Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Jalan Terbaik


__ADS_3

Nathan duduk memangku dagunya dengan kedua tangannya, pikirannya di penuhi oleh bayang wajah cantik istrinya. Istri yang sangat di cintai olehnya.


Meskipun Nathan sudah sepakat dengan Kintani istri dari mendiang om Arik akan membuat seluruh keluarga Cornelio menderita menjadi gelsndangan tapi hatinya seakan tak rela wanita yang di cintai menderita dan terlunta-lunta di pinggir jalan.


"Aku harus bagaimana ya Tuhan?" Nathan menyandarkan punggungnya di kursi kemudian memejamkan kedua matanya, pikirannya begitu kalut.


"Aku tidak bisa membiarkan tante Kintani melukai Sesil"


Semakin di pikir kepala Nathan semakin terasa begitu pening, rasa-rasanya dia harus segera mencari jalan terbaik untuk masalah ini.


Tetap melanjutkan membalas keluarga Swan tanpa terlalu menyakiti Sesil.


Langit terlihat mulai menggelap, Nathan memutuskan untuk kembali lagi ke rumahnya, dia berharap bisa menemukan jalan terbaik untuk masalahnya.


Dia memang mencintai Sesil tapi dia tak bisa hidup berdampingan dengan anak dari pembunuh om serta orang yang sudah membuat keluarganya hidup susah.


Nathan meninggalkan kantornya dan kembali ke rumah.


^


Sesil duduk di ruang tengah sambil melihat siaran televisi.


Saat terdengar deru mesin mobil yang di yakini Sesil adalah milik mobil Nathan, Sesil beranjak berdiri dan membukakan pintu rumah menyambut kepulangan suaminya, meskipun hubungan mereka sedang bermasalah namun hal itu tidak membuat Sesil menjauh dari Nathan. Dia malah semakin ingin bersikap baik kepada Nathan dan berharap Nathan bisa seperti dulu lagi.


Seminggu berlalu begitu lama di rasa oleh Sesil, bahkan bisa di bilang hari-harinya terasa berat karena Nathan bersikap dingin padanya.


Papi, tante serta om nya sedang mengantar opah kinos berobat ke Australia, hanya tersisa Keandra yang masih stay di sini. Namun adiknya itu belum berkunjung kemari lagi.


"Kau sudah pulang?" Sesil menyambut kedatangan Nathan dengan tersenyum lebar, kemudian tangannya mengambil alih tas kerja yang di bawa oleh Nathan.


"Aku akan mandi, setelah mandi ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Seru Nathan sambil berlalu dari hadapan istrinya.


Sesil begitu senang akhirnya Nathan mau berbicara lagi dengannya. Sesil akan memanfaatkan momen ini untuk membicarakan semua persoalan rumah tangganya supaya menjadi jelas dan gamblang. Sesil juga berharap dirinya bisa memperbaiki segala kekurangannya dan bisa membuat Nathan nyaman lagi seperti dulu.


Sesil menyusul Nathan yang sudah lebih dulu naik ke lantai dua, setelah sampai di lantai dua Sesil meletakkan tas kerja Nathan di atas sofa kemudian dirinya mengambil baju ganti untuk Nathan di dalam lemari pakaian.


Meskipun kini dirinya dan Nathan tinggal berpisah kamar, tapi semua pakaian Sesil masih berada di kamar yang saat ini di tempati oleh Nathan.


Setelah pakaian Nathan siap, Sesil lantas meletakkan pakaian tersebut di atas tempat tidur kemudian dia berlalu dari kamar tersebut ke lantai bawah.

__ADS_1


Tujuan Sesil bukan ruang tengah, tapi dia terlebih dahulu menuju dapur untuk membuatkan kopi serta mengambil kue yang di belinya tadi siang sepulang bertemu dengan Imelda.


Sesil mengambil cangkir dan meletakkan satu sendok gula dan dua sendok teh kopi lalu menuangkan air panas dari dispenser lantas mengaduknya.


Setelah kopi siap, Sesil mengeluarkan kue greentea dari dalam kulkas dan meletakkan potongan-potongan kue tersebut di atas piring kosong.


Kemudian Sesil membawa sepiring kue dan secangkir kopi panas dengan nampan menuju ruang tengah.


Benar saja saat Sesil menuju ruang tengah terlihat Nathan baru saja menuruni anak tangga mengenakan pakaian yang di siapkan oleh Sesil.


"Aku buatkan kopi dan membawa kue greentea"


"Aku kembalikan dulu nampan ini ke dapur ya" Imbuh Sesil sambil berlalu kembali menuju dapur untuk mengembalikan nampan.


