Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Kekacauan


__ADS_3

Nathan masih duduk bersimpuh di hadapan sesil yang kini duduk di kursi tepat di hadapannya, kedua tangan nathan menggenggam erat kedua tangan sesil, kedua mata mereka saling memandang, sesil masih diam tak bergeming, dia benar-benar bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk nathan, pasalnya sesil saja tidak mengerti perasaannya sendiri, dia masih benar benar tidak tau hatinya memiliki rasa atau tidak untuk nathan.


Swan menyipitkan matanya menatap nathan serta putrinya yang asik saling memandang seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.


Swan kembali mengingat beberapa hari yang lalu saat putrinya datang ke kantornya hanya mengenakan piyama tidur, apa semua ini ada hubungannya dengan nathan? tapi bukannya tempo hari sesil dan nathan terlihat seperti dua orang yang asing tidak saling mengenal? bahkan nathan mengajak sesil untuk berjabat tangan? lalu sejak kapan mereka memiliki hubungan ini?


semua pertanyaan berputar-putar di kepala swan, rasanya dia benar-benar sudah kecolongan, dia tak menyangka putrinya sudah memiliki pilihan sendiri? Dan dirinya malah hendak menjodohkannya dengan orang lain.


Bayangan ayu kembali muncul, dia kini berdiri di belakang nathan dengan wajah yang terlihat kecewa, ayu menggelengkan kepala ke arah swan, belum sempat swan membalas gelengan kepala ayu.


Tiba-tiba saja dean beranjak dari kursi dan langsung menarik tangan nathan menjauh dari sesil, dean menarik baju jas nathan hingga kini nathan berdiri di hadapannya, tanpa basa-basi lagi, dean langsung melayangkan tangannya memukul pipi kanan nathan, sontak saja sudut bibir nathan mengeluarkan sedikit darah.


"Stop, hentikan" Swan rasanya tidak terima jika rumahnya di jadikan seperti ring tinju, apalagi mereka bertengkar memperebutkan putrinya.


Dean mengacuhkan omongan swan, lagi lagi dean memukul pipi nathan hingga kini nathan tersungkur ke lantai, nathan masih diam saja tidak melawan seperti biasanya.


"Bangun kau pecundang"! Dean berteriak sambil menendang perut nathan, sesil yang melihat nathan tersungkur hingga ke lantai tak kuasa menahan air matanya, hingga tubuhnya merosot ke lantai.


"Hentikan dean, sudah cukup" sesil mengusap air matanya sembari membantu nathan untuk bangkit, melihat hal itu dean semakin gelap mata dan tak bisa mengendalikan emosinya, dean melihat ke arah meja makan, nampak sebilah pisau buah terletak di keranjang buah yang tak jauh dari dirinya, dean mengambil dan ingin menghabisi nathan saat ini juga, rasanya dia sudah ingin meleyapkan nathan supaya tidak ada yang menganggu dirinya dengan sesil lagi, melihat dean mengarahkan pisau tersebut sesil dengan reflek memeluk nathan, namun nathan lebih sigap lagi, nathan membalikkan badan sehingga saat dean menusukkan pisaunya, terpat terkena pinggang kanan nathan, walaupun tidak terlalu dalam tapi darah segar keluar dari pinganggnya.


Nathan masih diam di posisinya memeluk sesil dengan erat, melihat nathan tak mau melepaskan pelukannya dari sesil dean mengarahkan kembali pisaunya untuk menusuk nathan, namun aksinya di gagalkan oleh sean yang langsung menendang tangan dean hingga pisau yang di pegangnya jatuh ke lantai hingga menimbulkan dentingan yang cukup keras.


Sean memlintir tangan kanan dean dan menguncinya di balik punggung, sean memanggil beberapa penjaga, saat penjaga datang sean langsung mendorong tubuh dean dan meminta penjaga mengusirnya.


Melihat ada yang terluka, keandra langsung menelfon ambulan supaya datang ke rumah milik Kakak sepupunya.


Pak wira yang sudah sangat malu dengan kelakuan putranya segera meminta maaf kepada keluarga besar Cornelio, setelah mengutarakan permintaan maaf atas kekacauan ini, pak wira segera pamit keluar rumah swan.


Pak wira mengepalkan kedua tangannya saking geramnya saat melihat dean masih berusaha melawan penjaga untuk menerobos masuk ke dalam.


"Stop dean" Pak wira semakin melebarkan langkahnya menuju dean, saat dirinya tepat berdiri di depan putranya "plakkkk" satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi dean


"Ayah kenapa menampar dean? apa salah dean ayah? dean hanya mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik dean" seru dean yang semakin tersulut emosinya


"Stop membuat keluarga kita malu ! ayo kita pulang" Pak wira segera menarik tangan dean untuk masuk ke dalam mobil, dean masih berusaha melawan ayahnya namun rasanya sia-sia saja, pak wira membuka pintu mobil dan mendorong tubuh dean dengan paksa memasuki mobilnya, lantas pak wira melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah swan.


Sementara di ruang makan, sesil nampak memangku kepala nathan di pahanya, air matanya mengalir begitu deras dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil" Nathan menghapus air mata sesil dengan ibu jarinya.


