga hari Nathan bersikap acuh terhadapnya, namun semua itu tidak membuat Sesil lalai akan tugasnya. Pagi ini Sesil menyiapkan menu sarapan pagi yang sudah di buatkan oleh Bi Nung.


Setelah semua terhidang di atas meja, Sesil hendak berlalu dari ruang makan menuju kamarnya, namun baru saja beberapa langkah, tiba-tiba di langkah kakinya terhenti saat melihat Nathan sudah rapih dengan pakaian kerja seta tas yang di bawa di tangannya sebelah kanan.


Nathan masih terlihat begitu maskulin serta tampan di mata Sesil.


"Nak, jika kau laki-laki, mami harap wajahmu mirip dengan papimu sayang" Gumam Sesil dalam batinnya sembari tangannya mengusap perutnya, bibirnya pun mengembang sempurna.


Sedangkan Nathan memasang wajah datar dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan.


Tanpa melihat maupun mengajak istrinya makan, Nathan langsung mulai mengambil selembar roti dan mengolesi dengan selai stroberi kemudian memakannya.


Tidak butuh waktu lama, Nathan beranjak dari kursi dan berlalu dari Sesil yang baru saja duduk di hadapannya.


"Sabar Sil, ini ujian" Batin Sesil, bahkan tangannya terangkat dan mengusap dadanya naik turun.


^


Siang harinya, Sesil berniat berkunjung ke tempat Imelda bekerja. Karena hanya Imel satu-satunya orang yang bisa menghilangkan rasa sedih yang sedang melanda dirinya saat ini. Siang ini Sesil mengenakan mini dress selutut berwarna hitam. Menampakkan kaki jenjangnya yang begitu mulus.


Sesil siang ini mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit dimana Imel bekerja. Membutuhkan waktu sekitar 40menit lamanya, mobil yang Sesil kendarai memasuki pelataran salah satu rumah sakit. Setelah melepaskan Seat belt Sesil bergegas turun dari mobilnya dan masuk ke rumah sakit tersebut.


Sesil berjalan menyusuri lorong rumah sakit, hingga kini dirinya berhenti di sebuah ruangan dengan bertuliskan dr.Sarizha Imelda Louis.


tok..tok..tok...


Sesil mengetuk pintu ruangan Imelda. Berharap sahabatnya sedang tidak sibuk dan bisa menemaninya mengobrol barang sebentar saja.


"Masuk..."


Mendengar jawaban dari Imel, Sesil mendorong pintu hingga terbuka dan melihat ke arah Imelda yang sedang menatap layar laptopnya.


"Hai, gadis menyebalkan"


"Gadis bodoh" Imelda memutar bola matanya malas mendengar suara sahabatnya.


"Apa kau sibuk?"


"Kau lihatnya bagaimana?" Kedua mata Imel masih tetap menatap ke arah layar laptop yang berada tepat di hadapannya.


Sunyi


Sunyi


Suasana begitu sunyi, membuat Imelda mengernyitkan dahi dan mengalihkan pandangannya ke arah Sesil yang sedang duduk diam meliahat langit-langit ruangan tersebut, kepalanya terlihat menyandar di sandaran sofa.


"Ada apa??" Imelda beranjak dari kursi dan mendekat ke arah Sesil, kemudian dia juga ikut mendudukkan dirinya di sofa tersebut dan menatap sahabatnya.


"Sil? ada apa? katakan padaku?" Imelda mengusap bahu Sesil, Sedangkan Sesil malah melebarkan senyumnya berpura-pura kalau dirinya baik-baik saja.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukan mami mel" Jawab Sesil dusta.


Imel menghela nafasnya panjang, jika sudah menyangkut mendiang tante Ayu, dirinya tak bisa banyak membantu.


"Tante Ayu pasti sudah bahagia di surga Sil" Imelda kembali mengusap bahu sahabatnya, berharap sahabatnya sedikit tenang.


