
Pagi ini adalah akhir pekan, rasanya Nathan sangat malas untuk pergi keluar rumah, tapi bagaimana lagi karena baru saja Bram memberi dirinya kabar kalau terjadi sedikit masalah di proyek pembangunan mereka di Temanggung, jadi mau tidak mau Nathan terpaksa harus meninjau lokasi di sana sendirian meski sejujurnya Nathan enggan sekali meninggalkan anak istrinya di akhir pekan seperti ini.
Setelah sarapan pagi, Sesil mengantar Nathan ke depan bersama Kenzo.
"Sayang, papi pergi sebentar ya. Jangan nakal di rumah bersama mami" Nathan memberi banyak kecupan di wajah putranya yang masih memejamkan mata.
Meski Nathan mengecupnya sangat banyak tapi tidak membuat Kenzo membuka matanya, bayi mungil dalam dekapan Sesil hanya menggeliat beberapa kali dan kembali terdiam dalam tidur pulasnya.
Nathan begitu gemas melihat putranya yang sangat lucu. Setelah puas mengecup putranya, Nathan menegapkan kembali tubuhnya dan menatap Sesil dengan seksama.
"Sayang baik-baik di rumah, tunggu aku pulang" Nathan menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian pipi istrinya, mendapat perlakuan semanis itu di pagi ini rona merah mudah menyembul dengan sempurna di kedua pipi Sesil.
Meski usia pernikahan mereka sudah cukup lama, tapi setiap kali Sesil di perlakukan dengan romantis oleh suaminya membuat pipinya selalu saja merona merah. Mungkin ini yang di katakan jatuh cinta setiap hari kepada pasangan kita. Sikap Nathan selalu saja mampu membuat jantung Sesil berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Jagoan papi, papi titip mami sayang" Nathan membelai pipi putranya lalu berpamitan pada Sesil untuk berangkat kerja, karena supirnya sudah menunggunya sedari tadi.
Nathan naik ke atas mobil dan duduk di dalamnya kemudian kaca mobil yang di tumpangi oleh Nathan terbuka, terlihat Nathan melambaikan tangannya ke arah Sesil sebelum akhirnya mobil tersebut melaju meninggalkan area halaman rumah mereka. Setelah Yakin mobil yang membawa suaminya tak terlihat lagi, Sesil tak lantas masuk ke dalam rumah. Terlebih dulu Sesil mengajak putranya menuju taman minimalis rumahnya, Sesil ingin membawa Kenzo berjemur di taman, kebetulan panas matahari belum terlalu terik karena kebetulan waktu juga masih pagi.
Sesil menatap bayi mungil dalam dekapannya, rasanya dia tak percaya kalau dirinya kini sudah menjadi wanita yang seutuhnya, bisa melahirkan bayi seperti wanita pada umumnya meski setahun yang lalu dirinya di vonis susah mengandung tapi kuasa Tuhan lebih hebat.
"Terimakasih sayang" Sesil menundukkan kepalanya untuk mengecup Kenzo yang masih terlelap dalam gendongannya.
Sesil berjalan-jalan mengitari taman untuk menikmati bunga-bunga yang di tanam serta di pelihara olehnya. Warna-warni dari tanaman bunga miliknya begitu memanjakan mata, belum lagi harum wanginya di padukan dengan udara pagi s suguh dirasa sangat segar di indera penciuman Sesil. Berulang kali Sesil menarik nafasnya dalam-dalam untuk menikmati kesegaran udara pagi ini.
Cukup lama Sesil berjalan-jalan di taman bahkan hingga merasa sinar mentari mulai di rasa panas hingga membuat Sesil memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Terlebih dulu Sesil menitipkan Kenzo kepada Bi Nung karena Sesil berniat untuk membersihkan diri, Meski putranya masih terlelap tidur tapi Sesil tidak mungkin meninggalkan Kenzo sendirian, dia tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk pada putranya.
Setelah Bi Nung datang ke kamarnya, Sesil segera bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kembali, sebenarnya tadi pagi sebelum sarapan pagi Sesil sudah mandi, tapi karena keringatnya sungguh banyak setelah berjemur di taman akhirnya Sesil memutuskan untuk mandi kembali.
Hampir setengah jam berlalu akhirnya Sesil sudah menuntaskan aktivitas mandinya.
Setelah memoles sedikit wajahnya dengan make up, Sesil meminta Bi Nung untuk meneruskan kembali pekerjaannya, sementara Sesil berjalan mendekat ke arah Kenzo yang tidur di atas ranjang seolah menyadari kehadiran maminya, Kenzo kembali membuka matanya, bahkan terdengar tangisan dari bibir mungil Kenzo.
"Cup..Cup..Cup.. Sayang" Sesil hendak mengangkat tubuh putranya namun ternyata Kenzo mengompol, popok yang di kenakan oleh Kenzo terlihat basah.
"Anak mami mengompol rupanya" seru Sesil dengan begitu gemasnya, kemudian Sesil mengambil popok ganti di dalam lemari pakaian yang baru saja di beli olehnya untuk menyimpan semua perlengkapan Kenzo.
Setelah mengambil popok dari dalam lemari Sesil segera kembali ke ranjangnya untuk mengganti popok yang di kenakan Kenzo. Dengan telaten Sesil menggelap tubuh putranya yang basah karena air kencing dengan tisu setelah di rasa kering Sesil membalutkan popok yang baru saja di ambil olehnya.
__ADS_1
Tok..Tok..Tok..
Terdengar ketukan pintu kamarnya, membuat Sesil langsung mempersilahkan masuk orang tersebut karena Sesil tau kalau itu pasti Bi Nung.