Tak lama kemudian Sesil kembali lagi ke ruang tengah dan melihat Nathan sudah duduk menunggunya dengan menyilangkan kedua kakinya serta tangannya terlipat di atas perutnya.


Pandangan matanya kosong tak terarah, pikirannya seperti orang bingung tidak jelas.


Sesil mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan Nathan.


"Minum kopinya mumpung masih hangat"


Sesil menghela nafasnya berat, dia yakin suaminya masih marah padanya.


"Nath..." Sesil terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kata-katanya.


"Nath, sebenarnya apa yang sudah terjadi? ada masalah apa? mengapa sikapmu berubah setelah kau pulang dari luar kota tempo hari? jika aku mempunyai salah terhadapmu, aku minta maaf dan aku mohon katakan dimana letak kesalahanku? supaya aku bisa memperbaikinya"


"Memperbaiki? kesalahanmu tidak akan pernah bisa di perbaiki" Seru Nathan dengan menajamkan pandangannya, bahkan nada suaranya terdengar penuh luapan Emosi


"Memangnya apa salahku?" Bibir Sesil bergetar saat melontarkan kembali pertanyaan ke arah suaminya


"Salahmu adalah kau memiliki hubungan darah dengan keluarga Cornelio" Tukas Nathan.


Sesil terdiam sejenak mencerna apa yang di katakan oleh suaminya, dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Nathan akan di bawa kemana.


"Sudah aku putuskan..." Nathan menarik nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya kembali.


"Aku mau kita berpisah"

__ADS_1


Seketika mata Sesil terbuka lebar, dia begitu terkejut mendengar ucapan yang Nathan lontarkan. Memangnya apa salah keluarganya sehingga membuat Nathan begitu marah? bukannya tempo hari Nathan masih bersikap baik bahkan menghabiskan waktu bermain catur dengan papinya? lalu mengapa tiba-tiba Nathan mengatakan hal tersebut? Bukankah Nathan sendiri pernah mengatakan padanya saat awal pernikahan kalau ada masalah apapun, besar atau kecil harus di bicarakan dengan baik-baik dan jangan mudah mengatakan berpisah? lalu mengapa sekarang malah Nathan seolah melupakan perkataannya sendiri? Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Sesil, hatinya terasa begitu sesak.


"Tapi kenapa Nath? bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku jangan mudah mengucapkan berpisah? saat kita bertengkar dan salah paham di resort rembang? kala itu aku melihatmu bersama dengan Yasmine?" Bulir air mata sudah tak bisa di tahan lagi, bahkan cairan bening itu lolos begitu saja dari sudut mata Sesil.


Hingga tanpa sadar Sesil mengusap perutnya, dia tak bisa bayangkan janin yang di dalam rahimnya akan tumbuh tanpa kasih sayang papinya. Jika dulu dirinya tumbuh tanpa kasih sayang mami dan di masa sekarang anaknya juga akan sama tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya.


" Apa benar kata pepatah kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Gumam Sesil dalam hatinya, air matanya semakin menderas membasahi pipinya.


"Nath, kita bisa bicarakan baik-baik masalah kita Nath, a-a-aku se-se-sedang..."


"Semua keputusanku sudah matang, Lusa aku akan pergi ke pengadilan agama untuk mengajukan gugatan cerai" Tukas Nathan sambil beranjak berdiri dan pergi dari hadapan Sesil. Sedangkan Sesil diam mematung di posisinya,dia tak menyangka rumah tangganya akan berakhir sampai di sini saja.


Dia tak menyangka perjuangan Nathan mendapat restu papinya hanya berujung dengan perpisahan.


Sesil menggelengkan kepalanya sembari tangannya menyeka air mata yang terus saja mengalir di pelupuk matanya.


Hatinya sakit seperti di sayat belati tajam, hidupnya runtuh. Jika dia tidak hamil mungkin tak akan sesedih ini, namun saat ini ada calon anak manusia yang harus di pikirkan nasibnya.


"Maafkan mami Nak" Sesil mengusap kembali perutnya. Dia tak bisa membayangkan anaknya lahir tanpa seorang papi di sampingnya, pasti anaknya juga akan mengalami hal yang sama dengannya, menjadi bahan olok-olokkan teman-temannya di sekolah nanti.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**YEAY, konfliknya beberapa part lagi selesai nih😁

__ADS_1


katakan isi hati kalian?🤣🤣**


__ADS_2