Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Cinta Abadi (Tamat)


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya Sesil sedang membantu Nathan mengenakan dasinya, sementara Kenzo sedang mandi di dalam kamar mandi, Kenzo memang sudah tidak mau di mandikan lagi oleh maminya semenjak dia masuk taman kanak-kanak.


Tiba-tiba saja ponsel milik Nathan berdering, membuat Nathan berdecak dengan kesal karena sepagi ini sudah ada yang menghubunginya.


"Tunggu sebentar sayang, aku akan mengangkat telefonnya dulu" seru Nathan lalu berjalan menuju ranjang dan meraih ponselnya yang terletak di atas ranjang tersebut.


Nathan terlihat mengernyitkan dahinya saat melihat nomor rumah milik papi mertuanya menghubungi dirinya. Nathan menggeser icon berwarna hijau ke samping lalu mendekatkan benda pipih tersebut ke samping daun telinganya.


"Halo"


"..."


"Baik, aku akan ke sana" Tanpa menunggu jawaban dari orang di balik ponsel miliknya, Nathan berusaha setenang mungkin menjaga ekspresi wajahnya supaya tidak ketahuan oleh Sesil.


"Siapa sayang?" tanya Sesil saat melihat suaminya kembali mendekat ke arah dirinya.


"Papi, papi minta kita ke sana sekarang. Papi ingin sarapan pagi bersama, di sana juga om Sean sekeluarga sudah menunggu" Nathan berusaha menepiskan senyumnya


"Benarkah?" tanya Sesil curiga.


"Cepatlah panggil Kenzo, hari ini dia tidak usah ke sekolah dulu karena sepulang dari rumah papi, aku mau mengajak Kenzo untuk bertemu dengan dokter gigi"


"Dokter gigi?"


"Iya, aku lupa kalau beberapa hari lalu aku sudah membuat janji dengan dokter gigi anak untuk memeriksa kondisi gigi Kenzo"


Saat melihat Kenzo keluar dari kamar mandi, dengan gerakan cepat Nathan membantu Kenzo mengenakan pakaiannya, dan tanpa menunggu lama Nathan langsung memboyong anak istrinya menuju rumah mertuanya.


Meski Sesil merasa begitu penasaran akan perubahan sikap suaminya tapi dia tetap mengikuti Nathan.


Sepanjang perjalanan Nathan tak mengatakan sepatah katapun, begitupula dengan Kenzo yang tiba-tiba saja juga diam tak seperti biasanya.


Kediaman Swan Cornelio..


Nathan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama rumahnya, sementara Sesil mengeryit heran saat melihat rumahnya sepi tidak seperti biasanya, bahkan tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangan mereka berdua.


Hati Sesil mengatakan pasti telah terjadi sesuatu hal yang buruk pada papinya.


"Nath, ada apa ini?" tanya Sesil dengan mimik wajah yang kawatir


"Ayo kita masuk" tangan kanan Nathan mengandeng tangan istrinya sementara tangan kirinya menggandeng tangan mungil Kenzo.


Saat Sesil membuka pintu, rumahnya terlihat begitu sepi seperti tak berpenghuni. Bahkan saat langkah kakinya semakin masuk ke dalam rumah papinya tak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya padahal biasanya kalau sudah pagi seperti ini pasti banyak pelayan rumahnya yang membersihkan rumah tersebut.


Nathan masih terus membimbing anak dan istrinya menuju lantai dua dan saat sampai di lantai dua, pandangan mata Sesil tertuju pada tante Rara yang sedang menangis di dalam dekapan suaminya. Perasaan Sesil semakin berkecamuk dengan hebat. Merasa tak sabar, Sesil menepis tangan suaminya dan berlari mendekat ke arah kamar yang biasa di tempati oleh papinya, bahkan dengan tidak memperdulikan tantenya, Sesil langsung menerobos masuk ke dalam kamar milik papinya.


Kedua matanya terbuka dengan lebar, bahkan mulutnya juga menganga sangat lebar. Tubu Sesil bergetar hebat, jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat dokter sedang memacu jantung papinya dengan alat pacu jantung.


