
Tenggorokan dave terasa begitu kering sekali, dia ingin mengambil air mineral di kulkas dekat meja makan, namun ketika dia baru membuka pintu kamarnya sedikit, dia melihat nathan berjalan terburu-buru menuruni anak tangga pula.
Dave mengernyitkan dahinya saat melihat nathan pergi dengan wajah yang begitu panik.
Setelah nathan keluar dari pintu utama, tak butuh waktu lama terdengar suara deru mesin mobil meninggalkan area resort tempat dimana dia tinggal saat ini.
Dave berdiri mematung di ujung anak tangga, kepalanya terangkat dan melihat ke arah lantai dua tepat dimana kamar nathan berada.
Hati dave begitu bergejolak dengan hebat. Emosi mengalahkan akal sehatnya. Dia perlahan melangkahkan kakinya menuju lantai dua, setelah beberapa anak tangga terlewati, dave kini sudah berdiri di ambang pintu kamar yang nathan dan sesil tempati.
Pikirannya sudah di rasuki setan, hingga dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Tangan dave terulur menyentuh knop pintu, dan mulai menarik knop pintu ke bawah.
Setelah knop pintu sampai di bawah, dave hendak membuka pintu kamar tersebut, namun sialnya tiba-tiba saja tangan dave di tarik seseorang, hingga membuat tangan dave terlepas dari knop pintu yang di pegangnya.
"Mau apa?" Terdengar suara wanita begitu menyentak di telinga dave, bahkan wanita tersebut menarik tangan dave menjauh dari pintu kamar yang sesil tempati saat ini.
"Yasmine?" Terdengar nada tak suka saat dave di tarik paksa menjauh dari depan kamar sesil.
"Mau apa?" Kali ini yasmine menghempaskan tangan dave dan menatap kedua mata dave dengan sinis.
Saat tadi mendengar suara deru mobil meninggalkan area resort, yasmine kala itu sedang bermain ponsel, karena merasa penasaran yasmine ikut keluar melihat, dan tak di sangka saat yasmine membuka pintu, dia melihat dave berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Yasmine mencium bau-bau niat tidak benar maka dari itu yasmine membuntuti dave, dan benar saja.
Jika tadi yasmine terlambat sedikit saja, pasti dave sudah melakukan hal bodoh yang akan merusak persahabatan mereka semua.
"Kau ini kenapa hah? kenapa memlototkan matamu kepadaku? Aku hanya ingin melihat kondisi sesil saja, karena tadi aku melihat nathan pergi dengan tergesa-gesa, aku takut terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap sesil saja" Dave mendengus dengan kesal kepada yasmine.
Sedangkan yasmine menyipitkan matanya,rasanya yasmine tak menyangka kalau Dave bisa buta karena rasa obsesinya memiliki istri dari sahabatnya sendiri.
"Kau ini bodoh atau dungu? Nathan sangat mencintai istrinya, mana mungkin nathan melakukan sesuatu hal yang buruk terhadap wanita yang di cintainya?" Yasmine menaikkan kedua alisnya, sedangkan dave diam membisu mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Yasmine.
"Dan kalau pun betul, kau hanya ingin mengecek kondisi sesil, lalu kenapa kau tidak mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum memasukinya? Bukankah masuk ke dalam kamar seseorang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu itu tidak sopan?" Seru Yasmine lagi.
"Sudahlah, jika kau merasa penasaran, biar aku saja yang akan mengecek kondisi sesil" Yasmine berlalu dari hadapan dave.
Sedangkan dave menatap punggung yasmine yang perlahan menjauh dari hadapannya, dan mendekat ke arah kamar sesil.
Tok..tok..tok..
Yasmine mengetuk pintu kamar sesil beberapa kali, namun sesil tak kunjung membukanya, karena di dalam kamar sana sesil sedang mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan piyama tidur.
"Sil..?" Yasmine memanggil nama sesil sembari tangannya mengetuk pintu kamar yang sesil tempati.
"Yasmine?" Sapa sesil kepada yasmine saat pintu kamarnya di buka, terlihat yasmine saat ini berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa?" Jawab sesil lagi
"Tidak ada apa-apa, oh iya nathan mau pergi kemana tengah malam begini?" Imbuh yasmine.