"Oh ya, bagaimana? apa Nathan sudah tau kau hamil? Pasti dia senang sekali kan?" Ucap Imel dengan nada yang begitu hebohnya.


Sesil hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Imelda. Dia tak tau harus menjawab apa. Karena hingga saat ini Nathan belum mengetahui perihal kehamilannya.


"Apa kalian bertengkar?" Tanya Imelda penuh selidik, karena Sesil nampak tidak antusias seperti biasanya saat membahas Nathan dengannya.


"Dia..."


"Dia kenapa? katakan!" Imelda menyipitkan matanya dan menatap Sesil dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan sama sekali.


Sesil nampak ragu hendak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Sesil bahkan jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena gerakan menggaruk kepala, membuat luka di siku tangan Sesil nampak begitu jelas di mata Imelda.


"Ini perbuatannya hah?" Seru Imelda dengan begitu kesalnya sembari memegang lengan tangan Sesil. Terdapat luka goresan serta membiru di siku tangan Sesil.


"Bukan" Kilah Sesil

__ADS_1


"Jangan berbohong ! dia berani memukulmu? akan aku laporkan dia ke kantor polisi" Imelda hendak beranjak dari kursi namun dengan cepat Sesil mencegahnya.


"Mel, aku bisa jelaskan! Tenanglah"


"Bagaimana bisa tenang hah? dasar lelaki bedebah" Seru Imelda dengan emosi yang sudah sampai pada batasnya.


"Ini semua karena Nathan mabuk, semalam dia pulang di antar oleh Sasha teman kampusnya dulu, dan sepertinya Nathan mengira aku ini Sasha saat hendak mebantunya berganti pakaian. Maka dari itu dia mendorongku" Imbuh Sesil lagi.


"Terus apa lagi hah? jangan bilang Nathan membawa wanita ****** itu ke rumah kalian?" Seru Imelda dengan berkacak pinggang di hadapan Sesil.


"Mana mungkin"


"Jangan berdusta, pria itu memang harus aku kasih sedikit ilmu"


"Ilmu apa?" Sesil mengernyitkan dahinya menatap ke arah imelda


"Ilmu hitam"


"Ilmu tambahan supaya dia bisa sedikit menghargai wanita" Imbuh Imelda lagi.


"Tidak perlu Mel, aku akan mencari tau semuanya sendiri, kau tidak boleh ikut campur masalah ini"


"Ya sudahlah, kau lanjutkan bekerja saja, aku pulang saja" Sesil meraih tas jinjing dan berlalu dari hadapan Imelda yang masih memasang wajah kesal terhadapnya. Bagaimana bisa sahabatnya di perlakukan seperti itu oleh suaminya dan dia diam saja.


Imelda berjalan kembali ke kursi kerjanya, dan tangannya mengetuk meja kerja. Dia nampak berpikir keras siapa yang bisa membantunya saat ini.


Semua keluarga Sesil sedang mengantar opah Kinos berobat ke Australia. Hanya tinggal Keandra saja yang masih berada di semarang menghabiskan masa libur sekolahnya.


"Ah..." Imelda tersenyum sumringah saat mengingat satu nama, Kemudian dia mencari di laman google nama seseorang.


Setelah mendapatkan alamat kantornya, Imelda melepaskan jas berwarna putih yang membalut tubuhnya, kemudian dengan segera dia keluar ruangan.


Mobil yang Imel kendarai berhenti di sebuah gedung perkantoran yang berlantaikan 7, gedung yang begitu megah tak membuat Imelda mengurungkan niatnya, dengan langkah pasti Imelda berjalan memasuki kantor tersebut dan berhenti tepat di hadapan resepsionis.


"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah seorang resepsionis


"Saya ingin bertemu dengan Dave Alberic"


"Apa nona sebelumnya sudah membuat janji dengan CEO kami?"