"Bertahanlah, ambulan akan segera datang" air mata sesil semakin deras mengalir di pelupuk matanya, rasanya dia benar-benar bersalah atas insiden yang menimpa nathan saat ini.


"Aku baik-baik saja" Nathan tersenyum ke arah sesil yang menatapnya dengan begitu sendu, bahkan bulir-bulir air matanya jatuh mengenai pipinya.


Tak lama kemudian terdengar sirine ambulan berhenti tepat di pintu utama rumahnya, beberapa orang yang berseragam putih segera membawa tubuh nathan memasuk ambulan.


Ambulan tersebut langsung membawa nathan ke rumah sakit, sesil tanpa ragu langsung masuk ke dalam ambulan dan menemani nathan.


Ketika sampai di rumah sakit, nathan segera di bawa ke ruang IGD, saat sesil hendak ikut masuk, langkahnya di hentikan oleh suster, sesil di minta untuk menunggu di luar ruangan.


Sesil dengan terpaksa menuruti suster tersebut, kini sesil berdiri mondar-mandir di depan ruangan IGD tersebut, tak berselang lama terdengar beberapa suara sepatu yang nyaring di lorong rumah sakit mendekati sesil,. seketika sesil menoleh ke arah sumber suara, terlihat Swan, Rara dan Sean.


"Bagaimana nathan sayang?" Rara orang pertama yang membuka suaranya.


"Masih di tangani dokter tan" Sesil tak ragu langsung memeluk tantenya, karena Rara sudah di anggap pengganti maminya, Hanya tantenya yang bisa memberi pelukan nyaman saat ini, kemudian mereka berempak duduk berjajar di depan kursi tunggu IGD, sesil terus meremas jari jemarinya, swan memperhatikan raut wajah putrinya.


Tangan swan terulur menggenggam tangan putri semata wayangnya, rasanya dia benar-benar merasa bersalah terhadap putrinya.


Sesil tak mengucapkan sepatah kata apapun kepada papinya, namun kepalanya bersandar di bahu papinya, setiap sesil butuh sandaran bahu papinya lah yang selalu terbuka untuknya, selama puluhan tahun ini. Sesil kembali berkaca-kaca, hatinya begitu merasa kalut, dia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada papinya.


"Maafkan sesil pi.. se-se-sil.."Sesil begitu sesenggukan ingin mengucapkan penjelasan kepada papinya, isak tangisnya kembali pecah.


"No dear, papi should apologize, this is all because papi didn't ask you first. Papi should be able to understand you better, you are not a child anymore, you can make your choices without interference from papi.


And yesterday, Papi just wants the best for you, and it was Papi's mistake that almost made you suffer


The best for papi, not necessarily the best for you dear" semakin mengeratkan pegangan tangannya.


Dan sesil semakin sesenggukkan menangis.


(Tidak sayang, papi harus meminta maaf, ini semua karena papi tidak meminta Anda terlebih dahulu. Papi harus dapat memahami Anda dengan lebih baik, Anda bukan anak kecil lagi, Anda dapat membuat pilihan tanpa campur tangan papi.


Dan kemarin, Papi hanya menginginkan yang terbaik untukmu, dan kesalahan Papi yang hampir membuatmu menderita


Yang terbaik untuk papi, belum tentu yang terbaik untukmu sayang)

__ADS_1


Tak lama kemudian dokter dan perawat keluar daru ruangan, seperti dugaan swan, nathan baik baik saja, kata dokter lukanya tidak terlalu dalam, dan kini nathan juga sudah bisa di jenguk ke dalam, dokter tersebut pamit untuk mempersiapkan ruang rawat biasa untuk nathan.


Sesil menarik nafasnya dengan begitu lega, kini sesil berdiri di ambang pintu, tangannya dengan ragu menyentuk knop pintu, belum terbuka sepenuhnya sesil kembali menoleh ke belakang, di belakang nampak om, tante dan papinya berdiri di sana, swan menganggukkan kepala sebagai kode untuk putrinya.


Setelah sesil masuk ke dalam, sean dan rara pamit untuk mengurus keperluan administrasi nathan.


Swan kini duduk seorang diri di kursi tunggu, swan menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit, matanya terpejam menyesali keputusannya menjodohkan putrinya, dan yang di maksud dari perkataan mendiang istrinya inilah jawabannya.


Tiba-tiba tangan swan merasa hangat, ada yang menggenggam tangannya dengan erat, sean membuka matanya, nampak ayu duduk tepat di sampingnya, ayu tersenyum ke arahnya.


"Sayang maafkan aku" Swan menatap mendiang istrinya dengan penuh penyesalan.


"Maafkan aku sayang, aku sudah gagal menjadi seorang papi yang baik, aku mungkin bisa mengerti isi kontrak kerja sama hanya dalam hitungan detik, tapi aku terlalu payah untuk mengerti perasaan putri kita" mata swan berkaca-kaca, hatinya begitu merasa bersalah.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Sayang tetaplah di sini, temani aku" swan mengeratkan pegangan tangannya, dan dia kembali memejamkan matanya, rasanya dia benar-benar lelah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


***Q&A PEMS..


kan banyak yang minta nathan berjodoh sama sesil, ngomong-ngomong nih, kalau sampai mereka nikah, kalian mau kondangan berapa sama srayu?????????😂😂😂***


__ADS_2