Kemudian sesil menjelaskan kalau nathan akan pergi ke hotel, karena di resto hotel terjadi ledakan tabung gas yang mengakibatkan kebakaran. Maka dari itu Nathan akan kesana untuk mengecek kondisinya.
Setelah mendengar penuturan dari sesil, Yasmine berpamitan pergi, dan tak lupa yasmine berpesan kepada sesil untuk mengunci pintu kamarnya. Karena yasmine kawatir Dave akan kembali datang.
Setelah Yasmine berlalu dari hadapannya, sesil kembali menutup pintu kamar dan langsung menguncinya sesuai yang yasmine katakan padanya.
Sesil merebahkan tubuhnya di atas kasur kembali, pikirannya begitu menghawatirkan nathan saat ini, sesil takut terjadi sesuatu terhadap suaminya itu.
^
Yasmine berdiri di depan dave yang bersembunyi di balik dinding sebelah kamar sesil. Dave juga menatap tajam ke arah yasmine yang sudah menghalangi niatnya.
"Ini pertama dan terakhir dave, ku harap kau segera menemukan tambatan hatimu agar kau tidak mengganggu kehidupan nathan lagi" Yasmine berlalu sambil menepuk pundak dave.
Sedangkan dave masih menatap ke arah pintu kamar yang sesil tempati saat ini.
Cukup lama Dave menatap pintu kamar, akhirnya dia kembali lagi turun ke lantai satu dimana kamarnya berada.
^
Nathan sedang sibuk mengecek kondisi dapur resto pasca terjadi kebakaran, walaupun kebakarannya dapat di tangani dengan cepat dan tidak terlalu mengakibatkan banyak kerugian, nathan tetap harus mengecek semuanya.
Sedangkan satu orang koki yang terkena sambaran api sudah di bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan.
Setelah mengecek semuanya, dan memastikan berapa kerugian akibat kebakaran ini, nathan yang di temani manager resto beralih menuju rumah sakit tepat di mana korban kebakaran di rawat.
Memerlukan waktu sekitar empat puluh lima menit, mobil yang di kendarai manager hotel sudah sampai di tempat tujuannya.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sudah sangat sepi, karena ini sudah lewat tengah malam.
Langkah kaki keduanya tepat berhenti di kamar nomor 202, di depan kamar tersebut juga terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk sendirian, dari raut wajahnya nathan bisa menebak kalo dia pasti adalah istri dari koki tersebut.
__ADS_1
Keduanya berjalan mendekat dan menyapa wanita tersebut.
"Selamat malam " Sapa manager hotel, mendengar ada yang menyapa dirinya, wanita paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" Ucap wanita tersebut.
"Apakah anda istri dari korban kebakaran yang di rawat di dalam?" Imbuh manager hotel lagi, dan wanita paruh baya tersebut menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Perkenalkan, saya adalah manager di tempat suami ibu bekerja, dan yang berdiri di sebelah saya adalah Putra dari pemilik hotel tersebut" Keduanya saling berjabat tangan secara bergantian dengan wanita paruh baya tersebut.
Kemudian nathan duduk di kursi kosong yang bersebelahan dengan wanita paruh baya tersebut.
Nathan menanyakan kondisi koki hotel saat ini, dan dari keterangan yang istrinya berikan, koki tersebut hanya mengalami luka bakar di bagian lengan sebelah kanannya saja.
Mendengar penuturan tersebut, nathan sedikit lega, karena luka dari pegawainya tidak terlalu parah, dan Nathan juga berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakit selama di rawat di sini, serta nathan akan memberi gaji pokok selama koki tersebut belum bisa bekerja kembali.
Setelah berbincang-bincang, Nathan dan memutuskan untuk kembali, karena jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 02.00am.
Nathan terlebih dulu mengantar manager hotel kembali ke rumahnya, setelah mengantarnya nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, karena memang jalanan saat ini sudah sangat sepi pengendara, jadi dirinya bisa leluasa memakai jalanan tersebut .
Tak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang nathan kendarai sudah memasuki pelataran resort kembali.
Nathan memarkirkan mobilnya di bagasi resort, dan sebelum turun nathan mengecek ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.
Ada lebih selusin panggilan dan chat dari istrinya.
"Dia pasti sangat kuatir" Gumam Nathan, nathan kemudian dengan segera membuka pintu mobil dan turun dari mobilnya.
