Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Tentangmu


__ADS_3

Nathan masih diam saja tidak menjawab pertanyaan dari dean, raut wajah sesil semakin memucat.


"Kak nathan tidak tau hobi sesil? pasangan macam apa ini ? masa hobi pasangannya sendiri tidak tau" terdengar nada yang sangat sinis dari setiap ucapan yang terlontar dari mulut dean.


"Traveling" jawab nathan singkat, wajahnya masih terlihat datar dan tenang.


Sontak saja sesil menatap ke arah nathan, sesil tak menyangka nathan mengetahui hobinya, sesil tadi sudah sangat kuatir bila nathan akan salah menjawab pertanyaan dean. Sesil mengelus dadanya yang sedari tadi terasa susah bernafas akibat pertanyaan yang dean lontarkan.


"Ini pasti cuma kebetulan semata" dean menyemangati dirinya sendiri di dalam hatinya.


"Ada yang ingin di tanyakan lagi"? nathan menatap sinis ke arah dean yang masih terdiam.


Dean memikirkan pertanyaan yang sekiranya menyangkut diri sesil dan nathan tidak mengetahuinya.


"Apa phobia sesil?" dean mangajukan pertanyaan yang bahkan jawabannya dean tak mengetahuinya. Walaupun dean pernah menjalin kasih dengan sesil saat SMA, namun hubungan sesil dan dean tidak bertahan lama. Jadi dean hanya mengetahui sebagian dari diri sesil.


Kali ini sesil sangat tercengang, karena yang mengetahui phobia dari dirinya hanya keluarganya saja.


Sesil tak pernah menceritakan phobianya kepada siapapun karena sesil takut itu akan di jadikan senjata untuk menakutinya.


Kali ini nathan tersenyum ke arah dean, senyum yang bahkan sesil tidak tau artinya.


"Dean, nampaknya kau semakin terlihat bodoh di hadapanku, kau bertanya padaku phobia sesil?" nathan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, kemudian nathan tertawa terbahak bahak.


Sesil yang melihat nathan tertawa menjadi bingung, di sini tidak ada yang perlu di tertawakan, dan saat segenting ini nathan masih sempat sempatnya tertawa?


"Dasar aneh" sesil menggerutu dengan tidak jelas


"Ya benar dean memang aneh sil" nathan semakin keras menertawakan sesil.


Sedangkan sesil hanya bisa mendengus dengan kesal, yang di sebut dirinya aneh ialah nathan bukan dean.


"Bahkan kau saja tidak tau makanan kesukaan sesil, dan kau masih mempunyai muka untuk bertanya phobianya?" nathan sekatika menghentikan tawanya dan menatap tajam ke arah dean.


"Tidak usah berbelit belit, bilang saja kak nathan tidak tau kan"? dean membalas tatapan nathan dengan sengit.


Nathan menarik sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman arogan, kemudian nathan merangkul pundak sesil.


"Gadis kecilku phobia katak" nathan memandang wajah sesil dengan dekat, ingin sekali rasanya nathan membawa sesil ke dalam pelukannya dan menjauhkan dean dari hadapannya, nathan tak akan kecolongan lagi oleh dean seperti dulu.


Sesil membuka mulutnya saking terkejutnya, sesil tak menyangka nathan mengetahui semua tentang dirinya.


"Kita pulang sil, sudah malam" nathan bangkit dari kursinya dan meninggalkan beberapa uang kertas lalu menggandeng tangan sesil meninggalkan resto tersebut.


Dean yang melihat nathan pergi buru buru bangkit dan mengejarnya. Dean menarik tangan sesil dengan paksa.


Sontak sesil dan nathan menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Sil, sampai dunia kiamat kau tetap harus menjadi milikku, tidak ada satu orang pria pun yang berhak atas dirimu"


Nathan menghempaskan tangan dean dari tangan sesil, tangan nathan mencengkram kemeja baju dean "Satu centi saja kau berani menyentuhnya, akan aku pastikan namamu hanya tinggal kenangan"


Nathan mendengus dengan kesal dan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju dean.


Sesil yang mendapat perlakuan kasar dan ancaman dari dean menjadi sedikit gemetar. Tangannya mengeluarkan keringat dingin.