"Ba-bak Nona, mari ikuti saya" Resepsionis itu mengantar Imelda menuju lift dan menekan lantai teratas gedung ini. Sedangkan imelda tersenyum penuh kemenangan, karena hanya dengan mencatut nama Swan adalah jalan satu-satunya bisa bertemu dengan Dave secara mendadak.


"Maafkan Imel om, ini demi putri om"


Tak lama kemudian pintu lift berdenting dan terbuka, Sang resepsionis mengantarkan Imelda ke depan meja sekretaris Dave.


"Nona ini ingin bertemu dengan CEO" ucap resepsionis kepada sekretaris Dave yang sedari tadi melihat penampilan Imelda dari ujung kaki hingga kepala.


Imelda pun balas menatap ke arah sekretaris Dave, nampak Name Tag yang menggangtung di blezeer yang di kenakan olehnya


"Nona Bella, apa Dave ada?" Ucap Imelda dengan tersenyum ramah, sementara resepsionis yang mengantar Imel sudah kembali lagi ke lantai bawah.


"Memang Nona siapa? ada perlu apa?" Tanya Bella dengan nada yang sedikit tidak suka.


"Saya ada keperluan penting, jadi cepat panggilkan Dave"


"Tidak bisa Nona, CEO kami sedang tidak bisa di ganggu"


Imelda mendengus dengan kesal dan menerobos saja tubuh Bella yang menghadangnya sedari tadi, tanpa mengetuk pintu Imelda membuka pintu ruangan Dave. Dan Dave tak kalah terkejut melihat pintu ruangannya terbuka tanpa di ketuk.


"Dokter gadungan" Gumam Dave, Dave kembali menyelesaikan meeting yang di jalani lewat video call dengan rekan bisnisnya yang berada di Malaysia.


Dave mengangkat tangan mengisyaratkan kedua wanita yang kini berdiri di depan meja kerjanya untuk menutup mulutnya.


Hingga tak lama kemudian Dave mengakhiri meetingnya dan menutup laptopnya.


Dave mengalihkan pandangannya menatap ke arah Sekretarisnya.


"Maaf CEO, saya sudah melarang Nona ini, tapi dia tetap memaksa masuk"


Mendengar penuturan dari Bella, Dave mengalihkan pandangannya ke arah Imelda yang berdiri sambil memainkan kuku jarinya, nampak santai dan tidak punya rasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Keluarlah, pengacau" Imel mengusir Bella keluar dari ruangan tersebut, sedangkan Dave seketika langsung melebarkan matanya, dia tak mengerti apa yang Imel mau, sudah lama semenjak peristiwa mabuk itu dirinya tak pernah bertemu lagi dengan Imel. Tapi tiba-tiba saja Imel muncul dan datang ke kantornya.


"Nona yang keluar" Bella menarik tangan Imel dengan paksa


"Bella, keluarlah" Kali ini Dave yang berbicara, membuat Bella mendengus kesal dan dengan patuh dirinya berlalu keluar dari ruangan Dave.


Saat di rasa pintu ruangan Dave sudah tertutup kembali, Imelda tanpa di suruh langsung mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan langsung dengan Dave.


"To The Point, Temanmu sudah menyiksa istrinya, jadi aku datang kemari meminta bantuan terhadapmu untuk sedikit memberi pelajaran terhadapnya" lagi-lagi Dave di buat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Imel, rasa-rasanya tidak mungkin jika Nathan menyiksa istrinya, karena setau Dave, sahabatnya itu begitu mencintai Sesil.


"Tidak usah pura-pura terkejut, dari analisaku sepertinya Nathan marah terhadap Sesil tanpa alasan, bahkan dia sudah dengan sengaja di antar pulang oleh wanita ****** yang bernama Sasha"


"Sasha?" Dave mengulangi perkataan Imelda, takut-takut dirinya salah dengar nama


"Ya, pasti kau mengenalnya kan? Sesil bilang Sasha hanya teman satu kampus Nathan saja.


