
Nathan masih mendekap erat tubuh istrinya yang sedang menangis sesenggukkan di dalam pelukannya. Bahkan tubuh Sesil terlihat bergetar hebat, air matanya sudah membasahi kemeja yang di kenakan oleh Nathan.
"Nath, ini semua salahku" ucap Sesil di sela isak tangisnya.
"Kau selalu saja membuatku kawatir sayang, jangan pernah bertingkah bodoh lagi, atau kita benar-benar akan kehilangan anak kita untuk kedua kalinya" tegas Nathan.
Mendengar ucapan suaminya seketika Sesil langsung melepaskan pelukan suaminya, dia menatap lekat-lekat kedua bola mata Nathan yang juga sedang menatapnya dengan tatapan sangat d
alam.
"Katakan Nath, dia baik-baik saja kan?" seru Sesil dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Anak kita baik-baik saja sayang" Nathan mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Jagoan papi memang kuat" imbuh Nathan sambil melebarkan senyumnya.
"Sudah jangan menangis lagi" Nathan membantu mengeringkan air mata yang mengalir di sudut mata istrinya menggunakan ibu jarinya.
"Berjanjilah, mulai saat ini kau harus menurut apapun yang aku perintahkan, semua yang aku lakukan karena aku menyayangi kalian sayang" Nathan mendaratkan satu kecupan mesra di kening istrinya.
"Aku berjanji sayang" Sesil langsung mendekap tubuh kekar suaminya, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Hatinya begitu merasa lega karena anak dalam kandungannya baik-baik saja.
Mulai saat ini Sesil akan menuruti semua perkataan Nathan, meskipun kadang sikap posesif suaminya membuatnya menjadi sangat bosan tapi saat ini Sesil paham semua yang suaminya lakukan demi kebaikannya.
^
Setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Sesil. Nathan lebih posesif lagi dari sebelumnya, namun sikap posesif Nathan tidak membuat Sesil merasa marah sama sekali. Suaminya sangat perhatian terhadap dirinya. Bahkan Nathan selalu memanjakan semua yang Sesil inginkan.
Hari terus berjalan, perut Sesil juga semakin terlihat membuncit, meski usia kandungannya baru menginjak tiga bulan, tapi perubahan yang signifikan terlihat begitu jelas di fisik Sesil.
Badannya terlihat semakin berisi tapi semua itu bukanlah masalah untuk Nathan, yang terpenting untuk Nathan adalah istri serta calon anaknya selalu sehat.
Nathan selalu menyempatkan waktu di akhir pekan untuk mengajak istrinya berjalan-jalan ke mall atau hanya sekedar melihat bioskop untuk menghilangkan rasa jenuh istrinya karena semasa kehamilan Sesil terus saja berada di bawah pengawasan Nathan. Meski Sesil sering mendapat kunjungan dari papinya serta sahabat baiknya yaitu Imelda yang kini usia kandungan Imelda sudah menginjak lima bulan.
Hari ini sepulang dari bekerja, Nathan ingin membelikan susu ibu hamil untuk Sesil, karena kebetulan stok susu ibu hamil di rumah tinggal satu kardus lagi.
Setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan swalayan yang memiliki jarak cukup dekat dengan komplek perumahaan yang saat ini di tempati olehnya Nathan berjalan masuk ke dalam Swalayan tersebut.
Nathan mengambil keranjang belanjaan dan mulai mendorong troli menyusuri area Swalayan tersebut, meski ini kali pertama Nathan berbelanja seorang diri namun tidak membuat Nathan mengeluh sama sekali.
Apapun akan dia lakukan demi istri serta calon anaknya, seperti berbelanja seperti ini.
Nathan menghentikan langkah kakinya tepat di jajaran rak yang berisi berbagai merk susu ibu hamil.
__ADS_1
Nathan yang lupa menanyakan susu yang biasa Sesil konsumsi sedikit bingung melihat begitu banyak produk susu yang berjajar di hadapannya saat ini.
Nathan mengambil salah satu produk susu ibu hamil dam mulai membaca keterangan kandungan gizi.
Setelah membaca beberapa produk, Nathan semakin merasa bingung harus membeli yang mana. Nathan melihat sekeliling mencari SPG yang bertugas, namun sialnya tidak ada seorang pun di sana.
Hingga akhirnya Nathan memutuskan untuk mengambil beberapa merk susu ibu hamil dengan semuanya memiliki varian rasa cokelat.
Tidak tanggung-tanggung, Nathan mengambil sepuluh kardus susu ibu hamil dengan dua lima merk yang berbeda.
Setelah memasukkan susu tersebut ke dalam troli, Nathan mengarahkan troli yang dia bawa menuju jajaran rak buah, tangan kokohnya dengan terampil mulai mengambil dan memilih buah segar lalu memasukkannya ke dalam plastik dan menyimpannya ke dalam keranjang.
