Kasih Terakhir 2

Kasih Terakhir 2
Aku Kuat


__ADS_3

Aku mengincar menantumu, tapi sayangnya putrimu yang terkena.


Anggap saja kita Dua sama ~+6281222888000


Membaca pesan singkat tersebut Swan meremas ponsel miliknya, berani sekali dia mengirim pembunuh bayaran di pagi buta seperti ini.


Swan melemparkan ponselnya ke kursi mobil yang kosong. Dia segera berlari menghampiri Nathan yang kala itu sedang memangku kepala putrinya yang keluar banyak darah, dengan beberapa langkah saja Swan sudah berada di depan Nathan.


"Nath,cepat bawa masuk sesil ke mobil papi" Seru swan. Nathan pun tersadar dari kebodohannya yang masih duduk diam menatapi istrinya yang pingsan di pangkuannya. Dengan segera nathan beranjak dan membopong tubuh sesil lalu membawanya masuk ke dalam mobil milik Swan.


Nathan duduk di kursi belakang memangku sesil, sedangkan swan duduk di samping kursi kemudi.


Setelah semuanya masuk, sang sopir langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Tak lama kemudian mobil milik Swan memasuki salah satu rumah sakit di semarang, dengan segera sopir menghentikan mobilnya tepat di depan lobi rumah sakit.


Swan bergegas turun membukakan pintu untuk nathan yang kala itu membopong putrinya.


"Tolong, suster dokter" Teriak nathan yang berlari masuk membawa tubuh sesil.


Terlihat beberapa perawat datang menghampiri nathan dengan mendorong brangka.


Setelah brangka berhenti tepat di hadapannya, nathan segera meletakkan tubuh sesil di atas brangka.


Para perawat segera mendorong brangka tersebut dan mengarahkan ke ruang IGD, Swan dan Nathan pun ikut mendorong brangka tersebut, terlihat jelas di raut wajah kedua lelaki tersebut mereka sangat menghawatirkan keadaan Sesil saat ini.


"Tuan harap menunggu di luar, kami akan berusaha yang terbaik" Salah seorang perawat menghadang tubuh Nathan yang hendak ikut masuk.


"Tapi sus, saya suaminya..." Dengan segera Swan menarik lengan menantunya, Swan paham betul bagaimana perasaan Nathan saat ini, karena Swan pernah berada di posisinya.


"Tenanglah nath, kita tunggu di sini" Swan menarik tubuh nathan untuk duduk ri kursi panjang yang tersedia di depan ruangan IGD.


Swan duduk bersebelahan dengan Nathan. Swan masih terlihat begitu tenang di luarnya, namun tidak dengan hatinya, hatinya begitu takut kehilangan wanita yang dia cintai untuk ke sekian kalinya.


Bahkan dirinya tak sanggup melindungi Ayu, dan kini putrinya juga harus bernasib sama seperti Istrinya dulu.


"Dia akan baik-baik saja nath, putri papi gadis yang kuat" Swan menepuk pundak menantunya, memberi sedikit kekuatan dan menenangkan menantunya yang kala itu sedang begitu kalut.


"Ini semua salah nathan pi, Nathan sudah gagal menjadi seorang suami yang baik, nathan lengah menjaga sesil pi" Nathan mengusap wajahnya kasar dan menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit.


"Ini bukan salahmu nath, ini salah papi ! Karena semua ini terjadi karena ulah dari masa lalu papi" Gumam Swan dalam hatinya.


Tak berselang lama, pintu IGD terbuka, dokter dan para perawat keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang terlihat datar tanpa ekspresi


"Bagaimana dok? bagaimana keadaan Istri saya dok?" Ucap Nathan yang kala itu langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri dokter.


"Dia baik-baik saja, dan sudah siuman, silahkan urus administrasinya, kami akan menyiapkan ruang rawat biasa"


"Saya boleh melihatnya dok?" Imbuh nathan lagi, dan dokter pun menganggukkan kepala sebagai jawabannya, kemudian dokter tersebut berlalu dari hadapan Swan dan Nathan.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, nathan menolehkan kepala ke arah Swan yang berdiri tepat di belakangnya, Nathan juga tau pasti Swan juga kawatir terhadap keadaan sesil.


