
Pagi ini terasa begitu berbeda, Nathan belum beranjak dari ranjangnya bahkan tangannya masih melingkar sempurna di perut istrinya.
Sesil mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan dengan bias cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah korden kamarnya.
Sesil merasakan ada benda yang cukup berat berada di atas perutnya dan saat melihat itu adalah tangan suaminya yang masih setia memeluknya sedari semalam.
Sesil memandang wajah Nathan yang sangat tenang saat tidur. Meskipun masih terlihat sedikit memar di wajah tampan suaminya namun itu tidak berpengaruh sama sekali.
Lelaki yang kini tidur di sampingnya adalah cinta ke dua setelah papinya.
Sesil perlahan mengusap pipi suaminya yang tidur menghadapnya, membelai dengan lembut supaya suaminya tidak terbangun.
Namun belaian tangan Sesil begitu terasa hingga Nathan juga membuka matanya dan hal pertama yang di lihatnya adalah senyum manis di wajah istrinya.
"Ada apa sayang?" Suara serak Nathan benar-benar terasa enak di dengar di dengar di telinga Sesil.
"Kau tidak bekerja??" Sesil menaikkan kedua alisnya menatap suaminya yang terlihat masih bermalas-malasan di atas ranjang
Sebagai jawaban Nathan hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kenapa?" Sesil terlihat mengeryitkan dahinya merasa heran mengapa suaminya sudah sepekan ini tidak mengurus perusahaan
"Nanti siang aku akan ke kantor mengurus beberapa hal" Imbuh Nathan lagi, kali ini dia beranjak duduk dan menyilangkan kaki di atas ranjang. Dia terlihat berpikir keras, namun entah apa yang di pikirkan oleh suaminya, Sesil tak bisa menebaknya.
Kemudian Nathan menyibakkan selimut dan malah mengangkat tubuh istrinya. Sesil begitu terkejut dengan apa yang Nathan lakukan.
"Nathan turunkan" Sesil meronta minta di turunkan namun Nathan sama sekali tidak mendengarkannya, dia membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkannya di atas kloset, kemudian Nathan menyalakan air untuk mengisi bath up kamar mandi dan menuangkan banyak sekali sabun cair ke dalamnya hingga muncul busa yang begitu banyak.
Sesil begitu senang melihat busa, rasanya dia susah sangat rindu berendam dalam air busa.
Setelah di rasa cukup, Nathan mematikan kran air dan mendekat ke arah istrinya.
Dia berjongkok di hadapan Sesil yang terlihat tersenyum kepadanya.
Tangan Nathan menyentuh kancing piyama paling atas Sesil, membuat istrinya langsung menahan tangannya.
"Jangan" Seru Sesil sambil terlihat malu-malu bahkan wajahnya sudah terlihat begitu merona
"Aku hanya ingin membantumu mandi, tidak lebih" Nathan mengusap puncak kepala istrinya dan kembali melanjutkan niatnya.
Nathan membuka satu persatu kancing baju Nathan hingga terlepas semua dan menampakkan isinya.
Nathan menelan salivanya susah payah, dia harus bisa menahan gejolak yang memberontak di dalam tubuhnya minta pelampiasan.
Karena dia tidak boleh melakukannya saat ini, menurut pesan dokter yang menangani Sesil mengatakan bahwa hubungan antara suami istri sebaiknya di lakukan 14hari pasca proses kuret di lakukan.
Nathan berusaha fokus dengan tujuannya, dia melepaskan piyama yang di kenakan oleh istrinya hingga istrinya tak mengenakan sehelai benangpun, kemudian Nathan mengangkat tubuh polos istrinya dan meletakkannya di bath up yang sudah penuh dengan air yang berbusa.
Sesil begitu senang bermain busa, sementara Nathan mengambil shower dan membasahi rambut istrinya, kemudian dia mengambil sampo lalu menuangkannya di atas rambut panjang istrinya yang telah basah, dengan begitu telaten Nathan mulai menggosok rambut Sesil layaknya seorang karyawan salon yang sedang meng-creambath costumernya, sedangkan Sesil masih bermain busa dengan mengusapkannya ke wajahnya sendiri.
