
"Aku adalah orang yang selama ini mengirimkan banyak sekali petunjuk tentang kematian Arik yang berhubungan dengan keluarga istrimu"
Nathan terlihat menautkan kedua alisnya dengan tajam, menatap wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya saat ini.
Awalnya Nathan ingin keluar mengisi perutnya, karena memang ini sudah waktunya makan siang, tapi tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang memberinya sebuah foto mendiang omnya.
Membuat Nathan mengernyitkan dahinya.
*Flashback off
Nathan terlihat menutup map yang berisi setumpuk pekerjaan. Perutnya sudah terasa begitu lapar, sedangkan Emilia sang sekretaris sudah terlebih dahulu pergi makan siang. Awalnya Nathan ingin Delivery saja, namun karena selama jam kerja bahkan hingga saatnya pulang kerja Nathan tak keluar dari ruangan, situasi itu membuatnya bosan dan membutuhkan angin segar, alhasil siang ini Nathan memutuskan untuk keluar mencari makan siang sembari mencari angin supaya tidak terlalu bosan di dalam ruang kerjanya.
Namun saat dia baru saja keluar ruangan dan menutup pintu dia begitu terkejut saat ada seorang wanita paruh baya menepuk pundaknya. Wanita yang di perkirakan umurnya tidak jauh dengan ayahnya itu memberikan sebuah amplop coklat, serta tersenyum simpul ke arah Nathan.
Nathan menautkan kedua alisnya dan tangannya membuka amplop pemberian dari wanita asing di hadapannya.
Dan betapa terkejutnya saat isi amplop tersebut berisi foto masa muda dari mendiang omnya.
Flashback on*
"Siapa kau?"
Bukannya menjawab pertanyaan Nathan, wanita tersebut malah menarik sudut bibirnya sebelah dan tersenyum kecut. Pasalnya selama puluhan tahun dia menghabiskan waktunya dengan tidak di akui oleh semua keluarga besar Adibjo, hatinya merasa begitu ngilu, bahkan dia harus kehilangan anak dalam kandungannya dan kehilangan suaminya.
"Siapa kau?" Nathan melontarkan pertanyaan yang sama kepada wanita tersebut dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kintani"
"Kintani Larasati" Imbuhnya lagi
Meskipun wanita tersebut sudah menyebutkan namanya tapi Nathan masih tak mengenal siapa wanita tersebut.
"Aku adalah Istri dari Om kau, Arik Prakasa"
"Istri??? Sejak kapan Om Arik menikah?"
"Hm itu tidak penting, yang terpenting kita memiliki tujuan yang sama, menuntut balas kematian orang sama-sama kita sayangi" Mata Kintani terlihat mengembang di penuhi buliran air mata yang siap tumpah kapan saja. Hatinya begitu ngilu mengingat kematian suaminya yang sangat tragis, bahkan wajah seta kepalanya di penuhi luka sobekan sebab pukulan benda tumpul.
"Tapi itu penting untukku, aku tidak percaya kau istri dari mendiang om Arik"
"Aku memang Istri dari Arik, kau pikir aku pembual hah? lalu kau pikir aku tau dari mana pass code brangkas yang berada di balik bingkai foto di solo hah?"
"Aku tau kau bukan orang yang bodoh, dan kau juga pasti bertanya apa hubungan antara Arik dan Ayu kan?"Imbuhnya lagi
"Dulu, Arik dan Ayu adalah sepasang kekasih yang hampir saja menikah. Namun saat Arik merintis karir di Semarang, dia bertemu denganku di suatu forum pertemuan brand ambazzador sebuah produk, perusaan Arik yang kala itu menjadi pemenang Tander Iklan kebetulan menghubungi managerku dan memintaku menjadi bintang iklan produk tersebut. Sejak saat kami menjalin hubungan kerja sama itulah tumbuh benih-benih cinta di antara kami, dan kami menjalin hubungan hingga aku hamil. Dan saat aku hamil, ternyata Arik masih belum memutuskan Ayu yang saat itu adalah kekasih yang di pacarinya sekian lama." Kintani menarik Nafasnya, mencoba mengatur nafasnya yang terasa begitu sesak, sedangkan Nathan diam saja dengan wajah yang begitu dingin tanpa ekspresi apapun.