Dokter tersebut terus berusaha, namun sayangnya setiap kali dokter tersebut menempelkan alat pacu jantung di dada papinya, dada papinya ikut terangkat ke atas seiring alat tersebut di tarik oleh tangan dokter.


Setelah berusaha cukup keras, akhirnya dokter meletakkan alat tersebut dan menggelengkan kepalanya dengan kecewa.


"Ada apa ini dok?" tanya Sesil berusaha setenang mungkin.


"Maafkan kami Nona, kami sudah berusaha yang terbaik. Tapi penyakit jantung yang di miliki oleh papi anda sudah kronis. Dan kesehatan beliau akhir-akhir ini juga sudah menurun. Kami tidak bisa menyelamatkan papi anda, Nona" raut wajah dokter tersebut terlihat menyesal.


"Anda bohong ! Minggir !" Sesil mendorong tubuh dokter tersebut dengan begitu kasar dan langsung duduk di tepian ranjang.


"Papi, bangun. Kenzo dan Sesil datang" Sesil meraih tangan papinya dan menggenggamnya dengan erat, namun Sesil merasakan telapak tangan papinya sangatlah dingin.


"Papi dengar Sesil kan?" panggil Sesil kembali, namun papinya masih menutup kedua matanya.


"Sayang.." Nathan menyentuh pundak istrinya


"Diamlah Nath ! Aku tau papi hanya membohongi kita" imbuh Sesil menepis tangan Nathan menjauh dari pundaknya.


"Papi hanya tertidur karena kemarin kelelahan memancing bersama kita saja"imbuh Sesil


"Papi sayang" Sesil memeluk tubuh papinya yang di rasa sudah kaku dan dingin, Sesil meletakkan kepalanya di dada bidang pria yang telah membuatnya besar hingga seperti sekarang ini.


Namun saat Sesil menempelkan daun telinganya di dada bidang papinya,Sesil tidak mendengar detak jantung papinya seperti biasanya "Papi bangun, bangun" ucap Sesil dengan suara yang bergetar hebat. Bahkan air matanya sudah tak terbendung lagi.


"Papi bangun ! Bangun!" Sesil menggoyangkan tubuh papinya, berharap papinya mau kembali membuka matanya seperti dulu.

__ADS_1


"Papiiiii..!" teriak Sesil frustasi, suaranya menggelar memenuhi kamar tersebut, Nathan begitu tak tega melihat istrinya seperti itu.


Dengan sekuat tenaga Nathan menarik tubuh istrinya untuk menjauh dari tubuh Swan " Sayang tenangkan dirimu" Nathan mendekap tubuh Sesil yang sedang bergetar hebat.


"Ada apa ini Nath? ada apa?" teriak Sesil sambil terisak di dalam dekapan suaminya.


"Opah, bangun. Kenzo datang opah?" tangan mungil Kenzo mengusap pipi Swan dengan lembut


"Opah, jangan buat mami menangis. Bangunlah opah !" imbuh Kenzo.


"Kenzo" Keandra yang baru saja datang langsung membopong keponakannya dan menggendongnya.


"Paman Kean, opah kenapa?" tanya Kenzo polos, sementara Kean hanya tersenyum getir dan memeluk keponakannya dengan begitu eratnya.


"Katakan Nath, aku hanya bermimpi buruk! Kemarin kita masih memancing bersama, makan bersama bahkan papi terlihat begitu sehat Nath. Lalu apa ini" teriak Sesil kembali mencoba meronta dari dalam dekapan suaminya.


"Sayang, dengarkan aku, umur, jodoh serta rezeki semua Tuhan yang mengatur. Mungkin ini jalan yang Tuhan berikan untuk papi sayang. Jadi kau harus berusaha menerima keadaan" Nathan mengusap lembut punggung istrinya.


"Tidak adil Nath, tidak ! Aku tidak rela papi pergi ! Dan apa? penyakit jantung? sejak kapan? papi sama sekali tidak pernah menceritakan apapun padaku, dan aku juga hampir tiap hari kemari dan papi baik-baik saja ! Cepat bangunkan papi" teriak Sesil, kini dirinya berhasil mendorong paksa tubuh Nathan.


