
Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian tempo hari itu. Dave juga sebenarnya memikirkan apa sebenarnya yang terjadi kepada Imel. Dave berusaha beberapa kali mengunjungi rumah sakit tempat Imelda bekerja, namun selama itu pula Dave tak menemukan gadis yang akhir-akhir ini menganggu tidurnya, muncul dalam mimpinya setiap kali dirinya memejamkan mata.
Siang ini, Dave kembali mendatangi rumah sakit namun dari informasi yang di dapatkan olehnya, Imelda sedang meminta cuti dan pulang ke bandung mengunjungi kedua orang tuanya.
Dave berjalan keluar dari rumah sakit kemudian kembali melajukan mobilnya dengan kencang. Tujuannya adalah rumah Sesil.
Hingga kurang dari setengah jam, mobil yang Nathan kendarai sudah terparkir dengan sempurna di rumah Nathan.
Nathan menekan bel rumah beberapa kali dengan tidak sabar, hingga pintu terbuka dan Dave di sambut oleh Bi Nung.
Bi nung yang merasa tak asing dengan Dave langsung mempersilahkannya masuk dan duduk menunggu di ruang tamu, sementara Bi nung memanggil Sesil di kamarnya.
"Dave..?" Sesil mengarahkan kursi roda mendekat ke arah Dave.
"Ada apa? Nathan sedang di kantor?" Sesil begitu terkejut melihat Dave duduk di ruang tamunya
"Sil, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu" Dave memasang wajah serius, membuat Sesil mengernyit keheranan melihat raut wajah Dave
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Nathan?" seketika Sesil merasa panik
"Bukan, ini tentang hatiku" Ucap Dave dengan nada yang begitu lesu
"Hatimu?" Sesil mengulangi perkataan Dave
"Hm" Dave menganggukkan kepalanya dengan tidak bersemangat.
"Sudah beberapa hari ini aku mencoba menghubungi Imelda, mencari keberadaannya, tapi hasilnya nihil Sil. Gadis itu seperti hilang di telan bumi"
"Terakhir kali aku bertemu dengannya, malam itu aku sedang makan malam bersama Yasmine, kebetulan Yasmine sedang berkunjung kemari jadi kami memutuskan makan malam bersama. Malam itu pula Imel menangis Sil, aku sendiri tidak tau apa alasannya menangis, tapi dia bilang baru melihat Jie Sung bersama gadis lain" Imbuh Dave lagi, kali ini suaranya semakin terasa berat
Sesil masih setia mendengarkan semua keluh kesah Dave.
"Sil, bahkan dia bilang kalau aku jangan bersikap baik terhadapnya yang malah akan membuatnya salah mengartikan kebaikanku. Awalnya aku tidak memperdulikan perkataan Imelda. Tapi setelah dia menghilang dari hidupku, dan semua yang sudah terjadi membuatku menyadari perasaanku terhadapnya Sil. Perasaan yang tumbuh tanpa aku sadari selama ini, pantas saja aku selalu merasa bahagia bila bisa membuatnya kesal terhadapku"
"Jadi, kalau aku simpulkan. Kau menyukai Imel ?" Seru Sesil
"Entahlah, aku tidak tau apa itu Cinta, tapi yang aku tau aku merasa kehilangan Imel" Dave menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, matanya terpejam dan mengingat wajah Imelda yang mengambek padanya.
"Ya ampun" Sesil mendengus dengan kesal akan tingkah Dave yang masih saja belum menyadari perasaannya. Begitupun dengan Imel, gadis itu juga pasti memiliki perasaan yang sama seperti Dave.
"Dave, Imelda pulang kemari nanti sore. Tapi sepertinya Imelda akan segera mengurus surat pengunduran dirinya, karena dari yang aku dengar, Imelda ingin melanjutkan studynya lagi di Jerman" Imbuh Sesil
"Hm, jika itu yang terbaik aku bisa apa lagi Sil" Seru Dave yang sudah putus asa
__ADS_1
"Aku mempunyai Ide bagus, tapi kita juga butuh bantuan Nathan" Tiba-tiba muncul ide bagus di kepalanya.
"Lebih baik kita segera ke kantor Nathan dan menyusun rencana kita" Sesil menarik tangan Dave dan dirinya mengarahkan kursi roda menuju ke luar rumah. Dave dengan tidak bersemangat terpaksa mengikuti Sesil dan membantu istri dari sahabatnya itu masuk ke dalam mobilnya.