Dan benar saja saat pintu kamar terbuka masuklah Bi Nung dengan tergopoh-gopoh.
"Nyonya, di depan ada truk dari jasa pengiriman barang. Kebetulan kurir mereka saat ini sedang menurunkan banyak sekali kotak kado, mereka bilang itu semua untuk tuan kecil"
"Kado? dari siapa Bi?" Sesil mengernyitkan dahinya serta wajahnya terlihat bingung.
"Saya tidak tau Nyonya, lebih baik Nyonya tanyakan langsung pada mereka biarkan saya sementara waktu menjaga tuan kecil di sini" imbuh Bi Nung.
Sesil terlihat menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, lantas dia segera turun ke bawah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Langkah kakinya terlihat begitu terburu-buru dan saat sudah sampai di halaman rumahnya Sesil melebarkan mata karena banyak sekali kotak kado yang sedang di turunkan oleh kurir tersebut.
"Tunggu..tunggu.." Sesil menghentikan aktivitas tiga orang kurir yang sedang sibuk menurunkan kotak kado dadi dalam truk
"Kalian ini menurunkan kado sebanyak itu dari siapa? apa kalian tidak salah alamat?" tanya Sesil sambil mendekat ke arah salah seorang kurir yang terlihat mendekat ke arah dirinya
"Nyonya kami dari jasa pengiriman barang, memang semua barang ini di tunjukan untuk keluarga anda" Kurir tersebut terlihat melihat kembali resi pengiriman yang dia pegang
"Benar nyonya, ini semua memang di kirim untuk keluarga anda" kurir tersebut menjawab dengan mantap
"Ini semua dari staf kantor di berbagai cabang perusahaan keluarga anda nyonya"
"Astaga" seketika Sesil memegang dadanya yang merasa sangat terkejut.
Sesil bahkan terlihat mengatur nafasnya yang tiba-tiba di rasa berat, dia tak menyangka akan mendapat kado kelahiran sebanyak ini dari para pegawai kantornya. Benar-benar sesuatu yang tak terduga. Sesil hanya bisa membiarkan para kurir membawa masuk banyak sekali kotak kado bahkan kali ini rumah Sesil penuh dengan tumpukan kado. Setelah semua masuk ke dalam ruangan kurir tersebut berpamitan pada Sesil namun sebelumnya sudah meminta tanda tangan Sesil sebagai tanda terima, dan sebagai ucapan terimakasih Sesil juga terlihat memberikan beberapa lembar uang kertas kepada ketiga kurir tersebut.
^
Sore harinya ketiga Nathan baru kembali bekerja, matanya begitu terkejut melihat di dalam ruang tamu terdapat banyak sekali tumpukan kotak kado berbagai ukuran dan berbagai warna.
"Itu semua dari para staf kantor kita di berbagai cabang" suara istrinya yang tiba-tiba terdengar di balik punggungnya membuat Nathan langsung memutar tubuhnya menghadap ke belakang
"Dari para staf?" tanya Nathan.
"Hm, bukan hanya dari para staf tapi ada juga kolega bisnismu yang mengirim kado serta bunga sebagai ucapan selamat atas kelahiran Kenzo"
"Astaga" Nathan menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Rumah kita jadi penuh dengan kotak kado" Sesil melipat tangannya di atas perutnya.
"Sudahlah sayang, tidak baik menolak rezeki. Itu tandanya mereka turut bahagia atas kelahiran Kenzo" Nathan berjalan mendekat ke arah istrinya dan langsung menyibakkan rambut panjang Sesil ke belakang punggungnya. Hingga kini leher jenjang nan mulus istrinya terlihat begitu jelas di kedua matanya.
"Dimana Kenzo? kenapa jagoanku tidak menyambut kepulangan papinya?"
"Kenzo baru saja tertidur, dia sepertinya kekenyangan meminum Asi" imbuh Sesil.
"Benarkah? jadi aku bisa sekarang bergantian dengannya, aku juga merindukan itu" pandangan mata Nathan menatap ke arah dada bagian depan istrinya bahkan kedua alis Nathan naik turun mengikuti senyuman di bibirnya.
"Astaga" seketika Sesil langsung mendorong tubuh suaminya menjauh darinya
"Haha, sayang aku hanya bercanda. Rasanya aku tidak tega memintamu untuk mengandung lagi. Proses melahirkan sangatlah mengerikan untukku. Aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti kemarin" Nathan maju beberapa langkah untuk mendekat ke arah Sesil.
Karena memang benar Nathan masih takut menyentuh istrinya saat ini, bagaimana tidak? Nathan melihat proses melahirkan Kenzo yang sangat menguras emosional jiwanya. Belum lagi selama sembilan bulan lamanya istrinya harus bersusah payah mengandung buah hati mereka. Maja tak ayal jika ada rasa takut tersendiri jika Sesil kembali hamil tidak menutup kemungkinan proses melahirkan yang dapat merenggut nyawa seorang ibu. Natha. tidak ingin hal buruk seperti itu terjadi pada istrinya. Memiliki Kenzo bagi Nathan sudah cukup untuk melengkapi keutuhan rumah tangga mereka.
"Tapi jika suatu saat Tuhan kembali menitipkan kepercayaan untuk aku bisa kembali mengandung tentu saja aku tidak akan menolaknya" tegas Sesil
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Ayo kita ke kamar aku sudah sangat merindukan Kenzo"
Nathan kemudian menggandeng tangan Sesil untuk menuju kamar mereka. Namun terlebih dahulu tentunya Sesil meminta Nathan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, kerena bau keringat Nathan lumayan menyengat karena memang hari ini Nathan meninjau proyek di lapangan dengan cuaca yang cukup panas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.