Nathan berjalan mendekat ke arah pintu utama dan menekan beberapa pass code pintu tersebut, dan setelah pintu terbuka, nathan melangkahkan kakinya menuju lantai dua tempat dimana kamarnya berada.
Nathan perlahan membuka pintu kamarnya, namun sialnya tidak bisa terbuka, sepertinya terkunci.
"Ah sial, aku tidak tau pass code pintu kamar ini" Nathan menggerutu dengan kesal, pasalnya dia tidak menanyakan berapa kode pass codenya.
"Apa dia marah karena aku tidak mengangkat telefonnya? hingga mengunci pintu" Imbuh nathan lagi.
Namun nathan tidak mau menyerah begitu saja, kali ini nathan mengetuk pintu tersebut.
"Sayang..." Suara nathan terdengar begitu datar memanggil sesil.
Sesil yang kala itu sedang duduk bersandar di ranjang seketika langsung beranjak dan berlari ke arah pintu. Dan dengan segera sesil menekan angka pass code pintu tersebut.
Saat pintu terbuka, terlihat nathan berdiri di depan wajahnya, tanpa ragu lagi, sesil langsung memeluk suaminya itu, rasanya sesil begitu lega melihat nathan kembali dengan utuh dan selamat.
Sesil masih tak mau melepaskan pelukannya, karena sesil memang benar-benar merasa kawatir saat ini.
Nathan menutup pintu kamar, dan sejenak melepaskan sesil.
"Ada apa ? katakan? Apa terjadi sesuatu yang tidak baik?" Nathan menatap kedua bola mata istrinya yang terlihat berkaca-kaca, dan dengan cepat sesil menggelengkan kepalanya.
"Aku menunggumu, dan aku sangat kawatir dengan keadaanmu, di tambah lagi kau tidak mengangkat panggilan telefonku, kau juga tidak membalas chat dari ku" Sesil memeluk nathan lagi, kali ini dengan sangat erat. Sesil baru tau, kalau dirinya sudah jatuh cinta terhadap suaminya itu, dia benar-benar takut kehilangan nathan.
Nathan menarik kedua sudut bibirnya, dia tersenyum sumringah mendengar semua pengakuan istrinya tersebut, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan istrinya tersebut.
"Sayang, maafkan aku sudah membuatmu kawatir, karena aku terburu-buru aku jadi meninggalkan ponselku di dalam mobil" Nathan mengecup puncak kepala istrinya, dia bisa mencium bau harum yang di timbulkan dari rambut sesil.
Sesil melepaskan pelukannya dan mengerucutkan bibirnya ke arah nathan.
"Jangan ngambek, aku sangat lelah, mari kita tidur" Nathan mengusap puncak kepala sesil lagi, kemudian nathan menggiring sesil kembali ke ranjang.
Sesil yang sudah merasa hilang kantuk duduk bersandar di ranjang, sedangkan nathan terlebih dahulu mencuci wajahnya dan berganti pakaian di dalam kamar mandi.
"Sayang aku sangat lelah" Nathan menyandarkan kepalanya di pangkuan sesil, dia memejamkan matanya. Sesil yang melihat suaminya kelelahan seperti itu menjadi tidak tega, kedua tangan sesil terulur dan mengusap puncak kepala nathan.
Sesil membelai kepala suaminya dengan begitu lembut, membuat nathan merasa sangat bahagia dan kembali membuka matanya.
"Tidurlah, ini sudah menjelang pagi" Seru sesil saat melihat mata suaminya kembali terbuka.
"Sil, apakah kau mencintaiku?" Nathan menatap kedua bola mata sesil dengan begitu mendalam, sedangkan sesil terlihat bingung menjawab pertanyaan nathan, dia sudah menyadari kalau mencintai nathan, tapi dia malu mengakuinya.
"Hm, baiklah, aku tidak akan memaksamu" Imbuh nathan lagi, karena nathan melihat sesil diam saja makannya nathan tidak mau memperpanjang pertanyaannya.
Kedua bola mata nathan menatap ke arah langit-langit kamarnya, bahkan guratan kekecewaan di wajah nathan begitu tergambar dengan begitu jelas.
Sesil merasa tak enak melihat nathan yang menjadi murung seperti itu. Kedua tangannya kembali membelai kepala suaminya tersebut.
Sedangkan nathan masih diam saja tak bergeming.
