
"Halo nona sesil, ini berkas yang anda minta" Galuh sekretaris papinya membangunkan sesil dari lamunan panjangnya, rasanya hari ini waktu berlalu begitu cepat, sesil melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 03.00pm, beberapa jam ke depan sesil akan bertemu dengan pihak keluarga dean, rasanya sesil ingin sekali waktu berhenti saat ini juga.
"Nona?" Lagi-lagi galuh memanggil sesil
"Terimakasih mba galuh, saya akan cek berkasnya, dan mba bisa kembali bekerja" sesil tersenyum ke arah galuh sembari membuka map yang sudah galuh bawakan untuknya,sedangkan galuh berjalan meninggalkan sesil untuk kembali bekerja.
Sesil merogoh ponsel yang tersimpan di dalam tas kerjanya, sesil berharap nathan menghubunginya, namun ketika membuka ponsel sesil sedikit kecewa karena terakhir nathan menghubunginya kemarin saat sesil berada di boutique mencari gaun bersama dean, saat itu nathan meminta bertemu namun sesil mengacuhkan chat darinya.
Sesil memasukkan kembali ponselnya kedalam tas dan kembali melihat map berkas yang harus di cek olehnya.
Sedari pagi papi dan om nya sudah tidak berada di kantor, mereka sedang pergi meninjau beberapa proyek di sekitar kota semarang.
Sesil kembali memfokuskan diri ke beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa jam pulang kantor pun sudah tiba, satu persatu karyawan di kantor papinya mulai meninggalkan kantor tersebut, hanya tersisa beberapa yang harus lembur untuk membereskan pekerjaan mereka.
Sesil merapihkan berkas-berkasnya dan menyimpannya dengan rapih, kemudian sesil memasukkan barang pribadinya ke dalam tas kecil yang di bawanya.
Sejenak sesil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sesil menarik nafas dengan panjang untuk sedikit menenangkan dirinya yang saat ini sedang tegang untuk menanti makan malam nanti.
Setelah sedikit tenang sesil beranjak dari kursinya untuk segera kembali ke rumahnya.
🌷🌷🌷
Sesil berdiri mematung di depan cermin rias kamarnya, pasalnya saat ini dirinya sedang di make up oleh perias langganan keluarganya, sesil melihat pantulan dirinya yang nampak anggun, rasanya dandanan ini sangatlah tidak pas jika harus di sandingkan dengan dean, sepantasnya jika harus bersanding dengan dean sesil harus mengenakan pakaian serba hitam bahkan lipstik juga harusnya hitam.
Sesil menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran kotornya, sesil harus yakin kalau dean bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi,
ketika sesil sudah selesai di make up, sesil di bantu oleh beberapa asisten berganti pakaian, sesil mengenakan gaun berwarna cream di bawah lutut, sangat terlihat pas di badannya.
Namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, datanglah tantenya memasuki kamarnya, Rara sangat terpukau dengan penampilan sesil saat ini, begitu terlihat cantik dan anggun.
"Sayang, kamu sangat cantik" Rara mengelus pipi keponakannya tersebut.
"Terimakasih tante, tante bersama siapa datang kemari?" sesil melihat ke arah luar kamarnya, sesil tidak menyangka papinya akan mengundang seluruh anggota keluarganya
"Ada oma, opah ,om sean dan keandra sayang, mereka semua sedang menunggu di ruang tamu bersama papimu, ngomong-ngomong tante tidak menyangka kalau kekasihmu akan melamarmu secepat ini?" rara melebarkan senyumnya, turut berbahagia dengan acara malam ini, Rara mengira nathan lah yang datang melamar sesil malam ini
"Sepertinya Tante rara tidak tau siapa yang akan melamarku sekarang" gumam sesil dalam hatinya, sesil hanya tersenyum ke arah tantenya.
"Mom.." terdengar suara anak lelaki memanggil Rara dari luar pintu
"Wah, kak sesil sangat cantik seperti princess" imbuh keandra yang baru saja menimbrung mominya di dalam kamar sesil.
"Kalo kakak princess, kamu prince nya?" sesil mengedipkan sebelah matanya ke arah adik sepupunya yang sebentar lagi akan memasuki bangku kuliah. Keandra hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Kak, ayo , kita semua sudah menunggu kakak" seru keandra.
Kemudian mereka bertiga berjalan keluar kamar sesil, ketika mereka sampai di ruang tamu, semua keluarga inti sesil berdecak kagum dengan kecantikan sesil malam ini.
Tak berselang lama seorang penjaga rumah mengantarkan dean dan ayahnya memasuki kediaman rumah swan.
Kinos, anne dan rara kompak saling memandang, mereka tidak menyangka ternyata yang datang melamar sesil adalah putra dari Pak wira rekan bisnis swan.
Seketika Rara melihat ke arah sesil yang sedang duduk sembari meremas gaun yang dia kenakan.
Nampak sekali sesil tertekan dengan situasi ini, bagaimana mungkin swan tidak mengetahui kalau putrinya sudah memiliki kekasih.
Rara ingin sekali bertanya namun rasanya sudah terlambat, swan sudah mengajak mereka semua untuk menuju ruang makan.
