Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Menginap


__ADS_3

Nathan masih sibuk mengemudikan mobilnya, sementara Sesil duduk dengan tenang di kursi yang Nathan tempati dan Kenzo duduk di kursi belakang sambil bermain robot yang baru di belinya, mulutnya terus berceloteh memerankan tokoh antagonis dan protagonis, mulut mungil Kenzo terus saja berceloteh layaknya dua orang yang sedang bertengkar.


Bila Kenzo sudah bertemu dengan mainan yang di sukai olehnya pasti Kenzo akan lupa pada semua hal, dia asik bermain dengan dunianya sendiri.


"Sayang bagaimana keadaanmu selama aku pergi?" tanya Nathan memulai obrolannya


"Kau lihat sendiri kan kalau kami baik-baik saja" jawab Sesil tanpa mengalihkan pandangannya.


Nathan menghela nafasnya dengan berat kemudian menghembuskannya perlahan, dia tau betul pasti istrinya saat ini sedang mengambek padanya. Entah masalah apa yang membuat istrinya bersikap acuh dan dingin tidak sehangat biasanya.


"Kau marah denganku?" tangan kiri Nathan terulur lalu meraih tangan kanan istrinya lalu mengecup punggung tangan istrinya begitu lama.


Pergi berdinas tiga hari lamanya itu membuatnya begitu tersiksa, dia juga sangat merindukan keluarganya tapi semuanya Nathan tahan demi bisa menghidupi keluarga kecilnya dengan layak. Nathan sejenak mengalihkan pandangan matanya menatap istrinya yang masih fokus menatap lurus ke depan melihat jajaran mobil yang berhenti di depan mobil milik mereka karena kebetulan sedang menunggu lampu merah.


"Sayang..." panggil Nathan kembali.


"Nath dari awal pernikahan kita aku tidak menuntut hidup mewah darimu. Yang aku inginkan kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama terlebih lagi sekarang ada Kenzo di tengah-tengah kita, dia juga membutuhkan sosok ayahnya untuk membimbingnya dalam proses tumbuh kembangnya" tutur Sesil, bahkan Sesil mengalihkan pandangan matanya menatap suaminya dengan sendu


"Sayang aku mengerti, tapi kau harus mengerti posisiku, aku tidak ingin kalian hidup kekurangan, dan belum lagi masih ada puluhan ribu orang yang bergantung di bawah perusahaan kita sayang" Nathan mengusap kepala istrinya dengan lembut


"Mam, Pi, ada apa?" Kenzo menatap aneh kedua orang tuanya yang duduk di bangku depan, kedua bola mata kecilnya menatap penuh selidik


"Tidak ada apa-apa sayang, papi hanya merindukan mami saja"kilah Nathan, pandangan matanya menatap ke arah putranya uang duduk di bangku belakang kemudinya


"Mami juga merindukan papi, selama papi pergi Mami selalu berkata ingin segera melihat papi kembali ke rumah dan bisa kembali tidur bersama kami" seru Kenzo dengan suara polosnya


"Kenzo.." Sesil memutar badannya dan langsung membekap mulut mungil putranya yang selalu saja berkata semaunya sendiri


Nathan menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum melihat wajah istrinya yang kembali memerah seperti tomat yang sudah masak. Nathan tau kalau sebenarnya Sesil tidak benar-benar marah melainkan itu adalah cara yang dia pilih untuk menunjukkan rasa cintanya pada suaminya.


"Bermainlah, dan jangan katakan apapun pada papi" tegas Sesil sambil menjauhkan telapak tangannya dari depan mulut putranya.


Lampu kembali hijau, Nathan menjalankan kembali mobilnya menuju rumah kediaman papi mertuanya. Setelah menempuh perjalanan yang penuh dengan kemacetan akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Nathan kini terparkir di depan rumah Swan. Kenzo yang merasa tidak sabar ingin bertemu dengan opahnya langsung membuka pintu mobil lantas turun dan berlari masuk ke rumah opahnya yang kebetulan pintunya terlihat terbuka.


"Opah, Opah.. Kenzo datang" teriak Kenzo dengan penuh semangat


"Ken, hati-hati nanti jatuh" teriak Sesil yang kala itu baru saja turun dari mobil dan melihat putranya berlari masuk ke dalam rumah namun rasanya teriakannya tak ada gunanya karena putranya sudah hilang di balik pintu rumah yang penuh dengan kenangan untuk Sesil karena di rumah itulah dirinya di besarkan bahkan rumah tersebut sebagai saksi pertumbuhan dirinya hingga akhirnya menikah.


Tanpa menunggu lama lagi, Sesil dan Nathan bergegas masuk ke dalam rumah menyusul Kenzo yang sudah masuk terlebih dahulu. Langkah kaki keduanya membawanya menuju sumber suara anak kecil yang sedang tertawa riang dengan seorang pria tua yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Mata Sesil menangkap bayang putranya yang sedang berlarian kesana-kemari memutari opahnya.