Banyak buah segar yang di beli oleh Nathan, terutama jeruk, karena Nathan paham betul jeruk adalah buah yang sangat di sukai oleh Sesil.
Setelah membeli beberapa jenis buah, Nathan mengarahkan troli ke arah jajaran rak yang menyediakan aneka camilan dengan berbagai rasa.
Nathan juga mulai mengambil camilan dan memasukkannya ke dalam troli miliknya.
Setelah di rasa semua barang yang di perlukan olehnya terbeli, Nathan membawa troli miliknya menuju kasir, namun tanpa di duga saat Nathan sedang mengantri di kasir, tiba-tiba saja terlihat pria bule yang di rasa tidaklah asing olehnya.
"Tuan Nathan.."
Nathan menepiskan senyumnya yang terkesan di paksakan saat melihat pria bule yang kini berdiri di hadapannya.
Pandangan mata Geordan tersita dengan isi keramjang milik Nathan yang di penuhi oleh banyak sekali kardus susu ibu hamil "Siapakah yang hamil?"
"Hahaha" Nathan tertawa geli mendengar pertanyaan Geordan yang di rasa sangat aneh
"Tentu saja istri saya, Sesilia. Memangnya siapa lagi" imbuh Nathan.
Seketika kedua bola mata Geordan terbuka lebar, dia tak menyangka wanita yang di kagumi olehnya sedang mengandung janin dari pria yang kini berdiri di hadapannya.
Geordan merasa harapannya sudah pupus, dulu dia berfikir kalau Sesil lama tidak mengandung karena tidak ada cinta di dalam pernikahannya, apalagi dari yang Geordan dengar Sesil menikah hanya karena sebuah kesepakatan semata, tapi ternyata semua asumsinya selama ini terbantahkan hari ini setelah mendengar kalau Sesil sedang mengandung buah hati pernikahan mereka.
"Saya permisi Tuan" seru Nathan sambil mendorong troli miliknya menuju kasir yang sudah kosong.
Sementara Geordan masih sibuk dengan pikirannya sendiri, jika dulu Geordan ingin merebut Sesil dari tangan Nathan, tapi kali ini status Sesil sudah berbeda, Geordan tidak mungkin memisahkan anak yang tidak berdosa dengan ayah kandungnya. Geordan tidak ingin anak dalam kandungan Sesil harus merasakan apa yang dia pernah rasakan dulu. Ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah dan saat itulah titik terberat dalam hidup Geordan, karena harus memilih salah satu dari kedua orang tuanya.
Meski pada akhirnya Geordan lebih memilih hidup bersama papanya, namun perpisahan kedua orang tuanya membuat jiwanya cukup terpukul bahkan hingga Geordan tumbuh menjadi seorang yang sudah dewasa.
^
Nathan memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, kemudian dia turun dari mobilnya dan mengambil barang belanjaan yang baru saja dia beli. Tidak tanggung-tanggung Nathan membawa dua kresek penuh di kedua tangannya.
__ADS_1
"Sayang aku pulang" Teriak Nathan yang baru saja masuk ke dalam rumahnya karena kebetulan pintu rumahnya tidak di kunci kala itu.
"Astaga, kau membeli apa sayang?" Tanya Sesil saat melihat suaminya membawa dua kresek penuh di kedua tangannya.
Nathan hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan istrinya, dengan langkah kaki yang lebar Nathan membawa barang belanjaan menuju ruang makan, kemudian saat sudah sampai di ruang makan, Nathan mulai menurunkan satu persatu barang dari dalam kresek dan meletakkannya di atas meja makan.
"Astaga, kenapa kau membeli banyak sekali susu ibu hamil sayang? dengan lima merk yang berbeda pula?" Sesil menggelengkan kepalanya saat melihat sepuluh kardus susu yang berjajar di atas meja makan.
"Aku lupa sayang merk susu yang biasa kau minum, karena aku bingung makannya aku mengambil lima merk yang berbeda dengan satu varian rasa yaitu cokelat. Aku tau betul kau sangat menyukai rasa cokelat"
Sesil hanya mendengus dengan kesal melihat suaminya berbelanja begitu banyak susu ibu hamil untukknya.
Meskipun Sesil tau betul kalau tujuan suaminya itu baik, tapi Nathan tidak tau saja kalau sore tadi ayah Adibjo sudah mengirimkan sepuluh kardus susu ibu hamil untuknya, belum lagi papinya mengirimkan banyak sekali barang-barang perlengkapan bayi yang sudah memenuhi satu kamar di rumah ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Srayu belum mau buat tamat dulu. Soalnya Srayu mau buat tokoh utama hidup bahagia dulu, rasanya tidak adil jika baru sebentar bahagia terus di buat tamat gitu aja padahal sejak kecil Sesil sudah hidup menderita.
Semoga masih tetap di hati pembaca♥️🙏
terus dukung Srayu tentunya♥️😍😘
__ADS_1