
Waktu bergulir begitu cepat, bahkan lebih cepat dari sebelum-sebelumnya, Sesil kini berdiam diri di dalam kamar, hatinya begitu bergejolak dengan hebat, hari ini adalah hari pernikahannya dengan nathan, hari yang di tentukan oleh kedua keluarganya termasuk dirinya.
Ada rasa bahagia karena sesil akan menikah dengan nathan yang selama hampir sebulan ini mengisi hari-harinya dan membuat lukisan kehidupan sesil lebih berwarna, tapi di satu sisi, sesil juga takut jika umur pernikahan mereka akan sama cepatnya dengan waktu penentuan hari ini.
Sesil kini memandang kembali wajahnya yang sudah di rias begitu cantik, meskipun riasan sederhana dan tipis tapi keanggunannya sungguh terpancar dari sana.
Sesil melihat ke arah tubuhnya, di mana di tubuhnya kini melekat gaun berwarna putih tanpa lengan, gaun yang memiliki ekor lumayan panjang sekitar tiga meter itu terlihat begitu indah melekat di tubuhnya, belum lagi sepasang anting berlian yang terpasang begitu cantik di kedua daun telinganya dan kalung berlian yang melingkar di lehernya menambah sempurna penampilan sesil hari ini, sedangkan di atas kepala juga terpasang mahkota kecil yang bermata berlian berjumlah sembilan, sesuai dengan tanggal pernikahannya, semua itu adalah pemberian nathan untuk hadiah pernikahan mereka.
Sesil memejamkan matanya mencoba meyakinkan dirinya kalau keputusan yang di ambil hari ini adalah keputusan terbaik untuk masa depannya kelak.
Hari ini kedua keluarga, mengundang banyak sekali tamu undangan, dan semua tamu undangan yang di undang sudah melewati tahan penyaringan, jadi tidak ada orang sembarangan yang bisa masuk ke dalam gedung acara resepsi ini.
Segala persiapan meskipun terkesan buru-buru tapi tertata begitu rapih, karena dikerjakan oleh orang-orang profesional pilihan dari papinya.
Ceklek....
Tiba-tiba terdengar pintu kamar sesil terbuka, sesil yang semula memejamkan matanya, sontak saja kini dia membuka matanya dan menoleh ke arah pintu, muncullah papi nya yang mengenakan jas berwarna putih senada dengan gaun yang sesil kenakan.
Swan tersenyum ke arah putrinya, langkah kaki swan membawa diri swan mendekat ke arah putrinya yang sedang duduk di depan meja rias kamarmya.
Kini swan berdiri tepat di hadapan putrinya yang sangat terlihat begitu anggun di matanya, swan menatap wajah putrinya dengan seksama, sebentar lagi swan harus menyerahkan putrinya untuk menikah dan membangun kehidupan rumah tangganya sendiri, rasanya baru kemarin swan mengantar ke bangku taman kanak-kanak, membuatkan sesil susu di tengah malam, dan memeluknya saat sesil merasa merindukan maminya, namun hari ini benar adanya, putri kecilnya kini sudah tumbuh dewasa yang beberapa menit lagi akan melaksanakan pernikahan.
Swan meraih kedua tangan putrinya dan menggenggam begitu erat, swan sebentar lagi harus rela berbagi cinta putrinya dengan lelaki lain.
"Pi, papi adalah cinta pertama dan akan selalu menjadi cinta terbesar untuk sesil" sesil seketika menghambur ke dalam pelukannya, sesil takut akan tinggal berjauhan dengan papinya, karena sesil tau,t teman setia papinya selama ini adalah dirinya.
Swan hanya diam saja, dia menghela nafasnya dengan berat sembari tangannya mengusap kepala putrinya. Kemudian swan melepaskan pelukan putrinya dan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak berwarna hitam dari saku jasnya.
Swan membuka kotak tersebut, dan saat kotak tersebut terbuka, nampak satu buah gelang emas berwarna putih di sana, gelang yang terlihat begitu cantik di mata sesil.
"Ini adalah gelang yang papi pesan khusus dua puluh tahun silam.." swan menghela nafasnya berat
"Gelang yang seharusnya papi berikan di acara resepsi pernikahan papi dan mami kala itu, tapi takdir berkata lain, tuhan begitu menyayangi mami sehingga Tuhan menginginkan mami segera kembali lagi ke sisi-Nya, dan saat itu papi berjanji akan memberikan ini kepada kamu kelak setelah kau dewasa dan akan menikah" Imbuh swan, kemudian swan memakaikan gelang itu di tangan sesil, tampak sangat pas di tangan putrinya, memang postur tubuh sesil sangat mirip dengan mendiang maminya, swan tersenyum menatap kedua mata putrinya, dan sesil juga membalas senyuman dari papinya, sesil tidak mau membuat papinya sedih di hari pernikahannya.
"Ya sudah ayo kita keluar, acara pemberkatan akan segera di lakukan" Swan menggandeng tangan putrinya dan mengajak sesil keluar dari kamarnya riasnya, swan berjalan perlahan mengiringi langkah kaki sesil, membimbing sesil berjalan menuju altar.
Semua tamu undangan berdecak kagum ke arah sesil yang tampil begitu sangat cantik seperti putri dalam dongeng, di dalam genggaman tangan sesil membawa sebucket bunga lili putih, bunga yang sangat sesil sukai.
Nathan yang sudah terlebih dahulu menunggu sesil di atas altar, seketika nathan melihat ke arah kedatangan sesil, matanya bahkan tak berkedip barang sedetik saja, nathan tidak menyangka hari ini akan tiba, dulu nathan hanya berkhayal saja bisa menikah dengan sesil, namun rasanya Tuhan begitu baik padanya sehingga mewujudkan hayalannya.