"Papi, bangunlah. Sesil masih membutuhkan papi. Sesil sayang papi" imbuh Sesil dengan suara putus asa.


"Papi jangan pergi sekarang, jangan papi ! ini belum waktunya papi pergi meninggalkan Sesil ! papi harus membuka kedua mata papi" ratap Sesil dengan penuh linangan air mata


"Pi cepat katakan sesuatu! cepat pi ! Jangan buat Sesil marah!" setiap perkataan terlontar dari bibir tipisnya, lagi dan lagi Sesil mengharapkan sebuah mukjizat dari Tuhan yang bisa membuat papinya kembali membuka kedua matanya.


Sesil meraih tangan papinya dan meletakkan di sisi pipinya. Kemarin Sesil masih melihat dengan jelas senyuman papinya, tawa papinya serta kebersamaan mereka. Tapi seolah itu hanya kebahagiaan yang semu, pagi ini Sesil datang kembali ke rumah ini dan menyaksikan tubuh kaku papinya di atas tempat tidur.


Sesil menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangan papinya, air matanya terus saja mengalir di pelupuk matanya. Hari ini adalah hari yang paling Sesil tidak inginkan. Meski tak bisa di pungkiri cepat atau lambat pasti setiap yang bernyawa akan mati tapi Sesil tak menginginkan kematian menjemput kedua orang tuanya dengan begitu cepatnya.


Nathan menatap iba istrinya yang kini duduk di lantai dengan menciumi tangan papinya, air matanya terus saja mengalir di pelupuk matanya.


"Sayang.." Nathan mengusap punggung istrinya perlahan berharap istrinya bisa kembali tenang dan menerima keadaan yang terjadi.


Satu Jam Kemudian..


Rumah kediaman Swan terlihat sudah penuh dengan para pelayat. Banyak karangan bunga yang berjajar di halaman rumah tersebut. Sesil terlihat berdiri di samping peti mati papinya. Papinya kini sudah di semayamkan di dalam peti mati. Sementara Kenzo, anak itu terlihat tak mau jauh dari samping maminya.


Setelah mendapat penjelasan dari Keandra, Kenzo mulai bisa memahami keadaan.


Pria yang telah memberikan cintanya, mencurahkan hidupnya untuk membesarkan Sesil kini sudah tak lagi bisa tersenyum, tak lagi bisa memarahi dirinya. Hati Sesil sakit, perih, kecewa serta marah. Mengapa dirinya begitu bodoh hingga tak mengetahui penyakit yang menggerogoti papinya.


Jika dulu papinya mampu merawatnya dengan baik, lalu apa yang dia lakukan sekarang? bahkan hingga papinya menghembuskan nafas terakhirnya dirinya tak berada di samping papinya.


Saat tadi dia datang papinya sudah terbujur kaku di atas ranjang tidurnya.


Kaki Sesil merasa begitu lemas, hingga tak mampu menopang berat tubuhnya dan mengakibatkan dirinya jatuh meluruh ke lantai.


"Mami.." Kenzo langsung memeluk maminya dengan erat, sementara Nathan yang baru saja datang dari proses pengurusan pemakaman segera berlari mendekat ke arah istrinya.


Nathan langsung memeluk tubuh Sesil dan Kenzo dengan begitu eratnya. Hatinya merasa begitu sedih saat ini.


"Sayang kuatkan dirimu" tutur Nathan dengan lembut.


^


Setelah menunggu beberapa saat, kini upacara penghormatan terakhir untuk Swan baru saja di selesaikan. Jenazah Swan akan di bawa ke tempat pemakaman yang sama dengan mendiang istrinya, bahkan Swan juga sudah sejak Ayu meninggal langsung membeli tanah makam bersebelahan dengan makam istrinya.


Mobil iring-iringan jenazah membawa peti mati menuju pemakaman terbesar di kota tersebut, ratusan pelayat dari mulai kerabat jauh hingga kolega bisnis mendiang Swan terlihat turut mengantar jenazah Swan menuju peristirahatan terakhirnya.