"Hingga pada hari menjelang pernikahan Arik, dia baru memutuskan hubungannya dengan Ayu dan kami akhirnya menikah dan hidup bahagia, namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, semenjak Ayu hadir kembali atau lebih tepatnya Arik melihat Ayu tinggal di semarang dan ternyata menikah dengan rival bisnisnya. Arik yang merasa kesal karena selain Swan adalah rival bisnisnya juga ternyata menikah dengan wanita yang pernah mengisi hatinya. Timbullah ambisi Arik yang membuatnya menjadi menjauh dariku tanpa mau menceraikan aku hingga ajal menjemputnya"
"Jadi..?" Nathan merasa begitu tak sabar akan kelanjutan cerita dari Kintani
"Jadi, timbullah persaingan antara Carnal Group dengan Angkasa Entertainment saat itu, dan Swan lah yang membuat perusahaan milik keluargamu bangkrut, serta menyebabkan Arik meninggal di tangan Tasya wanita ular itu. Swan begitu hebat membuat skenario pembunuhan Arik tanpa mengotori tangannya sendiri"
"******** dan ular betina itu pantas mati" Ucapan Kintani terdengar begitu penuh amarah.
"Tasya sudah di bawa pindah ke luar negri oleh suaminya semenjak anak tiri satu-satunya meninggal dunia, jadi aku tidak bisa melakukan apapun padanya, sekarang tinggal Swan yang perlu kita leyapkan, tapi jika langsung membunuh Swan itu akan terlalu mudah, lebih baik kita siksa dulu dia lewat putri kesayangannya, Sesil" Kintani tersenyum penuh misteri, sedangkan Nathan diam seribu bahasa.
"Kau sudah memegang kendali penuh atas kepemilikan Carnal Group, ini adalah hal yang baik ! Kau bisa segera membuat Swan dan putrinya menjadi glandangan seperti yang pernah Swan lakukan kepada Arik. Membuat Arik jatuh hingga tak memiliki jalan kembali untuk bangkit, bahkan dengan begitu sadisnya Swan meleyapkan nyawa Arik seperti meleyapkan seekor semut kecil" Kintani melontarkan nada provokasi kepada Nathan.
"Tapi tidak dengan meleyapkan Sesil" Seru Nathan
"Kenapa? apa kau lebih mencintai Istrimu di bandingkan mendiang om yang sangat menyayangimu hah?" Hardik Kintani
"Mengusir seluruh keluarga Cornelio serta meninggalkan Sesil menurutku sudah cukup untuk membalas semua perlakuan mereka terhadap keluargaku" Tukas Nathan.
"Aku tidak bisa membunuh istriku Tuhan, meskipun aku membencinya tapi aku tidak bisa meleyapkan wanita yang aku cintai" Gumam Nathan dalam hatinya.
__ADS_1
"Urusan meleyapkan biar aku yang menjalankan, yang terpenting adalah melihat seluruh keluarga Swan menderita dulu, baru setelah itu aku akan membunuh Sesil dengan cara yang mengenaskan. Baru setelah itu aku merasa puas ! Aku tidak bisa bayangkan bagaimana Swan bisa menghadapi kenyataan pahit di tinggal putri semata wayangnya dengan cara mengenaskan" Kintani nampak diam berpikir dan jari-jemarinya mengusap dagu runcingnya.
"Baiklah, aku setuju" Kintani mengulurkan tangannya dan mengajak Nathan berjabat tangan, Namun bukannya membalas jabat tangan Kintani, Nathan hanya melihatnya saja tanpa berniat membalasnya sama sekali.
"Oh, baiklah" Kintani menarik tangannya kembali dan tersenyum simpul ke arah Nathan.
"Kau adalah keponakan dari suamiku, karena hingga Arik meninggal dia masih sah menjadi suamiku, maka kau tau kan aku tidak mungkin membuat keponakanku menderita? Aku hanya ingin orang yang membuat mendiang suami serta keluarga suamiku menderita mendapat ganjaran yang sama"
"Baiklah, aku pamit dahulu, jika kau membutuhkanku kau bisa menghubungiku di sini" Kintani menyodorkan sebuah kartu nama ke depan Nathan, kemudian dirinya mengenakan kembali kaca mata hitam di kedua matanya dan berlalu keluar dari ruang kerja Nathan.
Sepeninggal Kintani, Nathan mengepalkan kedua tangannya, saat ini dia benar-benar berada di posisi yang sulit. Namun pilihan sudah dia ambil, dan sepertinya dia akan segera menjalankan pilihannya tersebut, karena semakin lama Nathan bersama Sesil, itu hanya akan membuat hatinya merasa sakit. Kebencian dan Cinta sama-sama begitu besarnya di hatinya saat ini.
Selera makannya sudah hilang, perutnya juga sudah terasa kenyang.
"Shittt" Nathan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu beranjak dari duduknya menuju lemari pendingin yang berada di dalam ruang kerjanya, Nathan mengambil sebotol minuman soda dari dalamnya kemudian membuka tutupnya dan menenggak minuman tersebut hingga tandas.