Cukup lama kesunyian melanda mereka berdua, hanya ada detak jam dinding yang terdengar begitu nyaring di telinga keduanya.
"Nath, aku mau ke kamar mandi terlebih dahulu" Sesil memindahkan kepala nathan dari pangkuannya ke bantal yang terletak di sampingnya.
Sesil berjalan menuju kamar mandi, cukup lama sesil berada di dalamnya, membuat nathan mengernyit keheranan karena istrinya tak kunjung kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
Saat pintu kamar mandi terbuka, nathan begitu terkesiap melihat sesil mengenakan kembali ligeria berwarna biru muda pemberian imelda.
Sesil berjalan mendekat ke arah nathan tanpa mengatakan sepatah katapun, wajahnya terlihat begitu merona.
Nathan yang kala itu berbaring di ranjang, langsung beranjak dan menyandarkan dirinya di ranjang.
Dia tak menyangka sesil akan mengenakan kembali ligeria tersebut tanpa di minta olehnya.
Sesil mendudukkan dirinya di tepian ranjang tepat di di samping nathan.
Dia menundukkan kepalanya karena menahan malu.
"Sayang...?" Suara nathan terdengar kembali melunak, setelah kejadian tadi.
"Kau membuatku kembali menginginkannya" nathan langsung menarik sesil dan menindihnya.
Kali ini sesil tidak menolak sama sekali, bahkan dia melayani nathan dengan begitu baik, dan dia juga lebih aktif dari sebelumnya.
Hanya terdengar dernyitan ranjang yang terdengar begitu nyaring beradu dengan dua nafas milik sesil dan nathan yang terdengar begitu memburu.
Keduanya menghabiskan malam yang panjang lagi bersama.
Bahkan entah berapa kali sesil melakukan pelepasan, namun nathan sepertinya terlalu tangguh hingga membuat sesil kewalahan.
Dan ketika menjelang fajar, akhirnya nathan merasakan sesuatu yang tak bisa di tahannya lagi, dia mempercepat gerakan tubuhnya, dan tak lama kemudian dia terkulai lemas di atas tubuh sesil.
Nathan memeluk erat tubuh istrinya tersebut.
"I Love You" Ucap nathan lirih tepat di telinga kanan sesil. Sesil menarik kedua sudut bibirnya, dia sangat bahagian bisa menikah dengan lelaki sebaik nathan.
"I Love You too" ucap sesil lirih, nathan yang sudah kehabisan tenaga, tiba-tiba saha langsung mengangkat kembali kepalanya dan menatap kedua bola mata istrinya.
"Katakan sekali lagi?"Pinta nathan
"Tidak ada berita ulang" Seru sesil, bahkan sesil terkekeh dengan pelan.
Nathan sangat gemas melihat tingkah istrinya tersebut, dia memberikan ciuman banyak sekali di wajah sesil, membuat sesil risih dan menjauhkan wajah nathan darinya, namun nathan tidak mau mengalah, dia terus saja menghujani wajah sesil dengan banyak sekali ciuman.
"Aku sangat lelah, kau selalu menyiksaku" Sesil mengerucutkan bibirnya.
"Salahmu, karena tubuhmu membuatku tidak cukup melakukannya hanya sekali" Nathan mencubit pipi sesil dengan begitu gemas, kemudian nathan membaringkan tubuhnya di samping tubuh sesil.
"Sayang, mari kita tidur" Nathan menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka berdua, kemudian nathan menarik sesil masuk kedalam dekapannya. Nathan begitu bahagia malam ini, karena akhirnya sesil bisa membalas rasa cintanya yang selama ini terus nathan perjuangkan.
"Sil, terimakasih" Ucap nathan lagi, namun sepertinya sesil diam saja tak menyaut perkataan nathan, membuat nathan melihat ke arah wajah istrinya. Ternyata sesil sudah tidur dengan pulasnya.
Nathan mengecup kening sesil lagi begitu lama, kemudian dia pun ikut memejamkan matanya karena tubuhnya merasa begitu sangat lelah akibat aktifitas panjangnya di ranjang bersama sesil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Maaf kemarin srayu nggak bisa up
dan mungkin juga srayu nggak bisa rutin up ya
semoga kalian tetap setia menunggu up srayu
Hati srayu masih dalam masa berkabung😔💔
Doain yang terbaik buat srayu ya🙏*
__ADS_1