"Memang kami berkuliah di tempat serta jurusan yang sama, tapi Nathan tidak menyukai Sasha" Imbuh Dave


"Memang apa yang sedang terjadi di antara mereka? memang tempo hari saat aku berkunjung ke kantor Adigja Group, Nathan terlihat begitu frustasi, bahkan wajahnya juga tidak terlihat bersemangat" tukas Dave sambil mengingat raut wajah sahabatnya tempo hari


"Ya sudah ayo kita ke sana sekarang untuk menemui Nathan" Imelda beranjak berdiri dari kursinya, sementara Dave masih tak bergeming akan posisinya saat ini.


"Ayo, tunggu apa? tunggu sampai datang badai di musim semi hah?" Imelda berkacak pinggang serta menatap Dave begitu kesal


"Tapi ini bukan urusanku"


"Tapi ini urusanku sekarang, aku tidak suka melihat sahabatku bersedih dan lagi saat ini dia sedang mengandung, tidak baik untuk kandungannya jika dia terlalu setres"


"Kalau itu urusanmu, ya sudah uruslah sendiri, aku sedang sibuk" Dave terlihat membuka kembali laptopnya


"Kau ini satu-satunya sahabat Nathan yang ku kenal, jika bukan kau siapa lagi? aku tidak mungkin menanyakan langsung pada Nathan, dia tak akan memberi tahu apa masalahnya padaku" Imelda memelaskan wajahnya ke arah Dave, berharap lelaki di hadapannya bersedia membantunya kali ini, meskipun beberapa kali mereka bertemu selalu saja bertengkar tidak jelas.


"Apa kau tega, membiarkan anak yang di kandung Sesil lahir tanpa seorang ayah?" Bujuk Imelda lagi


Dave menghela nafasnya, dan merasa iba dengan apa yang di katakan oleh Imel. Kemudian Dave beranjak dari kursinya dan menarik tangan Imelda keluar dari ruang kerjanya.


"Bell, batalkan semu jadwalku hari ini" Perintah Dave kepada Bella, bahkan tanpa sadar Dave sedari tadi menggenggam tangan Imelda. Bella menatap tidak suka ke arah tangan Dave, namun seolah tidak menghiraukan Bella, Dave kembali menarik tangan Imelda dan mengajaknya masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke bestment gedung ini.


Sesampainya di bestment, Dave membuka pintu mobilnya dan menyuruh imelda masuk ke dalamnya. Tanpa banyak bicara lagi Dave mengarahkan mobilnya menuju kantor Nathan.


^


Dave berjalan seorang diri menuju ruangan Nathan karena Dave meminta Imel menunggu di mobilnya supaya Dave bisa leluasa mengobrol bersama Nathan nantinya,kebetulan sudah menjelang makan suasana kantor juga nampak sepi, satu persatu karyawan di kantor tersebut sudah pergi untuk makan siang.


Dave melihat pintu ruang kerja Nathan terbuka sedikit dan meja kerja Emilia sudah kosong.


Tanpa pikir panjang Dave hendak masuk ke dalam ruangan Nathan, namun niatnya di urungkan tatkala melihat Nathan sedang berbicara dengan seorang wanita yang memunggungi pintu masuk ruang kerja Nathan.


"Aku adalah orang yang selama ini mengirimkan banyak sekali petunjuk tentang kematian Arik yang berhubungan dengan keluarga istrimu"


Dave menutup mulutnya saking terkejutnya, dia tak menyangka kematian mendiang om Nathan berkaitan dengan keluarga dari Sesil. Mungkin ini yang membuat Nathan berubah sikap terhadap Sesil.


Tanpa mendengarkan lebih jauh, Dave kembali menuju parkiran mobil, rasanya dia sudah mendapatkan jawaban yang Imelda inginkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tebak, siapa yang lagi ngomong sama Nathan???? yang jawab benar, srayu kasih voucher pulsa 50rb hahhahaha


__ADS_2