Setelah di rasa rambut istrinya rata dengan sampo, Nathan beralih menggosok punggung mulus istrinya dengan tangannya, bahkan sesekali Nathan memberi pijatan kecil di sana.
"Apa kau tidak mau mandi juga? lihat piyama yang kau kenakan basah" Tanya Sesil dengan wajah polos, dia tak tau seberapa ingin Nathan melakukan hal itu saat ini. Namun Nathan berusaha keras menahan keinginannya karena dia tak mau membuat istrinya terluka.
Melihat suaminya diam saja dan malah melamun, Sesil dengan usil mencolek wajah Nathan dengan tangannya yang penuh busa.
"Nakal ya" Nathan terkekeh dan mencubit hidung mancung istrinya, kemudian dia melanjutkan kembali menggosok punggung Sesil, setelah di rasa bersih, Nathan berpindah ke arah leher Sesil dan bagian depan tubuh Sesil.
Saat Nathan mulai menggosok di bagian dada Sesil dengan tidak sadar dia malah meremas dua buah dada istrinya.
Sesil menggelijang saat merasakan hal itu, dia langsung mengalihkan pandangannya menatap suaminya, keduanya saling menatap hingga Sesil memulai terlebih dahulu dengan menarik tengkuk leher Nathan dan menciumnya dengan begitu lembut, menyalurkan kerinduan yang selama tiga pekan di tahan olehnya. Kerinduan akan keintiman hubungan mereka setelah cobaan yang menerpa.
Sesil terlihat begitu menikmati ciumannya, Nathan juga dengan lembut membalasnya, tangannya masih bermain-main di tempat yang sama.
Setelah merasakan hasratnya sedikit tersalurkan, Nathan melepaskan ciumannya dan mendaratkan satu ciuman mesra di kening istrinya.
"Sudah puas bermain busanya?"
"Belum" Jawab Sesil dengan suara manjanya membuat Nathan hanya menggelengkan kepalanya saja, kemudian dia kembali mengambil shower dan membersihkan rambut istrinya dari busa sampo.
Setelah di rasa bersih, Nathan mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas kloset, kemudian mulai membasuh tubuh istrinya dengan air shower mengalir. Setelah di rasa bersih Nathan mengambil handuk dan mulai mengeringkan tubuh basah istrinya dan memakaikan handuk kimono di tubuh istrinya, lalu dia melilitkan handuk kering di rambut istrinya yang basah.
__ADS_1
"Sayang tunggu sebentar, aku akan mandi" Nathan terlihat mulai melepaskan piyamanya yang basah hingga nampak otot kekar dadanya. Begitu menggoda bagi siapa saja yang melihat
Nathan sedikit menjauh dari istrinya dan mulai menyalakan air shower untuknya mandi.
Sesil melihat setiap lekuk tubuh lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya, Nathan begitu terlihat seksi di mata Sesil.
"Semoga cepat ada bayi di rahimku" Gumam Sesil sambil mengusap perutnya yang baru saja di kuret seminggu yang lalu.
Hampir dua puluh menit Sesil menunggu, akhirnya Nathan sudah selesai mandi dan mengenakan handuk kimononya.
Nathan langsung membopong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi lalu meletakkannya duduk di atas ranjang, sementara dirinya kembali menuju lemari pakaian mengambil baju ganti untuk istrinya.
"Sayang kau mau pakai yang mana?" Nathan terlihat bingung memilih pakaian untuk istrinya.
"Yang mana saja pasti aku pakai"
Setelah cukup lama memilih pakaian, akhirnya Nathan mengambil satu set baju rumahan yang sekiranya nyaman di kenakan oleh istrinya.
Dengan begitu telaten Nathan memakaikan pakaian istrinya satu persatu, mulai dari celana dalam, bra, hingga pakaian luarnya. Setelah istrinya berpakaian lengkap, dirinya pun mengambil satu set pakaian kerja dan mengenakannya.
"Sayang kau mau bekerja?" Sesil menatap suaminya yang sudah rapih mengenakan pakaian kerjanya.