Mengerti akan tatapan mata menantunya, swan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Masuklah, papi akan mengurus administrasinya, nanti papi akan menyusul" Ucap swan kepada nathan.


Sedangkan nathan begitu lega mendengar ucapan dari Swan, dia tanpa ragu langsung masuk ke dalam ruang IGD.

__ADS_1


Nathan membuka pintu ruangan dan langsung menghampiri sesil yang kala itu sedang terbaring dengan kepala di balut oleh perban dan kaku yang terlihat lecet-lecet.


Mendengar langkah kaki mendekat, sesil menolehkan kepala dan saat melihat sosok tubuh tegap nathan berjalan menghampirinya, sesil langsung melebarkan senyumnya ke arah suaminya, menunjukkan kalau dirinya baik baik saja.


Nathan berdiri tepat di samping sesil, kedua bola mata nathan menatap begitu dalam ke arah wajah pucat istrinya. Nathan tak membalas senyuman yang sesil berikan padanya.


"Nath??" Panggil sesil lirih, pasalnya sesil cukup takut di tatap seperti itu oleh Nathan, bahkan wajah suaminya terlihat begitu tak ramah


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, nathan mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir sesil dengan begitu kasar, meluapkan segala jenis emosi yang bersarang di dalam hatinya. Rasa takut, kecewa terhadap dirinya sendiri dan rasa marah karena gagal melindungi istrinya, semua berkecamuk menjadi satu di dalam hatinya.


Sesil mengernyitkan dahinya saat nathan tiba-tiba saja mencium dirinya dengan begitu kasar.


Tapi sesil bisa memahami apa yang saat ini nathan rasakan, maka dari itu sesil diam saja membiarkan suaminya melampiaskan emosinya.


Mungkin jika posisinya di balik, sesil juga akan melakukan hal yang sama seperti nathan.


Cukup lama nathan mencium bibir sesil, bukan hanya mencium tapi juga mengigit bibir tipis istrinya.


Setelah hatinya sedikit lega, nathan melepaskan ciumannya dan melihat bibir sesil sedikit merah dan bengkak.


"Sudah?" Ucap sesil sambil melebarkan senyumnya ke arah nathan.


"Gadis bodoh, kenapa kau membuatku sangat kawatir? kau ingin jantungku lepas dari tempatnya hah? jangan mengulangi kebodohan yang sama ! Aku tidak perlu kau lindungi, karena tugas melindungi adalah tugas suami" Seru nathan.


Sesil hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengar ucapan yang terlontar dari mulut nathan.


"Suami dan Istri yang baik ialah pasangan yang senantiasa melindungi satu sama lain, saling menjaga dalam kondisi tersulitpun, dulu kau bahkan merelakan perutmu tergores pisau demi menyelamatkan aku, lalu dimana salahnya jika aku juga ingin melindungimu sama seperti dirimu melindungi aku?" Ucap sesil, bahkan kata-kata sesil terdengar begitu dalam di indera pendengaran nathan, membuat nathan tak bisa mengucapkan satu patah katapun.


Baru kali ini ada orang yang ingin melindungi dirinya, karena sejak Nathan kecil, ayahnya Adibjo mendidik nathan untuk tumbuh mandiri serta bisa menjaga dirinya sendiri.


Semua itu ayahnya lakukan bukan tanpa alasan, ayahnya melakukan itu karena nathan anak tunggal, tidak memiliki adik ataupun kakak yang bisa di jadikan tempatnya berbagi keluh kesah.


Sehingga nathan bisa seperti sekarang ini, itu semua tak lepas dari ajaran yang di ajarkan oleh ayahnya.


Dan saat ini nathan mendengar ada orang yang ingin melindunginya, wanita yang berpostur tubuh kecil, meskipun di luar sesil terlihat begitu kuat, tapi nathan tau hati sesil begitu rapuh dan butuh sandaran. Maka dari itu Nathan selalu berusaha melindungi sesil sedari dulu tanpa sesil ketahui.


"Nath, halo?" Sesil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah nathan, membuat nathan terbangun dari lamunannya.