Sesil melihat dengan jelas senyuman di bibir pria yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang, meski sudah ada keriputan di garis wajahnya tapi tidak membuat ketampanan yang di miliki oleh papinya.


"Papi" sapa Sesil dan Nathan secara bersamaan, bahkan keduanya terlihat memeluk papinya secara bergantian.


"Papi baik-baik saja?" tanya Sesil penuh selidik


"Kau ini bicara apa nak, hampir setiap hari kau berkunjung kemari dan kau juga selalu melihat papi baik-baik saja bukan?"


"Sesil hanya kawatir pi" Sesil menggeser tubuhnya dan kini duduk tepat di samping papinya.


Sesil memperhatikan wajah papinya dengan seksama,pria yang membesarkan dirinya kini tampak semakin menua, bahkan beberapa rambut putih sudah terlihat di sela-sela rambut hitamnya. Sesil begitu menyayangi papinya, papinya adalah cinta pertama untuk dirinya, laki-laki yang dengan rela memberikan sisa hidupnya untuk dirinya, serta laki-laki yang menunjukkan ketulusan cinta baik terhadap putri ataupun mendiang istrinya.


Swan tak memperhatikan Sesil yang menatapnya, pandangan matanya fokus menggerakkan robot di tangannya ke depan cucunya.


"Opah ayo lawan Kenzo" Kenzo membenturkan robot yang dia pegang dengan robot yang di pegang oleh opahnya.


"Ah..." Swan menjatuhkan robotnya seolah-olah dia telah kalah, Kenzo berteriak dengan girang saat berhasil mengalahkan robot milik opahnya


"Hore Kenzo menang, Kenzo menang" teriak Kenzo dengan begitu girangnya


"Papi lihat Kenzo mengalahkan opah" seru Kenzo sambil melihat ke arah papinya yang duduk di belakang punggungnya.


Nathan hanya tersenyum melihat putranya, dia bahkan mengacungkan jempol tangannya. Kenzo semakin meloncat kegirangan karena di puji oleh papinya, hingga tak sengaja tangan mungil Kenzo tiba-tiba saja menyenggol sebuah bingkai foto yang terdiri dari Swan, Ayu serta Sesil saat masih kecil.


Seketika bunyi pecahan bingkai tersebut begitu terdengar di indera pendengaran semua orang yang berada di ruangan tersebut, pecahan kacanya bahkan menyebar tak terarah dan hampir terinjak oleh kaki mungil Kenzo, namun dengan cepat Swan berdiri dan langsung menggendong cucu kesayangannya.


Raut wajahnya menampakkan begitu jelas kehawatiran yang luar biasa, begitu pula dengan Sesil dan Nathan yang juga langsung beranjak berdiri.


"Kenzo" teriak Sesil dengan suara yang begitu menggelar, membuat Kenzo langsung bersembunyi di dalam pelukan opahnya.


"Kenzo" Sesil kembali memanggil nama putranya namun Kenzo masih diam tak bergeming di dalam dekapan opahnya. Kenzo paham pasti maminya marah karena sikap dirinya yang sudah nakal.

__ADS_1


"Ken.." panggil Nathan lembut, dan seketika itu Kenzo mengangkat kepalanya dan menatap kedua bola mata papinya.


"Mami, Kenzo minta maaf, Kenzo tidak sengaja" suara Kenzo terdengar begitu lirih namun masih bisa di dengar oleh Swan, Nathan maupun Sesil.


"Opah, Kenzo minta maaf" Kenzo mendongak menatap wajah opahnya yang malah tersenyum menatap dirinya.


"Tidak apa-apa sayang, opah tidak marah" Swan mendekatkan kening miliknya hingga menempel di kening cucunya.


"Papi..." imbuh Kenzo lagi


Bukannya menjawab panggilan putranya, Nathan malah memanggil nama istrinya dengan tujuan penuh maksud, namun seolah tidak mendengar kode dari Nathan, Sesil malah langsung berlalu dari ruangan tersebut menuju lantai dua, sepertinya Sesil akan menuju kamar miliknya.


"Mami marah pi?" tanya Kenzo dengan wajah sedih


"Sepertinya begitu, nanti kita bujuk mami ya sayang" Nathan mengusap kepala putranya dengan begitu lembut.


Kemudian Swan kembali mengajak Kenzo duduk di sofa sementara Nathan terlihat mencari salah seorang pekerja di rumah itu untuk membantu membersihkan pecahan kaca. Setelah pecahan kaca di bersihkan dengan rapih, Kenzo masih terlihat duduk diam di posisinya dia seolah hilang selera untuk kembali bermain. Untuk kali pertama Kenzo melihat maminya marah seperti itu, pasti kesalahannya sangatlah besar.