Nathan yang mengetahui hal itu, menggenggam tangan sesil dengan erat dan membimbing sesil menuju parkiran mobil.


Nathan membuka pintu mobil dan mempersilahkan sesil untuk masuk.


Sesil kembali mengingat masa kecilnya yang sering mendapat perlakuan kasar dari tasya.


Sesil kini duduk di kursi samping nathan.


Nathan masih belum menjalankan mobilnya, nathan mengambil air mineral dari dalam dashboard mobilnya dan membuka tutup botol lalu menyerahkan ke sesil.


"Minumlah" nathan menatap tak tega ke arah sesil.


Sesil menerima botol air mineral yang nathan berikan, lalu meminumnya.


Sesil menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya perlahan, sesil melakukan itu beberapa kali hingga sesil merasa hatinya benar benar sedikit tenang.


"Terimakasih kak" Sesil menyerahkan kembali botol minumnya dan menoleh ke arah nathan yang masih memperhatikan dirinya, suara sesil kali ini terdengar sangat datar di telinga nathan.


Sesil hanya menganggukkan kepalanya dan menatap keluar jendela, sesil memperhatikan dean yang menatap ke arah mobil dimana ada dirinya dan nathan.


Nathan kemudian menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya meninggalkan area resto.


Jalanan nampak cukup macet, dan sepanjang perjalanan sesil hanya terdiam saja menatap keluar jendela. Sesil kembali mengingat semua perlakuan kasar dean saat sesil memutuskannya.


Bahkan dean sering datang ke sidney hanya untuk menterornya.


Sesil tidak mungkin memberi tau papinya soal ini,sesil tidak mau membuat papinya menjadi cemas.


Meskipun jika papinya tau, papinya bisa menghilangkan dean dari muka bumi ini, namun sepengetahuan sesil, perusahaan keluarga dean adalah mitra bisnis dari papinya. Maka dari itu sesil tidak mau menghancurkan kemitraan bisnis papinya hanya karena masalah pribadinya.


"Sil..? nathan mencoba memanggil sesil.


"Ya kak" sesil menoleh ke arah nathan.


"Di sini hanya ada kau dan aku, jadi kau tak perlu secanggung itu denganku, kau bisa memanggilku seperti biasanya" nathan berusaha mengalihkan pikiran sesil supaya tak memikirkan dean.


Sesil hanya tersenyum masam ke arah nathan dan kembali memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.


Nathan berpikir keras bagaimana caranya menghibur sesil.

__ADS_1


"Apa kau masih menyukainya"? nathan mulai memancing emosi sesil.


"Aku"? sesil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Tidak sudi, untuk apa aku menyukai pria semacam dean, cihh" sesil mengungkapkan isi hatinya dengan menggebu gebu


"Oh, lalu mengapa kau terlihat galau seperti itu hah?"


"Kau, bisa tidak jangan menyebalkan sehari saja !!!! sudah tau aku tidak menyukainya, kenapa kau malah membahasnya hah"? sesil melipat kedua tangannya di atas perut.


"Lalu kau menyukai siapa? aku?" nathan menaik turunkan kedua alisnya menggoda sesil


"Hahaha" sesil menertawai ucapan nathan.


"Bahkan hobimu saja aku tidak tau, bagaimana bisa aku menyukaimu hah? atau jangan jangan kau yang menyukaiku kan ?"


"there's no way I like a shitty girl like you, ugly, fussy anymore" nathan menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri


"oh ya??????? masa ???" sesil menyipitkan kedua matanya menatap sengit ke arah nathan.


"Yes, it is true" nathan memutar bola matanya malas.


"Tapi nyatanya kau tau hobiku, phobiaku juga!"


Kali ini ucapan sesil sukses membungkam mulut nathan, nathan tak bisa lagi berkelit. Pasalnya memang nathan mencari tau semua tentang sesil, bahkan secara diam diam nathan sering membantu sesil ketika ada masalah di kampus tanpa sepengetahuan sesil.


Nathan juga sering diam diam mengirim makanan untuk sesil ketika sesil sedang merasa sedih dan tidak keluar dari tempat tinggalnya di sidney. Bahkan Ketika nathan sudah lulus dan kembali ke indonesia untuk mengurus bisnis ayahnya, nathan masih diam diam rutin mengunjungi sesil di sidney setiap bulannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2