Sejenak dean memperhatikan gaun sesil, bukan gaun yang dia pilihkan, dean nampak sedikit kesal karena sesil tidak memakai gaun pilihannya, namun rasa kesalnya sedikit berkurang melihat tampilan sesil yang begitu cantik malam ini, meskipun gaun yang di kenakan tidak seseksi gaun yang di pilihkan olehnya.
Kini mereka semua sudah duduk di meja makan, dean tak henti memandang wajah sesil yang begitu cantik, sebentar lagi sesil akan menjadi miliknya seutuhnya.
"Tuan swan, maafkan istri saya yang tidak bisa menghadiri acar ini, karena semua ini terlalu mendadak, sedangkan istri saya sedang ada pekerjaan di luar kota yang tidak bisa di tinggalkan, tapi istri saya menitip salam untuk seluruh keluarga besar anda" imbuh pak wira panjang lebar.
"Iya om, ini karena dean meminta acara ini mendadak jadi mama tidak bisa ikut kemari, tapi lain kali dean akan perkenalkan sesil ke mama dean"
"Tidak apa-apa, saya bisa memahami" swan menganggukkan kepala sembari tersenyum ke arah dean dan ayahnya.
"Mari silahkan menikmati hidangannya" swan mempersilahkan semua yang hadir untuk memulai acara makan malam, namun tiba-tiba terdengar keributan dari depan pintu seperti sedang ada orang yang bertengkar di depan sana, swan mengeryitkan dahinya, tiba-tiba datang seorang penjaga menghampiri swan dengan nafas terengah-engah dan sedikit ada luka memar di sudut bibirnya.
"Ada tamu yang memaksa ingin bertemu dengan tuan, padahal saya sudah katakan tuan sedan ada makan malam penting namun tamu tersebut memaksa ingin tetap masuk, dan beberapa penjaga sudah babak belur di hajar olehnya" Seru penjaga berseragam serba hitam dengan tubuh sedikit gempal.
"Katakan padanya...."
"Selamat malam" Sebelum swan mengucapakan kata-kata selanjutnya, sudah di potong oleh ucapan sapaan yang terlontar dari mulut nathan. Nathan berdiri tegap di dekat pintu masuk menuju ruang makan.
"Kak nathan?" sesil melebarkan matanya ketika melihat nathan berdiri di ambang pintu dengan stelan tuxedo yang membalut tubuh kekarnya.
"Tuan Nathan Adibjo?" Swan mengeryitkan dahinya karena merasa heran dengan kehadiran nathan yang membuat kekacauan.
Beberapa penjaga nampak menghampiri nathan dan memegang kedua tangannya hendak membawa nathan keluar dari ruang makan.
"Tunggu" Suara kinos menghentikan semua pejaga yang hendak menarik paksa nathan pergi.
"Ada apa pah? Swan menoleh ke arah papinya sembari mengangkat kedua alisnya.
"Sil...? bukannya menjawab pertanyaan swan, kinos malah memanggil cucunya.
Sesil hanya menundukkan kepalanya dan meremas jari jemarinya.
__ADS_1
Sedikit keringat mulai membasahi dahinya.
"Sesilia?" kinos kembali memanggil cucu perempuan satu-satunya. Kini sesil memberanikan mengangkat wajahnya menatap opahnya. Kinos hanya menganggukan kepala sebagai kode kepada sesil.
Sesil mengalihkan pandangan menatap nathan yang masih berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya di pegang oleh penjaga.
"Lepaskan dia, biarkan dia memberitahukan apa tujuannya datang kemari" kali ini Swan angkat bicara.
Kedua penjaga tersebut lantas melepaskan tangan nathan dan pergi meninggalkan ruang makan.
"Tuan Swan, maafkan atas semua kekacauan yang sudah saya timbulkan, bukan maksud saya untuk mengacaukan acara ini, tadi ketika saya sampai, saya sudah meminta baik-baik kepada para penjaga namun di tolaknya, akhirnya saya menggunakan cara kekerasan untuk bisa masuk ke kediaman anda" Nathan menarik nafasnya dengan panjang.
"Maksud saya kemari adalah, saya ingin mengutarakan sesuatu kepada putri anda, sesilia" Nathan menatap sendu ke arah sesil, kemudian nathan melangkahkan kakinya mendekat ke arah sesil, nathan berjongkok di depan sesil sembari memegang kedua tangan sesil
"Sesil gadis penjaga hatiku,hanya kau gadis yang mampu membuat malam menjadi terang dengan mimpi indah bersamamu, sudah ku simpan rapat-rapat rasa ini, sudah ku bunuh namun tidak mau pergi dan semakin membesar.
Apa kamu tau? bahwa ingin mengungkap namun tak bisa, itu rasanya perih tak tertahan lagi, dan semua perasaan serta hati yang ku punya hanya untukmu, dan cuma kamu, yang ku inginkan sederhana kita lewati kehidupan ini hingga ajal memisah, dan jika kamu punya rasa yang sama, bisa kah kita bersatu? bersatu dalam tali suci pernikahan?" Nathan menatap sendu ke arah sesil, Rasanya dia sudah benar-benar lega sudah mengungkapkan semua isi hatinya, isi hati yang selama ini sudah di pendamnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Baper pems?
__ADS_1
Srayu Baper banget, pingin dong di lamar *eh kok jadi Curhat hehehe
Tinggalkan like, komentar dan love nya😘*