Sementara itu Dave mengemudikan mobilnya kembali lagi ke kantornya, dia sedari tadi diam saja tak menghiraukan semua pertanyaan dari Imelda yang mencecarnya dengan banyak sekali pertanyaan, bahkan gadis cerewet itu masih tak henti bertanya akan hasil investigasi yang di dapatkan oleh Dave di kantor Nathan tadi.
Namun sikap diam Dave membuat Imelda berdecak kesal dan ingin rasanya dia menendang Dave saat ini juga.
"Cerewet sekali ! Diamlah" Seru Dave
"Jawablah, baru aku akan diam" Seri Imel tak mau kalah
"Kan aku sudah bilang, akan aku jelaskan setibanya di kantorku nanti ! kau ini wanita kenapa tidak sabaran sekali?" Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap mobilnya cepat sampai di kantornya agar dia tak mendengar lagi suara cempreng milik Imel yang bisa membuat gendang telinganya rusak.
Setelah menempuh perjalanan yang menurut Dave panjang, akhirnya mobil yang Dave kendarai sudah terparkir kembali di area parkir kantornya,tanpa menunggu Imelda, Dave langsung turun dari mobilnya dan berjalan mendahului Imelda yang juga ikut keluar dan berjalan mengikuti langkah kakinya.
"Tunggu" Imelda berlari mengejar Dave yang sudah jauh berjalan di depannya, namun tanpa Imelda sadari Dave berhenti mendadak membuat Imelda yang setengah berlari menabrak punggung Dave, Imelda kehilangan keseimbangan tubuhnya karena sepatu heels yang di gunakan olehnya patah sebelah akibat berhenti mendadak.
Namun dengan sigap Dave meraih pinggang ramping Imelda dan menumpunya supaya tidak jatuh. Bahkan jarak keduanya sangat dekat, mata mereka saling memandang satu sama lain.
Hingga sepersekian detik Imelda kembali tersadar
"Ah, kenapa kau melepaskan aku hah" Imel berkata dengan penuh kekesalan, lalu dia berusaha beranjak berdiri
"Kau bodoh atau bagaimana? kau sendiri yang meminta aku melepaskanmu, lalu sekarang kau menyalahkan aku hah?" Dave menautkan kedua alisnya menatap kedua mata Imelda yang melotot ke arahnya, bahkan gadis itu saka sekali tidak takut terhadapnya meskipun postur tubuhnya lebih kecil darinya.
Imelda mengangkat tangannya seolah-olah hendak mencekik leher Dave, tangannya terasa begitu gatal ingin mematahkan leher lelaki yang membuatnya merasa begitu kesal.
"Apa kau mau mencekik ku hah? coba saja !" Tantang Dave
"Tapi jika kau melakukan itu, kau tidak akan mendapat info apapun dariku" Imbuh Dave lagi sambil berlalu dari hadapan Imelda. Imel mendengus dengan kesal dan mengusap dadanya berkali-kali
"Sabar mel, sabar"
Imel mengejar kembali Dave yang kini sudah berdiri di depan pintu lift. Dave sejenak melirik ke arah gadis cempreng yang sedang berlari ke arahnya dengan terpincang-pincang akibat hak sepatunya parah sebelah.
"Astaga gadis itu" Dave menggelengkan kepalanya, dan saat Imel sudah berdiri di sampingnya, tanpa ragu Dave langsung berjongkok dan melepaskan secara paksa sepatu heels milik Imelda.
Setelah terlepas, Dave menjinjing sepatu Imelda di tangannya.
"Kembalikan sepatuku, aku malu jalan tanpa alas kaki" Seru Imelda dan hendak mengambil alih sepatu miliknya dari tangan Dave.
Dave mendengus kesal akan tingkah Imelda.
"Aku lebih malu lagi jika kau berjalan terpincang-pincang akibat sepatumu rusak sebelah" Tukas Dave sambil menatap tajam ke arah Imelda, namun bukannya takut Imelda memutarkan bibirnya dan menatap tajam pula ke arah Dave yang memiliki pastur tubuh lebih tinggi darinya.
"Ini semua gara-gara kau berhenti mendadak tadi, lagi pula aku sama sekali tidak malu mengenakan sepatu rusak sebelah, aku lebih malu berjalan tanpa alas kaki"
"Ah !! Cerewet sekali" Dave menggosok daun telinganya beberapa kali, lalu saat lift terbuka Dave mendorong paksa tubuh Imelda untuk masuk lift kusus CEO dan pintu lift tertutup kembali.
Saat pintu lift tertutup kembali, Dave berjongkok dan melepaskan kedua sepatu fantovel yang melekat di kedua kakinya itu. Dan kini Dave juga sama tidak mengenakan alas kaki di kedua kakinya.
