Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Tanyakan Pendapatku


__ADS_3

Nathan masih asik terus menyuapkan nasi ke dalam mulut sesil, dam sesekali nathan menatap sesil yang sedang asik memainkan ponselnya sembari di suapi olehnya.


Sesil benar-benar seperti anak kecil, tapi itulah yang membuat nathan menjatuhkan pilihan kepada sesil, tingkah sesil yang apa adanya membuat nathan tak bisa melupakan sesil, walaupun sekian tahun nathan mencoba membunuh perasaannya sendiri namun rasanya itu percuma, rasa itu semakin tumbuh subur di hatinya, apalagi ketika nathan mengetahui sesil melanjutkan study di tempat yang sama dengannya, nathan mulai mencari tau dimana sesil tinggal, dan nathan diam-diam sering membantu sesil jika sesil menemukan sebuah kesulitan, nathan juga sering mengirim makanan jika sesil sedang tidak mood untuk makan.


Akhirnya nasi dan lauk pauk yang dibawa oleh keandra habis sudah di makan oleh sesil dan nathan .


"Ah kenyang sekali" sesil mengusap perutnya yang rasanya sudah benar-benar kenyang.


"Ya sudah, mandilah sana" nathan meletakkan kotak tersebut di atas meja yang terletak tepat di sampingnya.


"Ah, keandra tidak membawakan baju ganti untukku" sesil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Keandra kan dari rumahnya, mana mungkin dia membawa bajumu, kau ada-ada saja" Nathan menggelengkan kepalanya


"Tapi di rumah tante rara, ada kok beberapa bajuku, kan aku sering menginap di sana kalau papi sedang dinas keluar kota"


"Sudahlah lebih baik kau pulang saja berganti pakaian dan istirahatlah, kau pasti lelah serta tidak nyaman di sini" Nathan menumpuk kembali kotak makanan dan memasukkan ke dalam kresek.


"Tunggu sebentar lagi, setelah dokter mengecek kondisimu, aku akan pulang" sesil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.


Sementara nathan meraih ponselnya yang terletak di meja, kemudian nathan mencari nomor emilia sayng sekretarisnya, setelah menemukan kontak nomor emilia nathan lantas menekan lalu memanggilnya.


Suara emilia terdengar dari balik ponsel nathan


"Mil, bawakan semua yang aku butuhkan, saat ini aku berada di rumah sakit,Nanti aku akan kirimkan nomor kamar serta nama rumah sakitnya dan sekarang kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu terlebih dahulu" tanpa menunggu jawaban emilia, nathan langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka, dokter dan seorang perawat datang menghampiri nathan yang masih duduk di sofa, dokter tersebut akan memeriksa bagaimana kondisi nathan saat ini.


Sesil membantu nathan untuk kembali ke ranjang dan berbaring, setelah itu dokter melakukan pemeriksaan dan perawat mencatatnya.


Dokter tersebut mengatakan bahwa kondisi nathan sudah cukup baik, dam besok sudah bisa kembali kerumah.


Nathan awalnya menolak usulan dokter yang mengijinkan untuk pulang besok, karena nathan masih ingin di rawat di rumah sakit, itu salah satu cara supaya dia bisa berdekatan dengan gadis kecilnya.


Namun sesil dengan memlototkan matanya langsung mencubit lengan nathan, rasanya sesil benar-benar kesal di buatnya.


Setelah dokter tersebut selesai melakukan pemeriksaan, dokter dan perawat itu keluar dari kamar sesil.


Tak berselang lama, nathan mulai merasa kantuk di matanya, mungkin ini efek obat yang di suntikkan di infusnya, beberapa kali nathan terlihat menguap dan matanya juga sedikit berair.


"Tidurlah" sesil mendudukkan tubuhnya di kursi samping nathan.


"Jangan kemana-mana ya" Nathan meraih tangan sesil dan menggenggamnya.


"Cepat tidur, cerewet sekali" Tangan sebelah sesil terulur untuk mengusap puncak kepala nathan, dan tak lama kemudian nathan sudah terlelap dalam tidurnya.


"Nath, terimakasih untuk semuanya" sesil tersenyum ke arah nathan yang kini matanya sudah terpejam.


Perlahan sesil melepaskan genggaman tangan nathan.


Setelah berhasil terlepas, sesil mengambil kresek yang berisi kotak makanan dan kemudian membawanya, waktu masih menunjukan pukul 09.00am, jadi sesil memutuskan untuk pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri.