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku janji tidak akan lama" Nathan menatap sendu istrinya, sebenarnya dia tak tega meninggalkan istrinya di rumah sendirian, tapi ada hal penting yang harus di selesaikan olehnya hari ini juga. Maka dengan terpaksa dirinya harus keluar rumah.
Nathan berdiri mendekat ke arah istrinya dan melepaskan handuk yang melilit rambut istrinya, kemudian dia menyalakan hair dryer untuk membantu mengeringkan rambut istrinya. Setelah di rasa panas, Nathan mulai mengeringkan rambut panjang istrinya menggunakan hair dryer. Hampir lima belas menit akhirnya rambut Sesil sudah kering dan kini Nathan mulai menyisir rambut istrinya dengan telaten.
"Sudah" Nathan tersenyum saat istrinya sudah terlihat rapih
"Ada yang kurang" Seru Nathan, kemudian dia mendorong kursi roda mendekat ke arah meja rias.
Nathan mengambil satu buah lipstik berwarna pink dan hendak memoleskan di bibir istrinya
"Aku bisa sendiri"
"Sudah diamlah" Nathan menajamkan matanya menatap istrinya, membuat Sesil tersenyum dan pasrah saja. Setelah memakaikan lipstik Nathan menuangkan handbody di telapak tangannya dan menggosoknya kemudian mengusapkan ke kulit mulus istrinya.
"Cantik sekali istriku" Nathan dengan gemas mencubit pipi Sesil dan memberi banyak sekali kecupan di sana.
"Ya sudah ayo kita sarapan, setelah sarapan aku akan pergi sebentar" Nathan pun mengajak istrinya menuju meja makan, di sana sudah tersedia hidangan sarapan pagi, keduanya pun sarapan pagi bersama.
Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah pagar yang menjulang begitu tinggi, di balik pagar besi yang begitu mewah terdapat sebuah bangunan kokoh yang berdiri dengan begitu megahnya. Nathan memantapkan hatinya datang kemari, meskipun dia sendiri merasa tidak yakin kedatangannya akan di sambut baik oleh sang pemilik rumah.
Nathan membunyikan klakson mobilnya hingga sang penjaga gerbang melihat kedatangan mobilnya dan tanpa bertanya langsung membukakan pintu gerbang tersebut.
Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama, dulu rasanya tidak setegang ini saat datang pertama kali ke mari, namun hari ini rasanya Nathan begitu tegang hingga membuat telapak tangannya berkeringat.
Dengan sedikit gemetar, Nathan turun dari mobilnya dengan membawa sebuah map di tangannya.
Nathan berjalan mendekat ke arah pintu dan menekan bel pintu hingga berbunyi beberapa kali. Dan tak lama kemudian pintu di buka oleh seorang pelayan, dan karena Nathan bukan orang asing, sang pelayan langsung mempersilahkan Nathan masuk dan menggiringnya menuju ruang tamu.
"Tuan besar, ada Tuan muda Nathan datang" Ucap pelayan tersebut kepada Tuannya, namun orang tersebut nampak acuh saja dan tetap membaca koran yang menutupi wajahnya.
"Tuan muda, silahkan duduk" Sang pelayan permisi kembali ke dapur untuk membuatkan minuman.
Nathan masih berdiri saja tak bergeming akan posisinya, sekujur badannya terlihat bergetar namun sekuat tenaga dia menyembunyikan rasa takutnya.
"Mau sampai kapan kau berdiri?" Swan menutup koran yang di baca olehnya dan meletakkannya ke atas meja kaca yang terletak tepat di hadapannya.
Nathan dengan ragu-ragu mendudukkan tubuhnya di sofa yang terletak tepat berhadapan dengan Swan, mertuanya menatap ke arahnya dengan begitu tajam ke arahnya, membuat Nathan meremas map yang di bawanya. Hatinya berkecamuk begitu hebatnya.
Cukup lama keduanya saling memandang satu sama lain hingga Nathan memutuskan untuk meletakkan map yang sedari tadi di bawa olehnya lalu menyodorkan map tersebut ke arah mertuanya.
Swan terlihat menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis menatap map tersebut.
