Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Pencarian


__ADS_3

Nathan masih terjaga dalam tidurnya, meskipun sinar mentari sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya lewat celah-celah korden di kamarnya, namun sinar mentari tersebut tam sedikitpun menganggu tidur pulas Nathan.


Tubuhnya yang terasa begitu lelah membuat Nathan enggan membuka kedua kelopak matanya.


Flashback Of


**Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, namun masih saja dirinya sampai kampung halaman mendiang omnya sudah petang.


Rumah yang sudah lama tidak di tempati dan hanya di bersihkan seminggu sekali itu terasa sangat pengap. Membuat Nathan harus membersihkannya terlebih dahulu, membuka semua kain penutup barang-barang di rumah mendiang omnya. Meskipun omnya jarang sekali pulang ke Solo setelah Omnya sukses menjalankan perusahaan keluarga yang berada di kota Semarang, namun rumah yang sempat di tempati dan di gunakan untuk membesarkan om dan ibunya masih terus di rawat hingga saat ini oleh ayahnya.


Nathan satu persatu membuka kain penutup barang, dan membersihkan debu dengan clean cleaner yang tersimpan di dapur rumah itu. Bahkan tak terasa Nathan membereskan rumah itu hingga tengah malam.


Setelah rumah mendiang omnya bersih dan layak di tempati kembali, Nathan mendudukkan tubuhnya di sofa lalu mengorder makanan lewat ojek online karena waktu memang hampir sudah tengah malam.


Namun rasa lapar di perutnya membuat Nathan terpaksa harus mengorder makanan.


Hingga tak butuh waktu lama, makanan yang di order olehnya datang dan Ia langsung menyantapnya.


Setelah makan malam, Nathan mencoba mencari barang bukti serta petunjuk apa hubungan antara om dan mendiang mami mertuanya, bahkan Nathan membongkar seisi kamar mendiang om Arik namun hasilnya masih nihil.


Sepertinya ayahnya benar-benar ingin menutupi kasus kematian omnya.


Bahkan hingga dewasa saat Nathan menanyakan penyebab kematian omnya serta kebangkrutan perusahaan keluarga, Ayahnya Adibjo hanya akan menjawab semua itu karena takdir Tuhan.


Namun Nathan tidak percaya terhadapnya, saat Omnya meninggal dirinya sudah berumur enam tahun. Sudah bisa mengingat meskipun belum terlalu mengerti kondisi dan situasi


Maka dari itu, saat kini dirinya tumbuh dewasa Nathan ingin mencari keadilan untuk omnya yang meninggal dalam kondisi mengenaskan serta perusahaannya yang hancur berantakan.


Nathan mengepalkan kedua tangannya saat dirinya kini berada tepat di depan bingkai Foto yang berukuran besar yang terpasang di dalam kamar omnya.


Foto dimana ada mendiang kakek, nenek, ibu, ayah, adik perempuan serta dirinya.


Saat itu keluarganya masih bahagia, adiknya masih bisa berobat dengan rutin serta kehidupannya mereka masih sangat bahagia.


Meskipun malam ini Nathan tidak mendapatkan apa yang di cari olehnya, tapi Nathan bertekad akan terus mencari bukti.


Tubuhnya terasa begitu sangat lelah, hingga Nathan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya di kamar mendiang omnya.


Flashback On**


Nathan mengerjapkan matanya saat sinar mentari semakin menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Nathan mengusap kedua matanya dengan tangannya dan mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Nathan mendudukkan tubuhnya di atas kasur, kedua kakinya menyilang sempurna di sana.


Nathan menoleh ke arah jam dinding, ternyata ini sudah tengah hari, pantas saja sinar mentari terasa begitu panas di tubuhnya.


Nathan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tak butuh waktu lama, Nathan sudah menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi.


Nathan menuju lemari yang berada di kamar tersebut.


Nathan menggeser pintu lemari dan membukanya, nampak di sana beberapa baju omnya tertata begitu rapih di dalamnya.


Kerena Nathan datang ke Solo dengan terburu-buru dan tidak membawa baju ganti, akhirnya dia memutuskan untuk memakai pakaian mendiang omnya.