Tak memakan waktu lama, ambulan yang membawa peti jenazah Swan sudah tiba di area pemakaman tersebut dan terlihat beberapa petugas menurunkan petiti jenazah dan membawanya menuju liang lahat.


Sementara Sesil berjalan dengan pandangan mata kosong, kedua tangannya terlihat memeluk bingkai foto papinya. Dengan berderai air mata Sesil mengantarkan papinya menuju tempat peristirahatan terakhir papinya.


Sesil menatap nanar saat peti mati papinya di masukkan ke dalam liang lahat, dan mulai di timbun oleh tanah. Air matanya semakin tak terbendungkan, hatinya seakan ikut mati terkubur bersama jasad papinya. Sesil benar-benar tidak menyangka cinta pertamanya kini sudah tidak berada di sampingnya.


Jika hari kemarin Sesil masih datang kemari bersama papinya untuk menjenguk makam maminya, maka hari ini Sesil datang kemari dengan suasana yang berbeda, kedatangannya kemari hari ini adalah untuk mengantarkan papinya untuk terakhir kalinya. Setelah prosesi pemakaman selesai satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman. Hanya tersisa keluarga Rara dan Imelda yang masih setia di sana.


"Sil, yakinlah ini jalan Tuhan yang terbaik untuk papimu" Imelda memeluk sahabat baiknya dengan begitu erat. Hatinya juga ikut merasakan kesedihan yang Sesil rasakan saat ini.


Setelah mengucapkan bela sungkawa, Dave mengajak Imelda untuk kembali pulang, begitu juga dengan Sean yang mengajak keluarganya untuk pulang. Hingga kini hanya tersisa Nathan, Sesil dan Kenzo.


Sesil bersimpuh di depan nisan milik kedua orang tuanya, pandangan matanya menatap secara bergantian ke arah makam mami serta papinya.

__ADS_1


"Mam, sepertinya papi begitu menyayangi mami hingga papi menyusul mami secepat ini dan meninggalkan Sesil seorang diri" Sesil kembali menitikkan air matanya.


"Mam, Cinta dan Kasih sayang papi begitu abadi untuk mami, bahkan hingga maut menjemput papi masih berpegang teguh pada pilihan hatinya" Sesil menyandarkan kepalanya di nisan papinya.


"Pi, terimakasih sudah membesarkan Sesil, menjaga Sesil serta merawat Sesil hingga saat ini. Papi tetap akan menjadi cinta pertama dalam hidup Sesil"


"Opah, omah, Kenzo berjanji akan menjaga mami seperti opah menjaga mami. Semoga opah dan omah bisa kembali bersama di surga" batin Kenzo


"Mam, ayo kita pulang" Kenzo membantu mengusap air mata maminya menggunakan jari jemarinya.


Akhirnya Sesil memutuskan untuk kembali ke rumah papinya, karena dia masih ingin mengenang masa-masa bersama papinya di rumah itu.


^


Satu Hari Sebelumnya..


Swan masuk ke dalam rumahnya sesaat setelah mobil milik menantunya pergi meninggalkan halaman rumahnya. Namun tiba-tiba dadanya terasa sakit, hingga membuatnya hampir jatuh kehilangan keseimbangannya namun untungnya ada salah seorang pelayan rumahnya yang dengan sigap menolongnya lalu memapahnya masuk ke dalam kamar.


Swan berbaring di atas ranjangnya, tangannya yang gemetar mencoba menekan beberapa digit nomor ponsel milik dokter keluarga, setelah terhubung, Swan meminta dokter tersebut untuk datang ke rumahnya memeriksa keadaannya saat ini.


Setelah menunggu hampir dua puluh menit, akhirnya dokter yang di panggil olehnya masuk ke dalam kamar miliknya dan mulai memeriksa keadaan Swan.


"Tuan, anda tidak boleh terlalu kelelahan, ingat kondisi jantung anda" tegas dokter tersebut.


"Ini saya tinggalkan obat yang harus di minum oleh Tuan" Dokter tersebut meletakkan banyak obat di atas meja kecil di samping tempat tidur Swan.