"Sudah impas" Seru Dave, kemudian Dave terlihat menenteng sepatu miliknya dan milik Imelda di kedua pasang tangannya.
__ADS_1
Imelda melongo melihat tingakah Dave, baru kali ini dia merasa begitu di perhatikan oleh orang lain, bahkan Jie Sung saja belum pernah melakukan hal ini terhadapnya. Sikap Dave tersebut membuat pipi Imel terasa panas, lalu Imelda menundukkan wajahnya ke bawah dan menutup rapat-rapat mulutnya.
Dave mengernyit heran saat tak terdengar lagi celotehan dari mulut Imelda, sejenak dia melirik ke arah Imelda yang berdiri tepat di sampingnya, namun karena Imel lebih pendek darinya, Dave hanya bisa melihat wajah samping Imel yang tertutupi oleh rambutnya yang panjang.
Hingga tak lama kemudian Lift terbuka dan Dave tanpa menunggu Imel melangkahkan kakinya keluar, Sedangkan Imelda mengikutinya di belakang. Beberapa karyawan yang kebetulan memiliki kepentingan di lantai paling atas gedung ini, seketika menatap heran saat melihat pimpinan perusahan berjalan tanpa alas kaki, bahkan terlihat kedua tangannya membawa sepatu yang di yakini milik pimpinannya dan gadis yang saat ini berjalan di belakang Dave.
"Gadis itu berutung sekali" bisik salah seorang karyawati
"Pasti dia kekasih dari CEO kita" Timpal seorang karyawan lagi. Semua bisik-bisik mereka terdengar dengan jelas di telinga Dave dan Imel, namun Dave acuh saja tidak memperdulikannya sama sekali.
Dan saat tiba di ruang kerjanya, Dave melemparkan ke sembarang arah sepatu miliknya dan Imel, lantas dia mendudukkan tubuhnya di sofa.
Imel terlihat berdiri mematung di hadapan Dave.
"Duduklah" Mendengar ucapan Dave, Imelda mendudukkan tubuhnya hingga kini dirinya dan Dave duduk berhadapan.
"Sepertinya keluarga Sesil, atau lebih tepatnya Papi Sesil adalah penyebab kebangkrutan serta kematian dari Arik Prakasa om dari Nathan. Memang sudah sejak lama Nathan mencari tau siapa dalang di balik kebangkrutan perusahaan milik kakeknya, namun sayangnya ayah Nathan sama sekali tidak mau memberitahukan masalah ini padanya, dan kalau di lihat dari cara bicara wanita yang tadi berada di ruangan Nathan, bisa aku tebak wanita itu pasti memiliki hubungan dengan om Arik, atau bisa jadi wanita itu adalah Istrinya. Karena dari yang ku dengar wanita itulah yang memberitahu beberapa petunjuk kepada Nathan" Papar Dave panjang lebar.
"Maksudmu?" Imelda menaikkan kedua alisnya
"Maksudku adalah Nathan pasti akan menuntut balas atas kematian omnya, dengan jalan menyakiti istrinya sendiri..."
"Tidak, tidak boleh itu terjadi ! Sesil sudah menderita sejak kecil" Imelda memotong perkataan Dave begitu saja
"Dengarkan aku dulu !!!! Kenapa kau main memotong perkataanku begitu saja hah?" Dave memlototkan matanya dengan raut wajah yang begitu kesal
"Kita harus membantu mereka Dave, kau sahabat Nathan, dan aku sahabat Sesil. Maka kita harus membuat Nathan sadar dengan cara mencari tau kejadian sebenarnya, aku yakin wanita itu tidak menceritakan semua masalahnya pada Nathan" Imbuh Imelda lagi tanpa memperdulikan raut wajah Dave yang begitu kesal padanya.
"Itu bukan hal yang mudah dasar gadis cerewet"
"Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari orang yang mengetahui kejadian itu" Dave terdiam sejenak serta memikirkan langkah selanjutnya
"Mama dan Papaku pasti tau Dave, mamaku adalah teman baik dari mendiang maminya Sesil" Imelda berkata dengan begitu antusias.
"Tuan Adibjo juga pasti mengetahuinya bukan" Dave ikut tersenyum sumringah, bahkan dengan tidak sadar dia mengajak Imelda tos, keduanya melakukan tos dan tersenyum senang.
Kemudian keduanya mulai berdiskusi menyusun rencana mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Memperingati wafatnya Isa al Masih, semoga segala pengorbanan-Nya membawa keberkahan untuk para umatNya🙏
Karena jawaban kalian di eps sebelumnya tidak ada yang benar, maka tunggu Q&A selanjutnya ya😘
Tetap jaga kesehatan untuk kita semua, semoga wabah Corona cepat berakhir di negri kita tercinta🙏*
__ADS_1