Nathan memilih kaos dengan celana jeans selutut berwarna hitam.


Hari ini Nathan berencana akan mengunjungi makam Om beserta kakek dan neneknya setelah sarapan pagi.


Setelah mengenakan pakaian, Nathan meraih kunci mobil, kemudian Nathan berjalan keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.


Kemudian Nathan mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah omnya tersebut.


Nathan mengemudikan mobilnya menuju pusat kota Solo, namun sebelum menuju makam Omnya, Nathan menyambangi sebuah cafe untuk mengisi perutnya yang terasa begitu lapar.


Nathan memesan Steak Beef dan segelas jus apel untuk menu santap siangnya.


Sambil menunggu pesanan datang, Nathan meraih ponsel dalam saku celananya, kemudian menyalakan ponselnya.


Dia teringat akan Istrinya yang sedari kemarin belum di beri kabar olehnya.


Nathan merasa bersalah karena terlalu sibuk mencari tau perihal kematian Omnya, hingga membuatnya melupakan Istrinya.


Saat Nathan menyalakan ponselnya, terdapat laporan beberapa panggilan masuk serta pesan yang di kirim oleh istrinya.

__ADS_1


Nathan menekan icon berwarna hijau mencoba menghubungi Sesil, namun Sesil tak kunjung mengangkat telefonnya. Hingga beberapa kali Nathan menghubungi hasilnya sama saja. Istrinya tidak mengangkat telefon darinya.


"Apa mungkin dia marah?" Gumam Nathan sambil memutar ponselnya di atas meja cafe.


"Lebih baik aku kirim pesan saja untuknya"


Nathan menyalakan kembali ponselnya, lalu mulai menyentuh deretan huruf alfabet di layar ponselnya.


**Sayang, aku ada keperluan di luar kota. Aku belum tau kapan urusanku beres. Tapi secepatnya akan aku bereskan keperluanku dan kembali ke rumah.


Jaga dirimu baik-baik ya.


Love Suamimu ~Nathan**


Setelah mengetik pesan dan yakin tidak ada salah penulisan Nathan kemudian langsung mengirim teks pesan singkat untuk Istrinya.


Kemudian Nathan meletakkan kembali ponselnya di meja.


Kedua matanya menyapu ke arah jalanan kota Solo yang tidak macet dan nampak lengang di siang hari. Nuansa kota dimana Ibu dan Ayahnya di pertemukan.


Nuansa yang sangat menenangkan menurut Nathan.


Bahkan Nathan ingin sekali mengajak Sesil untuk datang ke Solo suatu hari nanti.


Namun pandangan matanya teralihkan saat seorang pelayan Cafe mengantar makanan pesanannya.


"Silahkan tuan, Selamat menikmati" Ucap sang pelayan sambil menghidangkan makanan pesanan Nathan.


Nathan pun langsung menyantap makanan yang baru saja di hidangkan di atas meja. Perutnya terasa begitu lapar. Hingga tak butuh waktu lama makanan yang terhidang di atas meja makan sudah ludes di makan olehnya.


Setelah merasa perutnya kenyang, Nathan meminum jus Apel hingga menyisakan hanya seperempat gelas saja.


Kemudian Nathan tanpa menunggu lama, Langsung mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan di atas meja.


Tanpa mengulur waktu lama, Nathan meraih kunci mobil dan meninggalkan cafe tersebut menuju areal pemakaman Omnya yamg terletak di salah satu pemakaman di pusat kota Solo.


Membutuhkan waktu kurang dari setengah jam, Nathan sudah sampai di depan sebuah Areal pemakaman. Namun sebelumnya Nathan terlebih dahulu mampir untuk membeli bunga tabur serta air mawar di salah satu toko bunga yang terletak tidak jauh dari areal pemakaman.


Setelah membeli apa yang di butuhkan, Nathan melangkahkan kakinya menuju areal pemakaman.


Nathan berhenti tepat di sebuah nisan makam yang berjajar tiga dan memiliki gaya nisan yang sama.


Nathan berjongkok dan membersihkan beberapa daun kering di tiga makam tersebut


Dengan begitu telaten Nathan menyingkirkan satu demi satu daun kering serta mencabut rumput liar yang tumbuh meninggi di atas nisan keluarganya.