Setelah memberikan beberapa nasehat, dokter tersebut memutuskan untuk berpamitan meninggalkan Swan. Setelah kepergian dokter tersebut, Swan menatap langit-langit rumahnya, sudah hampir sepuluh tahun lamanya penyakit jantung menggerogoti kesehatan tubuhnya. Meski awalnya tidak separah saat ini, tapi seiring berjalannya waktu kondisi jantungnya semakin memburuk. Meski kesehatannya semakin menurun tapi tidak membuat Swan memberitahukan kondisinya pada putri semata wayangnya, bahkan Swan melarang keras semua asisten di rumahnya untuk tidak mengatakan hal ini pada putrinya.


Bahkan selama tiga tahun belakangan ini, Swan terus saja berpura-pura Sehat saat berada di dekat putrinya, itulah sebabnya Swan tidak mau tinggal bersama putrinya meski Sesil sering kali memaksanya, Swan tidak mau membuat Sesil tahu kondisi sebenarnya tubuhnya saat ini, Swan sama sekali tidak ingin membuat putrinya kawatir atau bahkan merepotkan putrinya. Semua rasa sakit Swan tanggung seorang diri selama ini.


"Begitulah ceritanya Nona" jelas kepala pelayan di rumah Sesil.


Sesil duduk menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan kedua matanya terpejam, hatinya begitu sakit mendengar cerita yang baru saja di ungkapkan oleh pelayan rumahnya. Jadi papinya sudah menderita penyakit jantung dari sepuluh tahun yang lalu. Pantas saja beberapa hari terkahir Sesil merasa begitu risau. Jadilah ini alasannya. Kenyataan pahit yang harus di terimanya, bahkan kematian papinya menjadi pukulan terberat dalam hidupnya.


Setelah selesai bercerita, pelayan tersebut berpamitan kembali ke belakang, sementara Sesil terlihat masih memejamkan kedua matanya.


"Sayang"


"Mami"


Suara yang begitu familiar menyentak telinga Sesil, kedua mata Sesil kembali terbuka dan melihat suami serta anaknya di sampingnya. Kenzo terlihat duduk di pangkuan Nathan. Kedua mata kecilnya terus saja menatap maminya.


Sesil memaksakan senyumnya dan menyadari kalau dirinya tak lagi sendiri, ada Nathan suami yang sangat mencintainya serta Kenzo buah hatinya yang juga sangat menyayangi dirinya. Sesil merengkuh suami serta anaknya dan memeluknya dengan erat. Kepergian papinya tentu pukulan berat untuknya, tapi Sesil harus yakin kalau Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk papinya. Tuhan ingin menyatukan cinta abadi kedua orang tuanya dan menyatukan mereka dalam kehidupan yang lebih kekal di surga.


"Jika kelahiran adalah awal pertemuan, maka kematian adalah jalan perpisahan, jika kematian mampu memisahkan maka kuasa Tuhan mampu mempertemukan. Cinta yang sesungguhnya adalah dia yang mampu bertahan hingga akhir meski badai silih berganti menerpa, keteguhan hati akan membawa kesetiaan cinta hingga kembali di pertemukan di kehidupan kedua" _srayu


End..


.


.


.


.


.


.


.


.


Well, srayu mau ucapin terimakasih banyak yang udah setia dengan karya receh Srayu, meski di pertengahan cerita Srayu sempat mau behenti tapi karena dukungan dan motivasi kalian membuat srayu kembali bangkit.


Untuk Hatter, terimakasih kalian yang mencintai Srayu dengan cara berbeda. Cibiran serta kritik pedas kalian Srayu jadikan motivasi untuk tetap selalu memperbaiki diri dari segala macam kekurangan.


So, Big Thank buat semua yang udah setia sampai akhir😘 Srayu sayang kalian.


Jangan Un favorit dulu, akan ada beberapa bonus chapter nantinya♥️


Jangan lupa tetap dukung srayu♥️

__ADS_1


Salam sayang, salam sehat serta peluk jauh dari Srayu untuk kalian Semua🤗♥️😘


__ADS_2