"Kenzo pasti bingung ya mengapa mami marah?" tanya Swan lembut


"Mami marah karena Kenzo nakal opah" jawab Kenzo dengan suara yang sedih


"Bukan sayang, tapi mami marah pasti karena mami sayang Kenzo dan tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk pada Kenzo. Kan tadi Kenzo hampir saja menginjak pecahan kaca"


"Apa benar seperti itu opah?" tanya Kenzo polos


"Tentu saja sayang, sekarang Kenzo lebih baik membujuk mami sana" tutur Swan lembut


Kenzo menganggukkan kepalanya dan beranjak turun dari sofa lalu menapaki anak tangga menuju lantai dua tempat kamar maminya berada, meski tidak terlalu sering Kenzo menginap di sini tapi Kenzo sudah hafal dimana tempat kamar milik maminya.


Kaki mungilnya terlihat melangkah dengan pasti menapaki satu demi satu anak tangga hingga akhirnya kini Kenzo sudah berdiri di depan sebuah kamar yang pintunya tidak di tutup rapat. Perlahan mata Kenzo mengintip ke dalam kamar, terlihat maminya sedang duduk memunggungginya di tepi ranjang. Dengan takut-takut Kenzo masuk ke dalam kamar maminya tanpa menimbulkan suara, bahkan Sesil sampai tak sadar kalau putranya sudah berada dalam satu kamar bersamanya saat ini.


"Mami.." Kenzo kini berdiri tepat di depan maminya, dan seketika Sesil terkejut saat melihat putranya yang tiba-tiba saja berada di depannya.


*Mami Kenzo minta maaf, Kenzo tau Kenzo nakal karena sudah merusak bingkai omah dan opah, dan juga membuat mami kawatir. Maafkan Kenzo mam" Kenzo memeluk wanit yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan.


"Maafkan mami sayang" Sesil membalas pelukan putranya, rasanya dia begitu menyesal sudah membentak Kenzo tadi.


Tapi entah mengapa perasaannya tidak nyaman, merasa akan terjadi sesuatu yang buruk, Sesil benar-benar takut bila terjadi sesuatu pada Kenzo. Dia tak bisa bayangkan harus hidup tanpa Kenzo. Bahkan bulir air mata Sesil mengalir dari pelupuk matanya.


"Mami maafkan Kenzo" imbuh Kenzo lagi.


"Mami menangis pasti karena Kenzo kan mam?"


Sesil langsung menggelengkan kepalanya dan langsung mengecup pipi putranya, dia tak menyangka memiliki putra yang sangat pintar seperti Kenzo "Mami tidak marah sayang, mami hanya takut kau menginjak pecahan kaca saja" tegas Sesil.


"Hei ada apa ini?" suara bariton milik Nathan mengalihkan pandangan mata Sesil dan Kenzo.


"Kenapa kau menangis?" tanya Nathan dengan heran saat melihat kedua bola mata istrinya yang memerah. Namun seolah tidak mau menjawab pertanyaan suaminya, Sesil malah membungkam mulutnya rapat-rapat.


Merasa tak mendapat jawaban, Nathan mengalihkan pandangannya menatap ke arah Kenzo yang berdiri tepat di depan istrinya "Ken, opah mencarimu. Cepatlah turun ke bawah"


"Mami maafkan Kenzo. Kenzo sayang mami" Kenzo mengecup pipi Sesil, sebelum akhirnya Kenzo berlari keluar kamar tersebut hingga menyisakan Sesil dan Nathan di sana.


"Ada apa?" tanya Nathan lembut sambil mendudukkan tubuhnya di samping istrinya, dan saat Nathan sudah duduk sempurna, Sesil langsung memeluk tubuh suaminya, dia menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.


"Perasaanku tidak nyaman, aku takut terjadi sesuatu pada Kenzo Nath"


"Tenanglah, jangan terlalu berpikir yang negatif, Kenzo pasti akan baik-baik saja sayang" Nathan membelai lembut kepala istrinya


"Tapi.."


"Sttttt" Nathan memotong perkataan istrinya dan semakin mengeratkan pelukannya, sebenarnya Nathan juga merasakan hal yang sama, perasaannya sedikit mengganjal namun dia tidak tau apa alasannya.


"Sayang bagaimana kalau kita menginap di sini saja?" pinta Nathan "Besok adalah weekend jadi tidak ada salahnya kita menginap di sini!" imbuh Nathan.


Setidaknya rumah papi mertuanya jauh lebih aman di bandingkan rumah miliknya, penjagaan di rumah Swan sangatlah ketat, jadi jika ada rival bisnisnya yang mengincar Kenzo tentu saja mereka tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam rumah papi mertuanya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Sesil, mereka memutuskan untuk menginap di sini malam ini.