Setelah di rasa bersih olehnya, Nathan menaburkan bunga serta air mawar yang di belinya tadi.


Setelah menaburkan bunga dan Air mawar, Nathan memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus, semoga semua anggota keluarganya di tempatkan di sisi terbaik Tuhan.


Setelah memanjatkan doa, Nathan mengusap nisan omnya.


Bayang masa kecil Nathan bersama omnya menari-nari di kepalanya. Omnya selalu memanjakan dan begitu menyayanginya.


Maka dari itu ada rasa dendam yang mendalam di hati Nathan saat omnya meninggal dalam kondisi yang sangat tragis.


"Om Arik, Nathan berjanji akan menuntut balas atas semua penderitaan yang om alami. Nathan tidak akan membiarkan siapapun orang yang sudah membuat om dan perusahan kakek lenyap hidup tenang ! Nathan akan menuntut balas akan itu semua" Ucap Nathan penuh penekanan, bahkan rona kemarahan begitu tergambar jelas di raut wajahnya.


"Kakek, Maafkan Nathan sudah lama tidak berkunjung kemari, Nathan sedang membangun perusahaan yang ayah rintis dulu. Dan saat ini Nathan di beri kepercayaan oleh ayah mertua Nathan untuk mengelola perusahannya. Nathan merasa begitu beruntung memiliki begitu banyak kasih sayang dari ayah mertua Nathan. Bahkan istri Nathan juga begitu mengasihi Nathan kek" Nathan mengusap nisan Kakeknya.


Namun seketika hati Nathan merasa tidak nyaman saat kembali mengingat foto-foto mendiang mami mertuanya bersama omnya.


Nathan menarik nafasnya panjang, dan menghembuskannya perlahan.


Setelah mengutarakan isi hatinya dan perasaannya sedikit lega. Nathan memutuskan kembali lagi ke rumah. Karena tujuannya datang kemari mencari bukti mengenai kematian omnya yang di anggap janggal olehnya.


^


Mobil yang Nathan kendarai baru saja tiba di halaman rumahnya. Nathan berjalan menuju pintu utama rumah omnya.


Namun saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja kakinya terasa menginjak sesuatu di bawah sana. Nathan mengalihkan pandangannya ke arah lantai, dan benar saja dia menginjak sebuah amplop cokelat.


Dahi Nathan mengernyit sempurna, seingat dirinya tadi saat dirinya meninggalkan rumah tersebut tidak ada selembar amplop yang terletak di depan pintu.


Nathan membungkukkan tubuhnya mengambil amplop tersebut lalu membolak-balikkan amplop tersebut, mencari siapa pengirimnya,namun sama sekali tidak ada tulisan apapun.


Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, Nathan menyobek bagian Atas amplop tersebut dan melihat isi amplop tersebut.

__ADS_1


Amplop tersebut berisi sebuah undangan pernikahan, namun betapa terkejutnya saat undangan tersebut atas nama ARIK PRAKASA menikah dengan ANINDIA AYU PRISILIA.


Nathan semakin mengernyitkan dahinya, benar-benar merasa terkejut dengan apa yang di lihatnya, bahkan undangan yang sudah terlihat begitu usang dan terlihat memudar warnanya itu.


"Apa ini??" Gumam Nathan yang semakin bingung dengan semua petunjuk yang di dapatkannya.


Nathan kembali melihat isi amplop tersebut, dan ternyata ada selembar kertas berwarna putih yang di lipat menjadi dua. Nathan mengambil kertas tersebut dan membukanya perlahan, ternyata ada goresan tinta di selembar kertas tersebut.


JIKA KAU INGIN TAHU LEBIH DALAM, KAU BUKA SAJA DI SEBUAH BRANGKAS YANG TERLETAK DI BALIK BINGKAI FOTO KELUARGA YANG BERADA DI DALAM KAMAR ARIK !!! 251535


Nathan semakin merasa penasaran merasa penasaran. Nathan memasukkan kembali surat beserta undangan ke dalam amplop, kemudian Nathan membuka kunci pintu rumah dan masuk ke dalam rumah tersebut.