Nampak di bangku depan jajaran kerabat dekat dari kedua mempelai, bahkan imelda dan keluarganya juga turut hadir kembali di sana.
Sedangkan keandra juga sama terpukaunya, keandra baru menyadari kalau kakaknya begitu sangat cantik.
Swan berjalan perlahan menuju altar, dan ketika sampai di samping nathan, swan menyerahkan sesil kepada nathan, kemudian swan meninggalkan altar dan ikut bergabung duduk di samping kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kini sesil dan nathan berdiri berdampingan menghadap pastur yang kini berdiri tepat di hadapannya, Jantung sesil berdetak begitu kencang, dia sangat nervous saat ini.
Pendeta pun memulai acara pemberkatananya,
Pada pernikahan suci ini, yaitu di Semarang, pada hari selasa tanggal 09 februari akan dipersatukan: Nathan Adibjo dengan Liswa Sesilia Cornelio
Sekarang sebagai seorang hamba Allah saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria dan mempelai wanita. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kesungguh-sungguhan mereka dalam memasuki pernikahan kudus ini. Saya juga akan menanyakan sebuah pertanyaan kepada Jemaat Tuhan untuk dijawab bersama-sama. Mempelai pria dan mempelai wanita diharapkan untuk menjawab dengan bebas dan tegas karena memang janji nikah harus diucapkan dengan sungguh-sungguh, bebas, tanpa paksaan dan disaksikan oleh Allah dan JemaatNya.
Inilah janji nikah saudara yang harus dipegang teguh sampai maut memisahkan. Sesuai dengan niat hati saudara yang tulus dan suci, hendaklah saudara-saudari berdiri dihadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya serta menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan tegas.
Sdr. Nathan Adibjo
(1). Apakah saudara mengakui dihadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya bahwa saudara bersedia dan mau menerima Sdri. Liswa Sesilia Cornelio sebagai istri saudara satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup saudara?
Dengan mantap nathan pun menjawab "Ya"
(2). Apakah saudara mengasihinya sama seperti saudara mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudara berdua hidup?
"Ya" jawab nathan kembali
(3). Apakah saudara bersedia menjaga kesucian perkawinan saudara ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?
"Ya" nathan terlihat begitu yakin ketika menjawan semua pertanyaan dari pendeta.
"Sdri. Liswa Sesilia Cornelio"
(1). Apakah saudari mengakui di hadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya bahwa saudari bersedia dan mau menerima Sdr. Nathan Adibjo sebagai suami saudari satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup saudari?
Sesil terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan pendeta, sesil menarik nafasnya dengan berat. Nathan seketika melirik ke arah sesil yang memejamkan matanya dan menarik nafasnya begitu dalam. Namun rasa kuatir nathan lenyap seketika ketika sesil juga menjawab pertanyaan pendeta dengan "Ya"
(2). Apakah saudari bersedia tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudari berdua hidup?
"Ya" kali ini sesil menjawab pertanyaan pendeta dengan langsung
(3). Apakah saudari bersedia menjaga kesucian perkawinan ini sebagai istri yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?
"Ya" setelah jawaban terakhir sesil, sesil pun menarik nafas begitu lega.
Kepada seluruh sidang Jemaat Tuhan dan para hadirin yang menyaksikan dan mendengarkan janji-janji ini saya bertanya:
Apakah Bapak/Ibu, Sdr/i mendukung dan mendoakan kedua saudara ini dalam hidup nikah mereka? Kalau sidang Tuhan dan para hadirin bersedia, harap bersama-sama menjawab: “Amin”
"Aminn" terdengar seluruh hadirin menjawab amin, bahkan suasana khidmat tergambar jelas di acara pemberkatan pernikahan sesil dan nathan.
__ADS_1
Pendeta:
"Sdr. Nathan Adibjo sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan" :
"Demi nama ALLAH BAPA, ALLAH ANAK, DAN ALLAH ROH KUDUS.
Saya, Nathan adibjo menerima engkau, Liswa Sesilia Cornelio menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi JemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Kemudian pendeta juga meminta sesil mengucapkan janji suci seperti yang nathan lakukan.
Setelah acara pemberkatan selesai, kini sesil dan nathan berdiri berhadapan, nathan terus memandang wajah sesil sedangkan sesil menundukkan pandangannya, sesil tidak berani menatap wajah nathan yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Nathan meraih tangan sesil dan memasangkan sebuah cincin di jari sesil, kemudian sesil juga mengambil cincin yang satu lagi dari dalam kotak dan memasangkan di jari tangan nathan.
Natha mendekat dan hendak mencium sesil, namun sesil memundurkan kepalanya, membuat nathan mengulum senyumnya dan kemudian nathan mengecup kening sesil begitu lama.
Terdengar tepukan bergemuruh dari para tamu undangan uang hadir di dalam gedung tersebut.
Swan terlihat begitu bernafas lega karena acara pemberkatan pernikahan putrinya berjalan begitu lancar dan khidmat tidak ada halangan apapun.
Tiba-tiba swan merasa tangannya di genggam oleh seseorang di sampingnya, seketika swan menoleh ke arah samping dan tak menyangka siapa yang di lihatnya saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Puji Tuhan lancar nih nikahannya, mana nih amplop buat srayu? hehehhe
oh iya, kira-kira siapa yang menggenggam tangan swan ya? jangan-jangan Tasya lagi *ups
__ADS_1
Penasaran kelanjutan wedding sesil dan nathan? tunggu and staysion terus di sini oke pems*😘*