"Aku kuat, aku baik-baik saja nath" Sesil melebarkan senyumnya ke arah nathan, kali ini nathan membalas senyuman dari istrinya.


"Aku tau kau gadis kuat. Tapi aku mohon jangan lakukan ini lagi. Aku bisa mati karena ketakutan" Ucap nathan lirih, tangan nathan meraih tangan sesil dan menggenggamnya dengan begitu erat.


Keduanya saling memandang dengan tatapan yang begitu dalam.


Namun tiba tiba saja suara cempreng yang memanggil nama sesil membuyarkan pandangan mereka.


"Sesil, gadis bodoh ! Kau kenapa?" Seru imel yang kala itu masuk bersama dengan swan, Imel terlihat begitu berwibawa dengan jas putih yang melekat di tubuh rampingnya.


"Kau di sini?" Seru sesil


"Ada pertukaran tenaga medis, jadi aku di kirim papa ku kemari, bay the way kau kenapa hah? Dasar bodoh" Imbuh imelda lagi


"Luka kecil saja, kau jangan berlebihan gadis cempreng" Imbuh sesil lagi dengan suara yang terdengar begitu malas.


"Biar aku periksa kondisimu" Imel menempelkan stetoskop ke dada sesil, namun dengan cepat sesil menepis tangan imel.


"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan" sesil mendengus dengan kesal

__ADS_1


"Diam, atau aku beri kau suntikan untuk tidur selama sebulan" Seru imel tak mau kalah dengan sesil.


"Biarkan imel memeriksa ulang kondisimu sayang" Kali ini Swan ikut menimpali, membuat Sesil memutarkan bibirnya dengan dan membiarkan imel memeriksa dirinya.


Setelah imel memeriksa kondisi sesil dan ternyata memang benar semuanya baik-baik saja, imel memutuskan akan meminta pihak rumah sakit dirinya lah yang akan mengurus sesil selama di rawat di sini.


Setelah memeriksa dan berbincang sebentar imel berpamitan, karena masih ada pasien yang harus di tangani.


Nathan mengantar imel keluar ruangan karena nathan ingin memberi ruang kepada Ayah dan Anak itu untuk berbincang berdua.


Saat sudah berada di luar ruangan, dan imel kembali berpamitan kepada nathan kemudian imel pun berlalu dari hadapan nathan.


"Dokter imel tunggu" Nathan memanggil imel yang sudah beberapa langkah meninggalkan dirinya.


Mendengar nathan memanggilnya, imel menolehkan kepala ke arah nathan, dan nathan terlihat datang mendekat ke arahnya.


"Panggil imel saja" seru imel


"Hm oke imel, terimakasih untuk kado pernikahannya, aku sangat menyukainya" Nathan melebarkan senyumnya


"Ah itu, tentu saja aku juga senang memberinya, hm ngomong-ngomong gadis bodoh itu menyukai rasa yang mana" Imbuh imel lagi


"Rasa? rasa apa?" Nathan mengeryitkan keningnya mendengar penuturan sahabat dari istrinya.


"Oh My God, jangan bilang kalian tidak menggunakannya? Sesil masih terlalu muda untuk memiliki momongan!"


"Ah sudahlah, aku harus pergi, see you" Imel melambaikan tangannya dan berlalu dari hadapan nathan yang masih berdiri mematung, nathan mencoba mencerna apa yang imelda katakan padanya.


"Apa mungkin selain ligeria, imel memberikan..." tiba-tiba nathan tertawa geli akan pikirannya sendiri.


Rasanya jika yang ada dalam pikirannya benar, nathan tak bisa membayangkan raut wajah sesil saat membuka kado tersebut, pasti wajahnya terlihat begitu konyol.


"Ahhh" Tiba-tiba nathan teringat sesuatu, saat awal pernikahan mereka, kala itu nathan sedang mandi dan tiba-tiba saja sesil berteriak dengan begitu keras. Kala itu sesil mengatakan bahwa ada kecoa.


Tapi sekarang nathan faham apa yang membuat istrinya berteriak histeris.


Seketika nathan menjadi tertawa sendiri di depan ruang IGD.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ada saran ?????


__ADS_2