Dengan penuh rasa penasaran, Nathan masuk ke dalam kamar Omnya dan mencoba memandang bingkai foto keluarganya


"Apa benar, di balik foto ini ada brangkas?" Ucap Nathan sambil terus memandangi bingkai foto tersebut.


"Dari pada merasa penasaran, Nathan mencoba menurunkan bingkai foto, dan benar saja saat bingkai foto tersebut di turunkan dan di letakkan di lantai, Nathan melihat melihat sebuah brangkas besi di baliknya.


Nathan menggelengkan kepalanya merasa begitu terkejut dengan semua surat kaleng yang di dapatkannya ternyata terbukti.


Nathan memperhatikan deret angka password yang terdapat di brangkas tersebut.


Nathan mencoba menekan beberapa digit angka, namun sayangnya brangkas tersebut tak kunjung membuka.


"Berapa passwordnya?" Nathan mengernyitkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Namun di tengah kebingungannya, Nathan teringat deretan angka yang tertulis di secarik kertas di dalam amplop yang baru saja di baca olehnya.


Dengan hati-hati Nathan mulai menekan digit angka yang tertulis di dalam surat tersebut, dan benar saja brangkas tersebut dapat terbuka.


Saat brangkas terbuka, bukan uang atau harta apapun yang berada di dalamnya. Namun hanya ada beberapa lembar kertas serta sebuah koran yang sudah usang.


Nathan mengambil satu persatu lembar kertas yang berada di dalam brangkas tersebut


Ternyata itu adalah sebuah dokumen perusahaan, laporan perusahaan yang mengalami penurunan dalam waktu tiga hari. Dan ada selembar surat yang di tulis tangan oleh omnya. Di dalam surat tersebut omnya menuliskan curahan hatinya tentang kegagalan menjaga perusahaan keluarga, bahkan perusahannya di hancurkan oleh rival bisnisnya SWAN CORNELIO.


Mata Nathan terbuka lebar saat membaca surat tersebut, Nathan benar-benar tidak menyangka kalau ayah mertuanya yang di anggap baik olehnya adalah penyebab kehancuran perusahaan keluarganya.


Nathan kembali melanjutkan membaca surat tersebut, dan betapa terkejutnya Nathan saat Omnya mencurahkan kerinduannya terhadap mantan kekasihnya yang kini sudah menikah dengan orang yang sudah membuat perusahaannya hancur, bahkan sahabat dari mantan kekasihnya juga ikut mengancam dirinya untuk tidak memperjuangkan Ayu lagi.


Nathan begitu tak menyangka jika kehidupan masa lalu omnya berkaitan dengan masa kehidupannya saat ini.


Kaki Nathan menjadi begitu lemas seperti tidak bertulang lagi, bahkan kedua kakinya terasa begitu lemas hingga tubuhnya jatuh meluruh ke lantai.


Dia tak menyangka istrinya adalah anak dari orang yang sudah membuat keluarganya hancur, membuat omnya meninggal, merenggut ibu dan adiknya pula.


"Ahhhhh" Nathan meraung meratapi nasibnya, dia begitu membenci kondisi saat ini. Tangan Nathan memukul dadanya. Dia tak bisa menerima semua ini. Pantas saja ayahnya dulu tidak terlalu respect saat dirinya meminta restu. Ternyata ini alasan ayahnya.


Harusnya dulu Nathan tidak menikahi Sesil, jadi dia akan lebih mudah menghancurkan dan membalas dendam atas kematian omnya.


Tiba-tiba saja ponsel di saku celananya bergetar, awalnya Nathan mengacuhkannya, namun karena terus menerus bergetar dengan tangan gemetar Nathan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, dan melihat nama Sesil di layar ponselnya.


Dengan penuh amarah Nathan melemparkan ponselnya hingga membentur dinding kamar. Bahkan ponsel Nathan hancur tak berbentuk.


"Aku membencimu" Teriak Nathan ke arah ponsel yang sudah hancur tidak berbentuk itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Srayu skip komentar yang nyinyir🤣


Suka-suka srayu konfliknya mau gimana ya, ini kan cerita srayu jadi ya gimana srayu aja🤣


__ADS_2