Carnal Group
Nathan sedang sibuk dengan file pekerjaan yang menumpuk begitu banyak karena memang dirinya bertanggung jawab atas dua perusahaan sekaligus, meskipun dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di Carnal Group bukan berarti dirinya melupakan Adigja Group perusahaan keluarganya sendiri.
Terkadang Nathan ingin mengeluh karena terlalu lelah, tapi rasanya itu bukan hal yang tepat. Kadang juga Nathan menghayal memiliki saudara yang bisa di ajaknya berbagi keluh kesah, tapi apalah daya karena Tuhan juga menjodohkan dirinya dengan anak tunggal pula dan mau tidak mau Nathan harus memikul semua beban sendiri, dia tak mungkin membuat istrinya menjadi terbebani.
Ceklek...
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya di buka, nampak Dave memasuki ruang kerja dengan mendorong kursi roda Sesil.
"Sayang?" Nathan melebarkan senyumnya menyambut kedatangan istrinya, begitupun Sesil juga tersenyum ke arah suaminya yang kini berjalan ke arah mereka.
"Ada apa sayang? kenapa bisa datang bersama Dave kemari?" Nathan mengernyitkan dahinya dan mengambil alih kursi roda istrinya dari tangan Dave lalu mengarahkannya mendekat ke arah sofa di ruang kerja Nathan.
Dave yang merasa tak bersemangat langsung menghempaskan tubuhnya duduk di sofa, kedua matanya terpejam dan kepalanya menyandar sempurna di sandaran sofa.
Nathan mengernyit heran melihat Dave yang sepertinya begitu tak bergairah, bahkan wajahnya seperti langit yang akan turun hujan lebat.
"Sayang mau minum apa? atau makan apa?" Nathan begitu mencintai Sesil hingga rasanya dirinya tak bisa menahan tangannya untuk membelai lembut pipi istrinya.
Nathan yang melihat istrinya malu-malu semakin gemas di buatnya hingga mencubit pipi istrinya dengan begitu cemas.
"Kalian bisa tidak menghargai manusia lain di ruangan ini?" Celetuk Dave dengan mata yang masih terpejam
Sesil dan Nathan kompak beradu pandang satu sama lain.
"Sayang, sepertinya ada yang berbicara di sini? apa kau mendengarnya?"
"Nathan, kenapa kau begitu menyebalkan hah?" Dave berdecak kesal dan membuka kedua matanya.
"Sudah, sudah ! Kenapa kalian selalu saja bertengkar?" Seru Sesil mencoba melerai suaminya dan Dave
"Sayang, aku butuh bantuanmu" Sesil mengalihkan pandangannya melihat ke arah suaminya
"Apa sayang? katakan saja? kau mau aku mengusir pengganggu di sini hm?" Nathan menaikkan kedua alisnya
"Sekali lagi kau berbicara omong kosong, akan aku tendang kau lewat jendela kantor ini" Seru Dave dengan nada begitu kesal karena sahabatnya tak bisa merasakan apa yang saat ini sedang dia rasakan.
"Hei, kenapa kalian ini?" Sesil menggelengkan kepalanya akan tingkah kedua pria di hadapannya
__ADS_1
"Sayang dengarkan aku, aku butuh bantuanmu" Sesil mendekatkan bibirnya dan membisikkan sesuatu di telinga Nathan, dan Nathan juga mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan oleh istrinya tersebut, setelah selesai istrinya berbicara Nathan tersenyum jahil melihat Dave yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Kalian kenapa?" Dave menautkan kedua alisnya menatap dua insan manusia yang malah tersenyum tidak jelas padanya.
"Sudahlah, lebih baik kau ikut denganku" Nathan menarik tangan Dave dan mendorong kursi roda istrinya.
"Tidak mau ! Katakan dulu, kalian mau apa?"
Nathan menghela nafasnya kesal kemudian dia membisikkan rencananya ke telinga Dave.
"Apa kau yakin ini akan berhasil?" terpancar keraguan dari wajah tampan Dave
"Dasar bodoh ! Kalau tidak di coba bagaimana mungkin kita tau berhasil atau tidaknya" Seru Nathan sambil meninju pelan lengan Dave.
"Ya sudah ayo cepat!!" Tukas Nathan
Kemudian mereka bertiga pergi dari kantor Nathan untuk melaksanakan rencana mereka.
Sepanjang perjalanan Dave selalu berdebat dengan Nathan, membuat Sesil berdecak dengan kesal dan harus sering-sering mengusap dadanya akan tingkah suami dan sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa rencana mereka?
Tunggu next chapter?
Boleh tuliskan Saran untuk kisah Sesil dan Nathan?
__ADS_1