Sesil memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya, tak lama kemudian taksi tersebutpun datang menjemput sesil di pelataran rumah sakit.


Taksi itu membawa sesil kembali ke rumahnya.


🌷🌷🌷


Sesil membanting tubuhnya di kasur kamarnya, sesil memejamkan matanya namun saat matanya terpejam wajah nathan malah menghiasinya. Seketika sesil membuka matanya.


"Kenapa wajahnya yang muncul" sesil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia beranjak berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, rasanya sudah begitu lengket oleh keringat.


Sejam kemudian sesil baru menyelesaikan aktivitasnya di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Kini sesil berdiri mematung di depan lemarinya pakaian yang sudah terbuka lebar.


Sesil bingung mau mengenakan pakaian yang mana, beberapa kali sesil menempelkan baju ke tubuhnya namun rasanya belum ada yang cocok.


Sesil berdecak kesal karena semua pakaiannya tidak ada yang pantas saat ini


"Aku harus belanja lagi sepertinya" sesil berkacak pinggang di depan cermin dan berbicara dengan pantulan tubuhnya sendiri.


"Ah bodoh, kenapa aku harus seribet ini, aku kan hanya mau ke rumah sakit, dan lagi ini hanya seorang nathan saja, mengapa aku harus berpikir ribet" sesil memukul kepalanya sendiri dengan jari-jemarinya.


Kemudian sesil mengambil celana jeans panjang berwarna biru muda, kemudian mengenakan kaos polos berwarna putih di padukan dengan jaket denim, sesil mengucir rambutnya seperti ekor kuda, memperlihatkan leher jenjangnya dan lekuk tubuh mungilnya, nampak sangat lebih muda dari umurnya saat ini.


Setelah selesai dari berdandan, sesil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Sesil kemudian mengambil jam tangan berwarna hitam dan melingkarkan tangannya.


"Sudah menjelang makan siang, lebih baik aku order makanan untuk di bawa ke rumah sakit" sesil mengambil kembali ponselnya dari saku jaket, kemudian dia menyalakan aplikasinya dan hendak meng-order makanan, namun tiba-tiba niatnya di urungkan, rasanya sesil ingin membalas semua kebaikan dari nathan, tiba-tiba muncul ide di dalam kepalanya, sesil akan memasak untuk nathan, meskipun masakannya tidak terlalu enak namun, rasanya masih layak makan.


Sesil berjalan menuruni anak tangga rumahnya, terlihat beberapa pelayan sedang sibuk membersihkan rumah, beberapa pelayan menyapa sesil dan sesil tersenyum dengan hangat membalas sapaan mereka.


Sesil dengan riang melangkahkan kakinya menuju dapur, terlihat di sana kepala pelayan rumahnya sedang mempersiapkan beberapa olahan bahan makanan.


"Halo paman" Sesil tersenyum ke arah kepala pelayan yang sedang mencuci sayuran


"Halo nona, ada yang bisa paman bantu" kepala pelayang berbalik badan dan tersenyum ke arah sesil


"Paman, bisakah paman memberi rekomendasi makanan untuk orang yang sakit akibat tertusuk? sesil ingin memasak sesuatu, namun sesil bingung paman"


"Lukanya parah atau tidak non? kalau tidak sih, setau paman boleh makan apa saja"


"Hm, kalau begitu sesil masak sup kentang, sama ayam bakar saja ya" sesil tersenyum girang, kemudian sesil melepaskan jaket yang dia kenakan dan menyimpannya di salah satu kursi, kemudian sesil mengenakan apron berwarna biru.


"Biar paman bantu nona" kepala pelayan menawarkan diri untuk membatu sesil, namun dengan cepat sesil menolaknya, karena sesil ingin memasak spesial untuk nathan sebagai ucapan terimakasih.


Hampir Satu jam lamanya sesil berkutat dengan peralatan dapur, kini makanan yang dia siapkan sudah siap di kemas di dalam kotak makanan bercorak salah satu karakter kartun kesukaan sesil.


Sesil kembali menukar apron yang dia kenakan dengan jaket denim yang sempat di simpan di kursi.


Sesil menjinjing kresek transparan yang berisi kotak makanan, sesil berjalan menuju garasi mobilnya, sesil kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya.


Sekitar 45menit mobil sesil kini sudah terparkir di parkiran rumah sakit, Sesil berjalan memasuki rumah sakit, dengan riang sesil melangkahkan kakinya menuju ruang rawat nathan.