"Ini adalah surat kuasa tuan yang berisi saya di beri kuasa penuh memegang perusahaan serta semua aset yang anda miliki" Ucap Nathan
"Bukankah kau menginginkannya? ambil saja ! Sesil tidak membutuhkan itu"
Nathan begitu tercengang mendengar jawaban dari Swan, padahal dia melakukan semuanya dengan begitu hati-hati dan rapih namun bagaimana mungkin mertuanya masih mengetahuinya.
"Tidak perlu terkejut, aku sudah mengetahui semua dari kau mengalihkan semua saham atas namamu hingga rencanamu membuat Carnal Group melebur menjadi satu dengan Adigja Group"
__ADS_1
"Kau hanya anak kemarin sore yang masih harus banyak belajar tentang dunia bisnis, bahkan jika kau ingin licik banyaklah belajar dari ku, Melakukan hal begitu saja tidak becus" Sindir Swan dengan nada yang begitu sinis, namun Nathan terlihat diam saja tak menjawab sepatah katapun.
"Jika kau mau bermain curang, menjadi orang yang kejam bahkan menyingkirkan semua musuh mu kau tetap harus terlihat baik di mata anak istrimu, karena kau adalah panutan mereka" Imbuh Swan lagi
"Tuan, saya rasa urusan saya sudah cukup. Saya pamit permisi pulang" Nathan beranjak berdiri dari duduknya dan membalikkan badan hendak pergi dari hadapan Swan
"Kau mencintai putriku?"
Nathan yang baru saja melangkahkan beberapa kali kakinya seketika menghentikan langkah kakinya dan menoleh menatap ke arah Swan.
"Maksud anda?" Nathan menaikkan kedua alisnya
"Kau tuli?"
Nathan menghela nafasnya, rasanya dia harus banyak bersabar menghadapi sikap dingin mertuanya, jika salah berkata satu ucapan saja pasti akan membawanya ke jurang kematian.
"Tentu saja saya sangat mencintai putri Tuan" Jawab Nathan pasti.
"Kau rela melihat istrimu menderita lagi?"
"Tidak" Tukas Nathan
"Kau ingin membuat perhitungan dengan wanita sialan itu?"
Nathan mengeryitkan dahinya mendengar semua ucapan yang terlontar dari mulut mertuanya. Membuatnya merasakan sedang di interogasi di meja hijau.
"Kalau kau mencintai putriku, dan mau di anggap menantu olehku, maka ikutlah denganku" Swan beranjak berdiri lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana dan berjalan melewati Nathan.
Nathan tak mengerti apa yang di maksud oleh Swan,namun jika dia menolaknya pasti dia tak akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan Sesil lagi.
"Lebih baik aku mengikuti papi" Gumam Nathan dalam batinnya.
Kemudian diapun mengejar Swan yang sudah terlihat keluar rumah dan masuk ke dalam mobil miliknya yang terparkir tepat di depan mobil Nathan.
Mobil Swan masih terlihat terbuka. Nathan berdiri kikuk dan bingung harus melakukan apa.
"Masuk" Suara datar Swan membuat Nathan menuruti apa yang di perintahkan oleh mertuanya.
Setelah Nathan masuk dan duduk di sampingnya, Swan meminta supirnya menjalankan mobilnya menuju tempat yang sudah di katakan tadi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka obrolan, hanya keheningan yang di rasa.
"Mau di bawa kemana aku? Jika papi memintaku meninggalkan Sesil atau mungkin membunuhku, kali ini aku akan berusaha lolos, aku tidak mau meninggalkan Sesil sendirian di dunia ini" Batin Nathan, antara takut dan penasaran semua berkecamuk menjadi satu.
Mobil yang di tumpangi Nathan perlahan meninggalkan hiruk pikuk ramainya kita Semarang. Perjalanan mulai tegang di rasa Nathan ketika mobilnya kini malah mengarah ke luar kota Semarang, menuju pinggiran kota. Jalanan juga terlihat begitu sepi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Nathan Romantis nggak sih??
Terus kira-kira apa yang akan di lakukan Swan? dan akan membawa Nathan kemana?