^


Malam harinya setelah selesai makan malam bersama, Kenzo terlihat kembali bercengkrama dengan opahnya, bahkan kali ini Kenzo terlihat bermain remote control pesawat terbang yang baru saja di belikan oleh Swan tadi sore, Kenzo begitu senang mengemudikan pesawat miliknya ke sana kemari di temani oleh opahnya sementara Sesil dan Nathan menonton televisi di ruang tamu.

__ADS_1


"Ken, opah ingin tanya, Kenzo ingin mempunyai adik atau tidak?" tanya Swan berbisik


"Iya opah" Kenzo juga tak mau kalah dan kembali berbisik


"Kalau begitu malam ini Kenzo tidurlah bersama Opah, biarkan mami dan papi membuat adik untuk Kenzo ya"


"Oke opah" Kenzo mengangguk dengan senang.


Waktu terus berjalan, malam juga semakin larut, Sesil merasakan kedua matanya mengantuk namun Kenzo malah asik bercerita dengan papinya. Setelah membujuk Kenzo akhirnya kini Sesil dan Nathan berhasil membawa Kenzo masuk ke dalam kamar, terlebih dahulu Sesil dan Nathan berganti piyama tidur, sebelum akhirnya menggantikan pakaian Kenzo dengan piyama yang nyaman.


Setelah Kenzo mengenakan pakaian tidur miliknya, lantas Sesil mengajak putranya untuk tidur,tapi sayangnya Kenzo malah menolaknya.


"Kenzo malam ini mau tidur bersama opah mi" seru Kenzo


"Tapi sayang, nanti kau merepotkan opah nantinya. Sudah tidurlah bersama mami saja" Sesil menarik tangan mungil putranya namun Kenzo langsung menolaknya.


"Mami pokoknya Kenzo ingin tidur bersama opah. Papi ayo antarkan Kenzo ke kamar opah" Kenzo menarik tangan papinya, dan dengan terpaksa Nathan menuruti perkataan putranya.


"Ken tapi.." teriak Sesil mencoba mencegah putranya, namun suaranya hanya terbuang sia-sia saja.


Setelah menjalan lumayan jauh dari kamar orang tuanya Kenzo langsung menghentikan langkahnya "Kenapa sayang? kau tidak jadi tidur bersama opah? tidurlah bersama mami dan papi"


Bukannya menjawab perkataan papinya, Kenzo malah melambaikan tangan mungilnya hingga membuat Nathan langsung paham dan berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh putranya.


Kenzo mendekatkan bibirnya ke daun telinga papinya "Kenzo ingin mempunya adik pi" bisik Kenzo.


Seketika itu pula Nathan melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar olehnya.


"Kata opah, kalau Kenzo ingin adik, malam ini Kenzo harus tidur bersama opah" jelas Kenzo dengan begitu polosnya.


"Astaga papi" dengus Nathan


Setelah mengucapkan kata-katanya Kenzo berlari meninggalkan papinya yang masih mematung di posisinya bahkan Kenzo langsung masuk ke dalam kamar opahnya. Saat menyadari putranya tak ada di hadapannya membuat Nathan menggelengkan kepala dan kembali masuk ke dalam kamar menyusul istrinya.


"Bagaimana?" Tanya Sesil saat melihat Nathan kembali ke kamarnya


"Kenzo tetap ingin tidur bersama papi" Nathan merangkak ke atas tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang


" Astaga anak itu, apa sebenarnya alasannya" Sesil memijat pelipis sebelah kanannya


"Kenzo ingin kita membuatkan adik untukny" bisik Nathan tepat di daun telinga Sesil, membuat Sesil melebarkan matanya.


Tanpa menunggu lama, Nathan langsung menarik tubuh Sesil dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang, kedua bola mata Nathan menatap penuh hasrat bahkan Nathan langsung ******* habis bibir istrinya yang di rasa memiliki candu untuknya. Malam ink Nathan kembali mengajak Sesil bergelut di atas ranjang, meski Sesil pernah melahirkan secara normal tapi Nathan seolah tak merasakan banyak perubahan pada tubuh istrinya, istrinya masih di rasa seperti gadis dulu, susah di tembus !. Malam ini keduanya kembali menghabiskan malam yang panjang, hanya desahan serta suara dernyitan ranjang yang menjadi saksi pergulatan mereka berdua malam ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2300kata, harusnya dua episode🙈


Tapi karena srayu ingin cepat buat cerita ini tamat makannya srayu jadikan satu.


Lemes baca komentar makin hari makin sedikit.

__ADS_1


Like juga sama sedikit, banyak viewer tapi kebanyakan pembaca gelap yang tak meninggalkan jejak baik Like, Vote apalagi komentar😞


__ADS_2