Sesil membuka knop pintu dan masuk ke dalamnya, namun sesil terkesiap dengan kehadiran emilia yang sedang mempersiapkan beberapa box makanan di atas meja.


"Selamat siang nona" emilia dengan senyum ramahnya menyapa sesil


"Halo nona emilia" sesil tersenyum ke arah emilia, sesil melirik ke arah meja yang berisi beberapa box makanan semuanya berisi seafood yang dominan dengan rasa pedas. Kemudian sesil melirik ke arah nathan yang sedang fokus di menatap layar laptopnya.


Sesil meletakkan kresek yang berisi kotak makanan yang dia bawakan, sesil berjalan mendekat ke arah nathan, dan mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang nathan.


"Nath, sudah waktunya makan siang, ayo makan dulu ! Lagian kau ini kan masih sakit kenapa malah bekerja hah" sesil memlototkan matanya ke arah nathan yang masih fokus menatap layar laptopnya.


"Kak nathan, kenapa kau tidak mendengarkan adek sesil hah?" sesil mengerucutkan bibirnya ke arah nathan. Nathan yang mendengar suara sesil yang menurutnya begitu manja di telinganya seketika menoleh ke arah sesil, matanya begitu terkesiap melihat tampilan sesil yang terlihat santai, biasanya sesil selalu mengenakan dress.


"Kenapa kau menatapku seperti itu hah?" sesil kembali memlototkan matanya ke arah nathan.


"Ayo makan, sudah siang"! seru sesil


"Makanlah, semua makanan itu aku siapkan untukmu, pasti kau belum makan kan? aku tadi sudah makan" tukas nathan.


"Untukku?" sesil menunjuk dirinya sendiri dengan jaru telunjuknya


"Hm" Nathan kembali fokus ke layar laptopnya dan sesil yang sudah merasa lapar, langsung menuju meja makan, nona emilia juga sudah pergi kembali ke kantor lagi.


Sesil memakan, makanan tersebut dengan begitu rakus, sesil memang sangat menyukai seafood terutama udang.

__ADS_1


"Uhuk..uhuk.." sesil tersedak makanan, dan seketika nathan menoleh ke arah sesil.


"Pelan-pelan" namun pandangan matanya tersita dengan sebuah kantong kresek transparan yang berisi kotak makanan yang bercorak kartun kesukaan sesil.


"Sil itu apa?" imbuh nathan, tangan nathan menunjuk ke arah kantong kresek yang di bawa oleh sesil


"Bukan apa-apa"


"Sil ..?" nathan menajamkan pandangan matanya ke arah sesil


"Hm, itu aku bawa sup kentang dan ayam bakar" sambung sesil


"Untukku?" seketika nathan menjadi berbinar, rasanya dia senang sekali karena sesil sudah mulai perhatian dengannya.


"Iya, aku memasaknya tadi di rumah"


"Lalu kenapa kau tidak memberikannya padaku?" seru nathan


"Kan kau bilang kau ini sudah makan, jadi ya aku tidak menawarkannya padamu, lagian ini hanya masakan sederhana, aku takut kau tidak menyukainya" terang sesil


"Sil, kenapa kau selalu mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapatku? saat kau di jodohkan dengan dean kau juga tidak meminta pendapatku terlebih dahulu, dan sekarang kau melakukannya lagi?" suara nathan terdengar begitu kecewa.


"Maaf" seketika sesil menghentikan aktifitas makannya dan menatap ke arah nathan.


"Lain kali kalau ada apa-apa kau harus terlebih dahulu menanyakan pendapatku, jangan seperti lelaki tak bertulang itu, selalu mengambil keputusan sesukanya sendiri" seru nathan.


"Kemarikan, aku lapar" imbuh nathan.


Dengan patuh sesil mengeluarkan kotak makanan dari kresek tersebut dan membawanya mendekat ke arah nathan.


Dan nathan langsung menerimanya serta melahapnya dengan rakus.


"Enak?" sesil memperhatikan nathan yang sedang asik memakan makanan buatan sesil


"Lumayan" Nathan menganggukkan kepalanya dan tetap asik menyantap makanan yang di bawakan oleh sesil.


Sesil yang melihat nathan begitu menghargai masakan buatannya, hatinya menjadi begitu gembira.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Slow up, srayu terserang flu😪

__ADS_1


__ADS_2